Janji di Masa Lalu

1058 Words
Hari ini pikiranku kacau. Makan siang pun kulewatkan karena tak selera makan. Ibu sendiri sudah kuberi makan seperti rutinitas biasanya. Tidak lupa menyiapkan obat yang harus diminumnya. Lalu setelahnya ia kembali ke kamar untuk beristirahat. *** Sore menjelang, Aku menemani Ibu duduk di depan teras rumah seperti yang sering kami lakukan. cuacanya cukup sejuk dan nyaman itu karena sinar matahari sudah meredup dan langit biru sebentar lagi akan berubah menjadi senja. Ditambah sejuknya semilir angin yang berhembus membuat kami enggan untuk beranjak masuk ke dalam. Kami sedang menikmati tanaman dan bunga yang memang sengaja kutanam di depan halaman rumah. Aku sangat menyukai mereka dan kutahu Ibu juga menyukainya. Malah dulu dia berencana menyuruhku menambah banyak tanaman yang lagi viral di halaman rumah ini. Kalau perlu seluruh halaman ini isinya tanaman, kata Ibu. Biar jadi taman. Waktu itu aku tertawa mendengarnya, lucu, sedangkan Mas bintang hanya tersenyum tipis dan menolak keras ide nyeleneh ibunya. "Ibu tahu tidak kalau rumah kita seperti taman, penuh dengan tanaman kalian, yang ada mengundang banyak binatang kecil singgah ke rumah ini. Ada semut, lebah, serangga, kupu-kupu, dan terus ...," ucap Mas Bintang terjeda, tampak berpikir mungkin mengingat kembali nama-nama hewan yang biasa hinggap di tanaman atau bunga. Ibu serius mendengarkan perkataan Mas Bintang, "memang benar Ya, begitu?" tanyanya menoleh ke arahku. "Mungkin Bu, kalau penuh seperti hutan," sahutku asal sambil tertawa lebar. Ibu pun ikut tertawa bersamaku. Sedang Mas Bintang tidak. Dia diam seakan tak terhibur dengan candaanku. Bahkan menatapku tajam. Aku terdiam, berhenti ketawa saat netraku bersirobok dengan Mas Bintang. Sedikit takut karena melihat kilat tatapan kemarahan di sana. Apa aku salah bicara? Aku kan cuma bercanda. Mungkin dia tidak suka aku bercanda seperti itu kepada ibunya. Mengingat waktu itu membuatku tersenyum getir. Aku baru sadar Mas Bintang memang tidak sehangat Ibu. Dia juga jarang mengajakku bicara. Dia hanya bertanya jika ada yang perlu ditanyakan, dan menjawab sekenanya jika dirasa harus. Dingin sekali, cueknya melebihi patung manekin saat diajak bicara. Aku dan Mas Bintang menikah bukan karena keinginan kami, tapi karena keinginan orangtua kami yang mempunyai pikiran konyol saat itu. Mereka merancang masa depan kami tanpa tahu apa yang bakal terjadi besok. Ibuku dan ibu Mas Bintang berteman baik, dan lucunya mereka sudah menjodohkan kami sejak kecil, sejak aku dan Mas Bintang masih bayi. Lucu bukan? Kukira hal itu hanya ada di drama sinetron, tapi ternyata ada juga di dunia nyata dan sedang menimpaku. Kata Ibu, dulu mereka berjanji akan menikahkan kami jika kami sudah besar. Janji itu dipegang teguh oleh ibunya Mas Bintang. Sedangkan Ibuku meninggal sebelum sempat mengatakan hal tersebut kepadaku. Ayah apalagi, beliau lebih dulu pergi meninggalkan kami. Tidak pernah mereka bercerita maupun membahas tentang perjodohan itu. Kisah persahabatan mereka saja tak pernah diungkap Ibu. Aku hanya tahu cerita tersebut dari ibunya Mas Bintang dan dari foto-foto bukti kedekatan mereka yang ditunjukkannya. Sulit untuk mempercayainya, tapi bagaimana jika janji itu benar adanya, aku tak mau janji tersebut menyusahkan ibuku di akhirat kelak. Janji adalah utang, dan Ibu Mas Bintang menagihnya kepadaku. Aku menanyakan itu ke semua keluarga, baik dari pihak Ayah maupun dari pihak Ibu. Mungkin saja ada yang mengetahui tentang hal tersebut, hingga yang kudapatkan cuma satu orang yaitu kakak perempuan Ayah, beliau bilang pernah mendengarnya karena baik Ayahku maupun Ibu sering melontarkan janji tersebut. Ragu hati untuk menerimanya, aku sempat berunding dengan adikku dan keluarga besar Ayah-Ibu, dan mereka menyerahkan semua keputusan ke tanganku. Apalagi setelah tahu bagaimana keluarga ibu mertuaku dan calon suamiku itu. Mereka dari keluarga yang berada dan sikap Ibu mertua juga sangat baik. Semua keluarga malah jadi mendukung. Maka menunjukkan baktiku terhadap kedua orangtua, kuputuskan menyetujui lamaran Mas Bintang. Aku harap orangtuaku tenang disana karena satu janjinya dapat kupenuhi. Kelak kalau aku jadi orangtua, tidak akan melakukan janji seperti ini. Janji yang bisa saja merusak masa depan anakku nantinya. *** "Ya sudah Ya, bawa Ibu masuk, awannya sudah mulai menghitam, sepertinya bakalan turun hujan, padahal tadi cerah ya, cuaca sekarang memang tidak bisa ditebak." Aku mengangguk dan mendorong kembali kursi roda Ibu masuk ke dalam rumah. "Bintang bawa jas hujan nggak Ya? Katamu Bintang hari ini pulang cepat," tanya Ibu yang duduk diatas kursi roda sepanjang aku mendorongnya. Ibu bertanya begitu karena beliau tahu kalau dua hari ini Mas Bintang tidak memakai mobilnya ke kantor, tapi menggunakan kendaraan roda duaku. "Di dalam jok motor sudah ada jas hujan Aya, Bu, itupun kalau Mas Bintang tahu," sahutku memberitahukan. "Kalau begitu kamu telepon Bintang, kasih tahu dia kalau di jok kendaraan kamu ada jas hujannya, takut dia nggak periksa, Ya." Sepertinya Ibu sangat khawatir pada anaknya. Aku pun menganggukkan kepala, mengiakan. "Iya Bu," jawabku sambil mengunci kursi roda Ibu dan mengangkat tubuh Ibu ke sofa dan mendudukkan beliau disana. "Ibu berat ya, Ya?" tanyanya dengan wajah sendu. Mungkin Ibu melihatku kepayahan mengangkat tubuhnya ke sofa. "Nggak papa Bu, malah Aya suka, itu artinya Ibu sehat, makannya banyak, berarti Ibu suka masakan Aya," sanggahku berkilah mengulas senyum ke arahnya. "Ibu beruntung mempunyai menantu kayak kamu, Ya, Ibu nggak salah pilih, kamu memang istri yang pas untuk Bintang," ucapnya lagi menyanjungku dengan suara yang parau dan matanya yang sudah mengembun. Aku tahu sebentar lagi bakal turun hujan dari kedua pelupuk matanya. "Sudah lah Bu, jangan ngomong gitu terus, tuh matanya berair, mau nangis kan, Aya jadi dosa Lo Bu bikin mertuanya nangis mulu," jawabku menggodanya. Ibu hanya tersenyum. "Bukan dosa sayang, tapi pahala, karena kamu sudah membahagiakan Ibu. Air mata ini bukannya air mata sedih, tapi air mata bahagia. Ibu senang punya menantu kayak kamu. Ibu janji di akhirat nanti akan menjadi saksinya kalau kamu menantu terbaik yang Ibu punya dan Ibu sangat bahagia memilikimu," ujarnya sambil menyeka air matanya dengan ujung kerudung. Aku ikut mengusap kedua pipinya. "Ibu apa-apaan sih. Jangan membahas yang tidak-tidak. Ibu itu sehat, Ibu kuat dan kita kan bersama selamanya. Aya akan merawat Ibu dan Ibu nanti akan bermain dengan cucu kesayangannya." Kuusap kedua bahunya lembut. Memberi kekuatan. Aku bukan hanya sekedar menghiburnya, tapi yang kukatakan barusan memang tulus dari dalam hati. Bagiku, ibu mertua sudah seperti ibu sendiri, dan aku janji akan membahagiakannya sampai waktu yang memisahkan kami. "Ya sudah, Ibu tunggu dulu disini ya, Aya mau kirim pesan buat Mas Bintang. Mau ngasih tahu soal jas hujan tadi, takut Mas Bintangnya keburu pulang." Melihat anggukkan kepala Ibu membuatku mantap beranjak pergi naik ke lantai atas untuk melaksanakan apa yang ingin kulakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD