Suamiku Pergi Kemana?

1125 Words
"Ya Allah," ucapku saat terbangun. Kulihat jam menunjukkan pukul Lima subuh. Mas Bintang sudah tidak ada disebelahku. Apa Mas Bintang sudah pergi? Aku ingat semalam dia berjanji akan pergi pagi ini dengan seseorang yang menghubunginya waktu itu, tapi kemana? Terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi. Aku menghela napas lega. Ternyata Mas Bintang sedang mandi. Syukurlah. Eh, tumben sepagi ini? Biasanya kubangunkan dulu, tapi sekarang bangun sendiri. Malam tadi aku berniat membuka ponsel Mas Bintang. Menunggu dia tertidur pulas karena ingin menyelidiki siapa orang yang telah menghubunginya semalam, tapi aku malah ketiduran. Gagal. Namun kulihat ponsel Mas Bintang masih tergeletak diatas nakas. Mataku awas ke arah pintu kamar mandi memastikan suamiku itu masih di sana. Masih terdengar guyuran air. Aman, dia masih mandi. Dengan gugup kuambil ponselnya. Tanganku gemetar. Ini untuk pertama kalinya aku menyentuh ponsel tersebut. Tombol samping kutekan. Menyala, tapi sayang layarnya terkunci. Ini Pakai sandi, tapi apa kode passwordnya? Aku sama sekali tidak tahu. Sambil berpikir keras mataku tetap fokus sesekali ke pintu kamar mandi takut kalau Mas Bintang tiba-tiba keluar dari sana. Degup jantungku berdetak sangat kencang, tak mau netral. Ya Allah, maafkan aku yang mencurigai suami sendiri. Aku hanya ingin melampiaskan rasa penasaranku ini. Hanya itu, agar pikiran buruk dalam hatiku juga hilang. Hening. Tidak ada lagi terdengar aktivitas dari dalam sana. Dilanda takut. Dengan cepat kutaruh lagi ponselnya keatas nakas. Krekk! Pintu kamar mandi terbuka. Aku langsung duduk ditepi ranjang. firasatku benar, Mas Bintang sudah selesai mandi. Untung ponselnya sudah berada ditempat semula. "Hei! Sudah bangun?" sapanya dengan senyum semringah sambil menyugar rambut basahnya. Aku mengangguk lemah. "Ayo mandi! Biar bisa solat subuh bareng," ujarnya cukup mengejutkanku. Mas Bintang tidak pernah mengajakku lebih dulu untuk solat subuh. Kami solat masing-masing. Biasanya dia juga tidak bangun sepagi ini. Tak ingin membuang waktu. Aku bergegas ke kamar mandi. *** "Mas, aku turun kebawah dulu, menyiapkan sarapan pagi kita," ucapku membuka obrolan setelah selesai solat subuh bersama sambil melipat mukenaku. "Ehm ..., Mas nggak bisa ikut sarapan bareng kalian, kamu sama Ibu saja, Mas harus pergi sekarang." Mataku menyipit mendengarnya. "Sepagi ini? Kemana?" selidikku. "Ehm ... Malam tadi ada panggilan dari kantor, katanya berkas yang Mas kerjakan kemarin banyak yang harus diperbaiki," jawabnya seraya memilih baju di lemari pakaian. Aku menatapnya tajam. "Hari ini hari Sabtu, bukankah kantor Mas libur?" "Ehm ..., Iya, kantor memang libur, tapi kalau ada keadaan urgent seperti ini ya hari Sabtu tetap masuk," jelasnya terlihat santai. Penjelasannya masuk akal. Aku tidak dapat menyanggahnya lagi. Apa alasanku melarangnya pergi. Aku yakin panggilan malam tadi bukan pembicaraan tentang pekerjaan, itu lebih ke hal pribadi. Ada ketegangan disuaranya Mas Bintang malam itu. entah siapa yang menelpon membuatku makin penasaran. "Kok bengong? Kenapa? Mas nggak lama kok, bentar doang." tukasnya mencoba menenangkan. "Ya udah, Aya kebawah dulu ya Mas, mau lihat Ibu sekalian," kilahku malas bertanya lebih dalam. Mas Bintang mengangguk. Drt .... Drt ... Drt ... Itu suara getar dari gawai Mas Bintang. Aku berhenti melangkah dan memperhatikan Mas Bintang. Sekilas kami saling tatap. Kulihat Dia tidak mengangkatnya, cuma melirik sebentar ke arah ponsel yang berdering tersebut. Aneh. "Kenapa tidak diangkat Mas?" tanyaku penasaran. "Oh ..., Itu nggak penting. Deni, paling dia mendesak ku untuk secepatnya ke kantor," jawab Mas Bintang dengan tersenyum tipis. "Oh." Aku hanya membalasnya dengan tersenyum. *** Aku menuruni tangga dengan pelan. Hatiku tidak tenang. Aku yakin Mas Bintang berbohong. Tapi aku tidak mempunyai bukti. Apa aku harus mengikutinya? Tapi bagaimana dengan ibu? Aku tidak mungkin meninggalkan ibu sendirian di rumah. *** "Ya, Bintang mana? Sudah bangun kan?" tanya Ibu. "Sudah Bu, lagi siap-siap. Katanya mau pergi ke kantor." "Ke kantor?" "Iya, ada pekerjaan kantor yang belum selesai," jelasku. "Bintang ..., pekerjaan saja yang dipikirkannya," ucap Ibu sambil menggelengkan kepala. *** "Bu, Bintang pergi dulu ya," ucap Mas Bintang datang menghampiri ibu. "Minum dulu Mas susunya, buat pengganjal perut," pintaku dengan menyodorkan segelas s**u kepadanya. "Kamu nggak ikut sarapan Bin? Ini masih pagi Lo, biasanya juga jam tujuh kamu berangkatnya." "Takut macet Bu, Bintang sekalian jemput teman--Deni. Dia tadi minta Bintang buat menjemputnya." "Naik motor Mas?" tanyaku. "Nggak, naik taksol, sudah Mas pesan. Bentar lagi juga datang. Hari ini mobil Mas sudah baik. Jadi pulangnya sekalian ngambil mobil, makanya nggak pakai motor kamu Ya." Aku mengangguk. Tin! Tin! Terdengar suara klakson mobil berbunyi. Suaranya dari depan rumah. "Nah, itu mungkin taksol yang Mas pesan sudah datang. Bu, Bintang berangkat dulu," pamitnya tampak tergesa-gesa. Mas Bintang mengulurkan tangannya padaku. Aku meraihnya dan mencium punggung tangannya. "Mas berangkat ya," ucapnya sambil mencium keningku. Aku mengangguk dan mengekor langkahnya ke depan. Mas Bintang sudah pergi. Aku masih terpaku di depan teras. Ya Allah, lindungilah suamiku, kali ini biarkan aku mempercayainya. Jika ada hal buruk yang disembunyikannya dariku, maka tampakkan lah kehadapanku secepatnya. Aku berdoa dalam hati. Meminta pada sang Khalik. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang. *** Seperti biasa aku menyibukkan diri dengan mengurus rumah. Berbelanja ke Abang sayur. Kali ini Abangnya melewati rumahku, tidak kayak kemarin, dan sekantong penuh belanjaan telah kubeli darinya. Dompetku pun tidak hilang lagi. Aku lebih teliti, tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali. Ponselku tidak berdering sama sekali dari pagi hingga siang hari ini. Biasanya Mas Bintang menghubungiku hanya sekedar bertanya tentang keadaan ibunya. Tapi ini tidak ada satu pesan pun darinya. Dari tadi aku duduk di depan telivisi. mengganti beberapa kali salurannya, tapi Tidak ada tontonan yang menarik perhatianku. Bosan. Aku sendirian. Ibu sedang istirahat di kamarnya. Tidak ada orang yang dapat kuajak bicara. Drt .... Dengan cepat kuambil ponselku. Berharap itu panggilan dari Mas Bintang. "Daffa," gumamku pelan. Ragu, apa aku harus mengangkatnya? Tapi kalau tidak diangkat siapa tahu penting. Dering bunyinya telah berhenti. Aku mendesah. Lega. Mungkin bukan hal yang penting. Drt ... Drt ..., Lagi, dari nomer Daffa. "Halo," sapaku. Akhirnya kuangkat. [Halo, assalamu Alaikum] balas seseorang seberang sana. "Waalaikum salam," jawabku. [Apa kabar Cahaya? Baik? Suamimu?] "Alhamdulillah, Aya baik. Ada apa Mas? Kalau tidak ada yang penting Aya--," [Penting Ya, kamu masih sama suamimu, e-- Bintang, namanya Bintang kan? Dia dimana sekarang?] "Langsung saja Mas, maksud Mas apa menanyakan keberadaan suami Aya? Aya nggak suka dengan pertanyaan Mas," ketusku kesal. Kudengar Mas Daffa menghela nafas pelan. [Aku tidak bermaksud apapun Ya, aku hanya memastikan kamu dan pernikahanmu dalam keadaan baik-baik saja, aku] "Mas berhenti mencemaskanku ataupun pernikahanku. Kami baik-baik saja, tidak perlu ikut campur urusan rumah tanggaku, Mas harus move on dariku, pasti ada perempuan yang lebih baik dariku, jadi--," [Bukan begitu Ya, Mas bukan bermaksud ikut campur, begini, Mas akan mengirimkan sebuah gambar, semoga apa yang Mas lihat itu salah, Mas tutup ya, assalamualaikum] Mas Daffa memutuskan panggilan. "Waalaikum salam," sahutku pelan. Aku mendesah berat. Apa maksudmu Mas. Batinku. Ting! Dengan segera kubuka pesan berupa gambar dari Mas Daffa. "Ya Allah ..., Apa ini?" tanganku gemetar melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD