Aku tak sadar benda berbentuk persegi panjang dengan layar yang masih menyala itu terjatuh ke lantai. Lepas dari genggamanku. Tubuhku pun ikut rimbung merosot ke bawah, turun dari sofa yang kududuki saat ini.
Ada nyeri yang mengiris hati melihat gambar yang barusan kubuka. Penglihatanku mengabur bersamaan dengan embun yang berada di pelupuk mata. Aku kalah. Sudah kutahan sekuat mungkin buliran air itu tetap turun juga membasahi kedua pipi.
Jadi ini kebenaran foto di dompetmu itu Mas? Wanita di gambar yang baru kudapat dari Mas Daffa sama persis dengan foto yang ingin kutahu siapa orang yang ada di dalam dompetmu itu. Satu hal yang dapat kutangkap dari gambar ini adalah potret keluarga bahagia. Lengkap dengan seorang anak kecil lucu, berumur sekitar setahun lebih.
Layar ponsel masih menyala dan terus berdering. Panggilan dari Mas Daffa tidak kuhiraukan. Aku tidak ingin mengangkatnya.
Apa yang akan kukatakan kepadanya tentang kiriman gambar tersebut? Aku malu.
Ting!
Ting!
Ting!
Deretan pesan beruntun masuk ke nomer WA--ku. Dengan tangan yang masih bergetar cepat kubuka pesan tersebut. Aku penasaran meski perasaan takut mendominasi.
[Cahaya! Kenapa panggilanku tidak kamu angkat?]
[Benar tidak itu suamimu Bintang kan? aku memang sekali melihatnya saat datang ke pernikahanmu, tapi aku pastikan bisa mengingat wajahnya dengan baik.]
[kudengar wanita yang bersamanya memanggil namanya papa Bintang, mereka terlihat seperti suami-istri, kuharap aku salah orang, tapi hatiku tidak tenang Ya, seperti ada yang salah, makanya nanya kamu buat pastikan.]
[Ya, please! Balas! Jangan buat aku berprasangka buruk pada suamimu.]
Semakin keraslah tangisanku saat membaca pesan dari Mas Daffa.
Papa Bintang? Suami istri? Kuharap Mas Daffa salah menduga dan salah mendengarnya.
Menyakitkan Mas, mengetahui fakta sebenarnya seperti ini. Itu artinya, ayah dari anak kecil di foto itu adalah suamiku, berarti wanita itu ...?
"Jahat kamu Mas ...!" lirihku mengatakannya dengan berlinang air mata. Berapa kali kuseka, tapi air mata ini tak pernah berhenti keluar. Mengalir terus kayak anak sungai.
Ponsel kumatikan. Aku tak sanggup membalas pesan dari Mas Daffa. Aku tidak ingin dia tahu prahara rumah tanggaku. Apapun yang terjadi, biar kuselesaikan sendiri.
"Cahaya!" Suara panggilan ibu bersamaan dengan bunyi derit kursi rodanya mendekat terdengar jelas olehku. Dengan cepat kuhentikan tangis tadi, dan kuhapus sisa air mata di pipi.
"Iya Bu!" Parau suaraku menyahut panggilannya.
"Kamu kenapa Nak?" Ibu menatapku Lamat mencari kebenaran yang baru saja kusembunyikan.
"Aku baik-baik saja Bu," sahutku pelan sekali terasa sulit untukku berbicara.
Ibu meraup wajahku dengan lembut. Menghadapkannya ke wajahnya dengan sangat dekat.
"Kamu habis menangis Ya, ibu bisa mengetahuinya dari jejak air mata dan dari matamu yang memerah ini Nak, jangan bohongi ibu. Ibu mendengarnya Ya, kamu menangis, ibu kira suara tangisan tadi berasal dari televisi. Tapi bukan, itu kamu kan Nak?" tanya Ibu menyelidik sembari melirik ke arah televisi. TV sudah tidak menyala. Kumatikan tepat saat Mas Daffa pertama kali menghubungi.
Tangisku pecah lagi. Aku sesegukan menangis di pelukan ibu. Meraung dan tidak mau berhenti. Sudah kucoba menepuk d**a ini meredam sakitnya, menahan sesaknya dan menghentikan tangisanku, tapi tidak bisa. Tidak bisa Bu.
Ibu menepuk bahuku lembut. Beliau tidak bertanya, hanya membiarkanku menangis sampai aku merasa puas melampiaskan semuanya.
***
Aku melepaskan diri dari pelukan Ibu. Tangisku sudah reda. Aku merasa lebih baik sekarang. Walau tidak sepenuhnya. Nakum ada rasa hangat menjalar setelah memeluk ibu.
"Sudah tenang Nak? Sekarang Aya mau kan cerita sama ibu kenapa bisa menangis seperti ini. Ibu belum pernah melihat kamu menangis seperti ini Ya. Kecuali waktu kamu kehilangan Ibumu Nak, saat mengantarkannya di peristirahatan terakhirnya. Tangismu sama seperti itu. Pasti sesuatu yang sama menyedihkannya, apa itu Nak?"
Mendengar ibu mengatakan hal tersebut, membuatku mempunyai alasan yang tepat untuk menjelaskan kenapa aku menangis. Tidak mungkin kukatakan karena anaknya. Ibu pasti akan kecewa dan bisa saja membuatnya mendadak jatuh sakit. Aku tidak tega melihatnya.
"Aya nggak papa Bu, Aya cuma ingat Ibu Aya, Aya kangen," capku berbohong padanya. Air mata keluar lagi dari kedua pelupuk mataku.
Ibu memelukku lagi memberikan kehangatan untukku. Tapi kehangatan itu tidak bisa meredakan sakit dihatiku.
"Ibu tidak tahu apakah benar atau tidak yang kamu katakan barusan, Ya, Ibu merasa ada sesuatu yang lebih besar yang kamu sembunyikan dari sekedar merindukan ibumu. Ibu tidak akan memaksa, Ibu akan menunggu kamu sendiri yang akan mengatakannya kepada Ibu." Tutur lembut Ibu kepadaku membuatku makin tak tega menceritakannya. Ternyata Ibu tahu aku berbohong. Tapi maafkan Aya Bu, Aya tidak bisa mengatakannya sekarang.
Aku tidak bisa berkata apapun kepada ibu walaupun hanya sekedar tersenyum membalas ucapannya barusan padaku.
"Bintang belum datang Nak? Bukankah dia bilang tadi hanya sebentar ke kantor. Anak itu, kalau kerja suka lupa waktu," cerocos Ibu membahas orang yang baru saja menggoreskan luka di hatiku. Aku bisa melihat kekesalan dari raut wajahnya, dan itu tetap tak bisa meredam kecewaku.
Aku menggeleng. Ada nyeri yang menyelusup ke d**a saat namanya disebut Ibu.
"Sini Nak ponsel kamu, biar Ibu yang hubungi dia. Kalau tidak diingatkan mana ingat dia."
"Ehm ... Ponsel Aya mati Bu. Drop. Belum Aya charge." Gelagapan aku menjawabnya.
"Ya sudah, biar pakai ponsel Ibu saja. Tapi ponsel Ibu di dalam kamar Ya, kamu mau ambilkan?" tanya Ibu.
"Nggak perlu hubungi Mas Bintang Bu. Nanti dia akan pulang kalau urusannya sudah selesai. Ibu nggak usah khawatir." Aku mencoba menenangkan. Padat hatikulah yang harusnya ditenangkan.
"Tapi Ya--"
"Mas Bintang baik-baik saja Bu, percaya sama Aya. Dia cuma lagi kerja, sibuk Bu." Aku mengatakannya dengan pelan, terasa tercekat saat bibirku mengatakannya. Iya, Mas Bintang memang sibuk, sibuk dengan keluarganya. Seperti itukan potret yang kulihat di dalam foto tersebut. KELUARGA.
Ibu tersenyum. Apakah senyummu akan tetap terukir seperti ini Bu, kalau ibu tahu kebohongan anakmu selama ini?
"Bu, orang yang akan bekerja disini menjaga Ibu apa sudah dapat, kalau belum biar Aya yang mencarinya." tanyaku mengganti topik.
Kulihat raut wajah Ibu berubah, dia menatap lekat ke arahku dengan lipatan-lipatan di dahinya. Lalu tersenyum kembali. "Sudah Nak, tapi tiga hari lagi baru bisa kesini. Nggak papa kan Nak?"
"Tidak Bu, tidak apa-apa," jawabku cepat dengan gelengan kepala. Aku merasa bersalah bertanya kepadanya tentang hal itu, seolah aku tidak ingin merawatnya lagi. Padahal bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bisa keluar rumah lebih lama dan merasa lebih tenang, saat meninggalkan Ibu di rumah.
"Apa ada yang diinginkan Ibu? Biar Aya bantu."
"Ibu mau ke kamar saja Ya, bentar lagi ashar," jawabnya. Kulihat ada yang berbeda dari tatapan matanya kepadaku. Riak wajahnya berubah. Terlihat sendu. Apa aku sudah melukai hatinya?
***
Ponsel kembali kuhidupkan powernya. Lalu masuk kembali ke aplikasi WA. Menghapus semua chat dari Mas Daffa kecuali satu gambar yang sengaja ku kasih bintang agar tidak terhapus bersamaan dengan pesan yang lainnya. Itu adalah bukti yang bisa kutunjukkan kepadanya kelak.
Kulihat kembali foto tersebut. Mereka terlihat serasi. Mas Bintang berdiri menggendong anak kecil dan wanita tersebut merangkul lengan Mas Bintang dengan mesra disampingnya. Mereka sedang berada di tempat wisata. Quality time keluarga yang menyenangkan. Terbalik dengan diriku yang meringkuk sendiri disini berteman sepi.