"Aya!"
Suara itu, aku mengenalnya. Mas Bintang! apa aku sedang bermimpi?
"Sayang, bangun." Mataku mengerjap. Kurasakan sentuhan hangat di pipi.
Tersentak kaget, ternyata aku tak bermimpi. Kutepis tangannya yang menyentuh pipiku, dengan kasar. Mas Bintang terperangah melihat tindakanku yang spontan tersebut.
"Aya? kamu kenapa, Sayang? Kata mama kamu sakit? kita ke dokter ya?" manis sekali Mas Bintang berbicara kepadaku. Pakai bilang sayang. Mungkin setelah mendapatkan moodbooster dari dua orang tersebut, kepekaannya meningkat.
Jadi Ibu yang mengatakan kepadanya kalau aku sakit?
Iya Mas, aku sakit. Bukan fisik, tapi hatiku.
Aku menatapnya nyalang. Lalu menggeleng cepat. Aku beranjak bangun dari tempat tidur, menjauh darinya. Namun lenganku dicekalnya. "Aya, kamu mau kemana?" Dia bertanya dengan polosnya tanpa rasa bersalah.
"Aku kembali menatapnya nyalang. "Aku mau kemana?! Seharusnya Aya yang bertanya Mas darimana?!"
Dia mengernyit dan sedikit terkejut. Mungkin karena suara kerasku saat bertanya. "Dari k–kantor, ini baru pulang," sahutnya sedikit tergagap dengan riak heran.
"Heh!" Aku mendecih mendengarnya. "Kantor? Benarkah?" telisikku lebih berani.
"Maksudnya?" tanya Mas Bintang dengan memicingkan mata.
Aku kembali duduk. Kuperhatikan penampilan Mas Bintang. Baju yang dipakainya sama seperti pagi tadi. Sedangkan di foto tersebut, Mas Bintang memakai baju yang berbeda. Apakah dia sengaja berganti pakaian saat menemui mereka? Baju yang di foto itu tidak pernah dipakai Mas Bintang di rumah ini. Namun aku yakin, orang yang ada di foto itu Mas Bintang–suamiku. Aku tak mungkin salah orang.
Mas Bintang menggenggam tanganku. Kamu kenapa Ya? matamu bengkak, kamu seperti habis nangis," tanyanya lagi sambil mengusap lembut kepalaku.
"Sampai kapan Mas membohongiku?" kuurai genggaman tangannya. Buliran bening hangat tiba-tiba lolos membasahi kedua pipi. Aku tak sanggup menahan. Dadaku rasanya sakit.
Refleks Mas Bintang menatapku. Menelisik dalam, mencari tahu maksud perkataanku barusan.
"Mas Bohong apa?" tanyanya lembut sembari mengusap air mataku dengan ujung jarinya. Ia masih sanggup bersandiwara.
"Bohong apa?!!" Aku mengulangi ucapannya dengan nada tinggi. Kuambil ponsel dan kutunjukkan foto tersebut kehadapannya. Aku tak tahan lagi menyimpan amarah di dalam d**a. Sesak.
"Ini apa?! ini Mas, bukan?! Mas mau menyangkalnya lagi?! Apa?!!" pekikku berteriak keras seperti orang kesetanan. Ini seperti bukan aku. Amarahku tak pernah sebesar ini.
Mas Bintang membulatkan matanya tampak terkejut. Lalu mengambil ponsel yang kusodorkan kasar dan menatapnya lekat. Riak wajahnya berubah lagi sama seperti di awal. Kaget. Wajahnya tampak menegang melihat foto tersebut. "Siapa Daffa? apa maksudnya mengirim foto itu ke nomermu?"
Aku tak percaya, dia lebih mementingkan siapa itu Daffa dibanding menjelaskan kebenaran foto tersebut.
"Tidak usah mengalihkan pembicaraan. Mas jawab saja, itu foto Mas atau bukan?" Aku terpaksa mengulang pertanyaan yang sama. Menekannya perkata. Nadaku lebih pelan dari sebelumnya.
"Kau menyuruh orang mengikutiku, Aya?"
"Ckckkk ... Mas jawab saja, ini Mas atau bukan?" Aku berdecak kesal penuh penekanan. Suamiku itu masih tak menjawab.
Mas Bintang terdiam. "Bukan, cuma mirip," jawabnya pelan sambil mengembalikan ponsel tersebut kepadaku.
Aku melongo lalu tersenyum getir mendengarnya. Mas Bintang berbohong. Bagaimana mungkin dia masih bisa mengelak kalau itu bukan dia? Jelas-jelas itu wajahnya. Sama persis dilihat dari sudut manapun. Aku tidak bodoh, Mas!
"Bukan? kalau wanita di foto itu, Mas mengenalnya?" tanyaku lagi mengintimidasi. Siapa tahu dia jujur setelah merasa terdesak.
Dia menggeleng pelan. "Mas tidak mengenalnya, mungkin cuma mirip saja. Bukannya Mas hari ini ke kantor. Jadi itu bukan Mas," jawabnya menegaskan kebohongannya tersebut.
Ckk ..., tidak kenal? bagaimana mungkin tidak kenal, sedangkan fotonya saja tersimpan rapi di dompetnya.
"Oh, tidak kenal ya, bagaimana kalau Aya tanya sama Ibu, siapa tahu Ibu mengenalnya? Sekalian mau tanya apa Mas punya saudara kembar, yang dirahasiakan kok bisa mirip ya?" tantangku tersenyum sinis. Kulihat Mas Bintang terkejut.
Aku bangkit dari dudukku dan ingin melangkah pergi. Baru satu langkah Mas Bintang menarik lenganku erat. "Ya, please ..., jangan tanya Ibu. Ibu akan jatuh sakit melihat foto itu. Jangan aneh-aneh. Kamu kayaknya sakit, lebih baik istirahat," pintanya terlihat mengiba sambil menjatuhkan diri ke bawah. Berlutut dengan menggenggam tanganku erat.
Aneh, kenapa harus bersikap seperti ini kalau memang tidak ada apa-apa.
"Kenapa, Mas? kenapa ibu bisa jatuh sakit kalau hanya melihat foto ini? bukankah ini bukan Mas? Harusnya biasa saja Mas, tidak perlu khawatir begini. Lagian lucu, kok ada orang mirip persis seperti Mas dan dia ada di kota ini juga loh. Lihat tempat wisatanya, ada di sini kan? Aneh banget. Yah, siapa tahu Ibu kenal, makanya Aya mau kasih tahu Ibu," kilahku tak mau kalah.
"Jangan Ya, Mas mohon. ibu akan salah faham melihat foto tersebut. Ibu akan mengira kalau aku selingkuh darimu. Lelaki di foto itu sangat mirip denganku."
"Benarkah? Benar juga. Hmm… tapi aku sekarang lebih penasaran sama foto wanita ini, bagaimana kalau kita coba tanya Ibu? Aku akan menutupi wajah Mas, hanya wajah wanita ini saja yang kutunjukkan pada Ibu, Aya penasaran sama dia seperti pernah ketemu dimana gitu, tapi agak lupa. Apa anak teman Ibu atau apa ya, kalau orang sini, mungkin Ibu tahu, iya kan?" sarkasku semakin semangat membuat suamiku ini mati kutu.
"Jangan Ya! baik, Mas ngaku. Mas kenal wanita itu. Laki-laki itu memang Mas. Mas … Mas akan jelaskan, tapi Mas mohon jangan kasih tahu Ibu tentang foto ini." Akhirnya dia mengaku juga. Apa aku harus melibatkan ibunya dulu baru suamiku ini mengaku? Aku juga ingin tahu apa dia akan jujur mengenai hubungannya dengan wanita tersebut?
Aku berdiri bersedekap menunggu penjelasannya. Sesekali tangan ini menyeka air mata yang keluar dari kedua pelupuk mata. Kupalingkan wajah darinya.
Mas Bintang kembali duduk di tepi ranjang. "Duduklah!" pintanya sambil menepuk bagian atas kasur disampingnya.
"Tidak, aku disini saja! jelaskan padaku siapa dia? apa hubungan Mas dengannya? dan siapa ...," ucapanku terjeda, rasa tercekat untuk melanjutkannya. "Siapa anak itu?" imbuhku dengan bibir bergetar menahan tangis.
Mas Bintang menatapku sendu. Aku melengos menatap jalanan luar dari balik jendela kamar.
***
Kudengar dia menarik nafas panjang. "Wanita itu namanya Salma. Dia ... Istriku."
Degh.
Istriku? Jelas sudah kalau Mas Bintang selingkuh.
Mas Bintang bilang wanita itu istrinya. Kapan mereka menikah? Kenapa bisa punya anak secepat itu, apa jangan-jangan ….
Aku berusaha keras menepis semua dugaan buruk dan fakta foto tersebut, tapi kenapa rasanya semenyakitkan ini?
Aku terduduk ke lantai karena tak kuat menopang kaki yang tiba-tiba saja terasa lemas tak berdaya. Terisak kumenangis setelah dari tadi kucoba untuk menahannya.
"Aya!" Mas Bintang ingin menghampiriku.
"Stop! berhenti disana!" teriakku dengan berlinang air mata sambil mengangkat telapak tangan ke udara. Mas Bintang terdiam membeku.
"Kapan kalian menikah?" tanyaku dengan pilu.
Mas Bintang mengembuskan napas berat. "Sebelum menikahimu, Mas lebih dulu menikah dengannya."
Ya Allah, sakit .... jadi benar kalau aku adalah istri kedua. Tapi bukankah pernikahan kami tercatat resmi di KUA. Tidak mungkin ia menikah resmi dua kali, kecuali ….
"Mas Bintang menikah siri dengannya?" tebakku yakin. Mas Bintang mengangguk lemah.
"Ibu tidak merestui hubungan kami," jawabnya sendu. Terlihat kesedihan saat mengatakan hal tersebut. Begitu cintakah kamu dengannya Mas hingga berani menentang orangtuamu? Lalu aku?
"Kalau Mas sudah menikah dengannya? Kenapa menikahiku juga?" Masih dengan sesegukan aku bertanya.
"Karena Ibu. Mas tidak mungkin melawan keinginan Ibu."
"Jadi selama ini Mas menikahiku karena perjodohan itu? Mas tidak pernah mencintaiku?" tudingku mencari tahu kebenarannya.
"Bukan begitu Ya, Mas mencintaimu, sungguh, beri Mas waktu."
"Waktu? Untuk apa lagi? Dua tahun Mas, kukira Mas sudah mencintaiku seperti aku yang mencintaimu, Mas. Ternyata cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Pantas sikap Mas selama ini dingin padaku. Selalu aku yang memulainya lebih dulu. Bahkan urusan ranjang pun aku yang …." Aku tak sanggup untuk melanjutkannya. Memalukan. Aku menjatuhkan harga diri seperti seorang pe la cur yang merayu, menggodanya, hanya untuk menunjukkan baktiku kepada seorang suami.
"Ya." Mas Bintang ingin merengkuhku, tapi aku melangkah mundur ke belakang.
"Hentikan Mas, jangan sentuh aku, aku jijik denganmu! Perhatian dan sentuhanmu palsu. Kamu tega membohongiku."
"Ya! Bukan seperti itu. Dengarkan penjelasan Mas dulu, kamu salah paham, Mas sebe–"
"Cukup Mas! keluar!" teriakku padanya. Mas Bintang mengindahkan, dia malah berjalan ke arahku.
"KELUAR!" Mas Bintang terdiam kuteriaki seperti itu. Untuk pertama kalinya aku membentaknya. Dia menatapku sendu dan lalu berbalik melangkah keluar dari kamar. Dengan cepat kukunci kamar dari dalam.
Aku tak sanggup lagi mendengar penjelasan atau pembelaan darinya, apa pun itu. Semua terasa menyakitkan.
Tinggallah aku sendiri di dalam kamar. Aku meraung menangisi kebodohanku selama ini. Perasaanku benar, selama ini aku hanya istri pajangan di rumah ini. Yang hanya disimpannya di rumah. Dia tidak memerlukanku sebagai istrinya, karena dia sudah memilikinya. Aku dibutuhkan di rumah ini hanya untuk menemani dan merawat ibunya saja. Setiap dia menghubungiku, selalu kabar ibunya yang ditanya. Pernahkah dia menanyakan diriku? tidak. Dan aku tidak pernah mencurigainya sama sekali. Kukira itu karena Mas Bintang sangat mencintai ibunya.
Aku tulus mencintaimu. Setulus aku merawat ibumu. Pernahkah kamu merasakannya Mas?