Ahmad duduk di sofa, kedua sikunya bertumpu di lutut sementara kepalanya tertunduk. Ia mencoba mengatur napas, tapi dadanya terasa seperti dihimpit beban berat yang tak terlihat. Pikirannya masih berputar-putar di sekitar pesan-pesan yang baru saja ia baca. Ia tahu bahwa sebagian besar pesan itu terlihat biasa saja, namun ada sesuatu dalam kata-kata Fathur—atau mungkin caranya—yang membuat semuanya terasa salah. Ahmad menggenggam tangannya erat, seolah mencoba menenangkan diri, tapi yang ia rasakan hanyalah kebingungan dan kekecewaan yang semakin dalam. Ia mencoba mencari alasan. Mungkin memang cuma salah paham. Salwa pasti punya penjelasan, pikirnya, namun suara di kepalanya sendiri terdengar kosong, seperti ia tak benar-benar percaya pada apa yang ia katakan. Jika memang hanya salah pah

