Ahmad duduk di sofa ruang tamu yang sederhana namun rapi, dengan sebuah buku tebal tentang coding di pangkuannya. Lampu meja yang redup menerangi halaman-halaman penuh baris kode dan diagram alur logika. Namun, matanya sesekali teralihkan dari teks di depannya, terpaku pada pintu kamar yang baru saja ia tutup perlahan. Ia menarik napas panjang, mencoba memusatkan perhatian pada buku yang harusnya membantu mengasah kemampuannya. Pekerjaan sebagai pengembang perangkat lunak lepas memang memberinya fleksibilitas, tapi tak pernah benar-benar memberinya kemewahan untuk bersantai. Pikiran tentang Salwa di kamar terus melayang, bercampur dengan bayangan sore tadi—sesuatu yang membuat perasaannya sulit didefinisikan. Ahmad tidak tahu pasti apakah yang ia rasakan adalah cemburu, sakit hati, atau

