Surat dari Dekan

1536 Words

Sementara itu, Fatimah sedang duduk sendirian di taman belakang kampus, jauh dari keramaian. Ia sengaja menghindari semua orang sejak video itu tersebar. Matanya tampak sembap, menunjukkan bahwa ia baru saja menangis. Bahkan kini, setelah air mata itu mengering, rona kemerahan masih tampak jelas di bawah kelopak matanya. Fatimah mencoba terlihat tegar, tetapi senyum yang ia paksakan hanya memperjelas kesedihannya. Ponselnya dibiarkan mati sejak pagi, tidak berani ia hidupkan. Fatimah tidak sanggup menghadapi pesan atau telepon dari siapa pun, terutama keluarganya. Setiap kali ponselnya berdering, jantungnya terasa tersedu-sedu, seolah suara dering itu mengingatkannya pada ketakutan dan kesedihan yang terus mengikutinya. Ada ketakutan akan pandangan orang-orang terhadapnya, pandangan penuh

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD