Salwa pulang dari kampus sore hari. Begitu sampai di rumah, Ahmad sudah menungguinya. "Mandi dulu nanti magriban bareng." "Iya, Mas." Ia berjalan menuju kamar mandi. Sementara Ahmad duduk di atas sajadah. Tentu saja mengaji hingga Salwa menghampirinya dengan mukena bertepatan dengan azan magrib yang baru selesai dikumandangkan. Mereka solat bersama. Usai solat, Ahmad menyiapkan makan malam sederhana—mie goreng, kesukaannya. Ya ia yakin Salwa juga suka mie instan kan? Mereka makan bersama di meja makan, sambil mengobrol santai tentang hal-hal seputar kehidupan kampus. Ia ingin dengar saja. "Tadi gak ada yang istimewa sih, Mas." Ya kecuali perang batinnya apakah akan memblokir kontak Fathur atau tidak. Tapi agaknya urung untuk dilakukan karena bagaimana pun, ia masih ada urusan denga

