Salwa terdiam, matanya terbelalak saat melihat ponselnya yang ia pegang kini ditampilkan oleh Ahmad. Apa yang baru saja terjadi terasa begitu asing dan menyakitkan. Ia merasa seperti terpojok, tak punya pilihan selain menerima tindakan Ahmad yang melampaui batas. Ada rasa sakit di matanya, bukan hanya karena cemburu, tapi lebih karena kepercayaan yang tiba-tiba hancur di antara mereka. Apa ia berlebihan? Ahmad berdiri di sana, tatapannya kosong, seolah mencari jawaban dari dirinya sendiri. "Aku hanya ingin yakin, Dek," ujarnya pelan. "Setelah semua yang aku lihat, aku merasa seperti kehilanganmu. Aku takut, Dek. Aku tahu pernikahan ini mungkin hanya aku yang mau. Aku tahu, Dek." Suara Salwa bergetar saat ia akhirnya berkata, "M-Mas......" Ia tak mampu berkata lebih. Suasana hening seket

