Usai subuh, Salwa terbangun lebih awal dari Ahmad. Udara pagi di rumah Ahmad begitu segar, dan suara burung-burung di luar kamar membuat suasana terasa tenang. Setelah merapikan diri, Salwa berinisiatif menuju dapur untuk membantu para pembantu yang tengah sibuk menyiapkan sarapan. Namun, niat baiknya itu justru mendapat tanggapan tak terduga. "Eh, Mbak Salwa, ndak usah repot-repot. Ini sudah jadi tugas kami!" ucap salah satu bibi dengan nada setengah memarahi, meski tetap sopan. Logat Jawanya sungguh medok sekali. "Iya, Mbak. Jangan sampai tangannya kena apa-apa. Nanti dimarahi Mas Ahmad sama kanjeng ibu," tambah yang lain sambil tersenyum. Salwa tersipu malu. Ia mencoba menawar dengan lembut, "Tapi nggak apa-apa kok, Bi. Saya senang bantu-bantu..." Namun, para bibi tetap teguh pada p

