Setelah keheningan hangat itu, Xandra tetap bersandar di d**a Zabran, membiarkan dirinya tenggelam dalam detak jantung suaminya yang perlahan kembali stabil. Suara itu terasa menenangkan, seperti irama yang mengisi keheningan malam dengan harmoni yang lembut. Ia menutup matanya sejenak, menikmati kehangatan tubuh Zabran yang menyelimuti dirinya. Ada rasa aman yang sulit ia jelaskan, seolah pelukan ini adalah tempat di mana semua kekhawatirannya lenyap, dan hanya cinta yang tersisa. Namun, di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang perlahan muncul. Sebuah dorongan halus, nyaris tak kasat mata, tapi cukup nyata untuk membuat hati Xandra berdebar sedikit lebih cepat. Ia bisa merasakan bagaimana tangan Zabran bergerak perlahan di punggungnya, tidak tergesa-gesa, hanya sapuan lembut yang member

