Zabran menatap Xandra yang kini duduk di sofa, wajahnya terlihat lelah tapi tetap memancarkan kehangatan. Tas yang baru saja ia bawa dari ruang kerja tergeletak di lantai, sementara tangannya sibuk merapikan lipatan bantal. Xandra menatap Zabran dengan senyum lembut, seolah ingin memastikan bahwa apapun yang mengganggu suaminya malam ini, ia siap mendengar dan menenangkannya. Tapi Zabran tidak bisa memusatkan pikirannya pada percakapan. Semua yang ada pada Xandra malam itu—dari senyumnya yang lembut hingga helai rambut yang sedikit kusut—membuatnya merasa debar jantungnya semakin tak terkendali. Ia mencoba meraih ponselnya untuk menciptakan jarak emosional, tapi jemarinya hanya menggenggam layar tanpa melakukan apa-apa. Satu-satunya yang ada di pikirannya adalah Xandra, istrinya, wanita y

