Hawa baru saja meninggalkan area kampus dengan langkah cepat, wajahnya masih dihiasi ekspresi marah dan kesal setelah menguping percakapan antara Jamal dan Yolanda. Namun, langkahnya terhenti ketika seseorang memanggilnya dengan nada dingin. “Kak Hawa, tunggu sebentar,” suara itu datang dari Renita. Hawa berbalik dengan raut tak sabar, matanya menyipit saat melihat Renita mendekat. Ia sudah lama tak melohat gadis yang satu inj. Maklum lah, Renita kan selama beberapa bulan kemarin ikut program magang. Malanya, lama tak kelihatan lagi. Sekarang tahu-tahu muncul lagi. “Ada apa, Renita?” tanya Hawa dengan nada ketus, berusaha menutupi kegelisahannya. Renita menatapnya dengan tajam, seolah-olah sedang mengukur keberanian Hawa untuk berbohong. “Jangan pura-pura nggak tahu, deh,” Renita mulai

