Sebuah Penglihatan

1612 Words

Ahmad tampak tenang di seberang telepon, tapi nada suaranya menyiratkan sesuatu yang sulit diterjemahkan. Salwa terdiam sejenak, hatinya bergemuruh. Jadi, was-was. Apa Ahmad melihatnya bersama Fathur sore tadi? Tapi gak mungkin kan? Suaminya belum sehat. Jalan ke kamar mandi saja masih kepayahan. Bagaimana mungkin ia bisa pergi sejauh itu? "Mas... maksudnya?" Suara Salwa bergetar, mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya. Ahmad menghela napas panjang sebelum menjawab, "Udah beberapa hari kamu gak jenguk, Mas. Gak kangen?" "A-aaah." Ia ber-ah ria. Terlalu fokus dengan perkuliahannya akhir-akhir ini. "Mas udah pesan ojek, nggak ada alasan buat nolak, kan? Kalau pun ada kesibukan lain, kamu bisa kerjakan di sini." Salwa menghela napas panjang. Ia tahu, menolak permintaan Ahmad han

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD