Bab 23 - Mati Suri Tut tut tut Kevan sesekali memerhatikan detak jantung Arancia. Entah perasaannya atau memang detak jantung itu semakin lama semakin lemah. Hari sudah menunjukkan tengah malam, lelaki itu sama sekali tidak memejamkan matanya. Regel dan Arga, mereka sudah tertidur semenjak satu jam yang lalu. "Arancia, apakah kamu mendengarkan aku? Bangunlah, jangan seperti ini," lirih Kevan. Kevan memberanikan diri untuk menggenggam tangan Arancia. "Dingin," gumam Kevan. Lantas lelaki itu menatap wajah Arancia yang semakin memucat. Atensi lelaki tampan itu teralihkan ke arah detak jantung Arancia yang semakin melemah. Risau, akhirnya Kevan hendak membangunkan Arga. Namun, baru saja lelaki itu akan melangkah, bunyi detak jantung Arancia terdengar memekakan telinga. Tuuuuuttt

