Bab 4

1445 Words
"Pernikahan kita baru saja dimulai. Apakah kamu sudah mau menyerah?" Pertanyaan yang dilontarkan istrinya, membuat Kevan bungkam. Dia tidak tahu jawaban apa yang harus diberikan pada Arancia. Padahal semalam mereka baik-baik saja, sudah berkomitmen untuk saling menerima satu sama lain. "Kenapa diam? Semalam bukankah kita sudah sepakat untuk memulai pernikahan ini dari awal. Aku pun sudah mengatakan, kalau aku menerima keadaanmu tanpa syarat. Aku ikhlas dengan pernikahan ini, tapi kenapa sekarang reaksimu seperti ini?" Kevan tetap bungkam seribu bahasa. Dia bahkan yidak berani walau hanya sekadar menatap wajah Arancia. "Berhenti membandingkanku dengan Zahra. Aku bukan dia yang akan meninggalkanmu di saat susah seperti ini. Aku bukan dia yang malu memiliki suami sepertimu." Arancia bergerak memutar wajah Kevan, agar menatapnya. "Kenapa kamu masih meragukanku?" Arancia dan Kevan kini saling menatap. Mata pria itu memerah. Sesaat kemudian Kevan membuang muka, enggan menatap wajah istrinya. Dia masih frustrasi dengan ucapan ibu mertuanya, yang membuat dirinya seperti itu. "Mas, katakan sesuatu. Jangan diam saja. Mari kita bicarakan dengan kepala dingin seperti semalam," ucap Arancia lembut. Hening. Arancia pun pada akhirnya ikut diam. Kevan masih mengunci mulutnya, tanpa sepatah kata pun. Arancia menghela napas berat. Dia kemudian memilih untuk bangkit dan hendak beranjak dari kamarnya. Namun, sebelum pergi dia kembali menoleh. "Seharusnya bukan Mas yang takut. Melainkan aku. Bisa saja, 'kan, setelah Mas sehat, bisa kembali berjalan, san wajah kembali seperti awal, kamu pergi meninggalkanku. Tidak menutup kemungkinan itu akan terjadi, karena faktanya bukan aku perempuan yang kamu cintai." Suara Arancia mendadak bergetar. "Aku hanya perempuan yang dipaksa menjadi pengganti saudaranya." Kevan mengangkat kepala, terkejut dengan perkataan istrinya. Arancia mengusap kedua sudut mata bergantian, kemudian pergi. Saat membuka pintu kamar, dia disambut oleh yamparan di pipi kiri. Seketika itu dia merasakan kebas dan panas. Arancia menatap si pelaku yang tidak lain adalah ibunya. "Apa kamu sekarang tuli, hah? Sudah aku katakan, jika aku tidak suka diabaikan!" Kevan berusaha bangkit dengan menahan kakinya yang sakit, untuk kembali ke kursi roda begitu mendengar makian ibu mertuanya. Dia kemudian keluar. Saat yang sama, Arancia memilih pergi meninggalkan ibunya. Tangan Kevan terkepal, dengan rahang yang mengeras menahan amarah. Dia muak dengan ibu mertua yang memperlakukan Arancia dengan sangat kasar. Dia tidak menduga, jika nasib istrinya akan seburuk itu. *** Arancia memasak untuk seluruh keluarga, seperti biasanya. Padahal di rumah itu juga memiliki pelayan. Namun, ibunya sengaja memerintahkannya. Dia hanya ingin menyiksa putri dari suaminya itu. Bukan hanya memasak, Arancia juga melayani semua orang. Diam-diam ayahnya memerhatikan. Arancia tetap fokus pada pekerjaannya. Setelah semua dia siapkan, giliran makanan untuk Kevan. Arancia langsung pergi dari sana. Namun, saat hendak pergi ayahnya menahan dengan memegangi lengannya. Arancia tetap berdiri tanpa berbalik badan. "Makanlah di sini. Ajak suamimu juga." "Tidak perlu. Aku akan makan di kamar." Arancia hendak melanjutkan langkah. Lagi-lagi ayahnya menahan dia untuk pergi. "Kenapa pipimu?" Arancia menoleh. "Aku baik-baik saja. Tolong lepaskan, Yah." Begitu sang ayah melepaskan tangan di lengannya, Arancia langsung pergi. Wanita paruh baya itu tidak sedikit pun peduli. Dia tetap sibuk dengan sarapannya. Sebelum masuk Arancia menghela napas, mengatur emosinya. Dia kemudian mengetuk pintu, takut kalau suaminya sedang mengenakan pakaian. "Mas, aku boleh masuk?" Kevan yang sedang duduk di kursi roda, sambil menghadap jendela dan menikmati suasana di luar kamar istrinya, lantas mempersilakan Arancia untuk masuk. Perempuan itu pun membuka pintu dan langsung bergerak ke arahnya. "Lain kali kamu tidak perlu meminta izin untuk masuk. Bukankah ini kamarmu?" "Aku hanya takut kamu masih belum selesai berpakaian, Mas. Maaf karena aku tidak membantumu membersihkan tubuh." Arancia diam. Kevan menatap sang istri yang masih terdiam kaku. "Memangnya kenapa? Aku ini suamimu. Kita sudah menikah. Jadi, seharusnya itu bukanlah masalah." Arancia menelan ludah. Dia mendadak gugup dan segera mengalihkan topik bicara. "Kita makan sekarang, ya. Kamu pasti lapar." Arancia menyerahkan piring berisi makanan yang sebelumnya sudah dia siapkan. Kevan masih belum memakannya. Dia malah menatap sang istri dengan penuh tanya. Entah terbuat dari apa hatinya, sehingga dia bisa menjadi begitu baik. Bahkan sikapnya pun tetap tenang, seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. "Kenapa tidak dimakan, Mas? Apa kamu tidak suka?" tanya Arancia dengan wajah khawatir. Kevan menggeleng. "Aku akan memakannya sekarang." Arancia tersenyum lega saat melihat suapan pertama mendarat di mulut suaminya. "Semoga Mas suka, ya. Kalau mau nambah, bilang saja." Giliran Kevan yang tersenyum dan memuji masakan istrinya. "Enak. Aku suka." Kelembutan sikap Arancia, membuat Kevan teringat sosok ibunya. Dia memiliki karakter yang sana dengan wanita yang telah melahirkannya itu. *** Setelah menyelesaikan sarapan, Arancia berniat untuk mengajak suaminya keluar kamar untuk melepas kebosanan. Namun, justru penolakan yang dia dapatkan. "Kenapa, Mas? Apa Mas tidak bosan terus berada di kamar?" "Sudah aku bilang, aku ingin tetap di sini!" Nada bicara Kevan mendadak meninggi. Arancia sempat terkejut. Kevan langsung membuang muka. Arancia berusaha untuk memahaminya. Dia melihat suasana hati suaminya itu mudah sekali berubah. Melihat keadaannya saat ini, pasti tidak mudah untuk Kevan menjalani hidup. Mentalnya mungkin tidak baik-baik saja. Perempuan itu kemudian menurunkan tubuh, berjongkok di hadapan suaminya. Dia meraih tangan Kevan, yang ternyata berkeringat dingin dan gemetar. Arancia kemudian menggenggamnya. "Ada apa, Mas? Sepertinya Mas gelisah?" tanya Arancia lembut. "Aku baik-baik saja!" balasnya, melepaskan genggaman tersebut. Arancia menatap perubahan wajah suaminya. Lalu ia membuka suaranya kembali. "Kalau begitu, boleh aku bicara?" Kevan diam, tidak menjawab. Dia hanya menoleh dan menatap istrinya dengan tak mengatakan apa pun. Arancia kembali tersenyum dan berusaha meraih tangan suaminya. "Aku anggap diamnya Mas itu berarti 'ya'. Aku hanya ingin meminta maaf atas sikap Ibu yang mungkin membuat Mas tidak nyaman. Aku tahu, pasti tidak mudah untuk Mas beradaptasi dengan sikap Ibu. Aku juga ingin minta maaf, kalau sikap dan perkataan Ibu membuatmu tersinggung. Aku harap Mas mau memaafkan Ibu." "Kenapa kamu lagi-lagi meminta maaf atas apa yang bukan kesalahanmu. Kalaupun harus ada permintaan maaf, seharusnya ibumu yang meminta maaf dan itu ditujukan padamu." Arancia tersenyum. Dia paling tidak bisa menaruh dendam pada orang yang sudah menyakiti hatinya. "Aku sudah memaafkan, meski tanpa dia memintanya." "Kamu terlalu naif." Senyum lagi. Hanya itu yang bisa Arancia lakukan. "Sudahlah, lupakan itu. Masih ada yang ingin aku katakan." Arancia menatap suaminya begitu dalam. "Kenapa Mas seperti ini?" "Apa maksudmu?" Arancia kembali memegang erat tangan suaminya. Ia menggenggam lembut tangannya. "Seseorang yang bersamamu di hari pernikahan sempat memberitahuku sedikit tentangmu." Arancia mulai bercerita. Hari itu, seorang pria paruh baya menghampirinya. Dia meminta waktu untuk bicara. Arancia pun mengiyakan. "Titip Tuan Kevan. Tolong, jangan terkejut dengan suasana hati Tuan Kevan yang mudah berubah." "Maksudnya?" Pria paruh baya itu berkata jika Kevan mengalami krisis mental. Dan membuat dirinya menjadi tempramen. "Nanti Nyonya juga akan mengerti. Satu lagi, Tuan Kevan tidak suka berada di tempat ramai. Dia lebih senang berdiam diri di kamar." Arancia merenung. "Sejak kapan itu terjadi?" "Sejak kecelakaan itu. Sikap Tuan Kevan menjadi berubah drastis. Apalagi semenjak kejadian, maaf ... calon istrinya tiba-tiba pergi meninggalkan dia. Tuan Kevan pasti mengalami tekanan secara mental." Kevan terdiam. Kondisi mentalnya saat ini memang tidak stabil. Dia kerap merasakan cemas dan banyak hal lain yang terjadi. Itu semua membuatnya tidak nyaman. Ekspresi wajahnya seketika berubah. Arancia kemudian mengecup tangannya. Kevan hanya menatapnya. "Ayo, kita berjuang sama-sama, Mas. Aku ingin melihat Mas sembuh. Setidaknya berusahalah untuk tetap bertahan ... bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri. Seberat apa pun, aku harap Mas tidak menyerah. Mas harus bisa membuktikan pada semuanya, kalau Mas tidak selemah itu." Kevan berusaha mencerna perkataan istrinya. Apa yang dikatakan Arancia benar, tidak seharusnya dia seperti itu. Dia harus bangkit dari keterpurukannya. "Aku juga mau Mas tetap berjuang untuk pernikahan kita. Mas tidak akan menyerah, 'kan?" sambungnya lagi. Kevan mengangguk pelan. "Aku tidak akan menyerah dengan pernikahan ini. Aku harap juga kamu tetap berada di sampingku." "Tentu saja, Mas. Kita berjuang sama-sama, ya." "Terima kasih." Kevan berkaca-kaca. "Aku minta maaf karena sudah bersikap kasar padamu. Jujur saja, perkataan wanita itu membuatku frustrasi dan kembali hancur. Aku merasa tidak berguna." Arancia menggeleng. Ia tidak suka jika Kevan berbicara seperti itu. "Jangan pernah mengatakan itu." Arancia mengeratkan genggamannya. "Kamu itu sangat berharga, Mas. Berusahalah untuk tidak larut dalam penyesalan. Mas harus bangkit. Kalau memang Mas merasa terganggu dengan keadaan saat ini, kenapa Mas tidak melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater? Mungkin dengan melakukan itu, Mas bisa merasa lebih baik. Mental Mas juga bisa kembali membaik." Kevan tidak menjawab. Dia tidak yakin dengan saran yang diberikan istrinya. Apa harus dia melakukan itu? "Mas, tolong jangan tersinggung dengan permintaanku. Aku hanya ingin Mas bisa kembali mendapatkan semangat hidup. Aku ingin Mas bangkit. Jika Mas hancur, aku juga ikut hancur. Aku ingin melihat Mas bahagia." Perkataan Arancia berhasil membuat Kevan merasa tenang dan jauh lebih baik. Pria itu berusaha memeluknya. Arancia menyambutnya dengan hangat. "Terima kasih sudah hadir dalam hidupku." Kevan mengecup ujung kepala Arancia, kemudian mengeratkan pelukan dan memejamkan mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD