Bab 3 - Insecur

1145 Words
Arancia masih betah menutup mata. Setelah melaksanakan salat Subuh bersama, keduanya kembali ke tempat tidur. Namun, hanya Arancia yang memejamkan mata. Sementara Kevan malah asyik memandanginya. Dia sangat berterima kasih kepada istrinya, karena perempuan itu sudah bersedia menggantikan saudaranya yang tidak tahu diri itu. Meski begitu, dalam hati Kevan masih terpendam amarah yang luar biasa untuk Zahra. Sampai kapan pun dia tidak akan pernah mau memaafkannya. Jari-jari Kevan kemudian bergerak membelai lembut wajah Arancia. Saat yang sama, istrinya menggeliat. Perlahan mata indah berwarna cokelat terang itu terbuka. Dia sedikit terkejut melihat suaminya yang sudah bangun. "Selamat pagi, Yaa Habibati," sapa Kevan dengan senyuman di wajahnya. Pipi Arancia langsung memerah, begitu mendengar sapaan mesra sang suami menyambut paginya. Jantungnya pun berdebar cepat sekali, sampai rasanya sulit untuk dikendalikan. "Selamat pagi, Mas." Arancia sedikit gugup. "Kamu sudah lama bangun?" Kevan mengangguk. "Sebenarnya sejak tadi aku tidak bisa tidur. Apalagi sejak melihat wajah tenangmu," jawab Kevan. Sekali lagi perkataan Kevan berhasil membuat Arancia salah tingkah. Kata-kata itu begitu manis, sehingga membuat hatinya seperti dihinggapi kupu-kupu. Arancia kemudian menggerakkan tubuh dan berpindah posisi menjadi duduk. Dia pun turut membantu suaminya untuk bangkit. "Terima kasih, Sayang." Kini sepasang suami-istri itu saling memandang satu sama lain. Kevan perlahan mendekatkan wajah pada sang istri, hingga keduanya tak lagi berjarak. Baru saja Kevan hendak mengecup bibir istrinya, suara ketukan pada pintu otomatis menghentikan aktivitasnya. Kevan mengembuskan napas kasar. Dia kesal. Arancia berusaha menahan tawa. Saat yang sama, ketukan pada pintu telah berubah menjadi gedoran. "Arancia, bangun! Jangan mentang-mentang kamu baru saja menikah, lantas melupakan kewajibanmu!" Suara sang ibu berteriak di balik pintu. Arancia menoleh. Dia menghela napas dalam-dalam. Kevan jelas terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan ibu mertuanya. Kasar sekali, pikirnya. "Tunggu sebentar, ya, Mas." Arancia kemudian beranjak menuju pintu. Begitu terbuka, dia disambut dengan wajah sinis ibunya. Wanita itu melongok ke dalam kamar. Pandangannya sempat bertemu dengan Kevan yang masih berada di tempat tidur. Pria itu juga melihat ke arahnya. "Maaf, Bu, tadi selepas salat Subuh ...." "Ibu tidak butuh penjelasan apa pun!" Wanita itu menyela kalimat putrinya. "Meskipun kamu sudah menikah, jangan pernah melupakan kewajibanmu untuk membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan sebelim berangkat mengajar! Ingat itu! Paham?" Arancia menghela napas, kemudian mengangguk pelan. Wanita bernama Sekar itu tidak pernah berubah, sejak kecil selalu memperlakukannya dengan sangat buruk. Hanya karena dia bukan putri kandungnya seperti Zahra. Sekar hendak pergi. Namun, tiba-tiba dia kembali membalikkan badan. Wanita itu pun menatap Arancia dengan tajam. "Hanya karena kamu sudah menggantikan posisi Zahra dengan menikahi pria cacat itu, jangan berharap aku akan bersikap baik padamu!" tegasnya, lalu pergi. Arancia membeku mendengar kalimat yang diucapkan ibunya. Dia kemudian mengelus d**a sembari menggeleng pelan. Bagaimana bisa wanita itu mengatakan semuanya? Bahkan terang-terangan di depan Kevan. Arancia merasa tidak enak hati oleh suaminya. Dia segera masuk dan menutup pintu. Amarah jelas tergambar di wajah Kevan. Pria itu memalingkan muka begitu Arancia menaiki tempat tidur. Dia meraih tangan Kevan, lalu menggenggamnya. "Apa yang Ibu katakan, tetap tidak akan mengubah semuanya, Mas. Aku ikhlas menerima pernikahan ini dengan segala kekuranganmu. Aku harap perkataan Ibu tidak membebani pikiranmu. Aku tahu, kamu pasti terluka dan sedih." Kevan menoleh. Dia menatap wajah tenang istrinya. Kalimat yang terucap dari bibir Arancia berhasil membuatnya merasa lebih baik. Meskipun tidak dimungkiri, amarah dan perasaan kesal itu belum sepenuhnya menguap. "Aku minta maaf atas nama Ibu, Mas." "Bukan kamu yang seharusnya minta maaf. Kamu tidak salah apa pun." Arancia menatap wajah suaminya. Dan dia tahu jika Kevan menahan amarahnya. "Tetap saja, Mas. Dia ibuku." "Tapi sepertinya dia tidak menganggapmu sebagai putrinya." Arancia menurunkan pandangan beberapa saat, kemudian kembali menatap suaminya. "Aku harus membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan. Sebaiknya sekarang kita bersih-bersih dulu." "Kalau begitu bantu aku membersihkan tubuh." Arancia membulatkan mata. Dia terkejut mendengan permintaan suaminya. Bukan tidak mau, tetapi tentu itu akan membuatnya canggung. Kevan terkekeh melihat wajah gugup istrinya. Dia juga tampak sangat gelisah. Kevan lalu mengelus lembut rambut hitam istrinya yang tergerai. "Aku bercanda, Sayang. Ayo, bantu aku ke kamar mandi. Tolong siapkan juga tempat duduk untukku." Arancia segera membatu Kevan duduk di kursi roda, setelah itu mendorongnya menuju kamar mandi. Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, dia mengedarkan indra penglihatannya mengelilingi sekitar kamar. Arah pandangnya berhenti pada kursi meja rias. Dia kemudian membawanya. "Mas, hanya ada ini. Tapi sepertinya ini terlalu kecil untuk tubuhmu. Apa aku harus turun dulu untuk mencari kursi lain?" "Tidak masalah. Pakai itu saja." Arancia kemudian menaruh kursi tersebut di kamar mandi. Setelah itu dia memapah, hingga membantu suaminya untuk duduk. "Terima kasih. Maaf aku merepotkanmu. Seharusnya sebagai suami, aku bisa memanjakanmu." Arancia tersenyum. "Sama sekali tidak merepotkan, kok. Kamu, kan, suamiku." "Ya, sudah kamu keluar. Tolong siapkan pakaianku, ya." Mendadak Arancia tidak tega melihat suaminya. Kevan tampak menahan sakit saat berusaha untuk menyalakan kran. Arancia dengan sigap membantunya. Kevan terdiam. Dia merasa tidak berguna. Untuk hal sekecil itu saja dia tidak bisa melakukannya. "Mas, jangan dipaksa, ya. Aku akan membantumu membersihkan tubuh. Aku khawatir Mas jatuh nanti. Mas tunggu sebentar, ya. Aku akan mengambil handuk dan juga air hangat." Arancia langsung pergi begitu saja. Kevan mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. Dia mengutuk dirinya sendiri, kembali merasa benar-benar tidak berguna. Kevan akhirnya hilang kendali. Dia memukuli kakinya sambil menangis. Pantas saja Zahra meninggalkannya, pikir Kevan. Seharusnya dia juga tidak membiarkan Arancia menikah dengannya. Dia hanya akan menjadi beban untuknya. Saat kembali, Arancia terkejut mendengar tangisan sang suami sembari memukuli kakinya. Arancia langsung berlari dan segera menahan tangan itu agar berhenti menyakiti diri. Arancia nyaris kewalahan dan hampir terkena pukul, karena tenaga suaminya cukup kuat. "Mas, ada apa? Kenapa kamu melakukan itu? Kakimu pasti sakit." "Lepas!" teriak Kevan. Arancia kaget mendengar teriakan Kevan. Ia tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan amukan sang suami. "Tidak, Mas! Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti diri seperti ini!" Kevan memang cenderung melakukan itu. Dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah menimpanya. Semenjak kecelakaan itu, dia menjadi rendah diri dan selalu merasa bahwa dirinya hanya beban untuk orang lain. Hal yang semula mudah dilakukan sendiri, kini menjadi sangat sulit. Arancia memeluk erat suaminya. "Mas, aku mohon jangan seperti ini." Kevan berontak, berusaha melepaskan diri. Debaran dadanya begitu kencang, Arancia mampu merasakan. Wajah itu juga terlihat frustrasi. "Pergilah! Tinggalkan aku sendiri! Ibumu benar ... aku ini pria cacat yang tidak berguna! Suatu saat kamu pasti muak menghadapiku dan pergi meninggalkanku sama seperti yang dilakukan Zahra!" Suara ketukan pintu kembali terdengar. Mungkin karena mendengar teriakan Kevan. Arancia tidak memedulikannya. Dia terus mengeratkan pelukan pada suaminya, berharap Kevan akan merasa lebih tenang. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Mas. Sudah aku bilang, aku ikhlas menerimamu. Bukankah kita sudah membicarakannya semalam?" Arancia berusaha meyakinkan suaminya. "Aku juga yakin, suatu saat kamu pasti bisa sembuh dan bisa berjalan kembali. Kamu hanya butuh waktu untuk itu. Bersabarlah, Mas. Tolong! Jangan seperti ini." Arancia melepas pelukannya, lalu membelai wajah Kevan dengan menatapnya dalam-dalam. "Kita baru saja menikah, apa kamu yakin ingin menyerah begitu saja, Mas?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD