"Bodohnya aku. Mencoba melupakan seseorang yang anehnya, setiap hari masih tak bosan mengirimkan pesan kepadaku. Bahkan ratusan kali telepon yang tak pernah aku angkat pun, dia tidak jera!" Senyum miris terukir jelas di bibir Senja. Memilih pergi jauh untuk melupakan Kalvian itu adalah pilihan yang salah menurutnya. Harusnya dia terus berada di Jakarta. Mencoba menghadapi semua masalah dengan lapang d**a. Berlari jauh pun terasa percuma, karena yang ingin dilupakan nyatanya malah semakin mendekat. "Aku merindukanmu, Bang. Semua tentangmu aku rindu!" gumam Senja sambil menghembuskan nafas panjang. Malam semakin larut, udara pun terasa dingin, membuat Senja akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Tatapannya tertuju pada jam dinding. "Sudah larut juga ya?" Senja bicara sendiri saat tahu waktu

