Awal mula
Jhonathan mengepalkan tangannya. Rasa sesal begitu mendera batinnya. Pikirannya di penuhi dengan pengandaian yang tidak akan pernah terealisasikan. Apa yang sudah terlewati tidak akan bisa di ulang dan di rubah.
Sebenarnya sejak kepergian Dea enam bulan yang lalu dia sudah mencoba menghubungi istrinya. Lebih tepatnya mantan istri. Dea pergi setelah Jhon membawa Amber ke rumah dan mengenalkannya sebagai istrinya. Jhon bahkan tidak peduli dengan keadaan istrinya. Dea saat itu sedang hamil lima bulan. Bahkan setelah istrinya hamil, dia jarang berada di rumah.
"Dia siapa mas?" Tanya Dea sewaktu Jhon menggandeng mesra seorang wanita masuk ke rumah mereka.
"Dia Amber, istri keduaku. Mulai hari ini dia akan tinggal di sini. Ku harap kamu bisa menerimanya dengan baik" Ucap Jhon tenang tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dea menatap tak percaya ke arah suaminya. Hatinya sangat terluka. Apalagi melihat perut Amber yang lebih besar dari perutnya. Sudah Dea pastikan perselingkuhan itu sudah terjadi jauh sebelum dirinya hamil
"Kenapa mas? Apa kurangnya aku padamu?"
"Kamu memang tidak kurang apapun. Tetapi kamu tidak layak menjadi pendampingku. Kamu hanya sibuk di rumah. Sementara Amber bisa membantuku dalam pekerjaan "
"Berapa usia kandungannya? " Dea bertanya dengan gemetar.
"Tujuh bulan "
Deg. Dea merasakan langit runtuh seketika. Ada palu tak kasat mata yang memukul kuat jiwanya. Hancur sudah semua yang dia jaga selama ini.
Pertengkaran hebat terjadi. Dea yang selama ini hanya berada di rumah saja, tidak tahu sama sekali kalau suaminya menikah lagi. Bahkan Amber madunya hamil tujuh bulan.
Runtuh sudah ketegaran seorang Dea Candy. Makian dan hinaan di ucapkannya kepada Jhon. Jhon tidak terima dan menyeret Dea ke lantai dua. Berniat mengurungnya di dalam kamar.
"Brengsek kamu mas " ucap Dea berapi api. Matanya menangis tetapi ucapannya terdengar sangat tenang dan dingin.
" Dan kamu..." Tunjuk Dea ke arah Amber.
" Di mana hati nuranimu jalang? Kita sesama wanita kenapa kau merebut suami orang? "
Tatapan Dea sangat tajam meskipun lelehan air mata tak berhenti keluar dari sudut matanya.
Jhon benar benar sangat marah. Dia tidak menyangka respon istri pertamanya di luar dugaan. Selama ini Dea sangat menuruti semua ucapannya. Selalu berkata dengan sangat lembut dan tersenyum ke arahnya.
Jhon sengaja mengajak Amber ke rumahnya karena yakin Dea tidak akan tega melihat Amber yang juga sama sama hamil sepertinya. Tetapi bayangannya meleset jauh. Dea tidak menerima sama sekali.
"Masuk kamar. Cepat " Bentak Jhon saat Dea masih tergugu di depan pintu kamar mereka. Dia sangat enggan melihat suaminya. Cinta dan kepercayaannya hancur lebur bersamaan. Melihat Dea yang tidak bergeming, Jhon menyeretnya dengan kasar dan menghempaskannya ke tempat tidur.
" Kamu bisanya hanya menangis. Tidak bisa mengimbangi aku " Rutuk Jhon.
" Apa maksudmu? " Dia harus tahu kenapa suaminya menikah lagi.
"Kamu apakah pantas bersanding denganku? Lihatlah di cermin itu " Tunjuk Jhon.
"Kau tak ubahnya seekor babi. Sementara Amber adalah wanita yang hebat. Sudah sewajarnya aku mempunyai pasangan yang hebat. Bukan sepertimu yang bisanya diam di rumah " Umpat Jhon. Dea mengepalkan tangannya. Darahnya mendidih mendengar kata kata suaminya. Dea cukup menahan diri selama ini.
Plakk. Sekuat tenaga Dea menampar Jhon yang menatap tajam ke arahnya. Jhon semakin beringas, tangannya mencengkeram dagu Dea dan menghempaskan Dea dengan kasar ke lantai. Dia seolah lupa bahwa ada darah dagingnya di perut sang istri.
Aaaaaahhhhhhhh..... Jeritan Dea terdengar sangat keras di rumah mewah itu. Semua orang pun segera berhamburan ke arah kamar Dea dan Jhon. Para pelayan tidak peduli akan privasi majikannya lagi. Dea adalah majikan yang baik. Mereka tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Dea.
Tak terkecuali Amber yang ada di ruang tamu pun pelan pelan menaiki tangga menuju arah suara jeritan. Meskipun hatinya senang bukan kepalang. Karena dia akan menjadi satu satunya Nyonya Jhonathan. Kekayaan ini akan menjadi miliknya.
Amber pun masuk ke dalam kamar yang sangat berisik itu.
Matanya membelalak kaget.
Amber melihat gaun Dea sudah berganti warna merah. Darah. Batin Amber.
Para pelayan menatap Jhon tak percaya. Tuannya berniat membunuh darah dagingnya sendiri. Anaknya bersama Dea Candy, wanita sederhana yang penuh kelembutan itu.
"Apa yang anda lakukan tuan?" Darso sopir Jhon sampai berani membentak Jhon. Dia tidak takut di pecat. Jhon hanya mengangkat bahunya tak peduli. Darso segera maju.
Tangannya menahan kepala Dea majikan wanitanya.
"Kita harus segera ke rumah sakit Nyonya "
Dea mengangguk lemah mengiyakan. Matanya penuh kebencian kepada laki laki yang berstatus sebagai imamnya itu.
" Aku tidak akan memaafkanmu Jhon, jika sampai terjadi apa apa dengan anak kita, ku pastikan aku sendiri yang akan mengubur jasadmu" Tatapan Dea tajam dan penuh keyakinan.
Setelah mengucapkan kata kata itu Dea langsung pingsan. Darso segera menyuruh beberapa pelayan laki laki untuk menggendong Dea. Sementara dia sendiri menyiapkan mobil.
Jhon menatap Amber tanpa penyesalan. Dia lupa bahwa apa yang dilakukannya akan menjadi bumerang bagi dirinya di kemudian hari.
Darso mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Selama ini Darso bekerja sebagai sopir dari Jhon. Pengusaha muda yang sedang viral karena kepintarannya mengembangkan perusahaan. Tetapi publik tidak pernah tahu kehidupan pribadinya.
Darso dan dua pelayan wanita itu menangis. Mereka tidak tega melihat wanita sebaik Dea disakiti sedemikian rupa. Entah apa yang sedang ada dalam diri seorang Jhonathan itu.
" Suster cepat suster "
Darso memanggil suster dengan sangat keras. Dia sungguh ketakutan. Takut terlambat menyelamatkan nyonyanya.
"Tolong selamatkan mereka suster "
pinta Darso dengan panik. Suster mengangguk.
Dea di dorong menuju sebuah ruangan. Pintunya pun di tutup. Darso dan dua orang pelayan itu tidak boleh masuk. Darso menghela nafas berat, merapalkan doa doa yang dia bisa untuk keselamatan Dea dan anaknya.
Detik berlalu, menit berganti. Tiga orang yang setia pada majikannya itu tampak sangat cemas. Tiba tiba pintu ruangan terbuka. Seorang dokter muda tampak memijat keningnya.
" Bagaimana keadaan majikan saya dok? " Darso segera bertanya dengan rasa yang sudah tidak karuan.
" Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi kondisinya terlalu lemah. Kami harus melakukan operasi "
Darso melotot tak percaya.
"Maksud dokter? " tanya Inah pelayan wanita itu memberanikan diri.
"Anaknya tidak bisa selamat, sudah tak bernyawa "
Darso mengusap airmatanya. Begitupun dengan dua wanita itu.
"Kami butuh tanda tangan dari keluarga pasien "
Darso menatap dua orang temannya. Mereka kebingungan. Mereka tidak mengenal keluarga Dea. Mereka juga tidak berani untuk meminta tanda tangan Jhon yang sedang mabuk asmara dengan Amber.
" Kalau boleh tahu, siapa nama pasien biar saya yang menghubungi keluarganya " Tanya dokter melihat kebingungan mereka bertiga.
" Dea Candy Jhonathan "
Terlihat wajah dokter muda itu terkejut. Dokter itu kemudian tersenyum. Setelahnya dia langsung berpamitan untuk menghubungi keluarga pasien.
Pada deringan ke tiga panggilan pun di angkat.
" Halo.. Aku sudah menemukan wanita yang kau cari. Datanglah ke rumah sakit sekarang. Kondisinya antara hidup dan mati "
" Lakukan yang terbaik aku yang bertanggung jawab "
" Datanglah cepat aku tak punya banyak waktu "
" Baiklah "
bersambung