Setelahnya

1020 Words
"Hei dua remaja nakal ini. Kenapa kalian baru pulang?" Lyra melipat tangan di depan d**a, memperhatikan kedua remaja berusia 18 tahun, yang kini berada di depannya. "Kami habis main di rumah ku," jawab Altair. Vega menunduk. Tangannya menyentuh tembok di sampingnya, berjalan merambat sangat pelan. Lyra mengernyit melihat cara jalan Vega. "Kau kenapa?" tanyanya khawatir. "Ah tadi dia jatuh," Altair mengambil alih jawaban lagi. Lelaki itu hendak menyentuh tangan Vega, bermaksud untuk memapah Vega. Vega menepisnya. "Aku bisa sendiri." Lyra pun membantu Vega untuk masuk ke rumah. Kakak satu-satunya Vega itu mendengus geli. "Altair. Kau yang buat adik kesayanganku jatuh ya? Makanya dia kesal denganmu." Altair hanya terkekeh pelan. Tak ada kalimat jawaban pasti mengenai pertanyaan Lyra. "Kalian ini, jadi sahabat bertahun-tahun masih saja bertengkar. Sebenarnya apa yang membuat kalian bertengkar?" Baik Altair maupun Vega terdiam. Butuh selama beberapa saat bagi Vega membuka suaranya. "Eonni, aku mau istirahat," iris perempuan itu pun mengarah pada teman sepermainannya. "Sampai ketemu lagi, Altair." Vega melambaikan tangannya. Kali ini tanpa ekspresi, bahkan hanya sekadar senyum pun tidak dia tunjukan pada Altair. Vega menutup pintu rumahnya rapat-rapat, bahkan sebelum Altair mengucapkan apa pun. Lyra mengernyit melihat sikap dingin yang Vega tunjukkan. Dalam pikirannya hanya terlintas, sebenarnya ada masalah apa antara dua remaja ini? Sikap Vega sungguh berbeda sekali, biasanya meski pun sedang bertengkar dengan Altair, dia tetap bersikap manis dengan lelaki itu. Lyra sadar dengan perubahan yang ada pada adiknya itu. Namun sangat disayangkan. Lyra tidak menganggap itu bukan hal yang serius. Paling hanya masalah biasa antara remaja, begitu tebakan batinnya. Lyra hendak kembali ke kamarnya, melanjutkan membaca buku yang tertunda sebab Vega meminta dipapah ke ruang tengah. Di rumah, hanya ada Lyra saja. Pengurus rumah sedang pergi ke supermarket sementara kedua orangtua mereka ada urusan mendadak yang mengharuskan pergi keluar kota. "Kakak. Aku mau bicara," kata Vega menahan tangan Lyra. Awalnya Lyra bingung. Tapi dia tidak mau bertanya lebih lanjut, dalam hatinya berkata, mungkin Vega hanya rindu dengannya karena selama ini Lyra kuliah di Praha, sementara sekarang sedang liburan semester, pasti Vega lebih ingin menghabiskan waktu dengannya. Sebab hubungan mereka sebagai adik kakak terbilang cukup dekat, terlebih saat Lyra masih tinggal di ibukota. Lyra duduk di samping Vega, menekan remot untuk menyalakan televisi yang ada di ruangan. "Vega, kau punya pacar ya?" tanya Lyra. "Punya," jawab Vega cepat. Mata dengan tatapan yang terlihat kosong itu, memperhatikan Lyra, "aku...apa aku salah kalau punya pacar?" Lyra menggeleng. Dia mengacak puncak kepala Vega. "Tidak salah, Vega. Aku hanya tanya saja. Apa hubunganmu dan pacar mu sedang ada masalah? Kau kelihatan tidak baik-baik saja." Vega diam, dia menggenggam kuat kedua tangannya, seolah tangannya sedang kedinginan. Lyra menaikan sebelah alisnya, bingung dengan respon Vega yang entah mengarah kemana karena tak kunjung menjawab pertanyaan. Dan sepertinya memang tak ingin di jawab Vega. Televisi yang dia nyalakan sedang menampilkan berita tentang seorang remaja yang menjadi korban pemerkosaan oleh teman sebayanya. Dan korban menjadi depresi karena keluarga menyalahkannya atas tindakan yang sebenarnya juga tidak dia inginkan. Lyra mengambil remote kembali, tadinya ingin mengganti siaran berita tersebut. Karena berita tersebut cukup sensitive. Namun, Vega lebih dulu membuka obrolan, yang membuat Lyra tidak mengganti siaran tersebut. "Kakak, tentang kasus pemerkosaan itu. Bagaimana menurut kakak?" tanya Vega dengan terbata. Dia sendiri sepertinya juga tidak nyaman dengan obrolan ini. Namun entah mengapa tetap bertanya. "Pembahasan mu sekarang sensitive ya." Lyra mendelik. Dia sendiri bahkan sangat tidak nyaman dengan apa yang Vega lontarkan. "Jawab saja. Aku penasaran," desak Vega. Lyra menopang dagu pada lututnya. "Aku atau pun keluarga kita, tidak pernah dapat masalah yang serumit itu sih. Um...menurutku pemerkosaan tidak akan terjadi kalau pelaku tidak diberi kesempatan oleh korban 'kan? Dengan menjaga jarak antara lawan jenis, pakaian yang lebih tertutup dan mungkin melakukan perlawanan sewaktu pelecehan terjadi. Ya...menurutku sih begitu." Pandangan kosong itu, kini mengarah pada Lyra. "Jadi menurut kakak. Pemerkosaan itu terjadi karena korban ikut andil?" Walau ragu, Lyra tetap mengangguk. “Bukankah kalau korban lebih bisa menjaga dirinya, tidak akan mungkin akan terjadi seperti itu? Lagi pula, saat pemerkosaan terjadi kenapa tidak bisa melawan? Toh ‘kan secara logika korban tidak ingin melakukannya, harusnya dia memberontakkan?” “Tapi bisa saja korban tidak melawan karena rasa teramat takut pada pelaku.” “Pada dasarnya perlawanan yang diberikan korban mungkin kurang. Dan mau tak mau korban akhirnya juga akan menikmati ‘kan?” Vega bungkam. Hatinya berdenyut nyeri mendengar ucapan miris dari sesama perempuan yang notabene adalah kakaknya sendiri. Memunculkan tanda tanya besar dalam kepalanya. Jika sesama perempuan saja dan sesama saudara saja tidak mendapatkan dukungan. Bagaimana dia bisa menyuarakan nasib malangnya ini agar mendapatkan bantuan? Yang ada, pandangan public akan menyalahi dirinya, menghardiknya juga karena tidak bisa menjaga diri dan bergaul dengan lawan jenis terlalu dekat. Mengalami pemerkosaan saja hampir membuat Vega memutuskan untuk bunuh diri, apalagi harus mendapat cemoohan dari banyak orang untuk tindakan di mana posisinya adalah korban? Yang ada, mungkin pada detik itu juga Vega akan memutuskan untuk bunuh diri. Hanya sebuah perdebatan yang mungkin Lyra menganggapnya hal yang biasa. Di mana menganggap bahwa korban juga salah dalam tindakan pemerkosaan yang dialami korban. Tapi berdampak besar pada kejiwaan Vega. Yang merupakaan korban pemerkosaan. Andai Lyra tahu adiknya adalah korban kekerasan seksual oleh orang terdekatnya. Apa mungkin Lyra berpikir hal yang sama seperti sekarang? Namun, Vega tidak sempat berpikiran seperti itu. Isi kepalanya sudah terlanjur penuh dengan hal negative yang membuatnya semakin takut berbicara jujur mengenai Altair. "Kak, aku ke kamar dulu ya." "Kau mau meninggalkan aku sendirian di sini? Secepat itu? Kita 'kan sudah lama tidak ketemu." Vega tersenyum kecil. "Aku mau istirahat," katanya. Kaki jenjang itu melangkah pelan menuju lantai tiga, langkahnya benar-benar pelan karena masih sakit dan takut jika Lyra semakin menyadari keanehan dari cara jalannya. Saat cukup jauh dari tempat Lyra duduk. Langkah Vega mulai terburu-buru menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya. Tangan ringkih itu menutup rapat-rapat pintu kamar. Tubuh kecil itu merosot pada pintu di belakangnya, dia memeluk lutut menenggelamkan wajahnya pada tangan yang dilipat. Matanya terpejam rapat, terasa panas seperti ingin menangis namun air mata seperti telah terkuras habis. Wajahnya kembali di dengakan, dengan pandangan kosong dia mengarah keluar jendela kamarnya. "Aku... harus cerita ke siapa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD