"Vega, ini Altair. Anak tunggal keluarga yang baru pindah ke komplek kita, mulai sekarang mereka tinggal di samping rumah kita. Kalian yang akrab ya."
Perkenalan awal mereka. Ketika umur mereka masih menginjak usia 6 tahun.
Vega bersembunyi di balik tubuh ibunya, mengintip Altair yang tengah menunggu untuk mengajak bersalaman.
Ketika mata mereka bertemu, untuk pertama kalinya Altair tersenyum pada Vega. Senyum yang membuat Vega berani untuk mendekati Altair.
Altair lebih dulu menjulurkan tangannya. "Altair," ucap Altair memperkenalkan diri.
Vega pun menjabat tangan Altair. "Aku...Vega."
Rumah yang berdiri megah bersebelahan, mengenyam pendidikan di tempat yang sama, terlebih lagi kedua orangtua mereka adalah teman semenjak kuliah.
Membuat mereka dekat dalam waktu singkat. Tumbuh besar bersama, semua orang sampai hapal, di mana ada Vega tentu saja ada Altair.
Ketika mereka mulai beranjak remaja. Kedekatan mereka membuat banyak orang salah paham.
"Kalian berdua punya hubungan spesial ya? Maksudku lebih dari sekadar teman," tanya Giselle saat pertama kali tahu kedekatan Vega dan Altair.
Vega menengok ke Altair yang mematung kebingungan menjawab apa, lain sekali dengan Vega yang lugas menjawab, "kami benar-benar hanya sebatas sahabat." Vega merangkul Altair yang jauh lebih tinggi darinya. "Iya 'kan, Altair?"
Altair mengangguk kecil. "Mungkin karena kami kenal dari kecil jadi kedekatan yang menurut kami biasa, kelihatan seperti kedekatan pasangan di mata orang lain."
Kaira melihat Vega dan Altair bergantian. Kemudian dia tersenyum miring. "Pasti di antara kalian ada yang jatuh cinta diam-diam? Tak ada pertemanan murni antara laki-laki dan perempuan!"
Vega tertawa. "Ada. Kami buktinya."
Altair melepaskan tangan Vega dari pundaknya. "Obrolan para gadis hanya seputar percintaan ya, tidak menarik sama sekali."
Vega mengerucutkan bibir. Tangan gadis itu pun beralih memeluk lengan Giselle. Dengan isyarat dia mengusir Altair. "Ya sudah sana!"
"Iya aku juga mau pergi," balas Altair, "aku tunggu di mobil sampai kau selesai ekskul ya."
"Oke."
Vega dan Altair mengambil jalan yang berlawanan. Vega bersama temannya menuju ruang ekskul kebumian seraya tertawa entah apa pembahasannya tanpa sekali pun menoleh sesaat untuk melihat Altair.
Berbanding terbalik dengan Altair.
Dalam beberapa langkah, Altair berhenti sesaat untuk melihat punggung sahabatnya sejak kecil itu dengan pandangan sendu.
"Kalau bisa lebih dari teman. Kenapa kita harus jadi teman?"
Jika saja waktu itu Vega menengok kebelakang selama beberapa detik saja. Pasti dia akan tahu perasaan Altair sebenarnya, untuk dirinya.
Ah atau mungkin tidak?
Altair tidak yakin akan semudah itu Vega tahu perasaannya. Gadis itu benar-benar buta melihat orang yang berada di dekatnya, padahal semua orang di sekitar mereka sadar dengan tatapan memuja Altair untuk Vega.
"Masih belum berani bilang ke Vega?" tanya Tristan yang saat itu menghampiri Altair yang masih fokus melihat punggung Vega sampai gadis itu tak terlihat di pandangannya lagi.
Altair menggeleng. "Kalau dia menolak ku, nanti kami malah menjauh."
Tristan membelalakan mata, tak percaya. "Kau sesempurna ini? Mana mungkin Vega menolakmu! Sebagai sesama lelaki, walau menjijikan aku sangat mengakui kalau kau itu idaman setiap perempuan."
"Tapi aku tidak tahu perasaannya," Altair mengusap tengkuknya, "aku merasa...ada orang lain yang dia suka."
Tristan mengernyit. "Siapa yang lebih baik dari mu?"
Sebenarnya terlintas satu nama dipikiran Altair tapi tak sempat di ucapkannya karena orang itu lewat tak jauh darinya.
Orion. Bersama dengan Karina, salah satu perempuan popular yang pernah menyatakan perasaan pada Altair dan tentu saja Altair tolak mentah-mentah.
"Aku tidak tahu," jawab Altair singkat. Tak mungkin dia bicara jika kemungkinan besar orang yang dia bicarakan akan mendengar.
"Ah! Aku ada ide! Aku yakin ini cara yang tepat untuk tahu perasaan Vega tanpa harus menyatakan perasaanmu."
"Caranya?" tanya Altair mulai bersemangat.
"Coba kau bilang kalau kau tertarik dengan perempuan lain dan lihat responnya."
Altair mengernyit. "Kau yakin cara ini berhasil?"
"Coba saja."
Ini konyol sebenarnya. Mengakui menyukai orang lain di depan orang yang sebenarnya di cinta. Altair juga tidak tahu ini akan berhasil atau tidak. Karena Altair juga tidak punya pengalaman sama sekali, dari dulu dirinya hanya menyukai Vega.
Tapi tak ada salahnya mencoba bukan?
"Vega, aku mau cerita."
Saat itu, mereka sedang berada di taman belakang rumah Altair, seperti biasa menghabiskan waktu dengan belajar bersama di ruang terbuka.
Vega masih sibuk dengan bukunya, hanya mengangguk saja.
Altair mengambil buku yang di baca Vega. "Dengarkan dulu."
"Iya apa?"
Mereka beradu pandang, membuat jantung Altair berdebar walau sering sekali di hadapkan pada posisi ini.
Dengan terbata, dia berkata, "aku...aku sepertinya suka seseorang."
Vega diam dalam beberapa detik.
Altair menunggu perubahan ekspresi Vega, sedikit cemas. Sejujurnya dia berharap Vega menunjukan ekspresi terkejut dan tidak menyukai apa yang Altair katakan, seolah sedang cemburu pada umumnya.
Tapi apa yang Altair inginkan dihancurkan begitu saja ketika Vega menunjukan raut wajah senang seolah mendengar kabar baik.
"Wah! Selamat!" Vega bertepuk tangan kecil. "Jadi siapa gadis beruntung itu?"
Altair jadi tidak ingin membahas hal ini lagi.
"Aku belum mau bilang siapa orangnya."
"Padahal aku penasaran lho."
"Kau...tidak apa-apa aku menyukai seseorang?" tanya Altair.
"Tidak apa-apa." Lalu Vega mengucapkan sesuatu yang sangat tidak Altair harapkan. Dengan wajah memerah gadis itu berkata, "sepertinya aku juga menyukai seseorang. Sebenarnya aku tidak mau memberitahu hal ini dulu. Tapi karena kau duluan yang jujur tentang orang yang kau suka, aku jadi-"
"Siapa orangnya?" Altair memotong ucapan Vega, penasaran.
Vega menggeleng. "Kau saja tidak kasih tahu orangnya. Aku juga tidak mau beri tahumu."
"Kalau aku nyatakan perasaan untuknya. Menurutmu bagaimana?"
Senyum yang tidak diharapkan Altair itu semakin melebar. "Aku dukung. Semoga aku mendapat kabar baik dari mu ya."
Altair benar-benar melakukan perkataannya sendiri. Yang berbeda hanya, dia menyatakan perasaan ke sembarang orang yang sudah dia tahu tidak akan menolaknya.
Sebenarnya semata-mata hanya untuk mengetahui perasaan Vega tanpa harus mengungkapkan perasaannya. Altair benar-benar mengikuti saran Tristan sebaik mungkin.
Gadis yang terlintas di pikirannya kala itu untuk menjadi target adalah Karina. Sebab gadis itu belum lama menyatakan perasaan padanya.
Tak ada adegan atau ucapan romantis. Semuanya serba sederhana. Karena ini bukan pernyataan cinta yang sesungguhnya.
"Tentang penolakanku waktu itu. Aku berubah pikiran. Ayo kita pacaran."
Sebenarnya Altair sadar, sorot mata Karina menyimpan keraguan, tapi sepertinya gadis itu mengenyampingkan semua dan mungkin menurutnya yang terpenting adalah Altair bisa menjadi miliknya.
"Kalau begitu, ini hari pertama kita?!"
Anggukan dari Altair membuat Karina berteriak histeris karena teramat senang.
Jujur saja. Altair gusar kala itu, banyak pertanyaan terlintas dalam pikirannya dan yang paling utama ialah, apa keputusan ini benar?
Dan sekarang...
...jika dirinya melakukan hal berbeda dan sedikit saja lebih berani pada perasaannya sendiri. Apa semuanya akan menjadi lebih baik?