Tubuh mungil Vega mulai bergetar ketakutan. Seakan tak ada kekuatan untuk mendorong Altair yang ada di depannya, agar dirinya bisa lari atau mengambil kunci kamar yang berada di saku celana Altair.
Dirinya benar-benar terkurung. Tangan Altair berada di kedua sisi tubuh Vega, mengunci Vega agar tidak bisa keluar dari kukungannya.
Altair memang tidak melakukan apa pun padanya, atau mungkin belum. Iris teduh Altair yang sangat Vega sukai, kini menyimpan sorot tajam yang menyeramkan bagi Vega.
"Altair," panggil Vega pelan.
Altair tidak menjawab. Tangannya yang tadi diam, kini bergerak menyentuh wajah Vega, dan perlahan turun ke leher jenjang gadis itu.
"Dari sekian banyaknya orang, kenapa harus Orion?" tanya Altair sendu.
Vega tidak mengerti. Orion? Apa hubungannya dengan Orion?
"Apa maksud mu? Kenapa jadi-"
Sebelum Vega menyelesaikan ucapannya. Altair lebih dulu menarik tengkuk Vega, memiringkan sedikit kepalanya agar lebih mudah untuk mencium gadis itu.
Vega membelalakan matanya.
"Jangan sebut namanya. Malam ini, sebut namaku saja."
Altair kembali mencium Vega. Awalnya hanya kecupan biasa, hanya bibir mereka yang bersentuhan, selang beberapa lama Altair membuka mulutnya lebih dulu mengecap rasa cherry pada bibir Vega, semakin lama ciumannya semakin menuntut sebab Vega tidak membalasnya.
Altair menginginkan yang lebih, dia menggigit bibir bawah Vega cukup kuat, agar gadis itu membuka bibirnya memberikan akses lidah Altair untuk masuk ke mulut Vega. Ciuman ini terasa menggairahkan untuk remaja berusia 18 tahun seperti mereka.
Altair benar-benar menyukainya. Walau Vega menolak setengah mati berusaha mendorong Altair agar ciuman mereka terlepas.
"Hah...hah..."
Vega menghirup napas sebanyak-banyaknya. Dia mengalihkan wajah, tak ingin melihat Altair, yang entah sekarang menatapnya sebagai apa.
Lewat sudut matanya, Vega kini melihat Altair berjalan menuju nakas, mengambil tali panjang dan sebuah gunting.
Tak butuh waktu lama. Vega tahu apa yang akan Altair lakukan padanya, dia tak sepolos itu untuk tidak sadar bahwa ini akan menuju pada pemerkosaan.
"Ayo kita mulai, Vega."
Altair mengganti dasi yang mengikat tangan Vega dengan tali yang di ambilnya. Vega berteriak, berusaha sebisa mungkin melakukan perlawanan dengan kakinya yang masih bergerak bebas. Lagi, gadis itu masih mencoba untuk berjalan cepat menuju pintu dan mendobrak keras untuk meminta pertolongan.
Tapi lagi-lagi itu juga percuma, karena Altair menggendongnya ke ranjang.
"Altair! Berhenti!"
Lelaki itu seakan tuli mendengar teriakan Vega. Bukan hanya itu, bahkan ketika mengikat kedua tangan Vega di sandaran ranjang, dan kaki Vega di kedua sisi ranjang, Altair sama sekali tak mau melihat wajah Vega yang sudah memerah padam.
Malu, kesal dan bingung. Semuanya menjadi satu.
Yang Vega tahu, rasa kesalnya mendominasi dalam diri sudah membuncah di dalam hati, ingin membunuh lelaki di depannya ini meski lelaki itu adalah sahabatnya sendiri sejak kecil.
Yang Altair tahu, tangannya sedikit gemetar ketika memegang gunting yang dia gunakan saat membuka seluruh pakaian Vega hingga tubuh polos gadis itu terlihat jelas oleh matanya untuk pertama kali.
Akhirnya Altair memberanikan diri, melihat wajah Vega.
Gadis itu menangis, berteriak meski Altair yakin Vega tahu tak mungkin ada yang menolongnya, masih terus berusaha melepaskan diri sampai tangannya yang terikat menimbulkan bekas kemerahan.
"Altair," panggil Vega lirih, "aku mohon jangan begini. Ayo ini masih bisa diperbaiki," disela tangisannya dia memohon, "tolong lepaskan aku. Tolong, Altair."
Altair terdiam.
Belum terlambat bagaimana?
Sudah sejauh ini yang dia lakukan terhadap Vega. Jika dirinya melepaskan Vega sekarang, sudah pasti gadis itu akan menjauhinya dan berlagak mereka tidak saling kenal. Bahkan kemungkinan besarnya, Altair akan menjadi orang yang paling ditakuti Vega dan Altair adalah orang nomor satu yang paling tidak ingin Vega temui.
Sementara Altair tidak akan mendapatkan apa-apa,dia tidak akan bisa mendapatkan gadis itu secara mutlak.
Ini sudah terlambat. Altair tidak boleh berhenti sampai di sini jika ingin Vega tetap berada di sampingnya.
Lebih baik Vega benci padanya, jika dirinya bisa terus bersama Vega.
"Kita selesaikan ini dulu. Baru aku lepaskan."
Altair mulai memposisikan dirinya di atas Vega, bertumpu kepada kedua lututnya agar tidak menindih Vega. Dia melepas kaos yang melekat di tubuhnya, memperlihatkan tubuh abs yang banyak digilai perempuan yang melihatnya.
Harusnya Vega juga begitu. Tapi gadis itu malah berteriak semakin keras meminta pertolongan.
Altair kembali membungkamnya dengan ciuman panas. Dia tak ingin mendengar teriakan Vega lagi, ketika ciuman mereka terlepas tangan kekar lelaki itu merambat turun menyentuh d**a Vega, melepas pengait bra dan menyingkapnya hingga sebatas leher agar tangannya lebih leluasa menyentuh tubuh polos gadis itu tanpa terhalang satu pun benang.
Kini teriakan Vega berubah menjadi desahan.
"Ahh...Altair!"
"Ya...Vega. Terus panggil namaku."
Vega menggigit bibir bawahnya. Tak ingin kembali menyebut nama Altair disertai dengan desahan sialan yang entah mengapa terus keluar dari bibirnya saat Altair menyentuh bagian sensitive tubuhnya.
Vega tak menuruti permintaan Altair. Altair semakin berani menyentuh tubuh Vega lebih intens, tangan kanannya meremas d**a Vega. Keras. Sampai gadis itu tersentak, desahannya lebih keras dari sebelumnya.
Ini yang Altair suka. Walau Vega menolaknya setengah mati, tubuh gadis itu berkata lain.
Tangan Altair mulai menyusup ke sela paha Vega, memberikan kenikmatan pada bagian kewanitaan gadis itu. Cukup lama. Sampai Vega tidak sadar bahwa dirinya harus mengontrol desahannya dan tidak menikmati perlakukan Altair.
"Ah...ah..."
Dan akhirnya dirinya pun di sadarkan oleh cairan yang terasa keluar dari kewanitaannya.
Penanda bahwa tubuhnya sudah siap diperlakukan lebih. Altair juga sadar itu.
Tak mau berlama. Altair membuka celananya, memposisikan dirinya agar lebih mudah melakukan penyatuan pertamanya dengan Vega.
"Tahan sebentar, Vega."
Dan dalam satu kali hentakan-
"Ahh- Altair! Sakit, Altair!"
-teriakan Vega menyanyat hati, disertai darah yang merambat turun di sela pahanya.
Bohong jika saat pertama kali melakukan hubungan seksual, pihak perempuan akan merasakan kenikmatan. Hubungan seksual pertama kali itu menyakitkan, terlebih lagi jika melakukannya dengan unsur paksaan.
Rasanya tubuhnya seperti terbelah menjadi dua ketika Altair mulai menggerakan tubuhnya meski itu secara perlahan.
"Sebentar lagi tidak akan sakit."
Altair memeluk tubuh Vega. Menyandarkan kepalanya pada tengkuk leher Vega. Dan tanpa sadar air mata lelaki itu pun mengalir, seiring dengan Vega yang mengatakan,
"Aku benci kau, Altair. Aku benci sekali!"
Padahal dalam hati kecilnya, ingin sekali Altair berteriak, bahwa, 'aku menyukaimu, Vega.'
***
"Ngh...ah, Altair."
Rusak. Dirinya sudah seperti boneka rusak. Hanya mampu mendesahkan nama lelaki yang masih bergerak di atasnya memberikan kenikmatan pada tubuh mereka sekaligus memberikan luka yang semakin mengangnga di hati Vega.
Mata sendunya melirik jam yang berada di kamar Altair. Pukul sepuluh malam. Vega bernapas lega, sebentar lagi orangtuanya akan pulang. Jika tidak mendapati Vega yang berada di rumah, orangtuanya pasti mencarinya ke rumah Altair. Tidak mungkin 'kan Altair ingin perbuatannya diketahui orang lain?
Altair mengecup pelan bibir Vega, lelaki itu berbisik, "sebentar lagi aku keluar."
Vega tidak merespon ucapan Altair.
Gerakan Altair semakin cepat, membuat decitan ranjang semakin terdengar. Altair berkali-kali menggumamkan nama Vega dengan suara yang berat.
Sampai teriakan panjang lelaki itu terdengar, tanda bahwa permainan melelahkan ini telah berakhir.
Dengan sedih Vega menatap Altair, mereka beradu pandangan dengan tatapan yang kosong. Entah apa yang ada di pikiran Altair sekarang. Yang pasti, yang ada dipikiran Vega saat ini adalah lelaki di depannya, yang telah merenggut paksa keperawanannya bukanlah Altair yang dia kenal.
Vega sampai kehabisan kata-kata. Berbanding terbalik dengan Altair yang berkata dengan tenang seolah ini adalah hal yang biasa.
"Kasihan ya, Orion. Kau itu kekasihnya, tapi aku yang lebih dulu menikmati tubuhmu." Altair menyeriang. Dia membuka seluruh tali yang dia ikatkan pada tubuh Vega. Tangan lelaki itu mengusap puncak kepala Vega.
Akhirnya Altair beranjak dari ranjang, dia tak kunjung mendapatkan respon apa pun dari Vega, wajah cantik itu dipalingkan agar tidak menatap Altair.
Altair melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi yang berada di kamarnya. Dia menutup rapat pintu berwarna biru itu.
Pandangan Altair masih kosong dalam beberapa detik. Sampai suara tangisan Vega kembali terdengar, tubuhnya merosot bersandar pada pintu di belakangnya.
Altair menutup telinga dengan kedua tangannya begitu rapat sampai tangannya gemetar.
Tapi tangisan Vega masih juga terdengar olehnya. Sialan! Bagaimana cara agar tangisan Vega tidak terdengar olehnya?
Suara Vega begitu menyanyat hati. Membuat hatinya terasa ikut tercabik, teringat dengan perbuatan yang dia lakukan.
"Hiks... jangan menangis Vega," lirihnya pelan. Jika Vega bisa menangis sepuasnya. Altair berusaha setengah mati menyembunyikan tangisannya.
Sakit sekali rasanya. Altair paling benci ada air mata yang keluar dari mata indah Vega, Vega terlalu baik untuk disakiti oleh siapa pun, Altair akan melakukan apa saja, demi apa pun, agar Vega tidak menangis.
Tapi sekarang...dia yang membuat Vega menangis begitu keras melebihi ketika Vega terjatuh ketika mereka masih kecil.
Altair hanya bisa menangis dalam diam seraya menggumamkan kata maaf untuk Vega. Sampai suara tangisan Vega tidak lagi terdengar di telinganya. Altair mencoba berdiri dari posisi duduknya, dia mencuci mukanya terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar mandi untuk melihat kondisi Vega.
Pantas Vega sudah tidak bersuara lagi. Vega tengah tertidur tenang dengan masih menggunakan pakaiannya yang terkoyak parah.
Altair mengambil handycam yang berada di nakas, handycam yang merupakan saksi kuat tentang apa yang dia lakukan pada Vega, dia menghentikan rekaman itu. Altair pun menutupi tubuh Vega dengan selimut miliknya dan mematikan ac di kamarnya, supaya Vega tidak kedinginan dan lebih nyaman dalam tidurnya.
Karena Altair yakin, mulai sekarang hanya sedang tidur saja Vega tidak merasa cemas akan keberadaan Altair.
Dengan jemarinya Altair mengapus bekas air mata yang mengalir di pipi Vega.
Walau merutuki dirinya sendiri yang memperkosa gadis yang amat di cintainya. Altair tidak menyesal. Munafik jika bilang bisa merelakan orang yang cinta bahagia dengan orang lain.
Altair lebih memilih, untuk memiliki orang yang cinta meski orang dia cinta terkurung dalam sangkar merasa tertekan bersamanya. Asalkan bersama, tak akan masalah.
Sepertinya Vega terganggu dengan sentuhan Altair. Dia sampai terbangun dan membelakan mata saat tahu Altair ada di depannya lagi.
Dengan suara tercekat, tanpa pikir panjang dan ekspresi yang dingin, Altair berkata, "kalau kau tidak mau Orion tahu, kau jangan berikan tubuhmu yang sudah aku pakai ini ke Orion juga. Cukup lakukan denganku saja." Kemudian dia menunjuk handycam yang ada di tangannya. "Turuti yang aku mau tanpa penolakaan. Aku janji tak akan menyebar video kita."