Permainan

1509 Words
Altair : Ke rumahku malam ini. Ayo kita main. Kali ini aku yakin, aku yang menang Vega : Sepulang kerja kelompok. Aku ke rumah mu Vega tersenyum tipis mengetik pesan balasan untuk Altair. "Kau masih akrab dengan Altair ya?" Vega tak sadar Giselle melihat room chatnya dengan Altair. Vega mengangguk. "Ya...masih. Memangnya ada hal yang bisa membuat kami renggang?" "Kalian 'kan sudah punya pasangan masing-masing," timpal Kaira, salah satu teman satu kelompoknya, "memangnya Karina atau Orion tidak ada yang cemburu?" Vega menggeleng yakin. "Satu sekolah tahu kami adalah teman sejak kecil 'kan. Aku yakin kekasih ku atau kekasihnya tidak ada yang cemburu." "Kau itu terlalu naïf," celetuk Giselle, "sebagai lelaki yang lebih berpikir rasional, ya mungkin saja Orion tidak cemburu. Tapi Karina? Aku yakin ada sedikit rasa cemburu, Altair 'kan lebih memperhatikan mu dari pada kekasihnya sendiri." Kaira mengangguk. "Seolah kau adalah perempuan yang sebenarnya disukai Altair," tambah Kaira. Vega tertawa geli. "Tidak. Tidak mungkin Altair menyukaiku lebih dari teman. Kami berdua tumbuh bersama, sudah tahu buruknya masing-masing. Tak ada rasa suka antara aku dan juga Altair." "Padahal Vega, kalau aku ada di posisi mu, aku pasti jatuh cinta ke Altair," seru Giselle, "dia adalah definisi lelaki sempurna luar dalam!" ucap gadis bercepol dua itu menggebu-gebu. Kaira menjentikan jarinya, setuju. "Aku tidak pernah bosan melihat wajah tampannya yang tak masuk akal itu. Giselle, kau pernah lihat waktu Altair bertelanjang d**a setelah bermain basket? Absnya benar-benar membuatku ingin memeluknya." Giselle mengangguk. "Kalau aku adalah kekasihnya, pasti aku sudah memeluknya. Ah- sudah terlahir dengan wajah sempurna, otak cemerlang, keluarga kaya dan terpandang. Karina beruntung bisa mendapatkan pasangan sempurna seperti Altair." "Kalau bisa memilih. Aku lebih memilih menjadi Vega dari pada Karina," Kaira mengintrupsi, gadis itu menunjuk Vega yang berada di sampingnya, "kurang sempurna apa Vega? Mendapat gelar gadis yang paling cantik di sekolah kita, kepintarannya sebanding dengan Altair, anak dari keluarga terpandang, dan satu lagi, Altair sangat memperhatikannya dibanding Karina." Vega berdecak. "Jangan bicara begitu. Aku jadi merasa tidak enak dengan Karina." "Saat Karina bicara denganmu, dia terlihat kesal atau biasa saja? Kalau dia biasa saja, kau tak perlu merasa tidak enak," kata Giselle, "berarti dia buka orang yang cemburuan." Vega menopang dagu di atas meja. "Sepertinya Karina belum pernah sekali pun berbicara denganku. Aku lupa juga. Kami jarang bertemu sih." "Memangnya Altair tak pernah mengenalkan Karina secara langsung sebagai kekasihnya?" selidik Kaira, "kau dan Altair 'kan sahabat. Aneh rasanya kalau Altair tidak mengenalkan Karina langsung ke sahabatnya sendiri." "Mungkin Altair malu, karena Karina adalah kekasih pertamanya?" Vega mengedikan bahu. "Jangan terlalu memikirkan Karina. Dia beruntung bisa bersama lelaki sebaik Altair. Aku kenal Altair, pantang baginya menyakiti perempuan. Belasan tahun aku menjadi sahabatnya, dia tak pernah menyakitiku dalam hal apa pun." "Benar juga sih,"Giselle melipat tangan di depan d**a, "mereka baru pacaran 'kan? Pasti sedang panas-panasnya ya? Kira-kira apa ya yang Karina dan Altair lakukan?" Kaira menepuk pundak Giselle dan tertawa geli. "Pikiran mu kotor sekali mau tahu urusan ranjang orang lain." "Kalau aku jadi kekasih Altair, aku pasti menggodanya lebih dari sekedar ciuman," ungkap Giselle bersemangat. "Ha ha. Dasar perempuan m***m," kata Kaira. "Kau juga pasti berpikiran yang sama dengan ku 'kan?" Karena setuju. Kaira menunjukan kedua ibu jarinya. Vega menggeleng, tak hapis pikir dengan jalan pikiran kedua temannya. "Hei, kalian itu penganut s*x before married ya?" "Memangnya ada yang salah dengan s*x before married?" tanya Giselle kembali, "di jaman sekarang itu bukan hal aneh lagi. Well, kita punya hak atas tubuh kita 'kan? Alat kontrasepsi juga di jual bebas tanpa harus menunjukan buku nikah." "Tiap orang punya prinsip masing-masing sih," ucap Vega, "tapi kalau aku, aku lebih memilih s*x after married," Vega memeluk dirinya sendiri, "aku mau suami ku nanti punya privellage menyentuh tubuhku untuk pertama kali." "Ya, kau memang perempuan paling suci, Vega," sindir Kaira. "Kalau sampai aku mendapat kabar kau melakukannya sebelum menikah. Aku sebut kau munafik ya," ancam Giselle. Vega terkikik geli. "Itu tidak akan terjadi." Para gadis ini sebenarnya masih sangat ingin melanjutkan obrolan mereka. Membahas hal diluar pelajarannya yang tidak membosankan sampai matahari sudah tidak terlihat lagi. Tapi deringan dari ponsel Vega, di mana Altair terus meneleponnya, membuat mereka tak nyaman. "Aku pulang dulu ya," ujar Vega membereskan barang bawaannya, "sepertinya Altair mau di temani." "Bukannya banyak orang di rumahnya?" tanya Siska. "Orangtuanya sedang bisnis keluar kota. Hanya ada pengurus rumah, Altair tidak dekat dengan mereka." Giselle mengangguk paham. "Aku kira kau dan dia hanya berdua saja di rumahnya." Vega mengedikan bahu. "Mungkin nanti malam hanya berdua saja, semisal pengurus rumahnya tidak menginap." "Kau yang punya prinsip s*x after married. Tidak takut berduaan dengan Altair saja?" Menanggapi pertanyaan Diana. Vega menggeleng dan memberikan senyum tipis. "Altair tidak mungkin macam-macam. Dia tidak mungkin melakukan hal yang membuat aku bisa membencinya." *** "Kenapa datang lama?" Altair melipat tangan di depan d**a, bersandar pada dinding seraya melihat Vega yang baru memasuki kediamanyaa. Vega terlonjak. "Kau kenapa ada di situ sih? Aku jadi kaget." "Aku menunggumu dari tadi." "Maaf. Aku 'kan sudah bilang ada kerja kelompok." Altair mengambil tas sekolah Vega, membawa tas itu di punggungnya. "Ayo ke kamar ku." Dan menggenggam tangan mungil Vega, menuntun gadis itu menuju ke lantai 2 tempat kamarnya berada. Vega mengangguk. Dia sedikit meringis sepertinya karena genggaman tangan Altair yang kuat, terlebih lagi langkah Altair yang begitu cepat. "Pelan-pelan Altair." Altair melirik Vega sekilas. "Kau lelah 'kan? Istirahat lebih cepat di kamar itu lebih baik." Pintu kamar itu dibukanya. Dia melepas tangan Vega, melempar tas Vega ke sembarang tempat. Setelah gadis itu masuk ke kamarnya, Altair mengunci pintu kamarnya, menyimpan kunci itu tanpa sepengetahuan Vega ketika gadis itu bersiap untuk membaringkan dirinya di ranjang Altair. Biasanya, Altair akan ikut berbaring di sebelah Vega, menatap gadis itu dari dekat dan sesekali membicarakan hal lucu sampai mereka berdua tertawa. Namun sekarang, Altair lebih memilih duduk di sudut ranjang, seraya memperhatikan Vega lekat. "Akhirnya bisa istirahat." Vega menaikan sudut bibirnya yang kemerahan. Dia menepuk sisi ranjang yang kosong di sampingnya. "Ayo sini, Altair." "Ah, tidak. Aku mau duduk saja," jawab Altair. Vega mengacungkan ibu jarinya. Gadis cantik itu memejamkan matanya, hembusan napasnya terlihat tenang, namun bibirnya bersenandung menyanyikan lagu kesukaannya. Meski satu kamar dengan lelaki, Vega tampak tenang seolah tidak merasakan ketakutan akan terjadi sesuatu yang buruk. Ternyata, sepercaya itu Vega terhadap Altair. Itu sebenarnya wajar, dirinya dan Vega sudah berteman sejak kecil. Sangat wajar Vega begitu mempercayainya sebagai sahabat. Hanya sahabat tanpa ada unsur cinta antara mereka. Hal yang Vega rasakan. Altair tahu itu dan seharusnya pun Altair juga sama. Cukup menganggap Vega sebagai teman. Tapi hatinya egois menginginkan lebih dari sekadar kata teman. "Vega," panggil Altair. "Kau dan Orion...kalian pernah satu kamar seperti ini juga?" Dalam hatinya, Altair berharap Vega langsung memasang wajah kesal dan melempar Altair dengan bantal terdekat seraya memaki Altair karena membicarakan sesuatu yang tabu. Altair hanya berharap begitu sederhana. "Hu'um, pernah. Waktu hai jadi kami, dan kebetulan hujan. Aku-" Sialnya, harapan sederhananya tak terkabul. "Kalian melakukan apa saja?" tanya Altair memotong ucapan Vega. Altair tadinya berharap Vega menjawab jika gadis itu dan Orion hanya sekadar mengobrol tanpa melakukan sentuhan fisik sama sekali meskipun rasanya itu mustahil. Terlebih, kini Altair mendapati wajah Vega bersemu ketika membicarakan Orion, dia memalingkan wajahnya seolah sudah melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan. Apa yang mereka lakukan? Kenapa Vega menyembunyikan raut wajahnya? Apa Vega sesuka itu dengan Orion sampai gadis itu melakukan sesuatu melewati batas prinsipnya selama ini? Altair menahan diri agar pertanyaan-pertanyaan itu terkunci rapat, sebelum Vega menjawab pertanyaan. "Kami...ciuman." Altair mengepalkan tangannya kuat, hatinya bergemuruh mendengar pernyataan itu. Vega menoleh padanya. Fokus Altair jadi mengarah pada bibir ranum Vega. Terbayang bahwa ciuman pertama gadis itu bukan lah dirinya. "Setelah itu apa?" tanya Altair dengan nada suara rendah. Jika Orion bisa mencium Vega. Harusnya Altair juga mendapat kesempatan yang sama. Vega menggigit bibir bawahnya. Tak ingin memberi tahu. "Setelah itu apa, Vega?!" Altair mulai meninggikan suaranya. "I-itu privasi ku, Altair." "Setelah ciuman, Orion menyentuh setiap lekuk tubuhmu?" Vega segera duduk di hadapan Altair. Tangan kecil yang biasanya dia pakai untuk memeluk Altair, kini dia gunakan untuk menampar Altair. Altair menyeriang. Tangan kekar itu menggenggam kuat tangan kecil Vega. "Altair!" Altair mendorong tubuh Vega agar kembali berbaring di ranjang. Altair membuka dasi Vega, mengikat paksa tangan gadis itu dengan dasi tersebut. "Diam di sini," ucap Altair dingin. Altair mengambil handycam yang berada di nakas, menyalakan handycam tersebut dan menaruhnya di ujung nakas, agar handycam tersebut menyorot jelas ke arah ranjang. Tadinya dia sudah ingin mengambil tali yang sudah disiapkan di laci kamarnya juga. Tapi Vega sudah beranjak dari ranjang. "Jangan gila, Altair!" Seolah tahu apa yang ada di pikiran Altair. Vega mulai terlihat memberontak. Walau dengan tangan terikat dirinya berusaha berjalan menuju pintu kamar Altair. Dengan langkah pelan, Altair mendekati Vega. "Hei, Vega." Altair menunjukan kunci yang di sembunyikan di kantung celananya. Wajah Vega mulai ketakutan melihat kunci itu sementara pintu kamar tidak bisa dibuka. "Buka pintu ini Altair." "Bukannya aku sudah bilang ingin mengajak mu bermain?" Altair menyudutkan tubuh Vega. Mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. "Ayo kita main, sesuatu yang lebih menyenagkan dari pada yang Orion lakukan padamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD