Cemburu

1085 Words
"Yey! Aku menang. Altair kalah!" seru Vega seraya melompat di ranjang Altair. Setelah itu, gadis itu baru turun dari ranjang untuk kembali duduk di samping Altair yang menatap kartu remi dengan pandangan tak percaya. "Kau curang!" balas Altair tak terima. "Ini ketiga kalinya kau menang." "Sabar ya." Vega mengusap pundak Altair, sampai Altair menghempaskan tangan Vega dan membuat Vega tertawa keras karena ekspresi cemberut Altair. "Senang ya aku kalah terus?" Vega mengangguk. "Kan selama ini kau lebih segala hal dibandingkan aku. Kau lebih pintar, lebih terkenal, lebih punya banyak teman, lebih punya banyak orang yang menyukaimu." "Tapi kau lebih jago dalam permainan apa pun dibanding aku." Vega mengerucutkan bibirnya. "Kalau kau jago dalam segala hal tanpa terkecuali itu curang namanya." Altair menyinggungkan senyum miring. "Tidak curang, karena aku beruntung dalam segala hal." "Hush! Jangan bicara begitu. Katanya kalau kau orang yang beruntung dalam segala hal, kau bisa jadi orang yang paling sial dalam cinta." Altair mengernyit. "Lalu orang yang kurang beruntung dalam banyak hal seperti kau. Lebih beruntung dalam cinta, begitu?" "Tentu," jawab Vega percaya diri. "Hei! Kau menyumpahi percintaanku tidak berjalan baik ya?" Vega menggeleng. "Kau sahabat terbaikku. Mana mungkin aku menyumpahi mu seperti itu?" Tanpa terduga. Vega mencium pipi Altair secepat kilat sampai lelaki itu bergeming, sementara yang memberikan ciuman tersenyum amat manis. "Itu ciuman khusus sebelum kekasihmu yang berikan nanti. Jimat supaya kau tidak melupakan aku." Vega tidak tahu. Jika yang sebenarnya Altair inginkan untuk menjadi kekasihnya adalah Vega. "Ah jadi tidak sabar masuk SMA." Altair juga menginginkan hal yang sama kala itu. Sebab dirinya berjanji, ketika lulus sekolah nanti, dirinya akan menyatakan perasaan pada Vega. Jika saja Altair bisa membaca masa depan, dirinya tak akan menunda mengungkapkan perasaannya. *** "Altair, aku bicara denganmu!" Sekarang, dirinya malah terjebak dalam hubungan pura-pura bersama perempuan yang bahkan dalam sedetik pun tak pernah terlintas dalam pikirannya. Altair menghela napas kasar. Ingin sekali mengakhiri hubungannya dengan Karina. Tapi ini bukan waktu tepat. Dirinya memulai menjalin hubungan ini dengan Karina karena ingin Orion bisa lebih fokus mengejar Karina agar Vega lebih bisa melihatnya. Tapi diluar kendalinya Orion malah semakin dekat dengan Vega yang membuat dirinya semakin muak dengan lelaki yang mudah sekali memperlihatkan senyuman itu. "Apa yang mau kau bicarakan lagi? Aku tidak suka dengan hubungan yang terlalu banyak menuntut." "Aku tidak menuntut banyak hal. Dari dua puluh empat jam waktu yang kau punya, aku hanya minta waktu satu jam. Tapi kau, memberi waktumu dua puluh tiga jam untuk Vega. Vega, Vega, Vega. Disini aku pacarmu, bukan Vega." "Tapi Vega itu sahabatku. Dan meski pun pacar, kau hanya orang yang baru masuk kehidupan ku. Minggu kemarin kita baru kencan. Jangan cari masalah dengan mengungkit soal Vega." Karina menutup wajahnya dengan punggung tangan kanannya. "Kalau tahu sesakit ini, aku tidak akan mau jadi pasangan mu." "Kau, juga bukan orang yang aku mau." Terdengar suara isakan Karina yang makin keras ketika Altair berjalan keluar dari taman bekalang sekolah. Kakinya sudah menginjak lorong sekolah. Iris biru itu melihat Vega yang berada di lapangan seraya membawa paper bag. Altair menyinggungkan senyumnya, sebentar lagi bisa bertegur sapa dengan gadis berambut ikal panjang itu. Langkahnya dipercepat untuk menemui Vega. Tapi hanya bertahan beberapa detik saja, sampai langkahnya memelan ketika pandangannya tak sengaja menangkap Orion yang menghamipi Vega lebih dulu. Altair tetap melanjutkan perjalanannya seraya mengamati kedua orang itu. Vega tampak gusar sementara Orion terlihat merasa bersalah. Orion menangkup kedua tangannya seakan meminta maaf, Vega mengangguk. Vega memberikan paper bag itu kapada Orion. Yang membuatnya tak habis pikir ialah ketika Orion mengacak puncuk kepala Vega. Hal yang hanya bisa dilakukan Altair! "Kau kasih apa ke Orion?" tanya Altair tanpa basa-basi meski dirinya adalah tamu tak diundang dalam percakapan mereka. "Jaketnya Orion," jawab Vega. "Kenapa jaket Orion ada padamu?" "Karena waktu aku kencan dengan Orion itu hujan, dan dia pinjamkan aku pakaiannya." "Kenapa kau tidak memberitahu ku?" Orion yang berada di tengah antara Vega dan Orion menghela napas pelan. "Kau itu hanya sahabatnya, untuk apa perlu tau?" Altair mendengus. "Kau yang bukan siapa-siapa, lebih baik diam." "Mulai minggu kemarin, kami resmi jadi kekasih," ucap Orion. Sukses membuat Altair membelalakan mata dan menuntut jawaban dari Vega sebab Vega tidak memberi tahu apa-apa padanya. "Iya sekarang kami punya hubungan," jawab Vega. Altair berdecak kesal. Tanpa perkataan apa pun dia meninggalkan Orion yang tersenyum puas sementara Vega kebingungan dengan tingkah sahabatnya. Yang ada di pikiran Vega kala itu hanya, mungkin Altair merasa kecewa sebab Vega tidak memberitahu tentang hubungan ini kepada Altair yang notabenenya adalah sahabatnya sendiri. *** Brak! Altair melempar tasnya, menghalangi Orion yang hendak keluar dari toilet. Jika ini bukan waktu pulang sekolah. Mungkin banyak orang yang sadar akan ada perkelahian. "Kenapa?" tanya Orion datar. "Putus dari Vega sekarang juga. Dia itu gadis baik-baik." "Gadis baik-baik yang sayangnya dicintai lelaki brengsek." Orion menatap Altair tajam. "Itu bukan kata-kata untukku. Melainkan untukmu, menyukai gadis yang lain, tapi menjalin hubungan dengan gadis yang berbeda. Menyakiti gadis yang menjalin hubungan denganmu." Altair mengacak rambutnya, memandang Orion remeh. "Perlu aku beri kaca?" "Setidaknya aku tidak menyakiti Vega seperti yang kau lakukan ke Karina, membuat gadis itu menangis! Ah- setidaknya aku belum menyakiti Vega. Um...atau mungkin hampir menyakiti Vega?" BUAGH! Tanpa segan, Altair memberikan pukulan mentah yang cukup keras sampai Orion terjatuh ke lantai. Orion mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah. Dirinya kembali berdiri, menantang Altair. "Jangan macam-macam!" tunjuk Altair, inotasinya meninggi mengungkapkan kemarahan. "Tapi Vega tidak nolak. Waktuku cium dia pertama kali dikamarku, kau tahu bibirnya lembut dan terasa manis? Aku sentuh dia perlahan dari rambutnya dan terus turun ke bagian tubuh yang aku mau. Sampai akhirnya dia mendesahkan namaku ketika aku berada di atasnya. Ah karena terlalu semangat, aku sampai merobek bajunya dan akhirnya dia menggunakan bajuku. Itu kenapa pakaianku ada padanya." "b******k!" Altair menerjang Orion, memukul lelaki itu habis-habisan, begitu juga dengan Orion. Mereka seakan menumpahkan kekesalan masing-masing karena tidak bisa mendapati gadis yang mereka mau, membalas dengan cara memukul pasangan dari gadis yang mereka cinta. "Altair! Orion!" teriak Anthony. Jika saja Alex dan Anthony tidak datang untuk menghentikan pertengkaran mereka. Mungkin wajah tampan kedua lelaki itu lebih babak belur dari pada sekarang. "Kalau kita pulang dari tadi, mungkin besok kalian sudah ada di rumah sakit," ujar Alex. "Kalian ada masalah apa sih?!" bentak Anthony. "Kalau ketahuan kalian bisa dipanggil guru." "Tidak masalah." Altair mengambil tasnya kembali. "Keluargaku donator nomor satu di sekolah ini." Altair meninggalkan ketiga lelaki itu. Dia merogoh ponselnya, mencari kontak Vega, mengirimkan pesan singkat untuk gadis itu. Altair : Ke rumahku malam ini. Ayo kita main, kali ini aku yakin. Aku yang menang
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD