Orion bedecak. Lelaki itu mengambil jaket kulit yang ada di jok motornya. Jaket itu dia berikan ke Vega yang memakai kaos putih lengan panjang.
"Lho kenapa kasih ke aku?" tanya Vega.
"Bajumu tembus pandang. Aku tidak suka pacarku dilihat lelaki lain."
Sekarang langit mulai gelap. Halte mereka berteduh hanya disinari oleh cahaya lampu jalan.
Orion menyentuh pipi mulus gadis yang baru beberapa jam lalu menjadi kekasihnya. Lelaki itu tersenyum lebar. "Kau cantik," puji Orion.
"Makasih." Vega menggenggam tangan lelaki itu. Gadis itu terlihat malu-malu membalas tatapan Orion.
Bulu mata yang lentik, bibir ranum kemerahan meski lipstick yang dipakainya sudah terhapus, kulit porselen lembut layaknya bayi, ah jangan lupakan juga iris hazel layaknya musim gugur yang menenangkan.
Orion baru setuju, mengapa Vega bisa mendapatkan gelar gadis tercantik di sekolah mereka.
Dan gadis tercantik ini menyukainya yang biasa-biasa saja. Sementara dirinya ini menyukai Karina.
Kadang yang sulit dimiliki memang terlihat lebih menarik.
"Orion. Hujannya reda."
Suara lembut Vega menyadarkan Orion. Orion menjulurkan tangannya, mengecek apa memang hujan tak sederas tadi. Saat dirasa sudah bisa melanjutkan perjalanan. Orion kembali mengenakan helmnya, dan memakaikan satu helm lagi ke Vega.
"Habis ini kita mau ke mana?" tanya Vega.
Sempat digenggam oleh Vega, Orion sadar tangan Vega gemetar karena kedinginan, sepertinya tidak kondusif untuk melanjutkan kencan mereka yang tertunda . "Kita ke rumahku."
"Kenapa ke rumahmu?"
"Kau harus ganti baju dulu."
"Di rumah ada siapa? Bukannya orangtuamu keluar negeri?"
"Ada pengurus rumah. " Orion mengacak pelan puncuk kepala Vega. "Jangan pikir yang macam-macam."
Vega memukul pelan pundak Orion.
***
"Maaf ya, rumahku tidak sebesar rumah Altair."
Vega mengernyit ketika menginjakan kaki di bagasi rumah Orion. "Kenapa jadi Altair?"
Mereka berjalan memasuki rumah bergaya minimalis itu lewat bagasi.
"Selama ini, kau selalu disandingkan dengan Altair 'kan? Altair yang hidupnya layak pangeran. Nanti kau malu punya hubungan denganku yang jauh dibawah Altair dalam segala hal."
Vega menggeleng. "Aku dan Altair hanya teman."
"Meski selama bertahun-tahun kau disamping Altair, tidak ada perasaan sedikitpun untuk dia?"
"Tidak ada," jawab Vega tegas.
Jika Vega hanya menganggap Altair sebagai sahabatnya saja tanpa ada embel-embel perasaan apa pun dan mereka tidak pernah menjalin hubungan apa pun.
Apa arti tatapan Altair yang selalu tertuju tajam padanya adalah rasa cemburu karena Vega menyukainya?
Cklik!
Orion memutar knop pintu kamarnya. Kamar luas bernuansa biru yang menenangkan, terlebih lagi balkon kamarnya dibuka lebar dan tepat di depan kamarnya terdapat taman kecil penuh dengan tanaman hias.
"Ayo masuk."
"Ke kamar?" tanya Vega memastikan.
Orion mengangguk. "Kamar mandi tamu dalam perbaikan. Kamar orangtuaku dikunci, jadi hanya bisa pakai kamar mandi yang ada di kamarku. Aku tidak mau kau memakai kamar mandi untuk pengurus rumah, tidak cukup luas."
"Oh...oke."
Orion mengunci pintu kamarnya ketika dirinya dan Vega sudah berada di kamar. Meski berada di dalam satu tempat hanya berdua dengannya, Vega tampak tak takut.
Apa semua perempuan sama? Seperti Karina yang lebih dulu mencium Altair. Mungkin Vega juga menginginkan sentuhan fisik dari orang yang disukainya.
Vega membuka jaketnya. Memperlihatkan tubuh sintal yang berbalut kaos putih polos, karena basah pakaian dalamnya terlihat jelas.
Vega membalikan tubuh menutup bagian dadanya dengan jaket milik Orion.
"Boleh aku pinjam bajumu? Bajuku basah semua."
Orion sebisa mungkin tidak menelan ludah melihat tatapan polos Vega namun berbanding terbalik dengan pakaian gadis itu.
"Boleh. Aku cari bajuku yang kekecilan. Kau mandi dulu saja."
"Iya."
Vega sudah melangkahkan kaki jejangnya ke kamar mandi. Saat pintu coklat itu ditutup. Orion bernapas lega, tak lagi melihat penampilan Vega yang membuat darahnya berdesir meski gadis itu tidak sedang menggodanya.
Orion mencari pakaian yang sudah tak lagi muat di tubuhnya semenjak dirinya rajin pergi gym. Tapi tak banyak yang dia temukan, dia lupa jika baju yang tidak dipakainya sebagian besar sudah disumbangkan.
Orion sampai mencari ke bagian lemari paling bawah, dalam waktu lama dia hanya menemukan kemeja lengan panjang dengan motif kotak berwarna ungu.
Orion membawa kemeja itu, dia mengetuk pintu kamar mandi.
"Vega, ini bajunya."
Vega membuka pintu kamar mandi sedikit. Gadis itu menjulurkan tangan kecilnya mengambil baju yang disiapkan Orion.
Orion menunggu di dekat pintu. Tiba di mana Vega membuka pintu dan telah mengenakan kemeja Orion yang kebesaran ditubuhnya.
"Tidak ada celananya ya?"
Orion sontak mengalihkan matanya kebawah. Kemeja yang dia beri hanya sampai pada pertengahan paha Vega.
"Tidak ada. Nanti aku minta pengurus rumah untuk beli pakaian baru."
"Oh tidak perlu. Aku bisa hubungin Altair, sekalian menjemput aku di sini." Vega menyalakan ponselnya, gadis itu benar-benar ingin menghubungi Altair.
"Memang Altair ada di mana? Bukannya rumah kalian jauh dari sini?"
"Iya. Tapi sekarang Altair juga sedang kencan. Aku rasa-"
"Jangan." Orion menahan tangan Vega yang hendak mengetik pesan ke Altair.
Dari pada harus bersama Karina. Orion yakin, Altair lebih memilih untuk menjemput Vega lebih dulu, hal yang di mana bisa membuat Karina sakit hati. Orion tidak ingin Vega mengganggu Karina yang sekarang sedang bahagia.
Walau sekarang ini dirinya yang sakit hati memikirkan apa yang dilakukan Karina bersama Altair. Jika di sekolah saja Karina berani mencium Altair.
"Kau cemburu?" tanya Vega.
Aku hanya tidak mau Karina terluka karena Altair pasti lebih memilihmu. Meski hatinya berbisik demikian, Orion tak mungkin mengungkapkannya. "Iya aku cemburu."
Lebih tepatnya cemburu terhadap Altair. Mendapatkan ciuaman dari gadis yang disukai Orion.
"Tidak perlu cemburu. Yang aku suka itu, Orion. Bukan Altair."
Iris mata hazel itu berbinar, penuh kasih sayang terhadap lelaki di depannya.
Vega benar-benar menyukainya. Tapi dengan jarak dan situasi seperti ini, gadis itu tak menunjukan gelagat untuk menciumnya.
Semisal, dirinya mendapatkan ciuman dari Vega dan Altair mengetahui itu. Sepertinya Altair juga merasakan apa yang dirinya rasakan.
"Aku juga menyukaimu," ucap Orion dengan suara rendah tepat di telinga Vega.
Menimbulkan rasa geli pada Vega.
Lagi, Orion mengusap lembut pipi Vega. Sementara tangan kirinya mengunci Vega pada dinding biru polos di belakang gadis itu.
Jika tidak ada suara derasnya hujan, mungkin akan terdengar suara debaran jantung Vega yang belum siap pada situasi ini.
Tangan Orion turun menuju dagu Vega, sementara wajahnya semakin mendekat pada wajah Vega yang memerah layaknya kepiting rebus. Telunjuk Orion mengusap bibir Vega pelan.
Sebelum akhirnya lelaki itu memberanikan dirinya mencium lembut bibir Vega.
Awalnya hanya kecupan biasanya saja. Vega tidak menunjukan penolakan. Hingga Orion berani untuk menuntun ciuman ini menjadi lebih panas. Orion menggigit bibir bawah Vega, mengisyaratkan Vega untuk membuka mulut.
Vega yang paham, mulai membuka mulutnya. Lidah mereka bertemu, membuat suara decapan yang diciptakan menjadi harmoni yang lebih merdu dari suara hujan diluar.
Orion yakin Vega menginginkan hal yang lebih lagi.
Tangan kekar lelaki itu mulai mengarah kebawah, membuka kancing kemeja Vega yang pertama.
Tangan Vega yang tadinya diam, mulai menepuk pundak Orion berkali-kali. Sampai pada kancing kedua yang dilepas hingga memperlihatkan belahan d**a Vega.
Vega mendorong Orion sekuat tenaga sampai ciuman mereka terlepas.
"Hah...hah..."
Vega terengah-engah, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, seraya mengancingkan kembali kemejanya.
Orion kembali mendekati Vega. "Aku... maaf ya," ucapnya terbata. "Aku tidak akan seperti itu lagi."
"Iya." Vega mengalihkan pandangan, tak ingin melihat Orion. "Aku mau pulang."
Walau ingin meminta maaf lebih. Sepertinya Vega tak ingin di ganggu dulu. "Ayo aku antar."