Hari Jadi

1183 Words
"Kenapa kau mau jadi pasangan ku?" Karina menatap lelaki di sebelahnya dengan mata memerah menahan tangis. Sebagai alat supaya Vega cemburu, barang kali ada sedikit perasaan dari Vega untukku. Seharusnya Altair menjawab begitu, namun bibirnya malah berkata, "Aku menyukai mu." Entah sudah ke berapa kalinya, berbohong adalah yang mudah Altair ucapkan. "Lalu kenapa aku tidak merasa begitu?" Suara Karina mulai bergetar. "Di hari pertama kita. Aku bilang sifatku itu cuek, dan sulit menunjukan perhatian tapi kau masih mau terima. Sekarang kau permasalahkan sifatku ini?" Playing fictim yang bagus Altair. Kau yang salah di sini, tapi kau menyalahkan pasanganmu, sebab kau tahu perempuan itu sangat mencintaimu. Ejek Altair pada dirinya sendiri. "Karena aku yakin kau berubah. Tapi semakin lama, aku semakin lihat, kalau perhatian yang kau berikan itu hanya untuk satu orang, Vega." Nama terakhir yang Karina katakan, sukses membuat perempuan itu menangis. "Kau... kau menyukai Vega 'kan?" Altair tidak menjawab. Dia memeluk Karina tiba-tiba, sampai tubuh perempuan itu mulai sedikit tenang, Altair melepaskan pelukannya dan mengusap kedua pipi Karina dengan ibu jarinya. Menghapus jejak air mata di pipi perempuan itu. Aroma sehabis hujan, udara yang terasa lebih dingin dari biasanya. Membuat suasana menjadi lebih sedikit romantis. Mungkin mirip cerita-cerita drama kisah percintaan remaja. Hingga tanpa sadar Karina mencondongkan sedikit wajahnya, dengan mata tertutup. Altair paham apa yang di mau Karina. Ibu jarinya kini berpindah ke bibir ranum Karina. Lalu setelah itu, dia mencium ibunya jarinya sendiri yang berada di bibir Karina. Matanya tak tertutup. Namun menatap tajam lelaki yang mengintipnya berada di balik tembok lorong menuju taman. Setelah lelaki itu pergi. Altair menjauh dari Karina yang kini mematung karena perlakuan Altair. "Kau kenapa pura-pura menciumku?" "Hanya mengetest seberapa tingginya harga dirimu. Baru berapa hari pacaran kau berani ingin menciumku? Jangan-jangan kalau hubungan kita masuk sebulan, kau berani mengajak ku having s*x? Kenapa kau mudah memberikan tubuhmu? Bahkan ke orang yang baru memulai hubungan denganmu," ucap Altair tajam. Karina menunduk dalam, dengan sendu dia berkata, "ini karena aku mencintaimu." Lalu tangisan itu kembali terdengar. Altair tak peduli lagi. Dia malah melangkah pergi seraya berkata, "aku rasa lebih baik kita sendiri dulu, tenangkan pikiran masing-masing." Tenang? Bagaimana mungkin pikirannya bisa tenang sekarang? Bicara tentang tubuh, memberikan hal yang paling berharga karena takut orang yang di cinta pergi. Apa mungkin juga terbesit hal yang sama di diri Vega? *** Rok pendek selutut yang bermotif kotak-kotak, dipadukan dengan kemeja berwarna pastel dengan lengan panjang. Rambut sepinggang yang biasanya terkuncir rapih kini dibiarkan tergerai dengan ujung yang buat bergelombang, jangan lupakan juga bando jaring yang sewarna dengan baju yang di pakainya. Vega amat manis meski hanya dipandang sekilas mata. Wajar sekali bukan jika dia sendiri mendapat julukan primadona? "Mau jalan sama Altair ya?" tanya ayahnya yang masih menyantap makanan. Namun matanya fokus melihat anak tunggalnya yang tengah sibuk mencari sepatu. "Bukan. Sama teman sekolah yang lain, kebetulan ingin tugas kelompok juga." Vega mengambil sepatu tali berwarna abu-abu dan segera di pakainya. "Laki-laki?" tanya bunda. Vega mengangguk malu-malu. “Kebetulan teman sekelompokku itu laki-laki.” "Boleh sama Altair? Dia tidak cemburu? Kalian sudah pacaran 'kan?" tanya ayah berkali-kali. Vega menggeleng cepat. "Aku dan Altair hanya sahabat dari kecil, tidak ada perasaan apa-apa. Altair juga sudah punya pacar." "Oh jadi kau mau balas Altair yang sudah punya pacar. Kau cemburu ya," ibunya ikut menimpali. "Padahal keluarga kita dan keluarga Altair ada niat untuk menjodohkan kalian lho," celetuk ayah. "Tapi kalau kalian punya pilihan masing-masing ya tidak apa-apa." Vega ingin membalas perkataan orangtuanya, tapi ponselnya lebih dulu bergetar menandakan ada pesan masuk. Orion: Vega. Aku ada di depan gerbang rumah mu "Ah teman ku sudah sampai. Aku berangkat dulu ya!" Vega berpamitan kepada orangtuanya. Sebelum bergegas menuju gerbang rumahnya menemui Orion. Rambut pendek yang sedikit berantakan, celana jeans biru panjang, yang dipadukan kaos putih yang membentuk tubuh atletisnya, dengan kemeja biru dongker yang tidak dikancing sebagai luarannya. Hei! Kenapa lelaki ini berkali-kali lipat lebih tampan dari pada saat menggunakan seragam sekolah? "Tunggu sebentar." Orion melepaskan kemejanya. "Maaf ya." Dia melangkah lebih dekat kepada Vega, lalu kemeja itu dia lilitkan pada pinggang kecil Vega, sehingga kemeja besar itu menutupi lutut Vega sepenuhnya. "Oh terimakasih." Perhatian sekecil apa pun dari Orion, selalu membuat pipinya merona. Kadang Vega kesal, kenapa dirinya selemah itu terhadap Orion? "Maaf ya. Aku belum boleh membawa mobil seperti Altair. Jadi hari ini kita pakai motor." "Tidak apa-apa. Aku juga mau sesekali pakai motor," balas Vega senang. Orion mengambil helm hitam berukuran sedang dari jok motornya dan di pakaikan untuk Vega. Sementara dirinya menggunakan helm yang ukurannya lebih besar. Orion lebih dulu menaiki motor harley davidson miliknya. "Ayo naik," ucap Orion. Tanpa ragu, Vega duduk di jok belakang Orion. Namun, dia ragu untuk memeluk Orion di belakangnya, hanya mampu memegang kedua sisi kaos Orion. Orion terkekeh pelan, kedua tangannya memegang tangan Vega untuk memeluknya. "Boleh 'kan?" "Boleh," jawab Vega antusias. Kepala Orion mengadah, dia menyipitkan matanya saat melihat ke langit. Ketika lelaki itu menoleh lagi ke Vega, dia memamerkan senyumnya yang seperti kelinci. “Hari libur dengan suasana musim semi seperti ini. Lebih enak dipakai untuk kencan sebenarnya ya, dari pada untuk mengerjakan tugas.” Vega mengusap tengkuknya. Tanpa melihat ke Orion, dia berkata, “tidak masalah kalau kau ingin menggantinya dengan kencan.” "Siapa takut?” Orion terkikik geli. “Kau tahu rekomendasi tempat yang bagus?" “Café sepertinya bisa jadi pilihan yang bagus juga." "Kebetulan aku tahu cafe yang enak di sini. Kita berangkat sekarang ya." Jantung berdegup cepat, pipinya yang tak perlu dioleskan blush on karena sudah memerah padam, tangan bergetar setiap kali kulitnya tak sengaja bersentuhan. Rasa gugup ini...baru pertama kali Vega rasakan. Pantas banyak pujangga yang menyandungkan ayat-ayat cinta yang teramat manis, sebab itu yang Vega rasakan pada saat ini. Vega merasa rugi sekali baru merasakan moment menVegangkan ini ketika usianya menginjak 18 tahun, dipenghujung tahun ajaran sekolah. Belasan tahun menghabiskan waktu dengan Altair memang menVegangkan, tapi sehari bersama Orion lebih menVegangkan dari pada bersama Altair. "Maaf kalau aku kaku. Ini pertama kalinya," Orion membuka obrolan kembali. "Ini juga pertama kalinya buat ku," balas Vega. "Tapi kau banyak pengalaman dengan lawan jenis. Aku dengar, kau dekat dengan Altair dari kecil." "Kami 'kan cuma sahabat. Tidak ada campur tangan perasaan sama sekali. Buktinya, dia sekarang punya pacarkan." "Kalau kau sendiri sudah punya pacar belum?" tanya Orion sedikit lantang karena sudah menjalankan motornya dengan kecepatan yang lebih tinggi. "Belum. Aku sedang menunggu seseorang," jawab Vega dengan intonasi yang sama seperti Orion. "Aku tahu siapa!" "Siapa?" "Aku 'kan? Kau sebenarnya menyukaiku kan?" Vega terkekeh pelan, dengan semangat dia berkata, "kalau aku menyukaimu. Kau mau apa?" "Mau kau jadi pacar ku!" teriak Orion. Seakan tidak peduli banyak mata yang menatap mereka. Vega tertawa senang. "Kalau begitu ayo kita pacaran," balasnya tanpa malu. "Oke. Kalau begitu, sekarang adalah hari jadi kita yang pertama." Vega memeluk Orion begitu erat. Jantungnya berdebar tak karuan. Jika menjalin hubungan yang menVegangkan semudah ini, seharusnya dia lakukan sejak dulu. Memang begini seharusnya masa remaja. Menjalin cinta dengan orang yang disuka tanpa harus melalui hal rumit yang membuat sakit kepala. Walau dirinya sadar, Orion belum menyukainya, sebab hati lelaki itu masih dititipkan kepada Karina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD