"Ah sial!" Altair mengumpat saat tak sengaja jarinya terkena pinggiran papan.
Hari itu ulang tahun Vega, jadi dia mempersiapkan dekorasi guna merayakan hari ulangtahun tetangga sekaligus sahabatnya sejak kecil.
Mencuci tangannya sekilas, Altair langsung menggunakan perban asal-asalan dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sampai tak sadar ponselnya memunculkan notifikasi dari orang yang sama. Vega.
Vega : Altair. Kapan menjemputku?
Vega : Aku tunggu kau di gerbang ya
Vega : Altair?
Altair kembali mengumpat saat membaca pesan yang sudah Vega kirim sejak satu jam lalu.
Namun dekorasi yang dia persiapkan belum juga selesai.
Altair bergegas mencari kunci mobil untuk menjemput Vega yang sudah pulang dari ekskul kebumian di sekolah.
Tapi baru juga menemukan kunci mobil. Dia mendapatkan pesan baru dari Vega.
Vega : Kau lama. Aku sekarang di depan rumah mu
Altair yang kebetulan berada di halaman depan, segera membuka gerbang rumahnya.
Dia mendapati Vega, dengan pakaian putih yang sedikit basah, untungnya di tutupi oleh jaket besar yang baru Altair lihat.
"Vega."
Suara bariton menyadarkan Altair, bahwa Vega tidak sendirian saat datang ke sini.
"Aku pamit pulang ya."
Wajah Vega bersemu merah. Tersenyum kecil. "Senin nanti aku kembalikan jaket mu ini ya, Orion."
Lelaki yang dipanggil Orion itu mengangguk. Kembali mengendarai motornya menjauhi kediaman Altair.
Ada Altair dihadapan Vega. Namun, Vega malah terfokus pada punggung Orion yang mulai menjauh, seraya kembali mengeratkan jaket yang dipinjamkan Orion.
Sebenarnya ... sejak itu Altair sadar, dengan apa yang dirasakan oleh sahabatnya sejak sorot mata yang amat dia sukai itu, memandang Orion dengan cara berbeda.
Tapi tetap saja, hati Altair terlalu egois untuk menerima kenyataan.
***
"Karina. Pasti kau senang ya punya kekasih idaman para gadis di sekolah ini."
Karina menggangguk. Menanggapi pernyataan dari salah satu temannya, Yunjin. "Jelas bahagia! Aku suka dia. Kalau kau mau tau, aku hampir putus asa karena selama ini dia dekat sama Vega."
"Aku juga sempat kira, mereka diam-diam punya hubungan khusus."
"Entah." Karina mendongakkan wajah cantiknya ke langit dengan awan yang berarak.
"Kenapa kau jawab begitu?" Yunjin menaikan sebelah alisnya.
"Karena, meski baru pacaran dengan Altair. Aku rasa dia lebih mengutamakan Vega dari pada aku."
"Mungkin karena mereka sahabat, makanya Altair seperti itu," timpal Yunjin.
"Ya mungkin." Lalu Karina tersenyum lebar. "Yang jelas, Altair itu sekarang milik ku."
Obrolan Karina dan temannya berlanjut, menceritakan tentang si idola sekolah yang menjadi pasangannya. Bagaimana cara Altair membalas perasaan Karina, dan bagaimana 'gaya' pacaran yang Altair tunjukan untuk pasangan.
Sangat seru menjadi bahan omongan. Dan sayang sekali harus dihentikan saat seorang lelaki datang dengan membawa perlengkapan kebersihan.
"Karina! Sekarang giliran mu piket."
Karina berdecak, melirik Orion dengan sorot kesal. "Tanpa perlu kau ingatkan, aku juga tidak mungkin lupa."
"Kalau kau tidak mungkin lupa, kenapa minggu kemarin kau kabur, Nona Karina?" sindir Orion
Bibir ranum itu mengerucut. Lalu bangun dari kursi taman dan mengambil semua peralatan yang di bawa Orion.
Orion pun tak bisa menghentikan sudut bibirnya yang naik saat Karina mulai melangkah pergi setengah hati.
"Kau masih suka Karina?"
Pandangan Orion beralih ke sosok perempuan yang tadi menjadi lawan bicara Karina.
Orion menggeleng ragu.
Yunjin berdiri, bersiap menyusul Karina. "Salah kau sendiri. Lama ambil langkah ke hubungan yang serius."
Ucapan itu menohok hatinya. Tapi tak bisa dia elak karena memang itu kenyataan.
Orion duduk, di tempat yang Karina duduki tadi.
Hangat, batinnya.
"Hei!"
Dan perasaan hangat itu dikalahkan oleh botol kaleng dingin yang menyentuh pipinya. Hampir saja dia mengumpat, karena menyangka yang menjailinya itu Anthony.
Tapi saat menoleh ke belakang, dia melihat Vega yang memegang dua kaleng minuman soda. "Untuk mu."
"Terimakasih Vega,” ucap Orion, “oh iya, ada apa kau menemuiku?”
“Aku mau tanya. Kita bisa kerja kelompok hari apa? Aku ikut kau saja, karena aku bisa hari apa saja.”
Lalu si gadis tubuh mungil itu duduk di samping Orion, dengan gelagat yang sedikit canggung.
Orion merasakan tetesan air yang mengenai wajahnya. "Vega, ayo ke gedung sekolah dulu. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan."
Hanya dengan kalimat sederhana Orion. Pipi gadis itu bersemu merah. "Ayo sama-sama."
"Aku di belakang mu ya. Supaya kalau hujan nanti, aku bisa menutupi mu dengan jaket ku lagi."
Sorot mata gadis itu berbinar. "Eh? Kau ingat?"
"Tentang yang aku mengantarmu pulang saat hujan? Tentu saja aku mengingatnya," balas Orion.
Itu adalah satu-satunya hal gentle yang dia lakukan untuk perempuan. Makanya Orion tidak mungkin lupa. Bukan karena ada perasaan khusus untuk Vega, yang membuat Orion terus mengingat tiap moment bersama perempuan itu.
"Jangan sampai kita kehujanan lagi. Nanti aku harus cuci jaket mu lagi, sebelum memberikannya padamu."
"Tapi itu satu-satunya cara yang aku tahu supaya kau bisa temuin aku dengan alasan."
Iris serupa batu onyx itu memperhatikan gelagat perempuan disampingnya. Tidak bermaksud menggombal, hanya sedang mengetest seberapa benar ucapan teman-temannya yang berkata bahwa Vega menyukainya.
"Memangnya kalau aku menemuimu tanpa alasan kenapa?" tanya Vega.
"Rasanya, itu hampir tidak mungkin. Karena setiap kau menemui ku, selalu disertai urusan yang kau ingin sampaikan, mulai dari kerja kelompok atau apa pun. Mirip gelagat orang yang suka seseorang, tapi seseorang itu tidak boleh tahu."
"Ah... bukan begitu."
"Iya sih benar. Mana mungkin seorang Vega suka padaku?"
"Kenapa tidak mungkin?" jawab Vega spontan.
"Oh jadi kau suka aku ya?"
Vega mulai menunjukkan gelagat kikuk. "Ah bukan!"
"Kalau aku saja yang menyukaimu, tidak apa-apa kan?"
Vega menatap Orion dalam. Bibir ranum itu bergetar, seakan ragu untuk menjawab.
Namun belum juga suaranya keluar. Seseorang meneriaki namanya.
"Hei! Vega!"
Altair berjalan cepat ke arah Vega. Lalu menggenggam erat pergelangan tangan Vega.
"Kamu kemana?!"
"Ah lepas dulu. Sakit." Vega mencoba menepis tangan Altair, namun tenaga lelaki itu lebih kuat.
"Jangan kasar begitu," ucap Orion. "Lagi pula dia hanya teman mu. Bukan Karina yang notabenenya pasangan mu. Jadi tidak masalah jika dia berbicara dengan lelaki lain."
Altair terlihat marah.
Tak ingin ada keributan, Vega berkata, "Altair, ayo kita pulang. Orion, aku duluan ya!"
Vega menuntun Altair menuju lorong untuk keluar taman.
Lalu Orion berteriak. "Vega, aku bisa kerja kelompok hari minggu."
Dengan wajah senang. Vega mengacungkan ibu jarinya.
Berbanding terbalik dengan wajah lelaki di sampingnya.
***
"Altair, kau marah ya?" ucap Vega yang duduk di samping Altair yang tengah mengemudi.
"Tidak."
"Aku minta maaf karena membuatmu menunggu." Vega menautkan kedua tangannya seperti sedang memohon. "Aku ke taman karena aku kira kau di sana. Tapi ternyata ada Orion. Yasudah aku sekalian saja mengajak dia untuk menjadwalkan kerja kelompok kami."
"Lalu waktu ada Orion, kau jadi melupakan ku? Begitu?"
"Maaf, bukan begitu," jawab Vega dengan nada memelas.
Hening antara mereka. Vega takut salah berbicara sementara Altair tenggelam dalam pikirannya.
Hingga dia berani menyuarakan apa yang ada di otaknya. "Kalian...sudah mulai dekat ya?"
Altair hanya butuh jawaban 'iya' atau 'tidak'. Sungguh.
Tapi Vega menjawab hal yang paling tidak ingin Altair dengar. "Tadi Orion berkata menyiratkan seolah dia suka padaku. Dan dia-"
"Jangan balas perasaannya," ucap Altair seakan memerintah. Padahal Vega belum menyelesaikan ucapannya.
"Lho kenapa?" Vega kebingungan.
"Aku..." Aku yang lebih dulu menyukaimu. "...tidak mau kau membagi waktu dengan lelaki lain, selain aku."
Vega terkikik geli. Menepuk pundak Altair beberapa kali. "Tenang kau tetap yang pertama."
"Tapi aku merasa. Dia bukan yang baik untuk mu."
"Lalu siapa yang menurutmu baik untuk ku?"
Aku. "Seseorang yang benar-benar menyukaimu."
Vega tersenyum tipis. "Kau juga sadar ya dia tidak begitu suka aku? Tapi aku percaya cinta ada karena keterbiasaan bersama."
“Kau percaya dengan ungkapan konyol itu? Aku sih tidak.”
Jika benar cinta ada karena keterbiasaan bersama, Altair pastikan Vega juga menyukainya yang sudah bertahun-tahun bersamanya. Bukannya malah menyukai lelaki yang baru ditemuinya belum genap setahun.
"Kau selalu pemisis dalam hal cinta ya, Altair? Aku akan buktikan ungkapan itu benar!"
Altair melirik Vega dengan tajam. “Coba saja, Vega.”