Siska memandang rumah sederhana bercat putih yang sudah memudar, dengan pagar yang tidak terkunci dan terbuka sebahagian dia bisa masuk ke dalam pekarangan rumah dan sekarang sudah berdiri di depan pintu rumah yang tertutup. Rumah itu terlihat sepi, seperti rumah yang tidak berpenghuni namun dengan teras yang bersih dan halaman yang terawat menandakan jika rumah itu masih ada yang menempati.
“Permisi….” Siska memanggil sekaligus mengetuk pintu rumah dengan pelan.
Tidak terdengar jawaban dari penghuni rumah.
“Permisi….” Dia mencoba memanggil sekali lagi dengan suara yang agak di keraskan.
Sambil menunggu dan berharap penghuni rumah datang dan membukakan pintu untuknya, Siska mengedarkan pandang ke sekeliling halaman rumah yang sederhana itu. Melihat kondisi rumah, Siska bisa menilai jika keadaan ekonomi keluarga Farfalla sedang tidak baik terbukti dari cat rumah yang sudah pudar dan sudah seharusnya di ganti serta pagar rumah yang besinya sudah keropos dan berlubang dimana-mana.
Siska kembali berbalik dan menghadap pintu, ia akan memanggil sekali lagi dan jika masih tidak ada sahutan maka Siska akan pulang.
“Permisi….” Kali ini suara Siska lebih keras lagi dari sebelum nya dan ketukannya di pintu juga lebih kuat.
Karena masih tidak ada yang membukakan pintu, Siska kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kemudian menyisipkannya ke celah pintu.
Sebuah surat panggilan yang sudah Siska persiapkan jika kunjungannya tidak membuahkan hasil. Guru muda itu berharap orang tua Farfalla bisa datang ke sekolah esok hari untuk membicarakan masalah anak mereka.
Baru saja Siska hendak berbalik untuk pulang, dua orang wanita muncul dari arah luar. Kedua wanita itu menatap heran pada Siska dan begitu juga sebaliknya, Siska juga menatap kedua wanita itu dengan tersenyum kecil dan ragu-ragu untuk memastikan kalau diantara mereka adalah orang yang Siska cari.
“Selamat siang, Bu,” sapa Siska ramah.
“Saya Siska, wali kelas Farfalla. Saya datang ke sini berniat untuk menemui orang tua Farfalla.”
Dua wanita yang tak lain adalah Arinee dan Alamanda balas tersenyum pada Siska. Kemudian,
“Saya ibunya Farfalla, ayo kita masuk dulu Bu,” ajak Arinee dan lengkah lebar ia bergegas untuk membukakan pintu rumah.
Arinee memungut sebuah amplop yang berlogo sekolah Farfalla dan reflek ia menoleh pada Siska.
“Saya tadi yang meletakkan karena saya pikir tidak ada orang di rumah,” terang Siska.
“Silahkan masuk, Bu. Maaf… saya tadi sedang keluar bersama tante Farfalla.”
Arinee segera duduk di sofa dan di ikuti oleh Siska, sementara Alamanda langsung menuju dapur untuk menyiapkan minuman.
“Maksud saya datang ke sini adalah untuk menanyakan kondisi Farfalla. Sudah dua hari ini dia tidak masuk sekolah dengan status tanpa keterangan. Kalau boleh saya tahu, bagaimana kabarnya, Bu? Karena jika besok dia masih tidak hadir ke sekolah, dia bisa dikenakan sangsi.”
Arinee meremas ujung rok yang sedang ia pakai. Ia menahan bulir air mata yang mau keluar. Sudah dua hari ini dia dan Alamanda berkeliling mencari Farfalla. Arinee bahkan baru tertidur satu atau dua jam saja, yaitu saat pulang kerja sebelum subuh. Pagi nya setelah matahari terbit, Arinee dan Alamanda mulai mencari Farfalla.
“Farfalla menghilang, Bu,” ujar Arinee dengan suara serak. Satu bulir air mata lolos juga membasahi pipinya. Buru-buru Arinee menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya itu. Kemudian ia tersenyum kecil pada Siska.
Siska terlihat terkejut saat mendengarkan ucapan Arinee, namun ia berusaha untuk tenang karena Arinee terlihat ingin melanjutkan ucapannya.
“Saya sama tantenya sedang berusaha untuk mencari Farfalla. Maaf… saya lupa mengabari sekolah karena saya benar-benar kalut dan bingung. Farfalla tidak pernah keluar rumah sendirian, sepulang sekolah ia langsung pulang dan akan berdiam diri di rumah. Karena itu saya sangat khawatir, di tambah lagi saya tidak tahu siapa saja temannya yang berkemungkinan di kunjugi oleh Farfalla karena selama ini saya melihat dia tidak memiliki teman dekat.”
“Saya benar-benar takut dan saya tidak tahu langkah apa sebaiknya yang saya lakukan.”
Kali ini Arinee sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, memikirkan keselamatan Farfalla membuat dia tidak akan berhenti menangis.
Alamanda datang membawa segelas jeruk dingin dan meletakkan nya di depan Siska, wanita itu kemudian mengambil tempat di sebelah Arinee yang sedang terisak.
“Mama Farfalla tidak berhenti menangis sejak ia mengetahui Farfalla pergi dari rumah. Kami bahkan tidak bisa tidur dua malam ini karena memikirkan Farfalla.” Alamanda yang bersuara.
“Apa dia sedang ada masalah, Bu? Atau ada sesuatu yang dia pikirkan? Biasanya anak seusia Farfalla jika sedang mendapatkan masalah dan dia tidak bisa menyelesaikannya di dalam rumah, tidak mendapatkan tempat diskusi dan bercerita yang baik maka dia akan mencari solusi di luar rumah. Dia akan mencari tempat yang ia rasa paling nyaman untuk menyelesaikan masalahnya.”
Arinee menoleh pada Alamanda, dan di saat yang bersamaan Alamanda juga melakukan hal yang sama. Keduanya memiliki pemikiran yang sama dan tentu saja mereka tidak akan menyampaikan hal itu pada Siska.
“Farfalla tidak pernah mengeluhkan apa-apa, selain….”
Arinee menghentikan ucapannya, ia terlihat ragu untuk menyampaikan. Setelah ia merasa sedikit tenang, ia pun melanjutkan.
“Farfalla menunggak SPP selama empat bulan, saya baru bisa memberi dia uang untuk membayar dua bulan. Sebenarnya saya sudah mendapatkan uang untuk SPP yang tertinggal dua bulan lagi. Tapi di saat yang sama… Farfalla menghilang.”
Alamanda mengambil tangan Arinee dan memberi dukungan dengan mengenggam erat tangan wanita itu. Arinee butuh dukungan karena selama ini ia tahu, Arinee bertahan hidup karena ada Farfalla di sampingnya.
Siska menatap iba pada Arinee, jika kasusnya farfalla kabur dari rumah ia sendiri juga tidak bisa melakukan apa-apa. Yunus tadi sudah menceritakan pada Siska mengenai keterlambatan pembayaran uang sekolah Farfalla dan Siska siap membantu jika hanya itu masalahnya. Tapi untuk kasus Farfalla yang hilang dari rumah, wanita itu juga bingung harus melakukan apa.
“Ibu tidak ingin membuat laporan kehilangan di kantor polisi?” Hanya itu yang ada dalam pemikiran Siska.
“Dengan membuat laporan itu, kemungkinan besar Farfalla bisa di temukan. Dia sudah pergi dari rumah selama dua hari dan kita sebagai keluarga sudah bisa membuat laporan tersebut di kantor polisi,” terang Siska.
“Ibu jangan khawatir, nanti saya juga akan mencari tahu dengan menanyakan kepada teman-teman satu kelas Farfalla. Barangkali diantara mereka ada yang mengetahui keberadaan nya.”
“Terima kasih, Bu.” Arinee tersenyum, ia berharap Siska bisa mencari tahu melalui teman-teman Farfalla. Sampai saat ini, Arinee masih menghindar untuk melapor apda polisi karena nanti bisa saja laporan itu akan mencelakakan dirinya dan Farfalla.
“Kalau begitu, saya permisi dulu. Sebaiknya ibu istirahat karena saya bisa melihat dari wajah ibu kalau ibu kurang istirahat.”
Siska kemudian meminum air jeruk yang di sajikan kemudian ia bangkit dari duduknya, yang dia katakan adalah benar. Wajah Arinee dan Alamanda terlihat sangat sayu dan lelah, kantung mata kedua wanita itu terlihat membesar dan hitam, pertanda kurang tidur. Siska tidak mau berlama-lama lagi karena sekarang ia sudah tau dengan apa yang menimpa Farfalla.
*
Rudolf memperhatikan karyawan yang baru bekerja dua hari itu dari ruang kerjanya. Ia sulit mempercayai Carla yang mengatakan kalau farfalla sudah berumur Sembilan belas tahun. Rudolf bisa membayangkan di balik baju kerja yang sedang di pakai gadis itu ada bagian-bagian yang baru saja mekar, bagian tubuh yang masih mentah yang belum bisa di cicipi sama sekali.
Rudolf adalah lelaki dewasa yang berusia tiga puluh dua tahun dengan segudang pengalaman akan tubuh wanita. Dia tidak bodoh dalam menilai wanita meskipun wanita itu masih berpakain utuh.
“Nita, suruh karyawan baru itu menemuiku.”
Rudolf meletakkan ponselnya di meja setelah menghubungi Nita. Bar miliknya sekarang belum begitu ramai di kunjungi. Tempat itu akan di hujani manusia apabila telah lewat jam sepuluh malam.
Pintu ruangan Rudolf di ketuk dari luar, dan Rudolf langsung saja bersuara menyuruh tamu yang sudah di mintanya untuk datang itu supaya segera masuk.
Farfalla masuk ke dalam dengan senyum yang terkembang. Sedikitpun tidak ada keraguan yang menyelimuti hatinya saat menemui atasannya itu.
“Kak Nita bilang, saya di minta untuk menemui Bapak,” ujar Farfalla.
“Hmmm…. Ya!” Rudolf bangkit dari duduknya, kemudian berjalan medekati Farfalla. Pria itu kemudian berdiri tepat di depan gadis itu dengan b****g tersandar pada sisi meja kerjanya.
Rudolf menatap Farfalla tanpa jeda, ia memindai tubuh gadis itu dari ujung rambut hingga kaki.
“Berapa usia mu?” tanya Rudolf.
“Sembilan belas tahun,” jawab Farfalla cepat. Farfalla bukan gadis yang bodoh, dia sudah tahu kalau Carla berbohong pada Rudolf mengenai usianya. Dan untuk berjaga-jaga dia sudah mempersiapkan diri jika nanti ada yang bertanya.
Rudolf menyipitkan kedua mata, namun netranya masih menatap wajah gadis itu.
“Aku belum pernah bertanya kepadamu, sebelum kamu bekerja di sini, kamu pernah bekerja dimana saja?” selidik Rudolf.
“Belum ada. Ini tempat kerja pertama ku,” jawab Farfalla.
Satu sudut bibir Rudolf tertarik ke atas, jawaban Farfalla sangat menggelikan hatinya.
“Kamu cukup berani,” ujarnya kemudian berbalik menuju kursi kerjanya, menjadikan Farfalla berdiri di depan pria itu dengan berbatas meja kerja.
“Aku menyukai tempat ini,” jawab Farfalla lagi.
Dan lagi jawaban Farfalla membuat perut Rudolf tergelitik geli. Tidak tahukah gadis ini kalau sekarang dia sedang berada di pinggir jurang yang sebentar lagi akan di jatuhkan ke dasar yang paling dalam dan menakutkan?
Hanya ada dua kesimpulan yang bisa Rudolf simpulkan, gadis yang sedang berdiri berani di depannya ini benar-benar lugu dan tidak tahu apa-apa tentang dunianya yang sekarang atau dia sudah benar-benar dewasa dan sudah mengetahui dengan jelas seperti apa dunianya.
Rudolf menyalakan ponselnya, mengaktifkan perekam di benda canggih itu dan tentu saja Farfalla tidak menyadarinya.
“Aku harap kamu tidak akan menyesal setelah bekerja di sini,” ungkap Rudolf kemudian.
“Tentu, Pak. Saya tidak akan menyesal. Seperti yang saya bilang dari awal… saya sangat menyukai tempat ini.” Farfalla berkata meyakinkan.
“Baiklah., saya pegang ucapan mu. Kamu tentu sudah mendegar seperti apa tempat ini dari kakak mu,” pancing Rudolf.
“Ya.”
“Seberapa banyak yang sudah kamu ketahui?”
“Semuanya?”
Satu alis Rudolf terangkat. Gadis ini benar-benar sudah dewasa seperti optionnya yang ke dua. Dia berwajah lugu dengan tubuh yang baru mekar serta menggoda tapi memiliki pemikiran yang dewasa. Rudolf cukup senang melihat kenyataan itu.
“Setelah kamu mendengar seperti apa bekerja di tempat ini, apa kamu mau mundur atau tetap lanjut bekerja?” tanya Rudolf.
“Saya akan lanjut bekerja.”
Rudolf tersenyum lebar, setelah mendengar ucapan Farfalla dia sudah tidak akan meragukan usia gadis itu lagi.
“Kamu bisa melanjutkan pekerjaan mu, dan apabila kamu mendapatkan pekerjaan ekstra, kamu tidak akan menolaknya kan?” tanya Rudolf.
“Tentu, dengan senang hati saya akan menjalaninya.” Farfalla kembali tersenyum lebar untuk meyakinkan Rudolf kalau ia benar-benar menyukai tempat kerja itu.
Rudolf memberi kode dengan tangan kanan nya supaya Farfalla segera keluar dari ruangannya. Setelah sesi wawancara singkat tadi, ia tidak perlu meragukan lagi usia Farfalla. Jari telunjuknya menyentuh tombol off di perekam suara yang tadi dia aktifkan. Setidaknya ia memiliki sedikit bukti jika tidak ada yang memaksa gadis itu bekerja di tempatnya.