“Si bos tadi bilang apa?”
Carla meletakkan kunci motor miliknya di atas meja televise. Kemudian gadis itu menggantung tas yang ia pakai pada paku yang ada di belakang pintu kamar kost mereka.
“Tidak ada,” jawab Farfalla.
“Cindy bilang, kamu di panggil ke ruangannya. Apa saja yang si bos lakukan padamu?”
“Owh… yang itu. Pak Rudolf hanya bertanya tentang usia ku.”
Carla menghentikan tangannya yang hendak mengambil baju ganti dari dalam lemari. Kemudian menatap cemas pada Farfalla.
“Lalu? Kamu bilang apa, La?”
“Aku bilang saja usiaku sembilan belas tahun. Aku ingat kakak mengatakan kalau aku sudah tamat SMA.”
Raut wajah cemas yang tadi ada di wajah Carla telah berubah menjadi lega. Tadi ia sempat khawatir kalau Farfalla akan salah ucap. Dia yang membawa Farfalla bekerja di sana dan telah menciptakan kebohongan tentang usianya , dia juga yang harus bertanggung jawab nanti seandainya ketahuan kalau semua itu adalah kebohongan.
“Jangan khawatir, Kak. Aku juga sudah memikirkan itu sebelum masuk ke ruangan Pak Rudolf.” Farfalla berkata untuk menenangkan Carla.
“Iya, aku sempat takut kalau kamu salah ucap. Ayo tidur, kakak sudah mengantuk.” Carla merebahkan diri di kasur dan menyisakan sebagian tempat untuk tempat tidur Farfalla. Tidak lama kemudian Farfalla ikut berbaring di sebelah Carla. Ini hari kedua mereka pulang kerja bersama dan dua hari ini Farfalla masih baik-baik saja, dia masih menikmati perannya sebagai waitress. Bekerja dengan posisi itu lebih nyaman untuk farfalla daripada berangkat ke sekolah dan mendengarkan cibiran orang tentang hidupnya.
*
“Mas mau pergi lagi?”
Tari menatap dongkol pada suaminya yang sedang memakai jaket dan bersiap untuk keluar. Mereka baru saja selesai makan malam bersama anak-anak dan seharusnya sekarang mereka kumpul bersama menemani anak-anak mereka yang sedang belajar.
“Sebentar saja,” ucap Yunus. Kemudian pria itu mencium puncak kepala istrinya dan segera berlalu ke luar kamar.
“Kemaren katanya juga sebentar, tetapi pulang jam dua belas malam. Kalau setiap malam Mas keluar, kapan waktu untuk diri Mas beristirahat?” potes Tari sambil mengekori Yunus sampai ke teras depan.
“Untuk pria dewasa seperti aku tidur di jam dua belas malam adalah waktu yang normal. Kamu jangan terlalu khawatir.”
Tari mendengkus kesal, menurut Tari… Yunus menempatkan Farfalla adalah diatas segalanya. Apapun itu, Yunus akan berusaha melakukannya untuk gadis itu, bahkan dengan mengorbankan waktu istirahatnya untuk mencari Farfalla yang telah menghilang.
“Kamu jangan cemberut seperti itu, aku jadi tidak tenang bepergian kalau kamu melepas aku dengan wajah seperti itu.” Yunus berbalik dan menatap Tari dengan kecewa.
“Aku tidak suka Mas terlalu memperhatikan dia.”
“Kamu tidak perlu cemburu pada nya, bagiku kamu dan anak-anak tetap nomor satu.” Yunus mendekatkan wajah dan bersiap untuk mencium Tari. Dengan cepat Tari memalingkan wajahnya karena ia masih kecewa dengan keputusan Yunus yang masih membela Farfalla.
“Masuklah, aku janji tidak akan pulang tengah malam lagi,” ucap Yunus kemudian.
“Hanya sampai jam sepuluh malam. Lewat dari jam itu, aku tidak akan membukakan pintu untuk Mas.”
“Jam sebelas,” tawar Yunus.
“Tidak. Jam sepuluh,” teguh Tari.
“Tambah tiga puluh menit lagi, mencari seseorang tidak bisa dalam waktu yang singkat.”
“Baiklah… jam sepuluh.” Yunus mengalah karena wajah Tari kembali berubah cemberut saat Yunus berusaha untuk menegosiasi waktu yang di berikan Tari.
Kemudian pria itu memberikan ciuman singkat di bibir istrinya sebelum meninggalkan rumah untuk mencari Farfalla.
*
“Lily.” Stella datang dan memanggil Arinee di ruang tunggu kediaman Mami Aster.
Arinee segera mendongak, sebenarnya dua hari ini ia sedang kelelahan dan kurang istirahat karena mencari putrinya yang menghilang. Tetapi ia tetap masuk bekerja karena butuh uang untuk makan. Kedatangan Stella yang memanggil harusnya membuat Arinee bersemangat, namun kondisi tubuhnya memperlihatkan kalau wanita itu sedang tidak mood untuk menerima tamu.
“Kamu sakit?” tanya Stella ketus, melihat wajah Arinee yang terlihat sedikit pucat.
“Tidak,” jawab Arinee cepat.
“Perbaiki dulu rias wajahmu. Ada tamu yang sedang menunggu, aku tidak mau dia kecewa melihat wajahmu yang pucat dan tidak bersemangat seperti itu. Ingat Lily… kamu jarang-jarang mendapatkan tamu yang memiliki banyak uang, dia aku tawari untuk memilih Mawar tetapi dia bersikeras memilih kamu. Jangan kamu kecewakan dia.” Stella mencerocos pada Arinee. Wanita itu selalu berkata blak-blakan tanpa memikirkan seseorang akan sakit hati mendengar ucapannya.
Arinee sudah terbiasa menghadapi Stella, yang Arinee lakukan hanyalah membuka telinga kanannya untuk mendengarkan ucapan Stella lalu membiarkan kata-kata tersebut keluar melalui telinga kirinya, sedikitpun tidak Arinee biarkan kata tersebut singgah di kepala dan hatinya.
“Kamu dengar aku kan?” tanya wanita itu lagi dengan nada ketus.
“Ya, aku dengar. Dimana tamunya?” Arinee menjawab.
“Di luar. Ingat! Dia tamu yang memiliki banyak uang, dia memberi uang muka yang besar untuk kamu. Jangan sesekali mengecewakan dia.” Stella memberi peringatan sambil mengayunkan jari telunjuknya pada wajah Arinee.
Wanita itu sangat tegas dan berani, pantas saja Mami Aster mempertahankan dirinya untuk menghandle semua wanita yang bekerja di sana. Sebelum keluar dari ruangan, Arinee mengeluarkan sebuah pil dari dalam tas dan meminum benda bulat kecil itu dengan segelas air yang sudah tersedia di meja.
Arinee melangkahkan kaki ke luar untuk menemui pria yang menyewanya. Seperti yang di katakan Stella, Arinee berusaha untuk menampilkan wajah sumringah supaya terlihat bersemangat. Ia berharap apa yang dikatakan Stella benar, pria yang menyewanya kali ini adalah pria yang memiliki banyak uang karena sudah lama Arinee tidak mendapatkan tamu yang kaya raya.
“Hallo,” sapa pria yang berumur hampir enam puluh tahun itu saat Arinee datang menemuinya.
“Hai,” jawab Arinee sambil tersenyum lebar.
“Sudah siap?”
Arinee mengangguk dan tanpa di minta ia langsung merangkul Arinee dan memawa wanita itu keluar dari kediaman Mami Aster.
“Kamu pasti tidak mengingat aku,” kata pria itu setelah mobil mewah yang mereka tumpangi mulai berjalan dengan pelan. Tampaknya yang Stella katakan benar, dia seorang pria kaya raya, terlihat dari kendaraan yang ia gunakan untuk menjemput Arinee. Mereka hanya berdua saja di dalam kendaraan yang memiliki fitur dan fasilitas lengkap layaknya rumah.
Arinee kembali tersenyum, tamunya sudah tidak terhitung jumlahnya wajar saja Arinee jika tidak mengingat siapa saja yang telah membayar jasanya.
“Kamu boleh saja melupakan aku, tetapi aku tidak bisa melupakan kamu,” ujar nya lagi sambil membungkukan tubuh ke Arinee kemudian melumat bibir wanita itu dengan rakus.
Tentu saja Arinee membalas ciuman itu, pria yang sedang bersamanya ini adalah tamu yang sedang membutuhkan pelayanannya. Serakus apa pria itu melahapnya, sekuat itu juga Arinee membalasnya.
Pria itu melepas ciumannya saat Arinee mulai kewalahan melayaninya, mereka masih di dalam mobil dan tubuh pria itu sudah menindih tubuh Arinee. Meskipun hampir berusia enam puluh tahun tapi ia masih terlihat kuat.
“Kamu masih seperti dulu,” ucapnya kemudian.
“Aku tadi berfikir kamu sudah tidak bekerja lagi di sana. Wanita itu menawarkan aku orang lain yang tidak aku suka, untung saja aku masih mengingat wajahmu, dia sampai tidak percaya aku mencari mu.”
Arinee mendengarkan pria di sampingnya itu berbicara, ia sama sekali tidak memperbaiki kancing bajunya yang sudah terbuka. Pria itu tadi yang membukanya saat tangan besar itu merayap ke dalam balik bra yang ia kenakan.
“Aku harap kau masih bisa memuaskan,” ujarnya dengan nada tuntutan.
“Tentu. Aku akan melakukan apa saja untuk membuat anda senang.” Arinee mendekatkan diri.
“Jika di sini anda mau, aku bisa melakukannya,” tantang Arinee, giliran dia yang menaiki tubuh pria itu. Arinee duduk di atas paha pria itu, kedua tangannya menangkup wajah sang pria dan bibirnya mulai menghujani kecupan di wajah tersebut.
Pria itu terkekeh senang, kemudian mendorong pelan tubuh Arinee agar kembali ke tempatnya semula.
“Aku tidak akan mengotori mobilku dengan perbuatan kita. Aku masih bisa menyewa suite room di hotel bintang lima.”
Arinee tidak akan meragukan itu, ia sangat percaya dengan pria di sampingnya. Kemudian mobil yang mereka tumpangi berhenti, Arinee tidak tahu mereka ada di mana, yang pasti Arinee tidak akan menolak kemanapun dia di bawa.
“Perbaiki pakaian mu, kita akan turun sebentar,” perintahnya.
Dengan cepat Arinee melakukan apa yang pria itu minta, ia merapikan baju yang sedang ia pakai kemudian merapikan riasan wajahnya.
“Kamu masih cantik, sama seperti dulu,” ujarnya lagi dan setelah itu dia keluar setelah seseorang membukakan pintu dari luar untuknya. Arinee mengikuti nya, ia keluar sendiri dan membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri.
Pria itu merangkul pinggang Arine dan membawa Arinee masuk ke sebuah bar yang tidak terlalu besar. Arinee mengikuti langkahnya, dia bersedia di bawa kemana saja.
Bar yang mereka masuki memang tidak terlihat mewah seperti bar besar lainnya, bar itu terlihat kecil namun isi di dalamnya tidak kalah mewah dengan bar besar lainnya. Arinee mengedarkan pandangannya ke sekeliling bar tetapi tetap mengikuti langkah besar pria yang merangkul pinggangnya.
Pria itu kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan, dia lalu memberi kode pada Arinee untuk duduk di sofa yang ada di sudut ruangan tersebut.
“Papi,” seorang pria muda menyapa, dia melirik pada Arinee yang duduk di sofa. Kemudian memeluk pria yang datang bersama Arinee.
“Bagaimana bisnismu, Rudolf?” tanya pria itu.
“Seperti yang papi lihat,” jawab pria yang di panggil Rudolf.
“Kamu sangat keras kepala. Papi bisa memberikan modal untuk mengembangkan tempat ini, tetapi kamu bersikeras untuk memakai modal sendiri.” Pria tua itu berjalan menuju kursi kerja Rudolf dan duduk di sana.
“Aku ingin membuktikan pada Papi kalau aku juga bisa membangun usaha dari nol, seperti papi dahulu.”
Pria itu tertawa besar kemudian menatap bangga pada putranya.
“Kapan Papi sampai?” tanya Rudolf kemudian.
“Beberapa jam yang lalu.”
Rudolf kemudian menoleh pada Arinee yang sedang menunggu di sofa, kemudian mengalihkan pandang pada Papinya.
“p*****r mana lagi yang papi bawa?” desisnya.
“Kamu tidak perlu menanyakan itu.”
“Aku hanya mengingatkan Papi. Aku tidak mau Papi dimanfaatkan perempuan. Papi sudah tua!”
“Jangan khawatir, dia tidak seperti perempuan lainnya.”
“Tapi dia tetap seorang p*****r!”
“p*****r akan di bayar sesuai dengan jasanya. Papi pikir papi tidak perlu menjelaskan itu kepada mu.”
“Yaaah, papi benar!”
Pria itu kemudian bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mendekati Rudolf.
“Papi datang untuk melihat keadaan mu, papi senang kau berhasil mengembangkan bisnis dengan cara mu sendiri.” Dia menepuk pelan lengan Rudolf, raut bangga tetap terlihat di wajahnya.
“Papi berapa lama di sini?” tanya Rudolf.
“Satu minggu.”
“Aku mau nanti kita makan malam bersama.”
“Nanti papi hubungi lagi.” Dia kemudian melirik Arinee dan memberi kode pada wanita itu untuk berdiri. Arinee bangkit dan berjalan di samping pria itu.
Mereka berdua keluar dari bar tersebut, melewati deretan meja yang sudah terisi tamu yang datang berkunjung ke sana. Lengan pria itu sama sekali tidak lepas dari pinggang Arinee, dan Arinee berjalan anggun di sampingnya.
Tanpa Arinee ketahui, ada sepasang mata yang sedang berkabut menatap kepergiannya, menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu.