“Kamu kenapa, La?” Carla menatap heran pada Farfalla yang semenjak pulang tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Farfalla menggelengkan kepala membuat Carla semakin penasaran dengan perubahan sikap tersebut. Biasanya Farfalla selalu riang dan mengungkapkan kebahagiaan nya, menceritakan kepada Carla apapun yang tengah ia rasa bahkan cerita tersebut berulangkali keluar dari mulut Farfalla dan membuat Carla hapal dan sedikit bosan mendengarnya.
Melihat Farfalla diam dan tidak bersuara seperti ini jelas saja membuat Carla penasaran dan berfikir kalau ada sesuatu yang tengah menimpa Farfalla.
“Si bos bilang apa lagi?” Carla hanya menebak kalau-kalau Farfalla kembai di panggil oleh Rudolf.
“Tidak ada, aku malah tidak bertemu dengan Pak Rudolf hari ini.” Farfalla menjawab dengan tidak bersemangat.
“Kamu rindu pulang ke rumah?”
Farfalla mengangkat kepala, melihat pada Carla yang sedang menatapnya.
“Tidak Kak, aku tidak akan merindukan hal itu. Aku tetap ingin di sini bersama Kakak. Aku benci rumah, dan aku tidak ingin kembali ke sana,” ucap Farfalla dengan menggebu-gebu.
Carla mengernyit, ia tahu tengah terjadi sesuatu pada gadis itu namun Farfalla masih menyimpannya sendiri. Carla hanya bisa menebak kalau sedang terjadi sesuatu antara Farfalla dan orangtuanya yang membuat Farfalla kabur dan tidak ingin pulang ke rumah.
Mungkin Farfalla anak tiri yang di bedakan dengan saudara nya yang lain.
Atau mungkin Farfalla anak yang tidak diperbolehkan melakukan apa-apa hingga memberontak dan lari dari rumah.
Atau bisa jadi kedua orangtua Farfalla tengah bertengkar dan akan bercerai tetapi Farfalla akan mengancam pergi dari rumah kalau sampai itu terjadi, ternyata kedua orangtua nya tetap bercerai dan Farfalla benar-benar pergi dari rumah.
Berbagai spekulasi muncul di kepala Carla, ia hanya mengira-ngira apa yang telah terjadi pada Farfalla karena Farfalla sendiri tidak mau bercerita. Tetapi Carla juga tidak mau memaksa, tidak masalah baginya kalau gadis itu belum ingin terbuka kepadanya.
“Tidurlah, nanti malam kita libur kerja. Aku mau nongkrong di jembatan, kamu mau ikut atau istirahat di rumah?”
“Di jembatan?”
“Ya, nongkrong sama anak-anak kemaren saat kita pertama kali bertemu.”
Wajah Farfalla mendadak berubah, ia juga menginginkan suasana malam yang lain selain bekerja.
“Mau, Kak,” serunya dengan riang.
Carla tersenyum lebar, dalam hati ia merasa kasihan dan berdosa pada Farfalla karena telah membawa gadis itu hidup ke dalam dunianya. Sekarang Farfalla masih baik-baik saja tetapi Carla tidak bisa menjamin besok atau besoknya lagi ia akan tetap menjadi gadis lugu seperti sekarang ini atau akan ternoda seperti dirinya.
“Nila mau ikut ke kota, Bu?” Nila menangkupkan kedua tangannya di d**a, memohon izin pada ibunya untuk ikut ke kota bersama Ayu, warga kampung sebelah yang usianya lima tahun di atas Carla.
Nila bertemu dengan Ayu saat ada acara di kampung mereka, dan Ayu datang melihat acara tersebut bersama teman-temannya. Kebetulan satu orang teman Ayu adalah teman sekolah Nila. Dari dialah Nila mengenal Ayu.
“Kita tidak punya siapa-siapa di sana, ibu khawatir kamu tidak memiliki tempat tinggal dan jadi gelandangan. Kamu anak perempuan, dan hidup di kota itu tidak seenak yang kamu pikirkan, hidup di sana sangat keras.”
“Ada Kak Ayu yang bersedia memberikan tempat tinggal sampai Nila menemukan pekerjaan.” Nila bersikeras.
“Nila….”
“Nila mohon, Bu. Doakan Nila mendapatkan pekerjaan supaya Nila bisa membantu adik-adik dan menyekolahkan mereka sampai tamat.” Kedua mata Nila berkaca-kaca, ia sangat ingin membantu ibunya dan mengambil alih tugas sang ibu.
Sejak ayah mereka meninggal dunia, ibunya lah yang bekerja keras untuk mencari uang. Hasil yang di dapat ibunya sebagai petani yang menggarap ladang orang lain tidak seberapa. Nila mempunyai lima orang adik dan ia adalah anak pertama.
Jangankan untuk menyekolahkan ke lima adiknya, untuk biaya makan sehari-hari saja kadang mereka mengandalkan hantaran dari tetangga. Bahkan mereka pernah makan dengan nasi yang ditaburi garam, tanpa lauk. Makan hanya untuk penyambung hidup biar tidak kelaparan.
“Kamu anak pertama, jika terjadi sesuatu pada kamu bagaimana nasib adik-adik mu nanti? Biarlah ibu yang bekerja dan kamu di rumah menjaga adik-adik mu.” Sang ibu masih menolak keinginan Nila.
“Bu… izinkan Nila berusaha dulu. Jika dalam dua bulan Nila tidak juga mendapatkan pekerjaan, Nila berjanji akan pulang dan menjaga adik-adik sesuai dengan keinginan ibu.”
Sang ibu terdiam, bukannya ia tidak ingin anaknya mendapatkan pekerjaan seperti orang lain, tapi apa yang bisa Nila lakukan dengan ijazah SMP yang ia punya?
“Kamu akan kerja apa di sana? Kamu hanya punya ijazah SMP.”
Nila mentap ibunya, ia mengetahui dengan jelas kekhawatiran sang ibu. Dengan hanya memiliki ijazah SMP pasti akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Namun janji Ayu terlihat sangat menggoda, Ayu bisa menjamin Nila untuk mendapatkan pekerjaan meskipun hanya dengan ijazah SMP yang Nila miliki.
“Nila bisa menjadi penjaga toko atau pelayan di rumah makan,” ucap Nila lagi, dua pekerjaan itulah yang di sebut Ayu waktu Nila menanyakan hal yang sama waktu itu.
Sang ibu menghela nafasnya, kemudian ia mengalihkan pandang pada lima anaknya yang sedang terlelap. Nila adalah anak pertama dan jarak lahir Nila dengan anak keduanya cukup jauh. Sewaktu Nila berusia enam tahun, sang ibu baru hamil lagi. Tapi setelah melahirkan anak kedua, jarak lahir anak mereka yang lain sangat dekat hanya berjarak satu dan dua tahun.
“Mery bisa menjaga adik-adik dulu sebentar saat ibu bekerja. Nanti kalau Nila sudah mendapatkan pekerjaan, ibu tidak perlu bekerja lagi. Nila akan mengirimkan uang gaji Nila setiap bulan.”
Sang ibu tahu kalau Nila sangat tulus ingin membantu perekonomian mereka, tetapi ia juga tidak tega mengalihkan tanggung jawab yang harusnya ia pikul kepada Nila.
“Bu… Nila janji akan mendapatkan pekerjaan dengan cepat. Ibu jangan terlalu khawatir. Ibu cukup memberikan Nila izin dan mendoakan Nila supaya bisa sukses seperti Kak Ayu di kota,” bujuk Nila lagi.
Ibu nya masih terdiam, setelah cukup lama ia kemudian bersuara.
“Tapi kamu janji, jika dalam dua bulan kamu belum mendapatkan pekerjaan, kamu harus pulang.”
“Nila janji!” Nila tersenyum lebar, malam itu ia sudah membayangkan jika di kota nanti ia akan bekerja keras dan mengirimi ibunya uang setiap bulan. Ibunya tidak perlu lagi ke ladang, cukup ia di rumah dan fokus pada pekerjaan rumah saja.
Carla menatap langit-langit kamarnya dengan mata berkaca-kaca. Ia sudah sangat lama tidak pulang dan sebenarnya ia sangat ingin pulang, ia rindu dengan ibu dan adik-adiknya, ia rindu dengan pelukan hangat ibunya serta canda tawa kelima adiknya, namun Carla malu harus menampakkan diri pada orang satu kampung, terlebih pada ibunya. Carla tidak mau membuat ibunya kecewa dengan penampilan Carla yang sekarang. Carla takut jika ada salah satu warga kamoung yang tahu pekerjaan nya.
Kemudian Carla beralih menatap Farfalla yang sudah terlelap di sampingnya, gadis itu persis dirinya lima tahun yang lalu. Begitu gigih pergi dari rumah dan ingin bekerja. Masih ada terselip rasa penyesalan di sudut hati Carla saat memutuskan membawa Farfalla ke tempat kerjanya, ia takut Farfalla akan berakhir seperti dirinya, menjadi waitress di sebuah bar dan diam-diam melayani p****************g.
“Kamu bisa menganggap tempat ini seperti rumah kamu sendiri.” Ayu membawa Nila masuk ke dalam rumahnya. Rumah minimalis dengan perabotan yang cukup mewah, menurut Nila.
“Terima kasih, Kak.”
“Ini kamarmu, aku kamar sebelah.” Ayu membukakan sebuah kamar yang letaknya persis di sebelah kamar yang di tunjuk Ayu sebagai kamarnya.
Nila mengangguk, dari dulu ia ingin kamar sendiri dan sekarang ia bisa merasakannya meskipun menumpang di rumah Ayu.
“Oh ya, boleh aku mengusulkan sesuatu?” tanya Ayu.
“Boleh.”
“Ganti namamu, nama Nila sepertinya kurang bagus untuk hokimu. Ganti menjadi Carla saja.”
“Carla? Tetapi di ijazahku namanya Nila,” ungkap Nila lugu, karena memang ijazah SD dan SMP nya bertuliskan nama Nila. Dan tentang hoki yang Ayu sebut, Nila sama sekali tidak mengerti apa hubungannya hoki dengan namanya.
“Tidak masalah, jika kamu ingin mendapatkan pekerjaan seperti aku, kamu tidak perlu ijazah itu.”
Sekali lagi Nila mengangguk, ia percaya sepenuhnya pada Ayu.
Carla memiringkan tubuhnya menghadap Farfalla, menatap wajah gadis itu lama. Melihat Farfalla, dia merasa melihat Mery adiknya. Carla sudah sangat rindu dengan keluarganya namun ia masih sangat malu jika bertemu mereka.
Carla merasa sangat kotor, ia bahkan mengirimi ibunya uang setiap bulan dengan hasil pekerjaan kotornya. Jika ibunya sampai tahu apa yang di lakukan Carla di sini, ia yakin ibunya pasti kecewa dan Carla tidak akan pernah sanggup melihat raut wajah kecewa sang ibu.
“La, jika kamu mau… aku bisa mengantarkan kamu pulang. Aku bisa mengarang cerita lain pada Pak Rudolf dan mencari alasan untukmu berhenti bekerja. Aku tidak mau, kamu seperti aku, La.”
Carla berbicara sendiri. Jika dulu Ayu menjebaknya dengan iming-iming pekerjaan sebagai penjaga toko atau pelayan di rumah makan, Carla tidak mau melakukan itu pada Farfalla. Cukup ia saja yang menjadi korban.
Carla kemudian menghapus bulir air mata yang jatuh di permukaan kulit pipinya. Bayangan dia di masa lalu kembali berkelabat dalam ingatannya. Bayangan ketika kegadisannya di renggut paksa oleh seorang pria yang Ayu kenalkan sebagai pacarnya.
Carla percaya pada ayu dan pria itu, Carla percaya pada cerita mereka yang akan menikah sebentar lagi. Pria itu juga tidak segan-segan menunjukkan kemesraan mereka di depan Carla sehingga Carla percaya kalau dua orang itu saling mencinta.
Ternyata semua itu hanya drama, sebuah drama untuk menjebak Carla hingga Carla tidak bisa lari dari kungkungan pria itu. Carla telah di jual Ayu dengan cara yang amat manis, hingga Carla sendiri tidak sadar telah di tipu oleh mulut manis wanita itu.
“Kakak belum tidur?”
Suara Farfalla mengagetkan Carla, membuyarkan ingatan Carla tentang masa lalunya yang kelam. Buru-buru Carla memalingkan wajah supaya Farfalla tidak melihatnya menangis.
“Kakak menangis?” Farfalla kemudian beringsut duduk dan membungkukkan tubuhnya menghadap Carla.
“Tidak.” Carla berbohong dan memaksakan senyum.
“Aku lihat kakak menangis, jangan bohong.”
Carla kemudian mengangkat kepalanya, lalu ia bangkit dan duduk menghadap Farfalla.
“Kamu yakin tidak mau pulang ke rumah, La?” tanya Carla lagi.
Farfalla menggeleng cepat dan kuat. Pertanyaan itu sudah sering Carla ucapkan dan jawaban Farfalla akan tetap sama. Tidak!
Carla membuang nafasnya, haruskah ia jujur pada Farfalla tentang kekhawatirannya pada gadis itu?
“La… kamu tau apa yang aku rasakan sekarang?”
Farfalla menggeleng, iatahu Carla sedang bersedih karena ia melihat sendiri Carla menangis tetapi ia tidak tahu apa yang menjadi penyebab wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri itu menangis.
“Aku rindu kampung halamanku, aku rindu keluargaku… tetapi aku tidak bisa pulang untuk melihat dan memeluk mereka.”
Carla kemudian mengenggam erat kedua tangan Farfalla, lalu…
“La… jika kamu tidak mau seperti aku… pulanglah! Seperti apapun masalah yang sedang kamu hadapi di keluarga kamu, jangan pernah lari dari mereka karena hanya mereka lah tempat yang paling aman untuk mu.”
Farfalla kemudian menarik tangannya dari genggaman Carla, lalu ia balik mengenggam erat kedua tangan Carla.
“Kak… kakak tau apa yang aku rasakan? Seperti apapun kakak mengatakan jika tempat yang palin aman bagiku adalah rumah, tetapi bagiku…. Tempat yang paling aman itu adalah di sini, bersama kakak,” ucap Farfalla mantap.