Makan Malam

1804 Words
Carla sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, ini sudah kesekian kalinya Carla membujuk Farfalla untuk segera pulang. Tetapi keinginan gadis itu begitu kuat untuk meninggalkan rumah, persis dirinya dulu. Carla juga sudah mencoba memberikan bayangan hidup dengan dirinya akan seperti apa, namun Farfalla tetapi memilih untuk tinggal bersamanya. Jika sudah seperti itu, Carla hanya berharap jika Farfalla tidak bernasib seperti dirinya, dia bisa menjadi waitress dan hanya sekedar itu tanpa embel-embel plus di belakangnya. “Kak, aku di panggil Pak Rudolf,” ujar Farfalla memberitahu. Kening Carla berkerut, dadanya bergemuruh menunggu ucapan Farfalla selanjutnya. Dia pernah berada di situasi Farfalla saat ini. Bedanya, saat Carla di panggil si bos tampan nan kaya itu dia sudah dalam keadaan tidak perawan, entahlah dengan Farfalla, namun Carla yakin saat ini Farfalla masih belum di sentuh oleh pria manapun. “Dia bilang apa?” tanya Carla dengan suara tertahan. “Dia minta aku untuk menemaninya malam ini.” Carla mencolos, persis seperti yang di tawarkan padanya dulu. Sudah bukan menjadi rahasia lagi di tempat kerja mereka kalau si bos itu sering memakai karyawan yang bekerja di bar miliknya untuk melampiaskan hasrat pria itu. Memang tidak semua karyawan, hanya beberapa karyawan yang dia suka saja. “Jangan mau, bilang saja nanti malam kita sudah ada janji untuk makan bersama,” ujar Carla. “Yaaah, aku sudah bilang bersedia, Kak. Dan sebentar lagi kami akan pergi. Pak Rudolf bilang kita mau mampir ke butik dulu, mau mencari gaun untuk ku.” “Farfalla….” Carla mengucapkan nama Farfalla dengan nada kecewa, bisa-bisanya gadis itu menerima tawaran Pak Rudolf tanpa meminta izin dulu kepadanya. “Kakak kenapa? Pak Rudolf hanya meminta aku menemaninya ke suatu tempat. Kenapa kakak cemas begini?” tanya Farfalla karena melihat wajah Carla yang memucat. “La… kamu tahu kalau kamu sedang dalam situasi darurat?” “Darurat?” Farfalla megernyit. “Kamu sudah besar kan, La? Kamu bisa mengerti gak kalau seorang pria dewasa yang akan mengajak kita menemaninya ke suatu tempat itu nantinya mereka akan menuntut yang macam-macam dari kita, mereka tidak hanya sekedar makan malam tetapi juga dengan yang lainnya,” terang Carla. Farfalla justru tertawa mendengar penjelasan Carla, gadis itu menganggap lucu apa yang Carla sampaikan padahal Carla sudah ketakutan membayangkan nasib Farfalla setelah pulang menemani bos mereka itu. “Kak, jangan berfikir jauh dulu. Pak Rudolf bukan pria seperti itu,” bela Farfalla. Carla tersenyum masam mendengar pembelaan Farfalla, gadis ini sungguh keras kepala dan tidak mau di ingatkan. Tau darimana dia dengan Rudolf? Carla yang lebih banyak tahu karena dia sudah lama bekerja di sana. Ingin rasanya Carla memberitahu Farfalla kalau apa yang terjadi kepadanya kini pernah juga ia lalui dulu. Motifnya sama, Pak Rudolf mengajak ia keluar ke suatu tempat dan ujung-ujungnya Carla di bawa ke sebuah hotel untuk menemaninya tidur. Saat itu Carla memang sudah tidak peduli lagi dengan tubuhya, ia sudah pernah di sentuh paksa oleh pria dan tidak ada lagi yang perlu ia pertahankan. Carla hanya pasrah saat Pak Rudolf menggagahi tubuhnya. Tetapi Carla sudah berjanji kepada dirinya sendiri, kalau apa yang menjadi aibnya akan ia simpan sendiri sampai mati. Carla tidak peduli jika Farfalla tahu dari orang lain, yang jelas bukan dari mulut nya. “Aku tadi sudah bertanya, aku mau di ajak kemana. Jawabnya hanya menemui seseorang dan makan malam bersama setelah itu dia akan mengantarkan aku pulang.” “Semoga saja Pak Rudolf bisa di percaya,” ujar Carla dengan raut wajah yang dipaksa untuk yakin. “Kakak tenang saja,tidak usah khawatir. Aku bisa menjaga diri.” Farfalla menenangkan. Carla menganggukkan kepala, meskipun masih ada terselip kekhawatiran di dalam hatinya tetapi ia mencoba untuk meyakini Farfalla kalau gadis itu benar-benar bisa menjaga diri. “Jadi nanti aku pulang sendiri?” tanya Carla lagi. “Ya, Pak Rudolf bilang akan mengantarkan ku pulang ke rumah.” “Baiklah, hati-hati,” pesan Carla. Farfalla tersenyum lebar lalu meninggalkan Carla yang akan melanjutkan pekerjaannya kembali. * Rudolf tersenyum tipis saat melirik gadis yang duduk di sebelahnya dengan tegang, sejak keluar dari tempat kerja mereka tadi, sedikitpun Farfalla tidak mengeluarkan suara. Berbeda dengan wanita lain yang pernah ia bawa. Biasanya kaum hawa itu sudah cerewet mau meminta ini dan itu, tetapi Farfalla hanya mematung menatap jalan di depan nya. Untuk mengurangi rasa canggung pada gadis itu, Rudolf menyetel musik dan pria itu sengaja memilih musik dengan jenis love song biar suasana tegang sedikit mereda. Namun usaha Rudolf sepertinya sia-sia, Farfalla tetap duduk tegang dengan posisi yang tidak berubah sama sekali. “Kita mampir ke butik dulu ya,” ucap Rudolf memecahkan suasana. Farfalla menoleh sebentar, kemudian menganggukkan kepala. “Kamu belum pernah bepergian dengan pria?” tanya Rudolf penasaran dan anggukan kepala dari Farfalla membuat pria itu tersenyum lebar. “Kita mau kemana, Pak?” tanya Farfalla setelah mereka tadi kembali diam. “Butik,” jawab Rudolf singkat. “Setelah butik?” “Kan saya tadi sudah bilang kalau kamu saya ajak untuk menemani saya makan malam.” “Oh… iya.” Farfalla kembali duduk diam sambil melihat jalanan di depannya. “Ayo turun.” Rudolf sudah menghentikan mobilnya di depan sebuah butik, pria itu sudah membuka pintu mobil untuknya turun dan meminta Farfalla untuk segera mengikutinya. Farfalla berjalan dengan canggung di belakang Rudolf, mengikuti langkah besar pria itu yang sudah masuk duluan ke dalam ruangan yang cukup luas tersebut. “Kejutan! Sudah lama eike tidak melihat si bos tampan ini datang ke butik kita.” Seorang wanita jadi-jadian menyambut kedatangan Rudolf, dan Farfalla mengulum senyum melihat pemandangan itu. Ini kali pertama Farfalla masuk ke sebuah butik dan berinteraksi dengan orang seperti itu. “Apa kabar, Sari?” tanya Rudolf sumringah. “Tidak baik sejak Pak Bos tinggalkan,” cemberut Sari dan di sambut tawa oleh Rudolf. “Pak bos mau memodif siapa nih?” tanya Sari sambil melirik pada Farfalla yang sedang berdiri di belakang Rudolf. Rudolf kemudian memutar tubuhnya ke belakang, lalu…. “Carikan gaun yang cocok untuk dia,” perintah Rudolf sambil mengusap lengan Farfalla. “Siap Pak Bos, apa mau di poles sekalian?” tanya Sari sambil mengedipkan satu matanya pada Rudolf. Farfalla melihat Rudolf mengacungkan jari jempolnya pada pria seperti wanita yang bernama Sari itu. Kemudian Farfalla di bawa oleh Sari ke ruangan yang lebih dalam lagi. Gadis itu menurut saja dengan apa yang di lakukan Sari kepadanya. Entah sudah berapa gaun yang Farfalla pakai, dan pilihan Sari jatuh pada gaun selutut yang bewarna bold blue. Kemudian Sari membawa Farfalla ke lantai atas gedung tersebut. “Kita mau kemana?” tanya Farfalla penasaran. “Nyalon dulu say… biar wajah nya terlihat lebih fresh dan cantik.” Sari menjawab dengan meliukkan tangannya di udara. Farfalla menikmati semua yang dilakukan kepadanya, ia sama sekali tidak pernah ke salon dan tentu saja ia begitu menyukai kesempatan yang ia dapat saat ini. Rasanya Farfalla menjadi orang kaya yang di layani banyak orang. “Kamu cantik ya… bertemu Pak bos dimana?” tanya Sari. Farfalla tidak mau menjawab pertanyaan Sari, ia hanya diam saat tangan wanita itu menyentuh kelopak matanya dan membubuhi sesuatu di sana. “Pak Bos tidak akan mengizinkan orang lain mendandani wanitanya selain eike,” ujarnya lagi. “Tapi sudah lama juga si tampan itu tidak ke sini.” Tangan Sari berpindah dari mata ke bibir Farfalla. Ibu jari wanita itu mengusap bibir bawah Farfalla yang tebal. “Eh… gimana rasanya di cipok pak bos? Pasti menggetarkan jiwa. Duuuhh… eike tidak bisa membayangkan bibir tebal itu mengulum bibir seksi ini,” tanyanya sambil tertawa geli. Farfalla mengernyit, meskipun tidak pernah Farfalla layani mulut Sari tidak berhenti berbicara. Dia terus mengoceh menanyakan sesuatu meskipun tidak ada jawaban dari pertanyaan nya. “Ini pasti menggairahkan,” ujarnya lagi setelah mengusapkan bibir Farfalla dengan kuas khusus bibir. “Sesekali eike juga pengen di bawa pak bos, padahal pak bos itu sangat suka selera makeup eike tapi dia sama sekali tidak pernah melirik eike,” ujarnya cemberut lalu ia mematut penampilan Farfalla dari ujung rambut hingga kaki. “Ganti sandal.” Sari mendecak lalu berjalan menuju sudut ruangan yang lain. Tidak lama kemudian dia membawa highheels dan meletakkannya di depan Farfalla. “Aku tidak biasa memakai itu,” tolak Farfalla. “Hei… eike sudah buat sampean seperti putri yang turun dari khayangan, masa putri memakai sandal butut ini,” ketusnya. “Pak bos tidak akan suka melihatnya,” lanjutnya lagi. Melihat aksi garang yang di tampilkan Sari, Farfalla buru-buru melepaskan sandal yang dia pakai dan mengganti dengan highheels yang di bawakan Sari. “Perfecto, si bos pasti syukaaa,” ujarnya lagi. Kemudian Sari menggandeng Farfalla untuk menunuruni tangga seolah-olah Farfalla seperti putri raja yang siap bertemu dengan pangerannya. “Pak bos, eike sudah bentuk secantik mungkin.” Sari mengedipkan matanya lagi saat dia sudah membawa Farfalla ke hadapan Rudolf. Rudolf tersenyum lebar saat menatap Farfalla yang terlihat sangat cantik, selera Sari memang tidak bisa Rudolf ragukan lagi. “Pak bos, dapat barang original ini dimana?” celutuknya sambil cekikian. Rudolf membesarkan bola matanya pada Sari dan meminta wanita itu untuk diam. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. “Hubungi saja nomor ini dan sebutkan biayanya,” ujar Rudolf serambi mengeluarkan sebuah kartu nama pada Sari. Kemudian Rudolf memegangi pinggang Farfalla dan membawa gadis itu keluar. “Oke, siap. Have a nice hot night yaaaa,” teriak Sari diiringi tawanya yang lebar. Farfalla mendengar itu, dia mendengar kata terakhir yang di ucapkan Sari. Seketika ia teringat dengan yang Carla sampaikan. Benarkah Rudolf membawanya untuk sekedar menemani pria itu makan malam? “Kita makan malam dimana, Pak?” tanya Farfalla setelah Rudolf membawa mobilnya ke luar dari area butik. “Aku akan menemui seseorang, dan aku harap kamu bisa santai nanti jika bertemu mereka,” ujar Rudolf. “Dan jangan menjawab apapun jika kamu merasa ragu untuk menjawabnya,” lanjutnya lagi. Tidak jauh dari butik yang mereka kunjungi tadi, Rudolf menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan mewah. Pria itu menggandeng Farfalla sejak mereka berdua turun dari mobil sampai masuk ke dalam ruangan mewah tersebut. Farfalla mngitari pandangannya ke seluruh ruangan, jika ia tidak di bawa oleh Rudolf sudah dipastikan seumur hidupnya Farfalla tidak akan pernah menginjakkan kakinya ke sana. Tempat itu sangat mewah dan Farfalla tidak akan pernah sanggup makan di sana. Langkah Rudolf mendekati meja yang sudah di huni oleh satu orang pria dan satu wanita, pasangan dewasa itu terlihat sangat mencolok karena Farfalla mengenal satu diantaranya. Gadis itu menghentikan langkahnya dan langkah Rudolf juga ikut terhenti di buatnya. “Ada apa?” tanya Rudolf. Farfalla membuang nafasnya, lalu ia menegakkan kepala. “Tidak apa-apa,” jawabnya dan ia kemudian melangkahkan kakinya dengan mantap ke depan. “Hallo Papi, maaf kami terlambat,” sapa Rudolf pada pria dewasa yang sudah menunggu mereka di meja. Pria itu mendongak, begitu juga dengan wanita yang menemaninya. dan Farfalla membuang muka saat wanita itu menatapnya, dia berusaha untuk tegar seolah-olah tidak mengenal wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD