Satu tahun kemudian..
Tak terasa waktu cepat berlalu, masa sekolah yang penuh canda tawa juga banyak kenangan di dalamnya sebentar lagi akan segera berakhir. Setelah hari jadian Radi dan Bianca waktu itu, mereka di nobatkan sebagai pasangan paling serasi di sekolahannya. Banyak yang mendukung mereka menjadi sepasang kekasih, Bianca yang ramah memang cocok sekali dengan Radi yang terkesan cuek dan dingin. Bianca seolah menjadi pelengkap Radi, begitu juga dengan Radi yang dewasa mampu melengkapi Bianca yang terkadang begitu manja.
Hubungan mereka seperti pasangan pada umumnya bedanya jika pasangan lain kerap kali beradu pendapat yang menimbulkan pertengkaran, Radi dan Bianca sampai sejauh ini belum pernah bertengkar. Bagi yang lainnya hubungan mereka selama ini tampak adem ayem saja. Namun tak ada hubungan tanpa muncul permasalahan apalagi setelah kedua pasang kekasih menjalani hubungan lumayan lama. Sama seperti halnya Radi dan Bianca.
Malam ini saat acara kelulusan mereka, lagi-lagi mereka tampak begitu serasi menghadiri acara tersebut. Bianca yang begitu cantik dengan dress berwarna coklat sebatas mata kaki dan rambut yang di biarkan terurai begitu saja berjalan memasuki aula sekolahan bersama dengan Radi yang malam itu juga mengenakan kemeja coklat dan celana kain berwarna hitam.
“Malu dilihatin banget,” bisik Bianca, mereka berjalan menghampiri yang lainnya ke dalam aula sekolah ini.
“Kamu terlalu cantik, aku rasanya mau copotin mata laki-laki kaya mereka yang seenaknya tatap kamu padahal ada aku di samping kamu,” gerutu Radi saat melihat banyak pasang mata siswa sekolahannya yang menatap ke arah Bianca dengan tatapan memuja dan itu menyebalkan di mata Radi.
“Cemburuan,” Bianca terkikik geli, selalu seperti ini semakin lama bersama dengan Radi, Bianca tahu kalau kekasihnya ini begitu pencemburu. Bahkan dengan adik laki-laki Bianca saja terkadang Radi dibuat cemburu. Jelas karena Bianca begitu dekat dengan adiknya, Rayhan.
“Kamu milik aku..!” tegas Radi semakin menarik pinggang Bianca untuk lebih dekat, kalau saja ada lem yang bisa merekatkan mereka berdua mungkin Radi akan memakainya, agar Bianca tak pernah sedetikpun jauh darinya.
Bianca yang memang merasa tak keberatan akan sikap Radi, merasa semua yang di lakukan Radi karena laki-laki itu begitu mencintainya namun memang Radi yang terlalu berlebihan dalam menyampaikan perasaannya saja. Tetapi tak ada yang tahu jika Radi bisa begitu manja hanya di depan Bianca saja dan jika mereka memang sedang berdua tanpa ada orang lain. Maka Radi akan berubah 180 derajat dan Bianca sudah terbiasa dengan hal itu, meski awalnya merasa aneh karena Radi tak seperti biasanya.
“Pasangan serasi malam ini akhirnya dateng juga,” ucap Marcel menyambut kedatangan Radi bersama dengan Bianca.
Marcel, Adel, Laura dan Devon memang sudah lebih dulu berada di acara ini, mereka sedari tadi menunggu pasangan yang begitu di dambakan satu SMA Kencana.
“Pasangan lo semua mana?” tanya Radi sedikit mengejek tetapi berhasil membuat Devon dan Marcel menatap Radi dengan kesal.
Memang Radi, mentang-mentang memiliki kekasih pasti selalu meledek dua sahabat jomblonya itu. Bukan jomblo abadi tetapi memang secara bersamaan Devon dan Marcel putus dengan kekasih mereka satu minggu sebelum acara kelulusan ini berlangsung, padahal ‘kan Devon dan Marcel sudah begitu semangat untuk mengajak kekasih mereka ke acara ini dan putusnya kedua sahabat Radi tersebut membuat Radi bahagia di saat keduanya merana.
“Nanti gue cari cewek baru, malam ini juga dapet lah,” celetuk Marcel percaya diri. Padahal sampai sekarang ia belum bisa move on dari mantan kekasihnya, Monica. Dan Marcel sudah berniat untuk kembali membuat Monica luluh kepadanya, lihat saja nanti pasangan Radi Bianca akan kalah oleh pasangan Marcel Monica, begitu ucapnya dalam hati.
“Kalau gue mau sendiri dulu, fokus kuliah nanti,” ucap Devon yang di hadiahi jitakan oleh Marcel. “Sakit, dodol,” ringis Devon mengelus kepalanya.
“Alah, fokus fokus lo. Bilang aja gak ada target, emang jomblo!” ledek Marcel.
“Lo juga.!” balas Devon tak mau kalah, “eh gue ke sana dulu ya, gue lupa ada urusan sama anak sebelah. Kali aja nemu jodoh malam ini,” ucap Devon kemudian beranjak dari kursinya.
“Jangan macem-macem lo, inget nyokap di rumah.”
“Apa hubungannya.”
“Ya inget aja gitu,” ucap Marcel tertawa, membuat yang lain menggelengkan kepala melihat tingkah absurd dari seorang Marcel si bucin Monica.
“Aku ke toilet sebentar,” bisik Bianca.
Saat ini mereka sedang menikmati acara yang sudah berlangsung dengan penampilan beberapa siswa di atas panggung. Ada Radi, Bianca, Laura, Adel, dan Marcel, sementara Devon yang tadi ijin untuk bertemu dengan seseorang masih belum kembali ke meja mereka.
“Mau aku anter?”
“Gak usah, sebentar doang masa ke toilet aja di anterin.” Radi mengangguk kemudian Bianca beranjak dari kursi dan berjalan menuju toilet.
Devon yang berada di sekitar toilet sebenarnya sedang menunggu kedatangan Bianca, mereka memang sedang melakukan sebuah rencana, Bianca yang meminta bantuan Devon karena menurutnya di bandingkan dengan Marcel, Devon lebih bisa di percaya. Bukan berarti Marcel tak bisa di percaya hanya saja mulut Marcel itu terkadang bocor sendiri, bisa gagal rencana Bianca nanti kalau sampai itu terjadi.
“Radi curiga gak?” tanya Devon saat Bianca sudah berada di hadapannya.
“Nggak, tadi gue bilang mau ke toilet.”
“Jadi mau gimana? Ulang tahun Radi tiga hari lagi ‘kan?”
“Iya, tapi gue mau mulai malam ini. Bikin Radi cemburu kaya biasa, tapi nanti gue pura-pura marah sama dia. Sebenernya ini gak aneh banget sih, abisnya gue malah bingung sendiri.”
“Ya udah gitu aja, acara akhirnya biar gue yang atur. Sesuai sama yang lo mau ‘kan, makan malam romatis di restoran.”
“Iya gue mau itu..,” perkataan Bianca terhenti dia terkejut dan mengaduh karena seseorang mendorongnya dari belakang membuat dia hampir saja terhuyung ke depan kalau tak ada Devon yang menahannya.
Sementara Radi merasa kekasihnya begitu lama ke toilet akhirnya Radi menyusul Bianca dan mencari keberadaan Bianca, tanpa sepengetahuan Radi, Laura menyusul laki-laki itu meninggalkan Marcel bersama dengan Adel yang sudah larut dalam acara. Radi mencari keberadaan Bianca, sampai ia melihat dari jauh Bianca bersama dengan Devon, sahabatnya. Posisi mereka saat itu begitu dekat bahkan tangan Devon berada di pinggang Bianca membuat Radi emosi. Laura yang juga berada di sana semakin mendekati Radi, seolah memiliki kesempatan untuk mengahancurkan hubungan Radi dan Bianca, dia tersenyum sinis.
“Gila, berani-beraninya mereka ciuman,” ucap Laura memanasi Radi yang rahangnya semakin mengeras, tanpa menunda lagi dan terhasut dengan perkataan Laura bahkan tanpa Radi buktikan lebih dulu, laki-laki itu sudah tersulut emosi dan memilih untuk meninggalkan acara tersebut.
Radi kecewa karena telah di hianati oleh kekasih dan juga sahabatnya, sementara Laura yang menatap kepergian Radi tersenyum merasa menang, ia puas karena sudah membuat Radi berpikir macam-macam pada Bianca dan Devon. Padahal jika Radi bisa mengontrol emosinya dan berkepala dingin, dari sisi yang lain bisa membuktikan bahwa Bianca dan Devon tak sedang berciuman. Mudah sekali untuk membuat Radi tersulut emosi, itu karena Radi terlalu mencintai Bianca dan takut kehilangan kekasihnya, tetapi apa yang di lakukan Radi malah membuat dirinya sendiri rugi.
“Lo gapapa, bi?” tanya Devon melepas tangannya dari tubuh Bianca, bisa gawat kalau sampai Radi melihatnya seperti ini. Sudah pasti tangannya akan putus, mengerikan bukan. Itu karena Radi memang tak suka jika ada laki-laki lain selain dirinya menyentuh tubuh Bianca.
“Gapapa, lagian itu orang gak santai amat. Sampe gue kedorong ‘kan, untung ada lo kalau nggak bisa-bisa bibir gue cium lantai,” ucap Bianca menggerutu dan kesal karena salah seorang yang berlari tadi membuat dirinya terdorong hampir jatuh.
“Ya udah gue takut Radi curiga, gue temuin Radi lagi,” ucap Bianca yang tentunya di angguki oleh Devon.
Bianca kembali ke meja mereka tetapi dia tak melihat Radi di sana, hanya ada Marcel, Adel dan juga Laura. Bianca pun berjalan dengan agak cepat menghampiri teman-temannya.
“Radi mana?” tanya Bianca. Ketiga orang itu menoleh secara bersamaan melihat kedatangan Bianca.
“Lah tadi nyusul lo ke toilet,” ucap Marcel.
“Gak ada, gue barusan dari sana dan gak ketemu sama dia.”
“Tadi lo juga ke toilet ‘kan, Lau?” tanya Adel pada Laura.
“Gak jadi gue, tapi gue lihat Radi ke sana.”
“Coba telepon, kali aja lagi sama yang lain,” ucap Marcel memberikan saran.
Bianca pun segera mengeluarkan handphonenya dari tas kecil yang ia bawa kemudian mencari nama Radi dan meneleponnya. Nomor Radi tak aktif, hal itu membuat Bianca khawatir, berulang kali Bianca mencobanya tetapi hasilnya tetap saja.
“Ada apa?” Devon baru saja bergabung dengan mereka, melihat wajah Bianca yang terlihat panik membuat Devon bertanya-tanya apa yang terjadi.
“Si Radi gak ada, gak tahu ke mana. Nomornya gak aktif juga,” ucap Marcel.
“Biar gue cari, Cel ayo ikut gue,” ajak Devon sementara Bianca masih terus mencoba menghubungi Radi meski hanya suara operator saja yang sedari tadi ia dengar. Sebenarnya ke mana Radi?