11 : Hilang

1879 Words
Bianca menunduk saat mendengar Devon dan Marcel tak menemukan keberadaan Radi. Bianca juga bertanya-tanya kenapa Radi meninggalkan dirinya seperti ini bahkan tanpa alasan yang jelas. Apa yang terjadi, Bianca bahkan tak tahu apa yang sudah dia lakukan sampai membuat Radi seperti ini. Padahal nanti dia akan memberikan kejutan untuk Radi, merayakan hari jadi mereka berdua tetapi apa yang terjadi sekarang sepertinya membuat kejutan yang telah Bianca rancang terancam gagal. “Udah Bi, mungkin emang lagi ada urgent aja. Nanti juga Radi kasih kabar sama lo,” ucap Adel menenangkan Bianca yang sekarang ini terisak. “Lo berdua udah tanya sama yang lain kan? Kali aja ada yang lihat Radi,” lanjut Adel. “Gue udah tanya sama yang lain, gak ada yang lihat.” “Tapi tadi sempat ada yang ketemu Radi di parkiran, katanya dia pergi gak bilang apa-apa, di tanya aja gak nyahut,” ucap Marcel membuat Bianca menatap Marcel dengan mata yang sudah memerah karena menangis. Dia cengeng sekali kan. “Ya udah mending kita pulang, acara juga bentar lagi selesai. Nanti telepon Radi lagi,” usul Devon yang diangguki mereka. Bianca pun diantar oleh Devon juga Adel sampai rumah, sementara Marcel mengantarkan Laura yang sejak tadi tak bersuara. Mereka sama sekali tak tahu apa yang sudah Laura perbuat, yang membuat Radi pergi seperti ini. *** Bianca terus menghubungi Radi sesampainya dia di rumah. Tak tenang rasanya jika Radi belum juga mengangkat teleponnya. Sudah berulang kali juga Bianca mengirim pesan pada Radi tetapi hanya ada centang satu saja.  Sementara itu, Radi baru saja sampai di rumah. Dia tahu berulang kali Bianca menghubunginya tetapi dia abaikan. Rasanya terlanjur sakit seperti ditusuk dari belakang apalagi melihat kejadian di pesta tadi. Banyak yang Radi pikirkan apalagi tentang perasaan Bianca kepadanya, apakah selama ini Bianca benar mencintai dia atau hanya sebuah kepalsuan. Kejadian tadi membuat Radi benar-benar memanas, bagaimana tidak sahabatnya sendiri yang berani mengkhianati dirinya. Kalau laki-laki lain mungkin Radi tak akan sakit seperti ini tetapi ini sahabatnya sendiri. Radi mematikan handphone-nya kemudian menyimpan benda itu di dalam laci meja di kamarnya. Radi merebahkan tubuhnya, apakah salah kalau dia merasa sakit hati seperti ini, kenapa Bianca tega melakukan semua itu kepadanya. Radi memejamkan matanya berharap esok akan baik-baik saja meski dia sendiri tak tahu apakah memang dia akan kembali biasa atau mungkin tetap terluka. *** Bianca menghela napas, kali ini nomor Radi tak bisa dihubungi, artinya Radi mematikan handphone-nya. Kenapa Radi bersikap seperti ini, berulang kali Bianca berpikir apakah ada kesalahan yang sudah dia perbuat yang membuat Radi marah kepadanya, tetapi Bianca sangat mengingat dengan jelas. Tak ada yang terjadi bahkan saat mereka baru saja datang ke pesta tadi pun mereka baik-baik saja. Bianca pun memilih untuk mengganti pakaiannya, mungkin dia akan memberikan waktu kepada Radi. Kalau besok tak ada kabar satupun dari kekasihnya, Bianca akan pergi ke rumah Radi memastikan semuanya, berharap semua akan baik-baik saja. *** Pagi ini Radi berbicara dengan kedua orang tuanya. Semalam dia tak bisa tidur, semua masih Radi pikirkan. Akhirnya Radi pun mengambil keputusan tadi malam yang akan dia bicarakan denga kedua orang tuanya pagi ini. Amira sang ibu menatap anaknya dengan tatapan menyelidik, tak biasanya Radi ingin berbicara bersama dengan mereka sepagi ini bahkan saat mereka baru saja selesai sarapan dan Radi kali ini tampak begitu serius membuat Amira penasaran apa yang akan dibicarakan oleh anaknya. “Jadi kamu minta Papa sama Mama buat di sini mau apa? Ada yang mau kamu bilang sama kita?” tanya Naufal –Papa Radi. Radi mengangguk, “Radi kan udah lulus, Ma, Pa. Waktu itu Radi pernah bilang mau lanjut di luar kota, terus Radi sempat batalin itu. Tetapi setelah Radi pikir lagi, Radi lanjut kuliah di luar kota aja sesuai rencana awal dan Radi mau berangkat hari ini juga.” Perkataan Radi membuat Amira terkejut begitu juga dengan Naufal. Memang dulu saat Radi masuk SMA , Radi sudah menyusun rencana ke depan termasuk menuliskan rencana kuliahnya yang ingin di luar kota, tepatnya di kota kelahiran dia, Malang. Di mana di sana juga masih ada Kakek dan Nenek Radi yang membuat kedua orang tuanya tak melarang apa yang di inginkan oleh sang anak. Kemudian saat Radi baru saja naik kelas tiga waktu itu, Radi sempat membatalkan rencana dan memilih untuk kuliah di sini dan sekarang kenapa keputusan Radi kembali berubah. Hal itu membuat Naufal curiga, apa ada yang terjadi dalam satu malam kepada anaknya? “Papa sebenarnya gak mempermasalahkan mau kamu kuliah di sini atau di Malang dan tinggal sama Kakek Nenek. Tetapi sekarang apa keputusan kamu sudah bulat? Kamu pernah merubah rencana ini dan kenapa sekarang kembali merubahnya?” tanya Naufal. “Keputusan Radi udah bulat, Pa. Seperti rencana awal,” ucap Radi dengan penuh penegasan. Baik Naufal maupun Amira tak bisa lagi melarang keinginan anaknya karena Radi sudah dewasa dan mereka hanya bisa mendukung selagi itu baik untuk anaknya. “Ya sudah kalau memang itu yang kamu mau, Papa setuju saja. Gak tahu kalau Mama,” ucap Naufal melirik istrinya yang sejak tadi hanya diam memperhatikan mereka. “Ada masalah?” tanya Amira, dia masih mencurigai Radi, karena keputusan ini begitu berubah cepat padahal sebelumnya Radi sendiri yang ingin kuliah di sini dan sudah mengatakan batal untuk pergi ke Malang. “Gak ada, Ma. Kenapa sih curiga banget sama anaknya,” ucap Radi mencoba untuk tenang agar Mama-nya tak curiga. Mungkin kekanakan sekali tetapi Radi ingin menjauh dari sini dan ya salah satunya karena masalah tadi malam. Biarlah kalau Radi dianggap pengecut, Radi memang tak ingin mengetahui kenyataan yang pastinya akan membuat dia semakin sakit hati. “Oke, mau gimana juga keputusan kamu udah bulet kan. Jadi Mama setuju juga,” ucap Amira akhirnya membuat Radi bernapas lega karena Mama-nya tak curiga lebih jauh. “Tapi kenapa harus hari ini kamu berangkat?” tanya Naufal mengingat lagi perkataan anaknya yang tadi mengatakan ingin pergi ke Malang hari ini. Mendadak sekali. “Ya kan udah selesai juga, Pa. Radi juga kangen sama Nenek Kakek,” ucap Radi. “Kalau gitu kita ke sana sama-sama saja, Papa juga sudah lama tak mengunjugi Kakek dan Nenek,” ucap Naufal.  *** Bianca baru saja turun dari taksi yang tadi dia tumpangi, dia sudah berada di depan rumah Radi. Rumahnya tampak sepi lalu Bianca pun berjalan menuju pos satpam saat melihat ada orang di sana. Dalam hati dia terus berdoa semoga Radi ada di rumah dan mereka bisa berbicara berdua, Bianca benar-benar khawatir apa yang sebenarnya terjadi malam tadi sampai Radi pergi meninggalkan dia di pesta tanpa memberikan kabar apapun. “Pak, Radi-nya ada?” tanya Bianca pada satpam yang sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi hitamnya. “Mas Radi? Tadi orang rumah pada pergi,” balas satpam itu. “Pergi ke mana ya, Pak? “Saya kurang tahu Mbak, tadi Tuan Naufal suruh saya jagain rumah. Kayanya mau ke luar kota sekeluarga.” “Sama Radi juga?” “Iya, Tuan, Nyonya sama Mas Radi.” “Kalau gitu makasih ya, Pak. Saya permisi,” pamit Bianca, satpam itu mengangguk ramah. Bianca pun menjauhi rumah Radi. Kenapa semua begitu mendadak seperti ini, sebenarnya ada apa? Bianca menelepon Adel untuk menjemputnya di rumah Radi karena rumah Adel memang lebih dekat dengan rumah Radi. Sampai tak berselang lama, mobil Adel pun sudah berada di hadapannya. Bianca masuk ke dalam dengan wajah yang tampak murung, Adel menyadari itu semua tetapi sampai setengah perjalanan, Adel masih tak bertanya apapun dan Bianca tak mengeluarkan suaranya. Adel membelokkan mobilnya ke arah restoran, mungkin Bianca sedang butuh teman untuk bercerita dan dia akan memilih tempat yang sedikit privasi agar Bianca bisa dengan leluasa menceritakan apa yang sedang terjadi. Sejak malam tadi memang Bianca selalu saja murung dan memilih diam tetapi Adel tahu banyak yang Bianca pikirkan terutama tentang peristiwa semalam. Mobil Adel sudah berada di depan salah satu restoran. Bianca sadar mobil milik sahabatnya ini sudah berhenti. “Kenapa kita ke sini, Del?” tanya Bianca. “Gue tahu lo butuh waktu buat cerita, kita bisa cerita di sini. Kita pesan tempat privasi,” ucap Adel. Bianca mengangguk setuju, dari kedua sahabatnya memang Adel yang paling peka, Adel selalu tahu apa yang dia rasakan dan hanya kepada Adel juga Bianca bisa menceritakan semuanya. Adel dan Bianca pun masuk ke dalam restoran dan pelayan mengantarkan mereka ke tempat yang tadi mereka pesan. Benar-benar privasi karena Adel mau Bianca nyaman untuk bercerita, tanpa harus terganggu dengan orang-orang di sekitar. Mereka sudah berada di sebuah ruangan dan sudah memesan menu makanan karena ya bercerita juga butuh makan, begitu kalau kata Adel. “Jadi tadi lo ngapain ada di rumah Radi?” tanya Adel langsung tanpa basa-basi. “Gue mau ketemu sama dia, dari semalam masih gak bisa dihubungi. Akhirnya gue ke rumah dia tapi kata satpam di rumah kosong dan mereka semua lagi pergi,” ucap Bianca menjelaskan apa yang tadi dia dengar dari satpam rumah Radi. “Lo udah coba hubungi Radi lagi?” “Udah tapi sekarang nomor dia gak aktif. Gue ada salah apa ya, Del?” “Coba lo inget lagi, semalam lo ngelakuin apa?” “Semalam, gue sama dia datang ke pesta ya baik-baik aja. Seinget gue gak ada yang bikin kita debat sampe berantem gitu. Lo juga lihat sendiri kan Radi gimana tadi malam sama gue.” “Iya sih. Aneh juga kenapa bisa tiba-tiba kaya gini.” “Tapi dia pergi waktu gue bilang mau ke toilet kan?” “Nah iya! Coba lo ngapain di sana?” “Masa marah gara-gara ini sih, Del.” “Emang kenapa? Lo udah inget lo ngelakuin kesalahan?” “Waktu malam yang gue bilang mau ke toilet sebenernya gue ketemu sama Devon. Jadi ke toilet itu cuma alasan gue aja soalnya ada yang mau gue bahas sama Devon. Lo juga tahu kan bentar lagi anniv gue sama Radi, nah gue minta tolong sama Devon buat atur semuanya biar jadi kejutan buat Radi. Gitu doang, apa dia marah gara-gara itu ya?” “Dia mungkin marah karena lo bohong, ijin ke toilet tapi malah ngobrol sama Devon.” “Masa sampe kaya gitu sih, Del. Harusnya kan ya dia ngomong atau kalau gak suka bisa samperin gue saat itu juga waktu sama Devon. Tapi malah pergi gitu aja.” “Bentar deh. Selain itu ada gak hal yang bikin Radi kesal sekesal-kesalnya gitu pas liat kalian berdua?” Bianca berpikir sampai dia menyadari sesuatu, apa mungkin kejadian yang di mana dia terdorong oleh seseorang dan dibantu oleh Devon tetapi seperti tengah dipeluk? “Kayanya gue tahu, Radi salah paham. Semalam gue hampir aja jatoh gara-gara orang lain yang gak sengaja gitu sih, gue kedorong gitu tapi Devon bisa tarik gue akhirnya gue gak jadi jatoh tapi Devon yang kaya meluk gue gitu, Del.” “Nah! Lo tahu kan cowok lo kaya gimana. Lo deket sama cowok lain alasan kerja kelompok aja dia udah kebakaran jenggot banget, apalagi ini. Bisa jadi dia salah paham gara-gara itu. Cemburuan akut, Bi.” “Terus gue harus apa sekarang?” “Ya udah tunggu Radi sama keluarganya pulang aja, mungkin mereka lagi pergi ke rumah kerabat gitu,” ucap Adel mencoba menenangkan sahabatnya. Bianca mengangguk lesu, berharap nanti Radi mendengarkan penjelasannya. “Sekarang mending makan, abis cerita lo butuh tenaga lagi,” ajak Adel setelah makanan mereka yang berada di atas meja diabaikan sedari tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD