12 : Mahasiswa

1347 Words
Satu minggu berlalu, Bianca sudah berulang kali kembali ke rumah Radi tetapi yang dia dapatkan masih sama. Tak ada siapa pun di rumah itu, satpam rumah Radi mengatakan kalau orang rumah masih belum terlihat pertama kalinya Bianca datang mencari Radi. Bahkan sekarang sudah masuk persiapan untuk ke perguruan tinggi tetapi Bianca rasanya tak memiliki semangat karena masalahnya dengan Radi masih belum bisa mereka selesaikan. Bianca ingin menjelaskan kepada Radi kalau semua hanya kesalahpahaman tetapi sampai detik ini nomor Radi pun tak bisa dia hubungi. Hari ini mungkin hari keberuntungan Bianca karena setelah berulang kali dia ke rumah Radi. Hari ini satpam mengatakan bahwa majikannya sudah pulang, Bianca pun senang bukan main dan segera masuk ke dalam setelah satpam tersebut membuka gerbang untuknya. Tak lama Bianca disambut dengan ramah oleh Mama-nya Radi. Amira yang melihat kedatangan kekasih dari anaknya itu tampak senang karena Bianca datang ke rumah. “Udah lama banget Tante gak ketemu sama kamu, Ca,” ucap Amira setelah memeluk Bianca dengan penuh kelembutan. “Iya, Tante. Maaf ya Bianca jadi jarang main ke sini apalagi waktu itu sibuk banget mau ujian akhir.” “Iya gapapa, ayo masuk dulu,” ajak Amira kepada Bianca. Mereka pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. “Sebentar ya, Tante ambil minum dulu buat kamu,” ucap Amira hendak beranjak dari kursinya. “Gak usah Tante, ngerepotin aja. Bianca mau ketemu Radi,” ucap Bianca. Amira diam menatap Bianca dengan tatapan sulit diartikan. “Radi ada Tante?” tanya Bianca. Amira ingat waktu pertama kali dia mengantar Radi ke Malang sekaligus mengunjungi mertuanya. Radi sempat mengatakan untuk tak memberitahu siapapun tentang keberadaan dia yang ada di Malang, termasuk kepada Bianca. Sampai Amira bertanya kenapa Radi seperti itu tetapi anaknya tak ingin menjelaskan apapun. Radi bahkan memohon kepadanya tentang itu yang akhirnya Amira pun setuju karena keinginan anaknya adalah yang utama. Tetapi sekarang melihat Bianca yang mencari Radi, Amira tak tega jika tak memberitahukan semuanya kepada Bianca. Dia bingung sekali apa yang harus dia katakan kepada Bianca. “Tante,” suara Bianca membuat Amira tersadar dari lamunannya. “Ah iya tadi kamu mau ketemu Radi?” “Iya, Radi ada Tante?” “Maaf ya, Ca. Radi gak ada, dia melanjutkan kuliah di luar negeri.” Perkataan Amira membuat Bianca tersentak. Melanjutkan kuliah di luar negeri? Kenapa Radi tak pernah memberitahukan ini kepadanya? Bukannya Radi bilang akan berkuliah di universitas yang sama dengannya? “Kenapa mendadak seperti ini, Tan? Bukannya Radi bilang mau kuliah di sini?” “Iya tetapi papanya Radi mau anaknya tetap kuliah di luar negeri. Ikut dengan sepupunya juga,” ucap Amira berbohong. “Kalau boleh, Bianca minta nomor Radi, Tante.” “Aduh itu dia ponsel Radi katanya rusak. Terus Tante masih belum tanya nomor dia yang baru. Oh iya, Tante baru ingat. Tante harus ke rumah teman dulu, maaf ya Ca bukannya Tante usir kamu lho,” ucap Amira tak enak, dia tak bisa lagi menjawab apa yang nanti Bianca tanyakan. Dia sudah berjanji kepada anaknya untuk tidak mengatakan apapun kepada Bianca ataupun yang lainnya. Bianca akhirnya pamit pulang meski dia masih belum puas dengan apa yang dia dengar. Dia masih ingin tahu kenapa Radi mendadak pergi ke luar negeri padahal dia ingin menjelaskan semuanya. Apakah terlalu besar kesalahan yang dia perbuat sampai Radi tak ingin bertemu dengan dia lagi? ** Semakin di pikirkan, Bianca semakin tidak mengerti kenapa Radi dengan mudah merubah semua rencananya. Radi bahkan tak memberitahu dirinya tentang ini, tentang dia yang dengan tiba-tibanya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, tentang dia yang tiba-tiba saja pergi di malam perpisahan sekolahan mereka dan tentang kenapa Radi tak memberikan sedikit saja kesempatan jika memang mereka berdua telah salah paham. Radi malah memilih untuk lari, pergi tanpa kata, hilang tanpa suara. “Jadi dia pergi gitu aja ke luar negeri?” tanya Adel. Bianca mengangguk lesu. “Ini kenapa jadi kaya gini sih, gue heran sama si Radi. Kenapa dia tiba-tiba aja pergi dan gak kasih tahu lo. Terus tante Amira juga gak kasih tahu apapun sama lo seolah nutupin semuanya. Lo udah coba hubungin Radi lagi, Bi?” lagi-lagi Adel bertanya kepada Bianca, dia hanya tak mengerti saja kenapa Radi melakukan semua ini dengan tiba-tiba. Dan aneh saja kalau memang Radi ke luar negeri, berarti selama ini dia sudah melakukan persiapan untuk ke sana di belakang mereka. Ya mungkin kalau mereka tahu secara tiba-tiba seperti ini tak masalah, tetapi ini Bianca, kekasihnya sendiri? Kenapa Radi menutup semuanya dari Bianca? “Udah, Del. Gak tau berapa kali tapi ujungnya sekarang nomor dia gak aktif sama sekali, gue harus apa sekarang? Gue juga gak ngerti kenapa kaya gini, kalau emang yang jadi masalahnya itu karena malam perpisahan itu, dia kan bisa bilang sama gue dan gue juga bisa jelasin sama dia itu salah paham doang, tapi ini, dia sama sekali gak kasih gue kesempatan buat bicara sama dia, dia malah hilang gitu aja,” ucap Bianca dengan begitu meletup-letup. Sekarang dia malah jadi emosi memikirkan semua itu. “Kayanya lo harus kasih dia waktu deh, Bi,” kali ini Laura mulai berbicara setelah sedari tadi dia menjadi pihak penyimak cerita Bianca dan komentar yang menggebu-gebu dari Adel. “Nah! Setuju gue sama Laura. Mending sekarang lo fokus sama persiapan kuliah aja. Lagian ya gue sih yakin kalau Radi gak akan lama ngambeknya, secara dia bucin banget sama lo, Bi,” ucap Adel. Bianca pun memikirkan apa yang dikatakan kedua sahabatnya. Memang benar dia harus fokus dengan persiapan kuliahnya apalagi jurusan yang dia ambil bukan jurusan yang biasa, Bianca tak boleh kehilangan fokus hanya karena masalah percintaan dirinya dan Radi. Meski ya, memang Bianca ingin semuanya selesai saat ini juga tetapi kalau Radi seperti ini mana bisa masalah mereka selesai dengan cepat. Mungkin benar, Radi butuh waktu. ** Sudah satu minggu berlalu, Radi merasa semuanya kembali seperti semula. Tak ada yang spesial selama di sini, yang ada dia begitu merindukan Bianca.  Berat rasanya memutuskan semua ini tetapi mau bagaimana lagi, Radi merasa kecewa dengan apa yang terjadi beberapa waktu lalu. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri, meski dia juga tak tahu sampai kapan dan apa hubungannya dengan Bianca akan baik-baik saja setelah ini.  Radi tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang, dia mencintai Bianca tetapi dia juga terluka karena Bianca melakukan hal yang benar-benar melukai hatinya, apalagi bersama dengan Devon, sahabatnya sendiri. Radi memilih fokus kuliah di sini, Radi membutuhkan waktu dan ruang sampai dia mengganti nomor handphonenya. Radi juga mengatakan kepada sang ibu untuk tak memberitahu siapapun kalau dia masih di Indonesia, dia hanya pindah kota saja.  Tetapi Radi meminta kepada sang ibu untuk mengatakan pada Bianca ataupun kedua sahabatnya kalau dia pergi ke luar negeri. Itu satu-satunya cara agar Bianca tak menemukan dirinya karena dia tahu tak akan mungkin Bianca mencari dia sampai sejauh itu, belum lagi sekarang mereka sama-sama sibuk mengurus kuliah masing-masing. ***  "Akhirnya jadi mahasiswa, gue udah bayangin banget dari dulu bisa pergi ngampus gitu tanpa harus pake seragam kaya sekolahan," ucap Adel dengan begitu semangat karena bisa menjadi Mahasiswa yang memakai pakaian bebas namun tetap sopan.  "Semangar banget lo, Del. Walaupun kita ini udah jadi mahasiswa tetep aja harus di jaga pakaiannya, gak mungkin kan ke kampus pake bikini."  "Yeuh! Gue juga tahu kalau itu, Bi. Lagian apa gak dingin tu kalau ke kampus pake bikini," ucap Adel membalas perkataan Bianca.  "Kenapa jadi ngomongin bikini sih, gue ke kelas dulu deh. Kita beda jurusan kalau lo berdua lupa," kata Laura.  "Lah iya juga. Gue masih berasa satu kelas sama kalian," balas Adel. Laura pun pamit kepada keduanya karena dia harus segera ke kelas, sementara Adel dan Bianca yang memang masih ada di satu jurusan yang sama pun mulai mencari kelas mereka.  "Jadi sekarang lo fokus sama kuliah dulu, kalau emang jodoh ya nanti juga sama-sama lagi," ucap Adel saat Bianca kembali menceritakan apa yang dia rasakan.  "Iya deh. Gue juga kalau masih mikirin bikin sedih terus kesel. Ya masa dia gak kasih gue kesempatan buat jelasin kalau emang gara-gara yang sama Devon itu. Kekanakan banget tau gak!"  "Sabar lo, jangan sampe jadi bar-bar," celetuk Adel. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD