Radi berjalan keluar dari perpustakaan karena jam perkuliahannya yang kedua sebentar lagi akan di mulai. Tadi setelah jam pertama selesai Radi memilih untuk pergi ke perpustakaan sambil menunggu kelas berikutnya. Sebenarnya tadi dengan Kaivan tetapi temannya itu harus menemui Dosen untuk menyerahkan tugas dan akhirnya meninggalkan Radi sendiri di perpustakaan.
Kuliahnya biasa saja. Radi masuk kelas seperti biasa, mengerjakan tugas dan sesekali nongkrong dengan Kaivan. Begitu saja, tak ada yang spesial. Dan semua itu nyatanya tak bisa membuat Radi lupa dengan Bianca. Justru semakin lama, Radi malah semakin merindukan kekasihnya. Hanya saja egonya begitu tinggi sampai Radi tak sekalipun memberi kabar kepada Bianca tentang keberadaannya. Radi masih dengan keputusannya yang kemarin, membiarkan semuanya seperti ini, gantung begitu saja.
Kemarin, Radi sudah mengabarkan kepada kedua orang tuanya dengan nomor baru miliknya. Hanya keluarganya saja yang tahu, bahkan Radi belum memiliki niat untuk mengabarkan keberadaannya kepada kedua sahabatnya, Devon dan Marcel. Apalagi pada Devon, Radi masih kesal dan belum bisa memaafkannya. Setiap kali mengingat nama sahabatnya itu, Radi akan mengingat apa yang terjadi waktu itu.
Apa mungkin sekarang Bianca dan Devon sudah menjalani hubungan mengingat Radi tak ada bersama mereka? Pikiran itu selalu saja muncul dalam benaknya.
Radi masuk ke dalam kelas dan ternyata Kaivan sudah di sana, duduk di barisan belakang yang selalu menjadi tempat favorite laki-laki berkacamata itu.
Kedatangan Radi ke dalam kelas membuat semua mahasiswa terutama perempuan terpesona dengan ketampanan Radi, jika saja laki-laki itu bisa sedikit ramah atau menampilkan senyumnya sudah pasti banyak sekali yang akan jatuh cinta kepada Radi.
“Lama amat lo,” ucap Kaivan setelah Radi duduk di sampingnya.
“Ketiduran,” balas Radi singkat. Kaivan mengangguk, Kaiva sudah biasa sekali mendengar jawaban Radi yang singkat, berbicara yang singkat dan sikapnya yang dingin. Sejak pertama Kaivan kenal Radi, sikap Radi memang sudah seperti itu.
Kaivan dan Radi saling kenal saat mereka berdua mendapatkan hukuman dari panitia ospek saat mereka masih menjalani masa orientasi mahasiswa baru waktu itu, sebenarnya hanya hal sepele saja mereka berdua mendapatkan hukuman. Keduanya terlibat adu mulut dengan salah satu panitia hanya karena ada seorang gadis yang mendapatkan perpeloncoan.
Radi yang saat itu menjadi ketua kelompok dan melihat salah satu anggota kelompoknya tengah menjadi bahan tontonan banyak orang, Radi tidak terima dan mengatakan kalau jaman sekarang sudah tak ada lagi perpeloncoan namun panitia tersebut tak mau kalah dan akhirnya terlibat adu mulut, Kaivan yang merupakan anggota kelompok juga akhirnya maju melerai Radi dan panitia tersebut tetapi Radi yang memang sudah dari sananya keras, tak bisa di hentikan. Sampai ketua panitia datang dan berhasil melerainya, yang berujung Radi dan Kaivan mendapatkan hukuman karena sudah melakukan keributan. Saat menjalani hukuman, Kaivan yang pertama kali berkenalan, sejak saat itu mereka dekat dan menjadi teman.
***
Bianca sedang menikmati makan siangnya di kantin, hanya sendiri karena Laura masih ada kelas dan Adel sedang ke perpustakaan mengerjakan tugas dengan kelompoknya. Kali ini mereka tak satu kelompok dan kelompok Bianca sudah mengerjakan tugas dari Dosen mereka kemarin. Akhirnya Bianca sendirian.
Saat sedang menikmati makan siangnya, seseorang duduk di hadapannya membuat Bianca langsung menatap orang tersebut. Bianca tersenyum melihat kedatangan Devon yang sudah duduk di hadapannya.
“Sendirian aja lo kaya jomblo,” celetuk Devon kemudian laki-laki tu terkekeh melihat Bianca yang cemberut.
“Ngatain terus lo. Mentang-mentang enggak jomblo.”
“Sorry, Bi. Habisnya lo sendiri amat, yang lain ke mana?”
“Laura ada kelas, Adel lagi ngerjain tugas sama kelompoknya.” Devon mengangguk kemudian menikmati makanan yang tadi dia sudah pesan.
“Lo sendiri, biasanya si Marcel ngintilin ke mana-mana.”
“Tau tuh! Lagi caper kali sama cewek di jurusannya,” ucap Devon.
“Udah punya cewek juga, masih aja caper. Bukannya dia balikan sama Moni ya? Putus lagi baru tau rasa,” ucap Bianca mengingat waktu itu Marcel pernah mengatakan kepada mereka kalau dia sudah kembali dengan Monica, kekasihnya di sekolah dulu.
“Iya. Enggak nyangka sih gue si Moni mau balik lagi sama Marcel yang playboy itu.”
“Ada orangnya bisa kena timpuk lo. Ngatain temen sendiri,” Bianca terkekeh.
“Apa ni, pasti gosipin gue.” Marcel datang menghampiri Devon dan Bianca, dia memang selalu datang tiba-tiba dan pergi tiba-tiba, kalau kata Adel kaya doi yang suka tiba-tiba datang dan pergi.
“Lo kenapa datangnya gak pernah kelihatan sih. Muncul dari mana lo, jangan-jangan tadi lo keinjek sama sepatu gue!” perkataan Devon membuat Marcel mendengus. Sahabatnya ini selalu saja kalau ngomong tak pernah di saring. Pake ngatain segala.
“Sembarangan lo! Dikata gue tanah di injek. Yang kamu lakukan itu udah melukai hatiku Mas,” Marcel si raja drama mulai berulah.
“Jijik lo, Cel. Gak malu apa sama Bianca.”
“Lah! Dia udah tau kelakuan gue, iya kan Bi?” Marcel menatap Bianca, gadis itu mengangguk mengiyakan. Sudah tak aneh lagi kalau melihat Marcel yang berperilaku absurd dan penuh drama seperti tadi.
“Lo ada kelas lagi abis ini?” tanya Devon pada Marcel.
“Kenapa? Lo kangen sama gue ya, tanyain jadwal gue. Aduh gue terharu sekali dikangenin sama lo.”
“Anjiir! Gue nanya serius bangsul!”
“Gak ada. Kenapa? Jangan ngajakin gue balapan lagi, motor gue lagi di bengkel gara-gara semalem kalah abis balapan.”
“Siapa juga yang ngajakin lo balapan, itu semalem lo bapalan sama siapa? Kok gak ajakin gue sih. Parah banget lo Cel!”
“Anak baru, gue kenal semalem pas nongki sama yang lain. Lo kan lagi ngapel sama si Cherin, bucin sih lo.”
“Ngatain diri sendiri lo! bucin juga sama aja.”
Bianca sejak tadi hanya menjadi penyimak antara keduanya, kalau sudah berdua begitu mereka memang seperti tak menyadari keberadaan orang lain di sekitarnya. Asyik berdua dengan pembahasan mereka, yang terkadang tak di mengerti oleh Bianca.
Melihat Devon dan Marcel seperti ini Bianca kembali teringat dengan Radi, kalau saja laki-laki itu tak salah paham padanya, pasti Radi sekarang sedang duduk di sampingnya menyaksikan obrolan kedua sahabatnya juga. Bianca rindu Radi.
“Bi!” Bianca tersentak. Kemudian dia melihat Devon dan Marcel yang sudah berdiri dari kursi mereka. “Lo dari tadi kita panggil. Kenapa?” tanya Devon, tadi dia sudah memanggil Bianca berulang kali tetapi gadis itu sepertinya tengah melamun.
“Ah! Sorry, lo berdua mau ke mana?”
“Kita mau balik. Lo masih ada kelas atau pulang juga?” tanya Marcel.
“Oh, gue ada kelas satu lagi. Kalian duluan aja, Adel juga bentar lagi nyusul ke sini.”
Devon dan Marcel mengangguk, mereka pun pergi meninggalkan Bianca yang masih ingin di kantin. Sebelum benar-benar pergi, Devon kembali berkata, “Jangan banyak ngelamun, kalau jodoh enggak akan ke mana, Bi.”
Devon tahu, Bianca masih memikirkan keberadaan Radi. Sampai sekarang dia dan Marcel juga selalu mencari keberadaan Radi tetapi masih tak mendapatkan informasi apapun, terakhir yang Devon tahu dari orang suruhannya, Radi masih ada di Indonesia. Tak seperti apa yang di katakan kedua orang tua Radi kalau laki-laki itu melanjutkan kulihanya ke luar negeri dan Devon sampai kapanpun akan membantu Bianca untuk kembali bertemu dengan Radi. Karena Bianca juga merupakan sahabatnya.
Bianca yang menatap kepergian Devon dan Marcel. Dia kembali teringat apa yang baru saja di katakan oleh Devon. Ya, benar sepertinya Bianca sering sekali melamun dan memikirkan Radi.
***
Bianca baru saja pulang dari kampus. Dia duduk di sofa ruangan tengah dengan kepala yang menengadah.
Hari ini cukup melelahkan karena jam kuliahnya sampai sore, di tambah tugas kuliah semakin bertambah padahal dia baru saja masuk semester awal perkuliahan. Dia kira masa kuliah tak akan sama seperti sekolah dulu, ternyata lebih melelahkan karena tugas pun bukan main-main belum lagi sering di kejar deadline. Benar yang di katakan orang-orang, masa sekolah itu masa yang begitu menyenangkan. Terbukti setelah sekarang Bianca lulus sekolah dan masuk ke dalam area kampus, Bianca merindukan suasana sekolahan, merindukan momen bersama dengan teman-teman, merindukan momen di mana Radi menyatakan cinta kepadanya.
Radi. Selalu nama itu yang akhirnya muncul, Bianca mengembuskan napas pelan, kenapa Radi selalu muncul.
Rayhan baru saja turun dari kamar menuju lantai bawah, melihat ke arah ruang tengah dan kakaknya tengah melamun. Akhir-akhir ini Rayhan sering sekali melihat kakak perempuannya melamun entah sedang memikirkan apa. Atau mungkin memikirkan kuliahnya, memang berat sekali ya jadi Mahasiswa, pikirnya.
Rayhan berjalan ke arah dapur, tujuannya ke bawah memang untuk mengambil jus yang tadi di buat oleh Bundanya dan di simpan di lemari pendingin sebelum Bundanya mengatakan akan pergi ke luar untuk menemani Ayah menemui rekan bisnisnya. Setelah mengambil dua gelas jus, satu untuknya dan satu untuk sang kakak. Rayhan pun berjalan menghampiri Bianca, meletakan gelas tersebut di atas meja.
“Kak!”
Bianca tersentak. Gadis itu menoleh menatap sang adik yang sudah duduk di sampingnya entah sejak kapan. Sepertinya dia memang selalu tak menyadari saat seseorang sudah berada di sampingnya. Fokusnya sudah teramat lemah.
“Kenapa Kak? Ray lihat Kak Caca banyak ngelamun deh, awas kesurupan,” ucap Rayhan kemudian mengambil remot dan menyalaka tv.
“Enggak ada apa-apa, siapa yang ngelamun. Oh iya, Bunda ke mana kok di rumah sepi banget?” tanya Bianca berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Tadi katanya mau ketemu rekan kerja Ayah, kayanya makan malam sama-sama deh.”
“Lah terus kita makan malam gimana?”
“Ya kan ada Kak Caca. Masak lah! Masa Ray yang masak.”
“Mending kita pesan aja deh. Lagi males masak.”
“Oke kalau gitu, mana ponsel Kakak biar Ray pesan, mending Kak Caca mandi sana,” ucap Rayhan mengusir Bianca.
“Nyuruh-nyuruh, dasar! Itu ponselnya, Kakak mau ke atas mandi sama ganti baju, pesaan ayam geprek ya. Enak kayanya,” Bianca beranjak dari sofa dan menyambar tas nya kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Rayhan bersorak senang. Dia pun mulai memilih menu makanan di salah satu aplikasi online. Memilih apa yang dia inginkan dan yang disebutkan Kakaknya. Kapan lagi dia bisa jajan dan di traktir sang kakak.
Tak lama, Bianca sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Dia kembali ke bawah menemui Rayhan yang sepertinya sudah memesan makanan. Rayhan sedang menyiapkan makanan di atas meja makan saat Bianca mendekatinya. Bianca terkejut karena Rayhan ternyata memesan begitu banyak makanan padahal mereka hanya berdua saja di rumah.
“Kok banyak amat, Ray,” ucap Bianca duduk dikursinya.
“Hehe, Ray lapar mata Kak,” Rayhan menggaruk kepalanya tak gatal.
“Habisin! Enggak mau tau! Ini pake uang Kakak juga.”
“Uang Ayah kali Kak, orang kita dapat uang dari Ayah.”
“Iya-iya, habisin pokoknya. Padahal tadi Kakak bilang pesan ayam geprek.”
“Tapi kan Kak Caca enggak nyuruh aku buat pesan ayam geprek buat aku. Jadi aku pilih sendiri deh, lagian ini promosi lho Kak,” ucap Rayhan.
Bianca mengangguk saja, membiarkan Rayhan menikmati makanan yang di pesannya. Bianca juga mulai menikmati ayam geprek yang tadi dia minta pesankan pada Rayhan.
“Kak, kok sekarang Kak Radi jarang main ke rumah ya.”
Perkataan Rayhan membuat Bianca terdiam. Kenapa adiknya harus membahas Radi sekarang?