Radi tersenyum miris menatap layar handphone-nya. Dia baru saja menerima pesan dari nomor tak di kenal dan pesan itu berisi beberapa foto Bianca bersama dengan Devon yang terlihat begitu akrab. Radi berpikir hubungan keduanya mungkin semakin membaik apalagi sudah tidak ada dirinya.
Miris sekali, jadi selama ini Radi memang mencintai Bianca sendirian. Radi menyimpan handphone-nya kembali ke atas meja di samping tempat tidur. Dia kembali merebahkan tubuhnya, hubungan Radi dan Bianca sepertinya sudah selesai semenjak Radi pergi dengan tiba-tiba. Ada rasa sesak di hatinya mengingat bagaimana hubungan dia dengan Bianca sekarang.
Sejujurnya Radi tak ingin hubungan ini selesai begitu saja, karena dia begitu mencintai Bianca. Tetapi melihat bagaimana Bianca yang masih bisa tertawa bahkan bersama dengan laki-laki lain, Radi pikir hubungan mereka memang sudah selesai.
Radi tersadar, bagaimana seseorang yang mengirimkan foto tersebut tahu nomornya, padahal dia ingat nomor barunya ini hanya di miliki oleh keluarganya. Tak ada yang tahu nomor dia yang baru, Radi tak ingin memikirkannya. Mungkin dengan ini Radi bisa belajar untuk melupakan Bianca, karena Radi tahu Bianca sudah bahagia dengan sahabatnya.
“Di,” ketukan dari luar kamar juga suara sang nenek terdengar, membuat Radi beranjak dari tempat tidurnya.
Radi membuka pintu dan dia melihat Neneknya yang tengah tersenyum di balik pintu kamarnya. “Ada apa, Nek?” tanya Radi.
“Kamu sudah makan apa belum?” tanya Nenek Radi.
“Sudah, Nek.”
“Betul sudah? Nenek enggak lihat piring habis kamu makan, seharian ini kamu ada di kamar kan. Ada apa toh?”
“Radi sudah makan Nek. Enggak ada apa-apa, seharian ini Radi lagi ngerjain tugas banyak yang belum selesai.”
“Ya sudah. Tapi kamu jangan sampai telat makan ya, boleh mengerjakan tugas tetapi harus makan juga.”
“Iya, Nek.”
“Kalau begitu, Nenek ke kamar dulu. Jangan bergadang, istirahat.”
Radi mengangguk, “Iya, Nek.”
Sepeninggalan sang nenek, Radi kembali menutup pintu kamarnya. Sebenarnya dia ingin tinggal sendiri tetapi melihat Kakek dan Neneknya yang hanya tinggal berdua membuat Radi tak tega meninggalkan mereka berdua. Meski selama ini selalu berdua hanya saja sekarang dia juga melanjutkan pendidikannya di kota yang sama dengan Kakek dan Neneknya tinggal, jadi tak enak saja rasanya jika meninggalkan mereka, meski Radi tahu keduanya pasti mengijinkan Radi untuk tinggal sendiri selama berkuliah.
Radi belum bisa tidur. Tak ada yang bisa di kerjakan karena tugas dari kampus pun sudah selesai dia kerjakan. Dia pun kembali mengambil handphonenya, lalu melihat isi galeri di handphone tersebut dan semua foto Bianca. Radi ingin melupakan tetapi nyatanya tak semudah itu apalagi di waktu tertentu dia selalu memandangi foto Bianca, seperti sekarang ini. Mulutnya mungkin mengatakan akan melupakan Bianca, tetapi hati kecilnya tak bisa. Bianca terlalu melekat di hatinya, butuh waktu lama untuk melupakan Bianca atau mungkin tak akan bisa, Radi tak tahu.
“Kamu lagi apa, Bi,” gumamnya sambil setia memandangi foto Bianca.
***
Bianca membereskan piring bekas makannya tadi bersama dengan Rayhan. Pertanyaan yang keluar dari mulut adiknya tadi tak Bianca jawab, Bianca hanya diam saja dan Rayhan pun tak kembali menanyakan. Rayhan berpikir kalau hubungan Kakaknya dengan sang kekasih sedang tidak baik-baik saja dan dia tak mungkin ikut campur, akhirnya Rayhan memilih untuk diam juga.
Bianca merasa di saat dia akan melupakan Radi atau berusaha menghapus bayangan Radi dari benaknya, orang-orang di sekitarnya akan selalu mengingatkan Bianca pada sosok Radi. Entah itu sahabatnya, sahabat Radi atau bahkan adiknya sendiri, seolah semuanya bekerja sama untuk mengingatkan dia kepada laki-laki itu.
Selesai dengan urusan di dapur, Bianca pun memilih untuk segera ke kamar. Rayhan juga sepertinya sudah berada di kamar karena saat Bianca melewati ruang tengah, tak ada siapa-siapa di sana. Bianca membuka pintu kamarnya, lalu menutupnya lagi dan tak lupa menguncinya. Berjalan ke arah tempat tidur, Bianca duduk di pinggir tempat tidurnya. Pikirannya kembali terasa aneh, entah apa yang dia pikirkan kali ini, rasanya sangat kosong. Bahkan semuanya tampak biasa saja.
Bianca tak sengaja menatap fotonya bersama dengan Radi yang memang dia pajang di atas meja belajarnya. Foto itu mereka ambil saat dulu pergi ke salah satu taman rekreasi. Bianca yang pusing dengan tugas sekolah akhirnya mengajak Radi untuk jalan-jalan, Radi yang memang selalu mengiyakan apa yang diinginkan kekasihnya saat itu juga setuju dengan ajakan Bianca.
Radi membiarkan Bianca yang memilih ke mana mereka akan pergi. Sampai akhirnya ke taman rekreasilah mereka dan foto itu merupakan momen yang paling manis untuk keduanya. Bianca tak pernah lupa dengan kebersamaan mereka saat itu.
Bianca beranjak dari tempat tidur, kemudian berjalan ke arah meja belajarnya. Duduk di kursi dengan mata yang setia memandangi fotonya bersama Radi. Bianca mengambil foto tersebut dan memperhatikannya secara seksama. Dia dan Radi tampak tersenyum lebar, bahkan Bianca tak pernah melihat mereka sebahagia ini dan sekarang semua itu tinggal kenangan. Bianca tak tahu apakah momen itu akan kembali ada atau tak akan ada sampai kapapun.
“Aku kangen kamu,” lirihnya. Kedua mata Bianca kembali berkaca-kaca.
***
Bianca baru saja menyerahkan tugasnya, dia keluar dari ruang dosen dengan napas lega. Mengingat hampir saja Bianca terlambat untuk menyerahkan tugas yang merupakan mata kuliah penting dalam semester ini. Semua mata kuliah semester ini tentunya penting tetapi satu mata kuliah ini seperti mempertaruhkan hidup dan mati. Lebay sekali kan, tetapi itu yang Bianca rasakan.
Adel dan Laura tadi bilang mereka akan menunggu Bianca di kantin, Bianca pun segera berjalan ke arah kantin segera menyusul kedua sahabatnya. Setelah berada di area kantin, Bianca pun mencari keberadaan Adel dan Laura. Lambaian tangan Adel membuat Bianca menemukan mereka, dia pun segera menghampirinya.
“Haduh, hampir aja gue dapat nilai E,” ucap Bianca setelah duduk di hadapan Adel.
“Kali ini selamat lo, Bi. Lagian lo kenapa sampe kelupaan ngerjain tugasnya sih. Udah tau kalau itu dosen susah banget buat kasih nilai. Ini malah hampir telat ngumpulin tugas.”
“Iya, akhir-akhir ini gue kayanya enggak konsen.”
“Tiap hari kali,” celetuk Adel.
“Lo dari tadi komen mulu deh, diem gitu kaya Laura,” protes Bianca, mengingat sejak tadi dia duduk bersama mereka, hanya suara Adel yang terdengar.
“Ya maaf. Gue enggak bisa kalem kaya Laura,” balas Adel.
“Udah deh. Kalian berantem mulu kerjaannya. Mending kita pesan makan, laper kali gue dari tadi,” sela Laura menjadi penengah antara Adel dan Bianca.
“Lah, belum pesan makan?”
“Belum, kan kita sohib. Nunggu lo lah.”
“Wahh! Gue sungguh terharu,” ucap Bianca.
“Lebay lo. Udah ah, gue pesan makan. Biasa kan?” tanya Adel beranjak dari kursinya. Bianca dan Laura mengangguk setelah itu Adel pun berjalan menuju penjual makanan yang berada di kantin ini. Memesan menu andalan mereka.
Sambil menunggu Adel memesan, Bianca dan Laura sibuk dengan handphone-nya masing-masing. Bianca tampak serius menatap deretan chat yang sama sekali belum terbaca. Ya siapa lagi kalau bukan chat yang dia kirim kepada Radi, bahkan hanya centang satu saja. Artinya nomor Radi memang tidak aktif. Bianca mengembuskan napas pelan, berulang kali dia mengatakan kalau dia akan melupakan Radi, berulang kali juga hatinya ingkar. Sulit sekali rasanya.
“Lo di sini, Lau.”
Suara seseorang membuat Bianca menoleh ke arah samping. Seorang laki-laki tengah berdiri di samping Laura. Bianca tak mengenalnya, mungkin memang salah satu kenalan Laura di kampus atau senior sahabatnya.
“Eh, Lo Kak. Kirain enggak jadi ke sini,” ucap Laura.
“Jadi lah,” balas laki-laki itu, lalu melirik ke arah Bianca.
Bianca yang merasa di perhatikan, tersenyum kaku.
“Ah iya, Kak. Ini kenalin Bianca, sahabat gue,” ucap Laura mengenalkan Bianca pada laki-laki yang di panggilnya “Kak”
“Hai, gue Marion.”