"Duh kok kamu jadi repot-repot gini sih Jinny." Sarah menerima bingkisan dari Jinny merasa tidak enak jika merepotkan. Dari beratnya sepertinya isinya cukup banyak.
"Gak papa Mbak. Waktu aku kesini pertama kali aku gak sempat bawain apa-apa. Kebetulan aku abis dikirimin sama ibu aku dari Lombok. Di dalamnya juga ada kopi khas Lombok, Mbak harus coba, enak banget." Jinny terlihat begitu antusias membicarakan tentang bingkisan yang memang sudah ia siapkan untuk Sarah. Bingkisan itu berisi berbagai macam oleh-oleh khas Lombok yang memang sengaja Jinny minta kirimkan kepada orang tuanya. Sarah sudah sangat baik, bahkan saat Jinny pulang dari rumahnya malam itu, ia memberikan Jinny banyak bingkisan berisi makanan membuat Jinny merasa harus membayar kebaikannya.
"Oh ya? Yuda suka banget kopi. Dia pasti bakal suka." Mendengar ucapan Sarah itu membuat Jinny teringat pertemuannya dengan Yuda waktu itu di kafe. Sejak itu sebenarnya Jinny tidak lagi bertemu Yuda dalam minggu ini. Tampaknya ia cukup sibuk. Lagi pula ia adalah bos besar. Jadi tidak mungkin selalu berada dalam pandangan Jinny layaknya karyawan-karyawan yang lainnya.
"Aunty Nini orang Lombok?" tanya Sisi dengan tatapan polosnya. Jinny beralih menatap Sisi sesaat setelah ia mendengar pertanyaan itu.
"Iya, Sisi pernah ke Lombok?"
"Pernah, sama bunda waktu itu," jawabnya.
"Sisi suka banget ke pantai. Jadinya ya kalau ada waktu libur kami bakal ke Bali atau Lombok." Jinny mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Lombok memang menjadi salah satu destinasi yang tepat untuk berlibur karena alamnya yang sangat indah. Sesungguhnya itu salah satu yang paling Jinny rindukan. Orang-orang sangat ingin datang ke Lombok, tapi dirinya malah mengadu nasib di Jakarta. Terkadang Jinny bingung dengan dirinya sendiri. Sebenarnya ia bisa saja menetap di Lombok dan membantu usaha orang tuanya. Namun ada sesuatu di Jakarta yang membuat ia lebih betah disini. Mungkin ia perlu mencari pengalaman lebih banyak lagi sebelum akhirnya nanti ia kembali ke Lombok.
"Papa..." Obrolan mereka terpotong saat tiba-tiba Sisi bangkit dari duduknya dan menghampiri seseorang yang tampaknya baru saja tiba. Orang itu langsung tersenyum lembut pada Sisi membuat Jinny tertegun tidak bisa berkedip. Senyumnya terasa asing di mata Jinny, namun begitu menenangkan. Sepertinya ia harus sering-sering melihat senyum itu untuk kedamaian hatinya. Sementara Jinny terkagum, Sarah hanya tersenyum melihat pemandangan yang sudah biasa itu.
"Papa kita kapan main tranmpolinnya? katanya hari minggu," ucap Sisi dengan bibir mengerucut lucu.
"Emangnya papa ada ngomong gitu?"
"Tuhkan, Papa pura-pura lupa," Sisi memasang wajah kesal sementara lawan bicaranya tersenyum gemas berhasil menggoda.
"Ya udah papa siap-siap dulu ya."
"Emangnya Papa belum mandi? kan udah rapi."
"Belum Sayang, papa abis lari pagi di sekitar sini tadi."
"Ya udah jangan lama-lama tapi," desak Sisi membuatnya terkekeh. Gadis kecil itu sangat tidak sabaran.
"Iya Sayang, sabar dong. Papa mandi dulu," ia langsung bergegas pergi sebelum Sisi mengomel lagi. Anak itu tidak akan berhenti mengoceh sebelum mereka benar-benar pergi.
"Bun, Sisi pergi ya sama papa."
"Iya, ganti baju dulu tapi ya sama Mbak." Sisi mengangguk patuh kemudian langsung berlalu pergi ke kamarnya dengan perasaan riang gembira.
"Gitu tuh kalau udah sama Yuda, semuanya harus diturutin. Paling gak bisa dijanjiin dikit pasti langsung ingat," kata Sarah mengingat tingkah putrinya itu.
"Mereka akrab banget ya Mbak." Sarah kembali menatap Jinny sembari tersenyum.
"Sejak lahir, selain mbak, ya Yuda yang bantuin jagain Sisi. Mbak selalu merasa berterima kasih sama Yuda yang selalu bisa diandalkan dan bisa dijadikan sandaran," cerita Sarah mengalir begitu saja. Jinny hanya mendengarkan tanpa berniat menyelanya.
"Ayahnya Sisi meninggal satu bulan sebelum Sisi lahir. Padahal beberapa bulan sebelumnya, papi meninggal juga, jadi kami tinggal berdua." Jinny bisa melihat raut wajah kesedihan dari Sarah. Cerita Sarah sangat menjawab rasa penasaran Jinny. Pasalnya Jinny selama ini tidak pernah bertemu dengan suami Sarah, bahkan saat mereka di Singapore waktu itu.
"Orang tua Mbak pasti senang banget anak-anaknya pada rukun dan cucunya manis banget kayak Sisi. Ayahnya Sisi juga pasti bangga banget," kata Jinny menunjukkan rasa simpatinya membuat Sarah kembali tersenyum.
"Semua orang akan selalu datang dan pergi, jadi bagi Mbak semuanya wajar-wajar aja kok." Walaupun belum mengenal dekat Sarah dalam waktu yang lama namun Jinny yakin pasti ia adalah wanita yang sangat tangguh dan mandiri.
"Mbak, kami pergi ya." Tiba-tiba saja Yuda dan Sisi sudah berada di hadapan mereka di tengah-tengah obrolan mereka yang terus berlanjut.
"Mbak gak bisa ikut ya, abis ini ada meeting." Yuda mengangguk paham.
"Aunty Nini aja yang ikut," kata Sisi tiba-tiba. Jinny membulatkan matanya terkejut dengan ajakan Sisi yang pasti hanya sebuah basa basi itu.
"Lah iya juga, kamu aja yang ikut Jinny," kata Sarah pula.
"Aduh, gak usah deh. Inikan waktunya Sisi sama pak Yuda, aku takut ganggu." Jinny seketika langsung panik. Bagaimana mungkin ia akan ikut bergabung dengan mereka. Apalagi melihat tatapan Yuda yang sama sekali tidak memperlihatkan keinginannya untuk Jinny bergabung.
"Ayo Aunty. Papa pasti gak mau ikut main tranpolin dan lihatin aja. Sisi gak ada temannya," kata Sisi dengan raut wajah sedihnya. Tangannya yang tadi menggenggam salah satu tangan Yuda terlepas dan beralih menggenggam tangan Jinny membuat Jinny semakin panik.
"Udah gak papa kamu ikut aja," bujuk Sarah lagi. Jinny menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tidak tahu lagi harus bagaimana menolaknya. Semuanya memintanya ikut kecuali satu orang yang sedari tadi hanya diam.
"Kamu bisa nemanin Sisi kalau mau. Sisi bakal lebih senang kalau ada kamu," akhirnya Yuda bersuara juga.
"Ya udah deh kalau Bapak maksa."
"Saya gak maksa." Jinny merutuki mulutnya yang malah mengatakan hal konyol itu dengan percaya diri. Sarah mati-matian menahan tawanya melihat pemandangan lucu di hadapannya ini. Jinny dan Yuda terlihat sangat lucu dengan sifat yang bertolak belakang itu.
"Kita berangkat sekarang," kata Yuda kemudian berlalu duluan. Jinny pun bangkit dari duduknya untuk menyusul Yuda setelah berpamitan dengan Sarah. Jinny kerap salah langkah dalam memutuskan sesuatu, namun ia harap kali ini keputusannya tidak salah untuk ikut dengan Yuda dan Sisi. Bukankah ia terlihat terlalu sok akrab? entahlah, Jinny tidak mengerti mengapa ia harus melakukan ini. Harusnya ia menonton drama Korea kesukaannya saja di hari minggu ini.
***
"Pak gak mau ikutan?" tanya Jinny pada Yuda sebelum bergabung dengan Sisi yang sudah terlebih dahulu masuk ke arena trampolin.
"Kalian aja."
"Kenapa? udah bayar mahal-mahal kok gak main. Darah rendah ya Pak jadi gak bisa lompat-lompat terus," canda Jinny diiringi kekehannya membuat Yuda memutar bola matanya malas dan langsung berlalu begitu saja.
Jinny dan Sisi terlihat asik bermain trampolin melompat kesana kemari sementara Yuda hanya melompat-lompat kecil terkesan malas. Bukannya ia tidak suka, ini bukan kali pertama ia bermain trampolin bersama keponakannya itu. Hanya saja Yuda tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan salah satu karyawannya itu. Tentu saja Yuda memiliki rasa gengsi yang harus ia jaga sebagai atasan. Yuda memperhatian Jinny dengan seksama dari jarak yang tidak begitu dekat. Ia dan gadis itu belakangan ini sering tanpa sengaja bertemu.
"Aaawwwww..." Yuda seketika langsung berlari mendekat saat mendengar suara pekikan yang berasal dari Jinny.
"Kamu kenapa?" Tanya Yuda. Gadis itu kini sudah terduduk memegangi kakinya sedangkan Sisi berdiri khawatir di sampingnya.
"Kaki saya... aduhhh... kayaknya terkilir deh Pak."
"Makanya mainnya biasa aja. Ini malah lebih semangat dari pada Sisi."
"Papa kok malah omelin aunty Nini sih? Kan Aunty lagi sakit," protes Sisi. Jinny tersenyum penuh kemenangan dalam menahan rasa sakitnya. Bisa-bisanya pria ini malah sempat mengomelinya disaat Jinny merasa kakinya sakit seperti ini. Ya meskipun ucapannya memang ada benarnya. Karena terlalu semangat bermain, Jinny jadi tidak berhati-hati.
"Ya udah ayuk keluar dulu." Jinny mengangguk kecil kemudian berusaha berdiri dengan bantuan Sisi yang bertubuh jauh lebih kecil darinya itu. Yuda berdecak kecil kemudian merangkul Jinny untuk membantunya berdiri. Wangi citrus yang segar langsung menyeruak ke indra penciuman Jinny. Ia bisa merasakan tangan Yuda yang melingkar di pinggangnya serta tangannya dikalungkan Yuda pada bahu bidang pria itu. Lagi-lagi Jinny merasakan detak jantungnya yang berdetak tidak normal.
Dengan hati-hati Yuda membantu Jinny untuk berjalan. Dalam hati Jinny berkata, mengapa Yuda tidak menggendongnya saja? Bukankah itu akan jauh lebih mudah? Di drama yang sering ia tonton, sang pria akan menggendong sang wanita saat sedang seperti ini. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku untuk Yuda. Harusnya Jinny bersyukur karena Yuda masih mau membantunya.
Jinny duduk di sebuah kursi sementara Yuda langsung berlutut di hadapannya untuk memastikan kondisi kaki Jinny. Jinny langsung menjauhkan kakinya merasa tidak sopan pada atasannya itu namun Yuda malah menahan kakinya membuat Jinny hanya bisa pasrah.
"Yang mana yang sakit?"
"Pergelangan kaki saya Pak. Jangan dipegang, bapakkan bukan tukang pijit. Nanti saya malah salah urat." Yuda mendongakkan kepalanya mendengar celotehan gadis itu yang menahannya untuk memegang kaki Jinny.
"Iya Pa jangan dipegang, kaki Aunty lagi sakit," kata Sisi pula.
"Jadi maunya gimana?"
"Ya gak gimana-gimana. Biarin aja palingan nanti sembuh sendiri Pak," ucap Jinny. Yuda bangkit dari posisinya menjadi berdiri di depan Jinny.
"Maafin aunty ya Sisi, gara-gara kaki aunty sakit, mainnya jadi berhenti. Sisi lanjut aja, biar aunty nunggu disini," kata Jinny merasa tidak enak. Mereka belum main terlalu lama.
"Gak papa deh Aunty, Sisi disini aja," jawab anak itu. Ah dia sangat baik.
"Sisi mau ice cream gak?"
"Mau Pa." Wajah Sisi seketika menjadi kembali sumringah membuat Yuda tersenyum lembut.
"Ya udah kita pergi makan aja ya." Sisi mengangguk antusias.
"Yuk." Yuda mengulurkan tangannya pada Sisi yang langsung disambut oleh gadis itu.
"Aunty Nini gimana?"
"Aunty bisa jalan sendiri kok." Jinny berusaha berdiri meskipun rasanya begitu susah. Yuda berdecak kecil kemudian kembali merangkul Jinny membuat tubuh Jinny menegang lagi. Apakah ia bisa bertahan dengan posisi seperti ini hingga sampai ke tempat makan? Posisi ini sangat tidak nyaman namun membuat ketagihan. Bagi Jinny kakinya yang terkilir masih ada juga memberikan dampak positif.