Jinny keluar dari mobilnya kemudian kemudian memasuki sebuah coffe shop yang tidak jauh dari kantornya. Kopi disini sudah terkenal enak-enak dengan berbagai macam, bahkan orang-orang di kantor Jinny sering memasan kopi dari tempat ini saat bekerja. Jinny merasa ia butuh asupan kopi sebelum pulang ke kosnya untuk beristirahat.
Jika bagi orang-orang kopi ampuh untuk menghilangkan rasa kantuk, namun hal itu tidak berlaku untuk Jinny. Entah mengapa tubuhnya memberi respon berbeda. Bagi Jinny kopi malah ampuh untuk melepaskan rasa penatnya.
Gadis berparas cantik itu memutuskan untuk bersantai sejenak disana menikmati kopinya dengan suasana kota yang sudah tidak terlalu ramai itu. Jinny sengaja mengambil tempat duduk di sudut ruangan yang tepat berada di dinding kaca agar mudah melihat ke luar. Ah andai ada Agatha disini, pasti mereka bisa mengobrol sepanjang malam membicarakan apa saja yang seru hari ini.
Terkadang Jinny merindukan masa-masa dulu bekerja bersama sahabatnya itu. Namun Jinny sadar betul, kini ia tidak bisa terlalu sering bertemu Agatha. Sebenarnya Agatha tidak pernah menolak tiap kali Jinny mengajaknya untuk jalan-jalan, Andra juga tidak pernah mempersalahkan hal itu. Hanya Jinny saja yang merasa tidak enak. Agatha pasti sudah sibuk seharian mengurus anak dan suaminya. Harusnya hal itu jugalah yang ia lakukan saat ini, bukannya menghabiskan waktu selalu untuk bekerja. Ayah dan ibunya dan di Lombok juga sudah sering bertanya apakah Jinny sudah bertemu pria yang tepat atau belum. Pertanyaan yang sangat umum ditanyakan pada wanita seumuran Jinny.
"Jinny?" Jinny sontak memalingkan wajahnya dari luar jendela yang sedari tadi sibuk ia tatap pada seseorang yang tiba-tiba memanggilnya. Pupil Jinny membulat memperlihatkan keterkejutannya. Bagaimana tidak terkejut, pria di hadapannya ini adalah salah satu alasan mengapa ia memilih untuk pindah kerja ke Singapore waktu itu, Bimo.
"Gue kira gue salah orang," katanya lagi. Jinny hanya mampu tersenyum kikuk tidak tahu harus merespon seperti apa. Mengapa dari sekian banyak manusia di bumi ini, Jinny malah harus bertemu dengannya lagi? Sungguh tidak bisa dipercaya.
"Gue boleh duduk?"
"Boleh... boleh..." jawab Jinny berusaha biasa saja. Tentu saja ia harus biasa saja, ia harus membuktikan pada pria ini bahwa Jinny baik-baik saja. Ah sejujurnya Bimo tidak sejahat itu untuk dimusuhi. Mungkin memang tentang mereka dimasa lalu benar-benar kesalah pahaman. Jinny salah mengira bahwa Bimo memiliki perasaan yang sama sementara Bimo salah mengira bahwa Jinny hanya menganggapnya teman sama seperti yang Bimo rasakan.
"Beberapa hari yang lalu gue ketemu Andra, dia bilang lo balik ke Jakarta lagi," kata Bimo.
"Ember banget tu mulutnya laki Agatha," cicit Jinny pada dirinya sendiri.
"Iya nih, gak betah juga lama-lama disana. Udah terlalu cinta sama Indonesia," balas Jinny membuat Bimo mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Gue senang lo balik ke Jakarta lagi," ucap Bimo diiringi senyumnya. Ah senyum itu masih terlihat manis saja di mata Jinny.
"Yuki apa kabar?" Tanya Jinny. Sepertinya itu pertanyaan yang bagus untuk dilontarkan di tengah-tengah suasana canggung diantara mereka.
"Baik," jawabnya. Tentu saja baik, pasti mereka kini sudah hidup bahagia. Atau mungkin mereka sudah bertunangan? Atau sudah menikah? Jinny sempat-sempatnya melirik ke arah jari manis Bimo namun tidak menemukan cincin disana. Kenapa mereka masih betah saja berpacaran? Bukankah mereka sudah sempat hampir kehilangan satu sama lain? Jika Jinny jadi Yuki, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Ia pasti sudah diminta untuk dinikahi.
"Jinny, gue minta maaf ya," kata Bimo tiba-tiba.
"Maaf buat apa?" Tentu saja Jinny tahu untuk apa pria ini meminta maaf, ia hanya ingin basa basi saja. Lagi pula bukankah ia sudah minta maaf? Mengapa minta maaf lagi?
"Sejujurnya gue merasa menyesal karena harus kehilangan teman kayak lo. Gue belum pernah ketemu teman cewek yang klop banget kayak lo. Mungkin salahnya gue, sejak awal gue gak ngasih tau lo soal Yuki. Gara-gara itu, kita jadi canggung kayak gini," ucapnya merasa tidak enak. Bimo bersungguh-sungguh saat mengatakan hal itu.
Bimo merasa bersalah karena sudah terkesan memainkan perasaan Jinny. Jujur saja, jika Yuki saat itu tidak kembali hadir ke hidupnya, mungkin ia sudah memantapkan dirinya pada Jinny dan belajar untuk mencintainya. Tapi Bimo tidak bisa membohongi perasaaannya bahwa ia masih mencintai Yuki. Putusnya ia dengan Yuki saat itupun karena masalah keegoisan mereka. Bimo tidak ingin jika ia memaksakan dirinya, itu malah akan semakin menyakiti Jinny. Tapi karena semua hal itu, Bimo harus kehilangan teman sebaik Jinny dan kini mereka seperti orang asing.
"Udahlah, yang lalu-lalu gak usah dipikirin. Lagian gue gak papa kok. Udah lama jugakan, gue bahkan udah agak lupa," balas Jinny sembari terkekeh kecil. Jinny sadar tidak seharusnya ia membuat Bimo merasa bersalah seperti itu. Anggap saja mereka memang tidak jodoh, seperti itu sederhananya.
"Mas Yuda..." Jinny melambaik-lambaikkan tangannya saat netranya menangkap seseorang yang baru memasuki kafe dan tampak sedang mencari tempat duduknya. Sejujurnya Jinny tidak tahu mengapa mulutnya dengan ringin memanggil orang itu. Semuanya terjadi secara spontan. Orang yang dipanggil langsung menoleh pada Jinny begitu juga dengan Bimo yang melihat siapa gerangan orang yang dipanggil Jinny itu.
Jinny bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Yuda yang hanya mematung di tempatnya dengan ekspresi bingung namun tidak begitu terbaca karena wajahnya datar saja. Ia hanya memperhatikan gerak-gerik Jinny yang terlihat aneh.
"Akhirnya kamu datang juga, aku udah nungguin dari tadi tau." Jinny mengerucutkan bibirnya pura-pura cemberut. Kali ini dahi Yuda terlihat mengernyit heran. Ia tidak merasa memiliki janji dengan siapapun disini. Ia tadi hanya ingin mampir sebelum pulang.
"Oh ternyata lagi ada yang ditunggu." Bimo bangkit dari duduknya. Dalam hati Jinny berkomat-kamit berdoa agar Bimo segera pergi. Sejujurnya ia sengaja memanggil Yuda agar Bimo segera pergi. Ia tidak bisa berlama-lama dengan Bimo dengan suasana canggung seperti itu.
"Halo, perkenalkan gue Bimo, temannya Jinny," kata Bimo memperkenalkan diri mengulurkan tangannya. Meskipun tidak tahu kenapa Yuda harus tiba-tiba bekenalan dengan orang asing ini, namun Yuda tetap menyambutnya.
"Yuda," balas Yuda.
"Oh ya udah lanjut kalau gitu. Gue duluan ya," pamit Bimo tidak ingin mengganggu membuat Jinny bernafas lega.
"Bisa dilepas gak?" Jinny yang tidak sadar entah sejak kapan ia merangkul lengan Yuda itu langsung reflek melepaskannya dan mundur beberapa langkah menjauh dari Yuda. Setelah Bimo pergi ia baru menyadari sepenuhnya apa yang baru saja ia lakukan pada bosnya itu.
"Maaf Pak, maaf banget. Saya tau saya gak sopan, tapi saya benar-benar minta maaf. Saya reflek tadi, maaf ya Pak." Jinny menyatukan tangannya menunjukkan permohonan maafnya yang hanya dibalas Yuda dengan helaan nafas. Entah mengapa gadis ini selalu bertingkah aneh dihadapannya dan entah mengapa juga ia bisa bertemu dengannya seperti ini.
"Gimana sebagai ucapan maaf dan terima kasih saya, saya traktir Bapak minum kopi? Bapak mau pesan apa? Biar saya pesanin."
"Americano," jawab Yuda seadanya kemudian mengambil posisi duduk.
"Americano pahit banget loh Pak, gak mau coffe late aja?"
"Yang mau minum kamu atau saya?"
"Mas..." tanpa menjawab pertanyaan Yuda yang seperti sebuah sindiran itu membuat Jinny langsung saja memanggil pelayan untuk memesankan kopi untuk Yuda.
Jinny kembali duduk di tempatnya tadi yang mana kini berhadapan dengan Yuda. Ini sepertinya jarak terdekat mereka untuk duduk bersama sebab jika di meja rapat jaraknya agak cukup jauh. Suasana ini ternyata jauh lebih canggung dari pada saat Jinny bersama Bimo tadi. Ini sama seperti keluar dari lubang buaya namun masuk ke dalam kandang singa.
"Bapak suka minum kopi disini juga?" Tanya Jinny.
"Kenapa sekarang manggil bapak? Bukannya tadi manggil mas?" Wajah Jinny langsung memerah rasanya menyadari hal itu. Bagian yang itu juga termasuk reflek.
"Maaf Pak, tadi gak sengaja." Yuda tidak menjawab. Ia malah mengeluarkan ponselnya dari saku dan sibuk dengan ponselnya. Jinny berpikir apa sebaiknya ia berpamitan saja?
"Kalau dilihat-lihat, bapak sama mbak Sarah mirip juga ya," kata Jinny berusaha kembali menghangatkan suasana diantara mereka. Jinny tidak biasa dengan suasana seperti ini. Ia biasanya sangat aktif dengan lawan bicaranya.
"Selain mirip mbak Sarah dan ayah kamu, saya mirip siapa lagi?" Jinny menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Pria ini sangat pandai mematahkan ucapannya. Sepertinya Jinny lebih baik diam saja.
"Pak, saya permisi pulang duluan ya. Udah malam banget juga. Tapi tenang aja, kopinya udah saya bayar kok," kata Jinny. Ia memang sudah seharusnya pulang, rasanya juga sudah cukup mengantuk, tubuhnya butuh istirahat. Yuda memberi jeda sedikit sebelum menjawab.
"Pulang pakai apa?"
"Saya bawa mobil kok Pak," jawab Jinny. Yuda menganggukkan kepalanya kecil mengerti.
"Ambil jalan yang masih ramai aja, jam segini jalan-jalan kecil udah pada sepi."
"Iya Pak, saya duluan ya. Permisi Pak." Jinny tersenyum manis dan berpamitan sopan sebelum akhirnya berlalu pergi.
"Duhhhh jantung gue kok deg-degan ya. Pak Yuda lagi khawatirin gue atau gimana sih? Gue gak bisa nih diginiin. Kalau dikasih perhatian sedikit bawaannya mau minta dinikahin aja," celoteh Jinny pada dirinya sendiri sepanjang jalan menuju mobilnya. Efek ucapan Yuda yang sebenarnya biasa saja itu ternyata berdampak luar biasa pada dirinya.