Ketahuan

1728 Words
Jinny mematut dirinya di depan cermin dengan gelisah. Ia terus memperhatikan setiap detail penampilannya berjaga-jaga bahwa tidak ada yang aneh satupun. Kata Agatha tadi melalui panggilan video, penampilannya sudah sempurna, namun tetap saja Jinny merasa khawatir. Seperti yang dikatakan Yuda kemarin, malam ini ia akan pergi ke acara peluncuran salah satu produk kecantikan dari perusahaan milik Sarah. Ia sejujurnya merasa tidak begitu percaya diri untuk datang. Namun hari ini Sarah sudah dua kali menelfon untuk memastikan Jinny agar bisa datang. Rasanya sangat tidak enak untuk menolak. Jinny kembali memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Gaun dengan panjang dibawah lutut berwarna nude yang sangat pas di kulitnya yang kuning langsat itu terlihat cukup cocok ditubuhnya. Rambut lurusnya sengaja ia catok agak ikal tadi dan dibiarkan tergerai indah. Ini sejujurnya adalah pemandangan yang sangat langka. Jinny tidak pernah berdandan seniat ini sebelumnya. Namun tentu saja ia ingin tampil cantik diacara itu karena pasti didatangi oleh orang-orang kalangan atas. Bahkan dengar-dengar acara itu juga akan didatangi oleh para artis ibu kota. Ah rasanya tidak sabar meskipun cukup gugup. 'Saya di depan.' Pesan dari Yuda itu membuat Jinny cepat-cepat mengambil tas sandangnya. Ia sempat mengintip dari jendela, dan benar saja mobil Yuda sudah terparkir disana. Jantung Jinny rasanya kembali berdetak cepat semakin gugup. Fakta bahwa ia akan pergi bersama Yuda membuat Jinny merasa tidak tenang. Ia sejujurnya tidak mengerti mengapa Yuda harus repot-repot menjemputnya seperti ini. Apakah ini adalah permintaan Sarah? Kalau benar berarti Yuda adalah adik yang sangat penurut. "Selamat malam Pak," sapa Jinny agak kaku setelah masuk ke dalam mobil mewah milik Yuda. Indra penciuman Jinny langsung disambut oleh wangi khas Yuda. Ia sempat melirik Yuda sebentar untuk melihat bagaimana penampilan pria itu malam ini. Ia terlihat sempurna dengan setelan jas rapi berwarna biru tua. "Acaranya dimulai jam berapa Pak?" Tanya Jinny berusaha memecahkan keheningan diantara mereka. "Udah mulai." "Udah mulai? Kenapa kita baru datang?" "Acara awal gak begitu penting, lagi pula kita baru pulang ngantorkan." Jinny mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Jawaban Yuda kali ini cukup panjang dan memuaskan. Suasana kembali sepi dan canggung hingga Yuda memutar musik lebih tepatnya radio. Keduanya sama-sama fokus menatap jalanan. Sejujurnya Jinny sangat ingin memutar kepalanya agar bisa menatap Yuda, rasanya sayang jika pemandangan indah itu dilewatkan. Namun tidak mungkin ia melakukan itu. Bisa-bisa ia mendapat pelototan tajam dari Yuda. Akhirnya Jinny memilih hanya duduk diam menikmati musik dan obrolan orang-orang di radio. Padahal suasana seperti ini sangat cocok untuk mereka mengobrol, tapi tampaknya Yuda sama sekali tidak berminat untuk mengajaknya mengobrol. Pria itu hanya fokus menyetir *** Acara ini ternyata lebih meriah dari yang Jinny bayangkan. Banyak tamu-tamu penting yang datang membuat Jinny sebenarnya agak kurang nyaman. Namun entah mengapa karena Yuda selalu di sampingnya, ia merasa sedikit lebih baik. Andai saja Yuda memisahkan diri setelah sampai diacara ini, mungkin Jinny akan memutuskan untuk pulang saja karena tidak bisa berbaur. Saat ini mereka sedang mendengarkan kata-kata sambutan serta penjelasan produk baru oleh Sarah. Jinny menatap kagum wanita itu. Sebagai seorang yang harus melanjutkan hidupnya sendiri setelah ditinggal suaminya, Sarah adalah sosok yang sangat tangguh. Ia bisa menjadi seorang wanita karier yang berdiri penuh percaya diri seperti itu di depan banyak orang. "Mbak Sarah hebat banget ya," kata Jinny tanpa sadar. "Dia memang hebat," sahut Yuda tanpa sadar pula. Ia fokus melihat kakaknya itu. Selama ini Yuda selalu melihat perkembangan kakaknya yang semakin baik saja. Ia bisa menjalankan salah satu bisnis peninggalan orang tua mereka dengan sangat baik. "Bapak juga hebat," kata Jinny pula kini beralih menatap Yuda dengan tersenyum manis. Entahlah, Jinny merasa dia perlu memuji Yuda juga. Mendengar ucapan Jinny membuat Yuda menoleh pada gadis itu yang masih setia dengan senyumannya. Untuk beberapa saat Yuda tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Jinny yang bahkan sudah tidak menoleh padanya lagi dan kembali fokus pada Sarah. Tatapan Yuda pada Jinny baru terhenti saat mendengar suara riuh tepuk tangan pertanda Sarah sudah berhenti berbicara. *** Setelah acara usai, Yuda langsung mengantarkan Jinny pulang. Tidak jauh berbeda dengan suasana saat pergi tadi, saat pulang pun terasa sama sepinya di dalam mobil. Terlebih kini Jinny malah tertidur. Yuda sesekali melirik ke samping untuk menatap Jinny. Gadis itu terlihat sangat polos saat sedang tidur, sangat berbeda jika dia sedang bangun. Sebab terkadang ada saja tingkahnya yang aneh. Yuda seketika mengalihkan pandangannya dan kembali fokus menatap jalanan tanpa melirik-lirik ke arah Jinny saat menyadari gadis itu mulai mengegeliat mengerjap-ngerjapkan matanya. Tampaknya ia sudah akan bangun meskipun mereka belum sampai karena tempat acara yang cukup jauh dari tempat tinggal Jinny. "Ya ampun, maaf ya Pak saya malah ketiduran," kata Jinny merasa tidak enak. Ia benar-benar tidak sadar sampai ketiduran seperti itu. Jika begini Yuda terlihat seperti sopirnya saja padahal ia adalah bos besar. Bukankah sangat tidak sopan? Ini semua gara-gara AC mobil Yuda yang sangat dingin hingga membuat Jinny ketiduran. "Kalau masih ngantuk tidur aja," ucap Yuda. "Enggak kok Pak, udah gak ngantuk." Jinny mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha mengumpulkan kesadarannya. "Bapak hobinya apa?" Yuda mengernyitkan dahinya kecil mendengar pertanyaan tiba-tiba Jinny. Sementara Jinny menatap Yuda menunggu jawaban pria itu. Sejujurnya kini ia sedang berusaha untuk mencairkan suasana yang masih saja canggung diantara mereka. Bukankah Jinny berteman baik dengan Sarah? Itu artinya tidak ada salahnya jika ia berteman baik juga dengan Yuda. Jadi jika mereka berteman, tidak seharusnya suasananya secanggung ini apalagi inikan diluar jam kerja. "Gak ada." "Kok gak punya hobi sih. Setidaknya kita harus punya satu dong." Yuda diam tidak berniat untuk menjawab. Lagi pula ia sudah menjawab. Ia memang tidak memiliki hobi yang begitu menonjol. Dia tidak memiliki kegiatan yang sangat ingin ia lakukan karena ia terlalu sibuk untuk bekerja. Jadi artinya ia tidak memiliki hobi. "Contohnya nih kayak saya, hobi saya nonton drama Korea," kata Jinny antusias. Dalam hati ia berharap bahwa Yuda bukanlah termasuk orang yang menganggap wanita yang menyukai drama Korea dengan sesuatu yang aneh. "Kalau gitu hobi saya nonton ninja hatori." Seketika tawa Jinny pecah mendengar jawaban Yuda sementara Yuda hanya memasang wajah herannya. Jika menonton bisa dijadikan hobi, bukankah hobinya itu termasuk? "Dingin gitu kok suka ninja hatori, harusnya suka nonton film psikopat," cicit Jinny. "Kenapa ketawa?" "Gak papa Pak, lucu aja. Gemesin." Jinny menutup mulutnya tanpa sadar. Ia langsung melemparkan pandangannya keluar jendela. "Pak... Pak... boleh berhenti sebentar gak? Please berhenti ya." Yuda yang kagetpun langsung memijak pedal rem hingga mobilnya terhenti di pinggir jalan. Untung jalanan agak sunyi. "Kenapa sih?" "Bentar ya Pak." Jinny langsung keluar dari mobil membuat Yuda menatapnya heran. Entah apa yang akan dilakukan gadis itu hingga ia begitu tidak sabaran. "Bang, kemana aja lo? Berhari-hari gue pantengin, gak muncul-muncul." "Biasa Jin, asam urat gue kambuh, gak bisa dagang gue." "Gue kirain udah pensiun." "Makan masih sama tahu tempe masa udah pensiun." Jinny terkikik. "Bang, gue mau putunya dua puluh ribu. Udah ngiler banget gue ini kelamaan gak dapat asupan putu." "Oke-oke bentar." Yuda menggeleng saat menyadari bahwa Jinny sengaja meminta untuk berhenti karena ingin membeli kue putu gerobakan dipinggir jalan. Ia keluar dari mobilnya kemudian duduk di kap mobil dengan tangan yang ia lipat di depan dadaa memperhatikan Jinny dari kejauhan. "Wah sama siapa lo? Cakep banget?" Jinny mengikuti arah pandangan tukang putu langganannya itu yang tertuju pada Yuda membuat Jinny senyum-senyum sendiri. "Oh itu, calon," bisik Jinny kemudian terkekeh. "Calon? Calon majikan?" "Enak aja, gue cantik begini emangnya gak pantas dapat yang begituan?" "Pantas, kalau diiringi pakai pelet." Jinny mengerucutkan bibirnya sementara pedagang itu tertawa puas berhasil menggoda Jinny. Setelah mendapatkan putu yang ia inginkan, Jinny langsung menghampiri Yuda dengan wajah yang sumringah. Sejujurnya ia tadi hanya refleks meminta berhenti karena melihat gerobak putu yang tidak begitu jauh dari kosnya yang beberapa hari belakangan tutup itu kini sudah buka. Ia tidak bisa melewatkan kenikmatan putunya yang dimakan hangat-hangat. "Udah?" "Udah Pak," jawab Jinny dengan cengiran khasnya. Yuda memutar bola matanya malas kemudian berlalu memasuki mobilnya kembali diikuti Jinny. "Pak cobain deh, ini putu terenak setata surya," ucap Jinny membuka kotak putu yang ia beli hingga wanginya menyeruak ke setiap sudut mobil. "Di mars yang begitu juga ada," jawab Yuda asal membuat Jinny mengerucutkan bibirnya. Ia padahal sedang serius. "Coba dulu Pak. Kalau gak suka nanti uang kembali." Jinny terkekeh sendiri menyadari apa yang ia katakan. Yuda menatap kue putu yang terlihat menggugah selera apalagi aromanya yang serasa menggelitik indra penciumannya itu. Akhirnya ia pun mengambil satu dan mencobanya. "Enakkan?" "Lumayan," balas Yuda seadaanya. Jinny agak mencibir. Ia tahu Yuda hanya gengsi mengakui. Ia mengambil satu dan memakannya. Rasanya benar-benar membuat Jinny bahagia sangkin enaknya. "Ambil lagi aja Pak," kata Jinny lagi. Yuda menggeleng dan hanya memperhatikan Jinny yang makan dengan lahap. Ia tidak mengerti mengapa ia harus menunggu gadis itu memakan putunya, namun melihatnya makan dengan begitu lahap terlihat cukup menarik. "Bapak kenapa sih lihatan saya kayak gitu? Saya makannya belepotan ya?" Tanya Jinny merasa gugup saat sadar dirinya diperhatikan. "Kamu makan kaya Sisi, belum selesai ngunyah udah dimasukin lagi." Jinny terkekeh menyadari cara makannya yang memang seperti itu. Yuda pun akhirnya kembali menjalankan mobilnya karena sebenarnya kos Jinny sudah cukup dekat. *** Jinny tidak bisa menyembunyikan senyumannya mengingat kejadian tadi malam dimana ia merasa begitu dekat dengan Yuda. Ya meskipun suasananya masih canggung, namun ia merasa sudah cukup senang bisa bersama Yuda selama itu. Jinny sudah memikirkan hal ini sepanjang malam, tampaknya ia benar-benar sudah tertarik pada bosnya itu. "Lo ngapain sih senyum-senyum Jin? Kesambet Jin ya?" "Iya, Jin cinta," balas Jinny asal masih terus tersenyum. "Dih, udah gak waras." "Bodo amat." "Lo lagi kasmaran ya Jin?" Tanya Bunga penasaran. Jinny hanya diam tidak menjawab tapi tetap tersenyum. "Cerita dong Jin, lo suka sama siapa? Orangnya gue kenal gak? Anak kantor ini juga? Atau siapa?" "Ih kepo banget sih lo." "Heh Jinny, gue ini sekarang satu-satunya teman lo disini ya karena Agatha udah gak ada disini lagi. Jadi lo harus cerita sama gue." Jinny memutar bola matanya malas. "Beneran mau tau?" Bunga mengangguk cepat terlihat tidak sabaran. "Kayaknya gue jatuh cinta sama pak Yuda deh," kata Jinny diiringi kekehannya. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya ini. Jinny bukan tipe orang yang bisa diam-diam saja jika tertarik pada seseorang. Ia lebih suka mengekspresikannya. "Ha? Lo suka sama pak Yuda?" "Ishhh jangan berisik dong." Jinny menempelkan jari telunjukkan di depan bibirnya karena suara Bunga menggelegar kesetiap sudut ruangan. "Jadi kamu suka sama saya?" Tubuh Jinny menegang seketika mendengar suara yang belakangan sangat familiar di telinganya itu. Suaranya sepertinya terdengar di belakang Jinny. Jika benar orang itu yang ada di belakangnya, habislah Jinny.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD