Sarah berdecak kesal saat ponselnya tidak berhenti berdering. Kalau berhentipun, pasti tetap ada notifikasi pesan yang masuk dari orang yang sama. Seharian ini ia tidak berhenti mengganggu padahal Sarah sedang tidak ingin diganggu.
"Siapa Mbak? Kok gak diangkat?" Tanya Yuda keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah yang masih berusaha ia keringkan. Tadinya ia cukup terkejut saat keluar kamar mandi dan mendapati Sarah sedang ada di kamarnya yang berada di kediaman Sarah ini dan sedang duduk diatas ranjangnya.
"Biasalah, orang iseng."
"Sini biar aku yang angkat." Yuda mengulurkan tangannya. Sadar bahwa kakaknya tidak nyaman membuat Yuda merasa harus turun tangan.
"Gak usah deh, ntar dia juga capek sendiri." Yuda mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Kamu nginap disini?"
"Enggak, ntar pulang."
"Kamu nih ya, rumah sebesar itu cuma dijadiin tempat buat tidur doang." Sarah sudah sangat hafal kebiasaan adiknya itu. Sejujurnya Sarah mengerti mengapa Yuda selalu berada di rumahnya, adiknya itu pasti ingin selalu menjaganya dan juga Sisi. Tapi bagi Sarah ia tidak perlu melakukannya setiap hari. Ia juga harus melakukan hal lain untuk dirinya sendiri.
"Mbak ngapain kesini? Tumben banget." Sarah menepuk dahinya karena lupa tujuan awalnya menghampiri Yuda ke kamar hingga menunggunya selesai mandi seperti ini.
"Mbak mau tanya, keadaan Jinny gimana? Hari ini mbak sibuk banget di kantor jadi gak sempat jengukin dia."
"Gak tau sih, tapi kayaknya dia susah jalan. Hari ini dia gak masuk kerja."
"Kamu gak jengukin dia emangnya?"
"Emangnya yang sibuk Mbak doang," balas Yuda santai menuju depan cermin untuk menyisir rambutnya menggunakan jari-jarinya saja.
"Kamu gimana sih, harusnya jengukin dong. Kamu jangan dingin-dingin gitu ah sama Jinny. Kita berhutang budi loh sama dia." Yuda hanya diam tidak menjawab. Untuk yang satu ini ia tidak bisa mengelak.
Memang benar jika dikatakan mereka berhutang budi pada Jinny. Bisa dikatakan karena Jinny lah mereka kini masih bisa berkumpul dengan Sisi. Jika tidak, Sarah benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
Saat itu dirinya dan Sisi pergi ke Singapore bersama sekretarisnya juga untuk urusan pekerjaan launching salah satu produk kecantikannya disana. Ya meskipun untuk urusan pekerjaan, Sarah merasa masih mempuanyai waktu untuk sekaligus mengajak Sisi berjalan-jalan. Ketika sedang berjalan-jalan disalah satu kawasan ramai wisatawan di Singapore, tiba-tiba Sarah kehilangan Sisi. Putrinya itu hilang entah kemana yang membuatnya sangat panik.
Sarah saat itu sudah mencari Sisi selama berjam-jam hingga sampai dibantu oleh petugas keamanan setempat, namun putrinya itu tidak kunjung ditemukan. Disanalah secara tidak sengaja Sisi bertemu dengan Jinny yang saat itu sedang berjalan-jalan sendiri menikmati akhir pekannya untuk mencari jajanan pinggir jalan. Ia melihat seorang anak berbahasa Indonesia sedang menangis mencari ibunya. Jinny berusaha untuk menenangkannya dan membantunya untuk mencari ibunya. Tapi yang membuat sulit adalah tidak ada nomor yang bisa dihubungi saat itu.
Jinny yang saat itu merasa iba tidak mau menyerah untuk membantu Sisi menemukan ibunya. Hingga akhirnya ia meminta bantuan oleh petugas keamanan setempat pula dan akhirnya bisa bertemu kembali dengan Sarah. Sarah benar-benar merasa berhutang budi akan hal itu dan bersyukur putrinya menemukan orang yang baik.
"Menurut kamu Jinny itu gimana?" Dahi Yuda mengernyit mendengar pertanyaan Sarah yang tiba-tiba.
"Gimana apanya?"
"Ya orangnya gimana?"
"Ya gitu."
"Gitu gimana?"
"Mbak laper nih, kepengen capcay ada gak?"
"Tuhkan malah mengalihkan pembicaraan. Mau sampai kapan sih Yuda? Jinny orangnya cantik, baik, lucu pula. Mbak gak lihat kurangnya."
"Sekalian sama telor ceplok ya Mbak."
"Kamu awas ya galak-galak sama Jinny. Harus baik sama dia."
"Minumnya air lemon aja."
"Ih kamu mah..." Sarah melemparkan handuk yang tadi diletakkan oleh Yuda di atas ranjang pada adiknya itu yang merespon ucapannya dengan tidak menyambung membuat Yuda terkekeh.
"Ya udah, buruan keluar makan ya." Sarah akhirnya pasrah dan keluar dari kamar Yuda untuk menyiapkan makanan untuk adiknya itu.
Yuda duduk diatas ranjangnya. Seketika ia langsung teringat Jinny. Apakah keadaan kakinya sudah semakin membaik? Atau malah semakin memburuk? Saat itu ia tampak berusaha keras terlihat baik-baik saja padahal Yuda yakin pasti kakinya terasa sakit. Tiba-tiba suara dering ponsel memecahkan lamunan Yuda. Ia melihat sejenak siapa yang menghubunginya kemudian mengangkatnya.
"Halo..."
"...."
"Oh gitu ya? Ya udahlah, kayaknya dia memang gak ada disana. Lo balik aja ke Jakarta. Makasih ya, ntar kabari gue kalau lo udah balik." Telfonpun terputus. Yuda menghela nafasnya panjang kemudian membaringkan tubuhnya diranjang untuk memejamkan matanya sejenak. Pikirannya melayang memikirkan sesuatu yang tidak hanya mengusiknya sehari dua hari, seminggu bahkan sebulan, melainkan bertahun-tahun belakangan ini.
***
Jinny membereskan meja kerjanya sebelum pulang. Ia hanya mengambil libur tiga hari dan sekarang kakinya sudah baik-baik saja. Jinny juga tidak mungkin mengambil libur lebih lama lagi. Pekerjaannya sudah benar-benar menumpuk.
"Jin ntar jangan lupa tutup pintu."
"Iya bawel, lagiankan ntar ada yang ngecek lagi."
"Ya udah gue duluan ya."
"Okey." Jinny melambaikkan tangannya pada Bunga yang sudah keluar ruangan terlebih dahulu. Kini ruangan ini benar-benar sepi dan hanya tinggal Jinny saja. Jinny berdecak saat menyadari dirinya belum mematikan komputer. Ia benar-benar cerobah.
Setelah dirasa semuanya sudah selesai, Jinny pun langsung bergegas keluar dari ruangan untuk segera pulang. Rasanya tubuhnya sangat penat seharian ini bekerja. Sepanjang jalan menuju parkiran, Jinny berpikir apakah ia harus makan dahulu sebelum pulang, beli makanan dan dimakan di kos atau tidak makan saja. Seperti inilah selalu kebingungannya tiap kali pulang bekerja. Maklum saja, ia tinggal sendiri di kosnya.
"Kakinya udah sembuh?"
"Eh ayam... ayam..." Jinny sampai terlonjak kaget mendengar suara dari belakangnya. Jantungnya berdebar sangat cepat. Suasana kantor yang cukup sepi membuat ia cukup terkejut ada orang lain selain dirinya. Ia semakin terkejut lagi saat menoleh ke belakang dan mendapati Yuda ada di belakangnya dengan wajah tanpa dosa hampir saja membuat Jinny jantungan.
"Bapak kenapa ngagetin saya sih? Untung saya gak punya riwayat penyakit jantung."
"Salah kamu yang jalan sambil melamun." Jinny mengerucutkan bibirnya karena malah disalahkan.
"Gimana?"
"Gimana apanya Pak?" Bukan menjawab, Yuda hanya melirik ke arah kakinya membuat Jinny paham. Memangnya apa salahnya ia bertanya ulang dengan kalimat yang lengkap.
"Udah sembuh Pak. Bapak bisa lihatkan saya udah bisa jalan. Lari juga bisa, lompat-lompat juga bisa nihh... awwww..." Jinny lupa saat itu menggunakan heels yang cukup tingga dan malah melompat-lompat hingga membuat hilang keseimbangannya. Untung saja tangan Yuda dengan cepat merengkuh pinggangnya untuk menahannya.
Jinny terpaku dalam dekapan Yuda. Dari jarak seperti ini ia semakin bisa melihat ketampanan Yuda dengan jelas. Jantung Jinny berdebar sangat cepat untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari 5 menit. Adegan ini persis seperti adegan dalam drama Korea yang sering Jinny tonton. Jinny merasa seperti seorang aktris saat ini.
"Kamu mau bikin kaki kamu terkilir dua kali di depan saya?" Yuda langsung menjauhkan tubuhnya sementara Jinny memperbaiki posisinya.
"Maaf Pak, gak sengaja," balas Jinny sembari menyengir. Yuda hanya mampu menatapnya malas. Ada saja tingkah gadis itu di hadapannya.
"Mbak Sarah nitip pesan buat ngundang kamu ke acara peresmian klinik kecantikan barunya."
"Oh iya? Kenapa mbak Sarah gak ngomong langsung?" Yuda sebenarnya tahu jawabannya. Kakaknya itu pasti hanya berusaha mendekatkan Yuda dengan Jinny hingga meminta Yuda untuk mengundangnya langsung. Yuda benar-benar tidak bisa menolak.
"Dia sibuk. Besok malam saya jemput."
"Eh gak usah Pak, saya bisa pergi sendiri."
"Jam 8." Setelah mengucapkan kata itu Yuda langsung pergi begitu saja tanpa menunggu balasan Jinny selanjutnya membuat Jinny mendengus kesal.
Sesaat setelah kepergian Yuda, Jinny tidak bisa menyembunyikan senyumnya mengingat kejadian tadi. Hangatnya dekapan Yuda masih bisa ia rasakan dengan jelas. Bahkan bayangan wajah Yuda tepat di hadapannya masih bisa ia lihat dengan jelas.
"Fix sih kayaknya gue jatuh cinta," kata Jinny pada dirinya sendiri. Tapi kenapa secepat ini ia bisa menyimpulkan bahwa dirinya jatuh cinta? entahlah. Merasa sudah cukup menikmati rasa menggelitik mengingat kejadian baru saja membuat Jinny langsung bergegas untuk pulang. Pikirannya yang tadi fokus ingin makan apa sepulangnya dari kerja tiba-tiba berganti menjadi apa yang akan ia pakai di acara Sarah besok malam. Acaranya begitu mendadak hingga Jinny tidak tahu harus menggunakan apa. Belum lagi selama ini Jinny jarang pergi ke acara-acara penting seperti itu. Tampaknya ia harus segera menghubungi Agatha. Ia yakin Agatha bisa membantunya kali ini. Ia harus tampil cantik dalam acara itu. Apalagi Yuda akan menjemputnya. Ah mengingat Yuda akan menjemputnya membuat Jinny kembali tersenyum.