Setelah memberiku sekeranjang kue kering, Masayu kembali kerumahnya. Walaupun kamu sudah melakukan hubungan seperti ini selama hampir 2 tahun namun kami belum pernah sekalipun saling berciuman bahkan bercinta. Masayu hanya mengaggap jika perbuatan kami semata dilakukan untuk pekerjaan tidak lebih.
Sudah berulang kali aku mengatakan perasaanku padanya namun terus di tolak dengan alas yang sama, ‘Aku sudah menikah’. Itu cukup menyakitiku, tapi aku tidak akan menyerah. Pasti ada satu cara agar aku bisa bersamanya tanpa menghawatirkan status kami.
***
Kembali kedalam rumah lalu segera menyiapkan makanan, ayah adalah seorang pekerja kantoran yang sibuk karena dia memiliki jabatan tinggi di perusahaannya bekerja. Tapi hari ini sepertinya di sedang tidak terlalu terburu-buru.
“Rif, papah ingin mengatakan sesuatu padamu.” sambil menyantap masakan yang aku buat, ayahku memulai pembicaraannya.
“Hemm!.. ada apa pah?.” hanya itu yang aku balas, namun ayah terlihat bermasalah ketika ingin membicarakan apa yang ingin dia katakan. Hingga akhirnya dia membulatkan tekad kemudian menatapku dengan serius.
“Bapak berencana untuk menikah lagi.”
Keheningan kemudian memenuhi ruang makan. Kami berdua saling menatap dalam diam hingga akhirnya aku memecah keheningan itu.
“Oh, cuma itu?, Kirain apaan.”
“Heh, kamu nggak masalah gitu?.”
“Masalah?. Kenapa aku bermasalah kalo bapak nikah lagi?. Ayah kan sudah tidak mengunjungi rumah ini setelah kalian berpisah, sementara saat ini aku sudah kelas 2, beberapa tahun lagi pindah ke kosan saat kuliah. Otomatis kalo aku nggak ada maka nggak ada orang yang bakalan ngurus ayah kan?, Jadi aku pikir wajar ajah kalo ayah mutusin buat Kawin lagi.”
Mendengar penjelasan ku yang cukup mendetail membuat ayahku tertawa terbahak-bahak. Awalnya dia khawatir jika aku menolak rencananya untuk kawin lagi, tapi mendengar jika aku tidak masalah dengan itu membuat dua merasa lega.
“Haaahh… aku merasa jika beban ku telah terangkat, terimakasih nak, kau benar-benar anak yang berbakti.” ucapnya dengan senyum lebar di wajahnya.
“Ayah terlalu memuji. Tapi ngomong-ngomong seperti apa calon ibu baru ku nanti?.”
“Hahaha… sulit untuk menggambarkannya, tapi yang jelas dia sangat luar biasa cantik, perhatian dan baik hati. Jika malaikat itu ada maka Asami adalah salah satunya.”
Pria berusia 36 tahun itu menceritakan kekasihnya seperti salesman yang sedang mempresentasekan produk yang dia jual.
Kemudian setelah percakapan kecil y6 berfokus pada pernikahan ayahku, dia mengatakan jika Mungkin besok malam sjam membawa calon istri bertemu dengan ku di rumah ini. Karena aku tidak memiliki janji di malam itu maka tidak ada masalah untukku.
Tidak terasa waktu cepat berlalu, kami pun segera bergegas meninggalkan rumah. Ayahku pergi mengendarai mobilnya sementara aku berjalan kaki karena letak sekolah memang tidak terlalu jauh. Namun baru juga aku keluar dari rumah, didepan pintu ada seorang gadis yang telah menungguku.
Mafuyu 17 Anak Masayu tetangga ku sekaligus temanku sejak kecil, tubuhnya yang tinggi dan ukuran dadanya yang melimpah membuat gadis ini sering di anggap berusia 18 bahkan sampai 20 tahun. Di tambah wajahnya yang cantik membuat Mafuyu sebagai kecantikan sekolah yang di perebutkan.
Melihat Mafuyu yang menunggu di depan rumah membuat ayah mengejek kami berdua sebagai pasangan, tapi Mafuyu tidak menanggapi dan hanya memberikan salam hingga ayah pergi dengan mobilnya.
“Ayahmu terlihat lebih bersemangat hari ini.” ucap Mafuyu.
“Yah, dia mengatakan jika akan memberiku ibu baru.” aku kemudian menutup pintu rumah dan pintu bagasi.
“Heeeehe…. Kau pasti senang bisa mendapatkan keledai baru yang bisa kau ‘naiki’.”
“Keledai, huh. Aku tidak pernah mengaggap ibuku sebagai keledai. Dia wanita luar biasa yang melahirkan aku dan mengajariku semua tentang dunia ini khususnya tentang wanita. Sekaligus wanita pertama yang mengambil keperjakaan ku. Aku tidak akan terima jika kau menyebutnya sebagai keledai.”
“Hahaha… kau selalu sensitif jika mengenai ibu kandungmu, oke aku yang salah, aku meminta maaf. Jadi mari kita segera berangkat.”
Kemudian kami pun mulai berjalan menuju sekolah, itu masih sangat pagi Mungin perlu 45 menit hingga bel pertama sekolah di bunyikan, sementara untuk sampai ke sekolah dari rumah kami mungkin hanya membutuhkan waktu 15 menit.
“Kita memiliki banyak waktu bukan?, Bagaimana jika kita mampir ketempat rahasia,?.”
Sebelum sampai di sekolah, Mafuyu mengajakku mengunjungi tempat rahasia kami. Itu sebenarnya hanyalah kolong jembatan yang selalu kami lewati ketika ingin pergi ke sekolah. Aku hanya terdiam melihat tawaran dari gadis yang terlihat kalem itu.
“Ayolah, kau pasti sudah menahannya sangat lama sejak ibuku meminta pasokan resep rahasianya bukan?. Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih.” perlahan tangan Mafuyu menyentuh tonjolan di celanaku yang sejak tadi memang seperti itu.
Menang benar yang dikatakan teman masa kecil ku itu. Sejak Masayu memintaku memberinya pasokan cairan, batang milikku yang tegang belum juga beristirahat.
“Jangan terlalu banyak berpikir, kemarilah.” Mafuyu segera menarik tanganku menuju kolong jembatan. Rimbunnya ilalang di sekitar jembatan membuat tempat ini begitu tersembunyi, sementara itu didepan kami hanya ada sungai kecil yang mulai mengecil dan beberapa pohon bagai hutan. Ini adalah tempat sempurna untuk bersembunyi.
Sejak kecil hanya kami yang tahu tempat ini.
***
“emmh ahhmmmh.”
Erangan kami saling bersahutan ketika kami berdua saling melumat bibir masing-masing. Sementara itu tangan ku mulai melepas kancing baju Mafuyu, sedangkan Gadis itu langsung membuka celanaku dan menarik adikku keluar dengan kasar. Perlahan dia melepas ciuman kami untuk melihat bagian bawahku yang telah tegang.
“Hooohh… seperti yang ibu kataksn, milikmu menjadi lebih besar dari Minggu lalu, apa kau menggunakan pembesar sekertaris steroid atau semacam.” dia terlihat terpukau dengan ukuran milikku. Sambil terus mengusap kepala adikku, Mafuyu kembali melumat bibirku hingga membuatku tidak dapat mengatakan apapun.
“Yah terserah lah, aku tidak peduli bagaimana caramu membuatnya sebesar itu. Yang perlu kau tahu adalah aku sudah tidak tahan untuk merasakannya.”
Mafuyu kemudian duduk di atas meja yang kami taruh di sana sebagai perabotan. Dia melebarkan kakinya ke arahku dan memperlihatkan jika saat ini dia tidak mengenakan dalaman, sehingga aku dapat dengan jelas melihat rambut di daerah bawahannya yang basah karena cairannya sendiri.
“Cepatlah, sejak ibuku memberitahuku tentang milikmu yang membesar, sejak saat itu aku terus menahannya.” dua terus memainkan bagian bawahnya, namun secepat apapun dia menggunakan tangan tetap tidak membuatnya puas. Sebelumnya Mafuyu mengatakan jika tidak dapat mencapai kepuasan dengan menggunakan tangannya sendiri dan barang imitasi.
Melihat Mafuyu yang semakin kerepotan menahan nafsunya, aku dengan segera mengambil kotak p3k yang sudah kami letakkan di sana. Di dalam kotak yang cukup besar itu terdapat berbagai macam item yang pengobatan, tapi yang aku ambil adalah kotak kecil dengan balon didalamnya.
“Ini gawat, tidak ada yang ukurannya pas.” aku mencoba beberapa balon dengan ukuran yang berbeda, namun tidak ada satupun yang pas dengan milikku. Hingga Mafuyu yang sudah tidak tahan pun memintaku agar melakukannya tanpa pengaman.
“Kau yakin?, Kau tahu bukan aku bukanlah tipe yang bisa menahan di fase akhir permainan?. Dan ini bukanlah hari aman untuk mu.”
“Ah, sial aku tidak peduli!, Jika kau membuatku hamil maha itu salahmu sendiri karena menjadikan p*****r sepertiku istrimu.”
Tidak tahan menahan nafsunya lebih lama, Mafuyu menyuruhku segera melakukannya. Karena aku pun sudah tidak bisa bertahan lebih lama, akhirnya tanpa peduli beresiko yang akan kami hadapi, kami mulai melakukan hubungan terlarang ini.
Perlahan aku mengarahkan milikku pada Mafuyu, desahan kecil terdengar ketik kulit kami bersentuhan. Kemudian gadis itu merintih kecil ketika perlahan aku memasukinya.
“Apa kau baik-baik saja?, Apa perlu aku pelanku sedikit.”
“Tidak!, Hentakkan dengan keras!.”
“Kau yakin?.”
“Yeah, lakukan sekarang!.”
Mengikuti permintaan Mafuyu, aku menghentakkan pinggul dengan keras membuat wajah gadis itu terdistorsi.
“Iyaaaaaa”
Teriakan keras keluar dari mulut gadis itu, beruntung jalan raya di atas kami begitu ramai sehingga temukan sekeras apapun dari tempat kami tidak akan ada yang mendengar. Sementara itu mata Mafuyu hanya terlihat putih dan lidahnya pun terjulur ke luar.
Dia kehilangan kesadaran setelah milikku menancap kuat kedalam tubuhnya. Hingga beberapa saat kemudian air mata mulai mengalir di pipinya membuatku mulai panik.
“Hey, Mafuyu kau tidak apa-apa?.”
Untuk beberapa saat dia tidak memberikan jawaban, hingga secara perlahan bibirnya mulai menunjukkan senyuman. Aku pun mulai menyadari jika sebentar lagi Mafuyu yang lain akan mengambil alih tubuh gadis itu.
“Haha itu sangat luar biasa Rif. Rasa sakit ketika milikmu yang besar merobek tubuhku dan perihnya ketika kau menumbuk rahimku, itu mengingatkanku saat pertama kali kau mengambil keperawanan ku.” dengan wajah yang di penuhi kebahagiaan dia terus menatapku.
Bagian bawahnya mencengkeram milikku dengan begitu kuat, sementara kedua kakinya melingkari pinggulku.
“Gerakan pinggul mu, Rif. genjot milikku dengan keras, jangan pedulikan hal sepele, pleas buat aku puas.” dengan wajah memelas, dia memintaku untuk memuaskan nafsunya. Saat ini Mafuyu telah seutuhnya menjadi orang lain, mungkin selama ini hanya aku yang melihatnya.
Berusaha memuaskan teman masa kecilku, aku mulai menghentakkan pinggulku dengan keras membuat mulut Mafuyu tidak henti-hentinya merintih.
Di bawah jembatan yang tengah ramai, rintihan Mafuyu terdengar lebih keras dari biasanya, namun tidak akan ada orang lain yang dapat mendengar syara erotis itu selain diriku.