Pagi harinya, di danau yang terletak tidak jauh dari goa yang semalam menjadi tempat peristirahatan Rifat, Carol terlihat sedang membersihkan diri. Dia teringat dengan jelas apa yang dia lakukan semalam bersama pemuda yang baru dia temui. Melakukan hal yang tidak pernah dia pikir ajan lakukan dengan suka hati, dia telah mengotori tubuhnya dengan membiarkan orang lain menyentuhnya.
“Tapi…”
Carol terdiam ditengah kolam kecil dengan air terjun itu, dinginnya air sungai di pagi hari tidak membuatnya menggigil kedinginan karena terus memikirkan kejadian tadi malam. Nafas wanita itu mulai menjadi berat ketika mengingat bagaimana pemuda itu menyentuhnya, Perlahan kedua tangannya meremas dadanya sendiri hingga salah satunya turun ke bawah karena bagian intimnya mulai terasa gatal.
“Haaaahhh…”
Sambil memejamkan mata Carol mulai mengingat kembali kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan semasa hidupnya. Dia berpikir jika suaminya sendiri yang telah hidup dengan dirinya selama belasan tahun tidak pernah membuatnya begitu b*******h. Tapi pemuda itu hanya memerlukan beberapa jam saja untuk membuatnya mendapatkan malam yang tidak dapat terlupakan. Carol masih mengingat jelas bagaimana dia memperlakukannya, setiap sentuhan yang membuatnya bagaikan tersetrum, lalu kecupan yang begitu memabukan, kemudian hentakkan yang membuat wanita itu tidak dapat berpikir jernih. Tidak ada sedikitpun penolakan darinya, Carol benar-benar menikmati perselingkuhan pertamanya.
“Ini buruk, aku tidak dapat mengendalikan diriku.”
Dia semakin mempercepat kedua tangannya ketika hampir mencapai klimaks. Tapi tiba-tiba dari belakang sesuatu yang keras menyentuh pantatnya. Seketika Carol berteriak kecil karena terkejut, dia takut jika ada ikan ganas yang menempati danau ini. Tapi ketika dia melihat kebelakang ternyata Rifat telah berada di sana.
“Pagi nyonya Carol, anda terlihat sedang membutuhkan bantuan.”
Dengan senyum ramahnya Rifat mencoba mendekatinya namun Carol yang mencoba menutupi tubuhnya berusaha menghindar. Keduanya berada di pinggir danau sehingga air hanya menenggelamkan separuh badan hingga d**a. Ketika berusaha untuk menghindar Carol justru terpeleset oleh batu di dasar danau, wanita itu seketika tenggelam Namin dengan cepat Rifat menarik tangannya untuk mengangkatnya ke atas, tapi bukan hanya itu Rifat menarik tangan Carol dengan kuat hingga keduanya saling berpelukan.
“Hi hiyaaa.…”
Wajah Carol seketika menjadi begitu merah saat merasakan milik Rifat yang terhimpit perutnya, dia seketika berusaha melepaskan diri namun tangan kuat pemuda itu mencengkeram bokongnya dengan keras hingga Carol menjerit kecil, dia tidak akan mudah untuk lepas dari pemuda didepannya saat nafsunya kembali naik.
“Ku.. kumohon hentikan, aku tidak mau melakukannya lagi.” wajah wanita itu begitu merah dan mata yang hampir menangis. Tapi pemuda itu tidak menghiraukan keadaan Carol. Dengan keahliannya menaklukkan wanita, Rifat kembali melakukan rangsangan. Carol kembali tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri seperti malam sebelumnya. Nafsu yang telah melemahkan nya membuat wanita itu kembali takluk oleh kenikmatan.
Setelah melakukan beberapa ronde keduanya memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
***
Carol POV
Aku tidak menyangka jika akan melakukan hal sehina ini, Sura teriakan ku tidak tertahankan saat pemuda itu terus menjamah tubuhku.
“Ini sungguh nikmat.” gumamku saat menekan keras rambutnya dan membenamkan wajahnya di dadaku, sementara itu kedua kakiku melingkari pinggangnya dengan erat hingga milik pemuda itu masuk begitu dalam di dalam diriku.
“Ugh… ini dia sayang!.”
Dengan hentakan yang begitu kuat dia membuat otakku berhenti bekerja, aku dapat merasakan setiap tetes cairan miliknya yang mulai memenuhi rahimku. Cairan panas yang seharusnya tidak aku terima darinya, namun kenikmatan ini mustahil aku tolak.
“Akhhh… yes… yes...” erangku tidak dapat ku tahan hingga membuat keadaan pagi itu agak sedikit berisik. Setelah puas membanjiri kewanitaan ku, pemuda yang baru aku temui tadi malam mengecup bibirku dengan lembut sebagai penutup.
Kemudian setelah semua berakhir aku kembali membersihkan diri di sungai. Bagian bawah yang telah berkali-kali dikotori oleh pemuda itu ku coba untuk membersihkannya, namun setelah beberapa kali membersihkan aku tidak juga dapat menghilangkan perasaan kotor itu dari pikiranku.
Setelah selesai mandi kami berdua pun kembali ke kota bersama. Selama perjalanan Rifat membantuku mengumpulkan obat-obatan, seperti yang diharapkan oleh para petualang mereka ahli mencari apapun didalam hutan. Hingga tidak lama kemudian keranjang yang kosong setelah serangan monster kemarin kini kembali penuh.
“Terimakasih tuan Rifat, herbal yang aku dapat hari ini bahkan lebih banyak dari kemarin.”
“Tidak, itu tidak perlu karena memang dari awal aku lah yang menyebabkan semua ini berantakan.”
Setelah semua keranjang penuh Ki pun melanjutkan perjalanan menuju kota. Beberapa kali Rifat meminta pelayanan dariku, tanpa sungkan sedikitpun aku membuka s**********n untuknya karena aku sendiri memang mengharapkannya. Dengan posisi saling berhadapan Rifat menopang tubuhku yang bersandar di pohon besar, sementara aku melingkarkan kedua kakiku di pinggulnya yang terus bergoyang.
“Aggh.. agghhh.. fu...c...k” desahan ku tidak dapat ku tahan saat Rifat begitu lihai mengendalikan permainan.
“Kau menikmati bercinta denganku nyonya Carol?.”
“Yes… YES.. baby. Aku bisa gila oleh kenikmatan ini. Dorong-dorong lebih sayang.”
Mengabulkan permintaanku, Rifat kemudian mulai mempercepat pinggulnya dan semakin keras dalam setiap hentakan yang membuat desahan ku semakin keras.
“Apa kau tidak merasa bersalah sedikitpun pada suami mu karena melakukan ini di belakangnya?” pemuda ini tiba-tiba menanyakan sesuatu yang sensitif saat masih menancapkan barangnya pada istri orang lain.
“Tidak.” balasku singkat.
“Benarkah, kenapa. Apa dia pria b******k atau semacamnya?” dia mencoba menarik keluar miliknya sementara aku dapat merasakan benda itu berdenyut. Menyadari sesuatu aku tersenyum kecil.
“Tidak juga, dua pria yang bertanggung jawab dan ayah yang baik untuk kedua anak kami” kakiku yang masih mengunci pinggulnya dengan erat menarik maju hingga batang Rifat menerobos dengan kuat membuat kami bersama-sama mencapai klimaks.
“Ooohh.. yes ITS fu*king good.”
Kami kemudian berciuman dengan begitu ganas saat sensasi klimaks masih terasa begitu kuat. Hingga akhirnya semua cairan itu telah tumpah menetes deras dibawah kaki kami. Kami berdua terdiam untuk sesat dengan posisi yang masih berpelukan, batang pemuda itu masih menancap kuat padaku, terasa masih berdenyut seakan ingin mengeluarkan cairan yang masih tersisa.
“Jadi kenapa kau merasa tidak bersalah sedikitpun saat melakukan ini bersamaku?.”
“Itu jelas karena terasa begitu nikmat saat melakukan bersama mu, hingga aku berpikir ini bukanlah sebuah kecurangan tetapi memang sangat alami untuk bersenang-senang bersama dengan mu.”
Setelah mendengar jawaban dariku, Rifat perlahan menurunkan pangkuannya. Aku merasakan rasa perih pada boko*g ku yang dia remas begitu kuat. Kemudian saat dia menarik miliknya membuat cairan bening keluar dari dalam kewanitaan ku.
“Lihat apa yang telah kau lakukan padaku.” tanpa sungkan aku melebarkan kaki dan membuka serabi dengan kedua tangan membuat banjir cairan itu keluar.
“Bagaimana menurutmu?.”
“Sangat indah.”
Seperti seorang jalal4ng. Aku menikmati reaksi yang dibuat oleh pemuda itu yang melihat tubuhku. Setelah itu kami segera merapikan pakaian kami lalu melanjut perjalanan menuju kota.