“Aku tidak pernah merasakan anggur seenak ini.” dengan wajah yang memerah Carol meminum habis minuman di gelasnya.
“Aku bersyukur jika anda menikmatinya, minumlah lebih banyak.” aku pun kembali mengisi gelas Carol.
Sementara Carol mulai mabuk dengan minuman yang ku berikan, aku mulai tidak tahan untuk mencoba menyentuh wanita itu. Sebagai pembuka aku terus menggosokkan kedua kaki kami satu sama lain secara perlahan agar dua terbiasa, lalu giliran tanganku yang diletakkan di paha wanita itu. Perlahan aku membelai kakinya. Carol tidak menunjukkan reaksi apapun saat aku menikmati kelembutan pahanya.
“Emmmhh…” Carol agak sedikit mendesah saat tanganku semakin dalam masuk kedalam rok yang dia gunakan, namun wanita itu masih tetap tidak melakukan apapun untuk menyingkirkan tanganku.
“Anda benar-benar cantik nona Carol,” ucapku sambil melingkarkan tangan yang lain hingga mencapai salah satu d**a Carol. Saat ini posisi kami seperti dya orang yang saling berpelukan di depan api unggun.
“Aaakkhh… tuan Rifat aku mohon hentikan!.” Carol yang kembali sad dari mabuknya berusaha menyingkirkan kedua tanganku, namun kuatnya rangsangan yang aku berikan di d**a dan vitalnya membuat usaha itu sia-sia.
“Wanita cantik seperti anda seharusnya mendapatkan yang anda mau,”
“Aghh…”
Desahannya terdengar semakin keras saat tanganku yang merangsang dadanya mencoba meremas keras.
“A… aku…” suara Carol terbata-bata, pikirannya menjadi kacau karena kenikmatan yang aku berikan dan kontradiksi yang timbul di kepalanya karena dia adalah istri orang lain yang seharusnya tidak disentuh oleh pria lain semudah itu. Tapi saat ini dia terlihat begitu menikmati rangsangan dariku. Walaupun tangannya masih dengan putus asa mencoba menyingkirkan tanganku namun kedua kakinya perlahan semakin melebar Seolah menginginkan tanganku masuk lebih dalam. Akhirnya aku mendapat apa yang aku inginkan saat jemariku membelai kewanitaan Carol yang ditumbuhi rambut lebat.
“Akkh… aku... akh merasa ingin buang air kecil…. Mmmhhh.” Desahannya semakin kencang saat kenikmatan yang begitu besar menghantam tubuhnya, melihat itu aku hanya tersenyum puas. Aku kemudian mendekatkan mutmu ku pada telinga Carol untuk membisikkan sesuatu.
“Kalau kau ingin buang air lakukan lah di sini.”
“Ap… apa… kyaaaahh...”
Dengan cepat aku menarik rok panjang yang dua kenakan hingga terlepas membuat wanita itu kini telanjang di bagian bawah. Carol seketika berusaha menutupi bagian kewanitaannya namun aku yang lebih cepat langsung meraihnya dan mulai kembali melakukan rangsangan. Suara becek dari lubang kewanitaan yang terus dikacaukan serta rintihan Carol yang semakin keras, nafasnya mulai berat ketika merasakan rangsangan yang begitu intens, dia begitu kesulitan untuk memutuskan menikmatinya atau tidak. Sementara itu aku mulai membuka kancing pakaiannya, Carol sempat berusaha menghentikan namun dalam sekejap usaha itu terhenti ketika kocokannya semakin cepat, tubuh yang dihantam kenikmatan seketika mebggelinj kuat.
‘Hanya sedikit lagi dia akan keluar… tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi begitu cepat.’
Aku segera menghentikan tanganku ketika Carol tengah diujung klimaks, tindakan itu membuatku wanita itu seketika terkejut. Dengan wajah yang memerah dia menatapku seolah menginginkan sesuatu. Senyumku semakin melebar saat melihatnya putus asa, tapi aku tidak menghiraukannya justru aku beralih ke belahan dadanya yang melimpah.
“Aaahhk… ahhttt...” suara rintihan Carol kembali terdengar ketika kedua tanganku mempermainkan bukit kembarnya seperti adonan kue lalu meremasnya seperti sapi perah. Tubuhnya tidak henti-hentinya mengejang Solah tidak tahan untuk meledak.
“Anda sangat luar biasa nyonya, aku yakin anda sangat menikmati ini.”
“Tidak. Itu sama sekali tidak benar akhh.…”
Carol berusaha keras untuk menyangkal jika dia memang menikmati rangsang dariku, dua bahkan menutup mulutnya agar desahannya berhenti. Namun seperti bendungan yang bocor, teriakannya tidak dapat ditahan ketika dengan keras aku mencubit kedua putingnya.
“Kyaaahh!”
“Kau tidak pandai berbohong nyonya.” ucapku sambil mencium pipinya dengan kuat.
***
Carol mengeratkan giginya dengan kuat sementara pupil matanya hampir menghilang. Wanita itu berusaha keras untuk mengendalikan dirinya sendiri. Dari awal dia merasakan ingin kencing nanu Itu tertahan ketika merasakan rangsangan dari ku. Semakin lama kepinginnya untuk buang air kecil membuatnya tersiksa tapi Carol tidak dapat berbuat apapun saat tubuhnya menginginkan untuk segera klimaks tapi dua tidak bisa klimaks ketika aku menghentikan rangsangan padanya.
“Henggghh!.” Carol berusaha mendorong dirinya namun itu tidak berhasil.
“Sepertinya kau butuh bantuan.” aku kembali berbisik tepat di telinganya. Saat jemariku menyentuh bagian bawahnya seketika tubuh Carol memegang begitu kuat.
“Aku mohon ini benar-benar menyakitkan….”
“Kau terlihat begitu putus asa, baiklah aku akan menolong tapi malam ini kau harus menjadi menjadi milikku.”
Mata Carol terbelalak ketika mendengar persyaratan dariku, dia tidak menyangka jika harus dengan suka rela menyerahkan tubuhnya pada seseorang yang baru dia temui. Namun karena siksaan yang tak tertahankan akhirnya membuatnya menerima tawaran ku.
“Pilihan bijak. Dan sekarang mikmati waktu refresing mu.”
Tanganku kemudian menuju ke daerah kewanitaannya lalu dengan keras aku menekan k******s Carol yang membuatnya berteriak keras.
“Hiyaaa haaaa!.” dia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi, dengan wajah ahegao serta lidah terjulur ke luar Carol menaikkan pinggulnya, sementara itu kedua kakinya terbuka lebarkan saat semburan air bagaikan semprotan selang pemadam kebakaran mengalir deras hingga memadamkan api unggun di depan kami, keadaan di dalam goa pun menjadi begitu gelap.
“Woaah itu klimaks tergila yang pernah aku buat pada seseorang.” aku merasa takjub pada diri sendiri setelah melihat Carol menjadi seperti itu karena ulahku. Untuk beberapa saat wanita itu masih tidak dapat berpikir dengan benar karena kenikmatan yang dia rasakan. Namun ketika api unggun kembali menyala aku sudah berdiri telat di depannya dengan batang keras yang menjulang menyentuh hidung Carol.
“Haaahgghh…” mata wanita itu terbuka lebar melihat ukuran milikku, nafasnya semakin berat ketika mencium aroma pekat darinya.
“Sekarang giliranku merasakan kenikmatan, nyonya.” ucapku sambil menampar pipi Carol dengan sosis daging milikku.
Mengerti apa yang aku inginkan wanita itu mulai membuka mulutnya, di perlahan menjulurkan lidahnya untuk mencicipi sosial itu.
“Ini terlalu besar dan keras.” ucapnya dengan wajah memerah. Tidak dapat neninggu lebih lama aku segera menekan kepala Carol, wanita itu sangat terkejut ketika aku mencoba memasukkan benda itu secara paksa kedalam mulutnya. Mata wanita itu terbuka lebar saat mulutnya dipenuhi oleh milikku hingga masuk sangat dalam sampai tenggorokan.
“Ooohh fuuuuk... nikmat sekali mulutmu nyonya.” aku terus menekan kepala Carol hingga wajahnya tenggelam di selangkanganku.
“Ghookk aahookk.….” suara seperti babi keluar dari mulutnya ketika dia kesulitan untuk bernafas. Aku tersenyum lebar saat melihat wajah wanita itu yang hampir mati kehabisan nafas. Beberapa saat kemudian aku menarik pinggulku hingga seluruh sosis itu terlepas dari Carol, aku menatap wanita itu yang menjadi begitu kacau. Tapi aku tidak melepasnya terlalu lama, beberapa kali aku melakukan hal yang sama, menggunakan mulu wanita itu hingga dia terbiasa.
Beberapa saat kemudian aku sampai di ujung, kepala Carol semakin kuat aku tekan hingga seluruh cairan yang keluarkan langsung masuk kedalam perutnya. Carol sempat memberontak karena dia hampir kehabisan nafas, wajahnya begitu merah hingga cairan milikku keluar dari hidungnya.
“Chookk ohook…” Carol terbatuk-batuk ketika akhirnya aku melepaskan kepalanya.