Setelah berhasil menyelamatkan wanita itu aku kembali berurusan dengan Babi raksasa. Karena tidak ingin wanita yang telah aku selamatkan kembali berada dalam bahaya aku segera memintanya untuk menjauh dan bersembunyi. Namun karena serangan yang dia terima membuat kakinya terluka sehingga tidak dapat bergerak. Karena wanita itu terluka akibat kesalahanku terpaksa aku harus bertaring sambil melindunginya.
***
Rifat terus berusaha mengalahkan babi raksasa sambil berusaha untuk melindungi wanita pencari herbal itu. Dengan usaha keras dia melawan monster yang sebentar lagi akan menemui ajalnya. Sementara itu wanita yang tidak sengaja masuk kedalam pertempuran hanya bisa menatapnya dari belakang.
“Kuat…..” ucap wanita itu lirih ketika melihat Rifat yang sedang berusaha melindungi dirinya. Jantung wanita itu berdebar kencang ketika melihat pemuda itu bertarung.
30 menit kemudian pertarungan di akhir dengan kekalahan Bani merah itu. Rifat yang khawatir dengan keadaan wanita itu segera menghampiri untuk melihat keadaannya.
“Nona apa kau tidak apa-apa?.” Rifat menghampiri wanita yang masih terduduk di atas rerumputan, dia tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Setelah di cek ternyata dia memili luka di kakinya.
“Anda terluka!.” pemuda itu terlihat panik saat melihat luka di kaki wanita itu yang membuatnya semakin gugup karena merasa di perhatikan oleh penyelamatnya.
“Ini hanya luka kecil, cukup di balut dengan tanaman herbal juga akan sembuh.” balas wanita itu, namun Rifat yang melihat keadaan sekeliling tidak menemukan satupun tanam herbal, sementara herbal hasil dari pencarian wanita itu telah Habis dinamakan oleh si babi merah beserta dengan keranjangnya. Melihat keadaan ini membuat wanita itu agak khawatir.
“Hanya ini yang aku temukan dari bekas keranjang herbal yang kau bawa.” Rifat kembali dengan membawa tanaman herbal.
“Itu adalah tanaman herbal tingkat rendah, walaupun akan memakan waktu cukup lama tapi itu lebih daripada tidak sama sekali.”
Rifat segera menggunakan herbal yang dia temukan untuk di jadikan obat salep dengan menumbuknya, awalnya wanita itu ingin agar dirinya yang melakukannya namun pemuda itu bersikeras untuk melakukannya sendiri.
“Ini kesalahanku karena membuat anda terlibat dalam pertempuran.” ucap Rifat memberikan alasan. Melihat Rifat yang begitu bertanggung membuat wanita itu semakin mengaguminya.
“Namaku Carol Trasan, tuan petualang.” atas inisiatifnya sendiri nyonya Carol memperkenalkan diri.
“Oh, dimana sopan santun ku. Namaku adalah Rifat seorang adventure tingkat perunggu.” Rifat yang sedang sibuk menumbuk herbal pun menjawab Carol.
Tidak lama kemudian Rifat telah selesai dengan herbal itu, Carol yang melihat olahan herbal dari Rifat merasa terkejut.
“Hasil olahan herbal ini bahkan lebih baik dari ku. Apa anda benar-benar seorang petualang?, Atau sebenarnya anda seorang alkemis?.”
“Hahaha, nyonya Carol terlalu memuji.”
Sebelum mengoleskan ramuan yang telah dia buat, Rifat lebih dulu membersihkan kaki Carol yang terluka. Ketika melakukan itu dia mengambil kesempatan ini untuk mengintip ke dalam rok panjang yang dikenakan Carol. Rifat merasa begitu beruntung ketika melihat jika Carol tidak mengenakan pakaian dalam sehingga pemuda itu dapat melihat jelas bagian kewanitaan Carol yang ditumbuhi rambut yang cukup lebat.
“Bunga yang sangat cantik.” ucap Rifat saat menikmati pemandangan di depannya. Menyadari pandang pemuda itu yang tertuju pada bagian bawah tubuhnya, Carol dengan cepat menutupi. Wajah wanita itu benar-benar merah padam, entah karena dia marah atau malu yang jelas dua tetap dia ketika Rifat terus merawat luka di kakinya dengan senyum lebar.
“akh…!!.” Carol meringis kesakitan ketika perban menutupi luka yang telah dilapisi salep.
“Oke selesai, aku pikir hanya memerlukan satu sampai dua jam untuk sembuh sepenuhnya.”
Rifat telah selesai mengobati luka di kaki Carol. Melihat jika lukanya telah selesai di perban, Carol berniat untuk berdiri namun gagal karena dia masih belum sembuh sepenuhnya.
“Ini gawat, hari sudah mulai gelap. Aku tidak bisa terus berada di dalam hutan.” ucap Carol dengan begitu cemas.
“Jangan khawatir aku akan membantumu.”
“Tidak, aku tidak ingin merepotkan tuan Rifat lebih dari ini.”
“Jangan khawatir nyonya!, Anda terluka akibat kesalahanku ketika berburu, jadi ini sudah kewajiban ku untuk membantu anda.”
Melihat jika Rifat bersikeras untuk menolongnya sebagai rasa bersalahnya membuat Carol tidak punya pilihan lain selain menerima bantuan dari pemuda itu.
Rifat kemudian menggendong wanita yang jauh leh dewasa dari dirinya di punggungnya. Pemuda itu terlihat begitu kesulitan membawa Carol sehingga beberapa kali mereka harus beristirahat. Namun bukan hanya itu yang menjadi masalah, hari yang berganti malam membuat binatang buas dan Monster yang lebih kuat mulai mengambil alih hutan. Beberapa kali Rifat bahkan harus berhadapan dengan mereka.
“Semakin banyak goblin yang muncul, ini pasti ada hubungan dengan dungeon yang dibicarakan oleh para petualang di adventure guild.” Rifat berkata setelah menghabisi 4 goblin yang menghadang perjalanan mereka. Sementara itu Carol dari kejauhan hanya menyaksikan pemuda itu yang berjuang dengan keras agar keduanya bisa kembali ke kota.
“Tuan Rifat hari telah malam akan semakin berbahaya jika kita terus melanjutkan perjalanan.” Carol yang melihat Rifat begitu kerepotan melawan para monster akhirnya angkat bicara.
“Hemm.. tapi jika kita tetap berada di dalam hutan sepanjang malam bukankah itu justru lebih berbahaya?.” Rifat memberikan alasan yang paling masuk akal saat ini, namun Carol hanya tersenyum lalu memberikan solusi yang dia miliki.
“Jangan khawatir, sebagai pencari herbal di hutan ini aku telah menelusurinya selama belasan tahun, sehingga aku tahu betul dimana tempat aman untuk beristirahat jika malam tiba.” ucap Carol dengan percaya diri. Mendengar perkataan itu membuat Rifat begitu senang, seolah pemuda yang telah kehabisan tenaga setelah mengalahkan babi hutan merah serta puluhan monster hutan akhirnya dapat beristirahat.
***
[Memasuki wilayah aman, tidak ada monster yang dapat memasuki wilayah aman hingga pagi tiba]
Notifikasi itu terdengar ketika Rifat memasuki sebuah goa yang ditunjukkan oleh Carol.
“Luar biasa, aku telah berburu di hutan ini selama berbulan-bulan namu baru kali ini aku menemukan goa ini.” Rifat terlihat begitu takjub dengan savepoin yang belum satupun pemain yang menemukan tempat ini.
“Mungkin ada persyaratan khusus untuk menemukan tempat ini seperti hanya muncul di malam hari atau hanya ketika diantar oleh Npc, seperti yang terjadi saat ini.” Rifat kemudian menatap Carol yang sedang bersiap untuk menyalakan api unggun.
“Seperti yang diharapkan dari LHO, Npc biasa seperti dia saja terlihat begitu cantik. Aku ingin merasakan tubuhnya walau sekali, dan sepertinya aku akan mendapatkan kesempatan itu.” senyum lebar mulai terbentuk di bibir Rifat saat merencanakan sesuatu yang m***m dengan wanita yang tidak sengaja dia temui. Rifat masih terbayang dengan bagian kewanitaan Carol yang tertutupi oleh lebatnya benang biru yang berwarna sama dengan rambutnya.
“Srupt, aku tidak sabar untuk mencicipinya.” dengan tatapan tajam kearah Carol, Rifat menjilat bibirnya sendiri seperti serigala yang siap menyantap mangsanya.
Rifat kemudian membantu Carol yang kesulitan untuk menyalakan api unggun. Setelah itu kami makan bersama dengan menu daging hasil perburuan ku. Saat makan Carol menceritakan tentang dirinya jika dia adalah seorang istri dengan dua orang anak dan suaminya adalah seorang prajurit biasa yang menjaga kota.
“Seharusnya wanita secantik anda mendapatkan yang lebih baik.” ucapku sambil menawarkan anggur untuk menghangatkan badan.
“Anda terlalu memuji.” dengan wajah yang memerah dia mengambil minuman yang aku tawarkan. Aku semakin mendekatinya ketika obrolan terus berlanjut, hingga Carol tidak meras keberatan saat aku tepat berada di sisinya.
[Tingkat kedekatan dengan Npc Carol telan naik menjadi keluarga]
Itu sebuah rekor baru, menaikkan kedekatan dengan Npc yang baru di hingga mencapai tingkat keluarga mungkin pemain lain harus memerlukan waktu berbulan-bulan.
‘Mungkin ini karena efek charm yang aku milik dari job yang aku dapatkan sebelumnya.’
Mengesampingkan pertanyaan bagaimana kuatnya job yang aku miliki untuk mendekati Npc, aku kembali melancarkan rencana ku untuk mendekati Carol. Di atas balok kayu yang dijadikan sebagai tempat duduk aku berada di sampingnya. Jarak yang begitu dekat membuatku dapat melihat tubuh sexi wanita itu.