Agustus 2003
Kara pikir hidupnya tidak akan pernah bisa seperti orang lain. Tapi ternyata Tuhan berbelas kasih pada ia dan ibunya. Di suatu tempat, ibunya bertemu dengan seorang pria yang merupakan teman sekolahnya dahulu. Kedua dekat hingga akhirnya melangsungkan pernikahan dengan sederhana.
Kara tak pernah mengenal pria sebaik ayah tirinya. Pria itu begitu menyayangi ia dan ibunya. Pria itu melakukan tugasnya sebagai suami dan ayah yang baik. Ayah tirinya bekerja diluar kota sehingga tak pulang ke rumah setiap hari, tapi ia memberi nafkah cukup pada ibunya sehingga ibunya tak perlu berkerja keras seperti sebelumnya. Pria itu memberinya uang jajan, menemaninya mengerjakan PR kalau sedang di rumah, mengajak keluarganya berjalan- jalan saat ada di rumah.
Kehidupan yang tampak Kara idam-idamkan mulai terwujud sedikit demi sedikit. Ia masih tak punya teman, tapi setidaknya ia punya keluarga yang kini utuh. Rumah tak lagi seperti tempat yang begitu sunyi, ada warna yang kini bisa membuatnya tertawa, juga ibunya. Tak ada hal yang paling menyenangkan gadis itu selain menunggu ayahnya pulang.
***
“Kamu tidak apa- apa?” tanya Karin saat melihat Kara keluar dari kamar. Setelah membuka paket itu, Kara langsung mengunci diri di kamarnya semalaman dan baru keluar pagi ini.
Gadis itu mengangguk. Karin tak menceritakan bahwa ia menemukan tulisan dibalik foto itu. Ia tak mau membuat Kara lebih khawatir.
“Apa jadwalku hari ini?” tanya Kara saat ia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu berwarna merah marun itu. Ia menatap Karin yang tampak berpikir sebentar.
“Sandra mengundang untuk meeting bulanan. Ada beberapa yang perlu dibicara tentang restoran. Setelahnya kita hanya perlu foto untuk beberapa produk endorse.” Kata Karin.
“Bisa dilakukan di restoran?” tanya Kara. Karin mengangguk dan bilang bahwa sudah meminta Sandra menyiapkan tempat di restorannya untuk berfoto.
“Oke, siapkan semuanya. Aku akan mandi dulu.”
Kurang dari satu jam Kara keluar dari kamar sudah dalam keadaan rapi. Ia melihat Karin sedang menyiapkan kamera dan perlengkapan lainnya. Ya, satu- satunya karyawan yang dimiliki Kara memang hanya Karin. Karin melakukan semua hal untuk Kara. Gadis itu menjadi managernya, menjadi kakaknya, menjadi fotografer, koki dan tempat sampahnya jika ia sedang marah. Gadis itu melakukan semuanya dengan baik sehingga Kara tak memerlukan karyawan lain. Selain itu, Kara memang tak terlalu suka terlibat dengan banyak orang selain untuk masalah kerjaan. Ia punya asisten rumah tangga yang hanya diperbolehkan datang saat ia tak ada di rumah.
Keduanya sampai di restoran yang saat itu baru saja buka. Ia langsung pergi ke lantai dua dan masuk ke ruangan Sandra. Sudah ada Kinan juga di sana.
“Kita kehilangan dua koki dalam satu minggu.” Kata Sandra tanpa basa- basi.
“Kenapa bisa?” Kara membuka kacamata hitamnya dan menatap Sandra.
“Mereka mengundurkan diri secara mendadak. Hanya seminggu setelah mengajukan surat pengunduran diri.”
“Mana bisa seperti itu. Bukankah mereka bisa resign dengan catatan one month notice?” Kata Kara.
“Harusnya seperti itu. Tapi keduanya tidak peduli. Perusahaan kita juga tidak punya ketentuan itu dalam peraturan perusahaan. Aku bahkan mengancam kalau tidak akan memberikan gaji terakhir dan surat referensi padanya jika mereka memaksa resign akhir munggu kemarin.”
“Lalu?”
“Mereka tidak butuh keduanya.” Kali ini Kinan yang berbicara, “bukankah aneh, mereka keluar begitu mendadak, tak meminta gaji terakhir dan surat referensi. Sepertinya yang mereka inginkan hanya keluar dari sini secepatnya.” Lanjutnya.
Sandra mengangguk, membenarkan kata- kata Kinan. Ia menatap Kara yang menunjukkan raut wajah bingung.
“Padahal keduanya punya anak- anak yang masih bersekolah, salah satu istrinya bahkan sedang hamil dan akan melahirkan.” Kata Sandra. Ia menggeleng- gelengkan kepalanya. Sama sekali tidak mengerti dengan situasi ini.
“Mungkin kamu menggajinya terlalu besar sehingga mereka lebih cepat kaya.” Kata Kara.
***
Kara dan Karin berada di pojok ruangan. Kara tengah mempromosikan sebuah aplikasi dompet digital setelah sebelumnya mengambil beberapa foto untuk jam tangan yang ia promosikan. Gadis itu berbicara di depan kamera, menjelaskan kelebihan- kelebihan aplikasi itu dibanding aplikasi serupa lainnya. Di balik kamera, Karin mengamati layar kecil pada alat itu yang membingkai potret Kara dalam bentuk video.
“Selesai.” Kata Karin, ia memencet salah satu tombol pada kamera itu untuk menghentikan rekaman lalu mulai membereskan kameranya.
“Kamu jadi mengunjungi adikmu?” tanya Kara. Ia melihat gadis itu mengangguk.
“Aku tidak akan menginap.” Kata Karin sambil membereskan barang- barangnya.
“Menginap saja, aku tidak apa- apa.” Kata Kara. Kara menatap Karin yang menggeleng.
“Aku tidak apa- apa. Lagipula, kamu jarang- jarang bertemu dengan adikmu.” Jelas Kara.
Karin tampak berpikir sebentar hingga akhirnya mengangguk pelan. Kara tahu, masalahnya akhir- akhir ini telah menguras energi Karin. Gadis itu berpikir keras bagaimana menyelesaikan masalah- masalahnya. Ia menerima telepon dari wartawan- wartawan, juga pihak stasiun televisi yang membuat jam istirahatnya berkurang, pikiran gadis itu terlalu banyak terbagi karena masalahnya. Kara ingin Karin bisa beristirahat dan menghabiskan waktu dengan adik- adiknya saat semuanya sudah mulai kembali normal.
“Bawa mobil saja. Aku akan naik taksi nanti.” Kata Kara saat melihat Karin menaruh kunci mobil di atas meja.
“Terima kasih.” Kata Karin, “kabarin aku kalau ada sesuatu, oke.” Ia tersenyum pada Kara lalu melambai pada Sandra dan Kinan yang duduk di meja lain.
Kara masih ada di restoran itu sampai sore. Restoran itu tak begitu ramai, namun sudah banyak yang memesan meja untuk nanti malam.
Katiganya tidak tahu, ada seseorang yang memerhatikan gerak mereka dari luar restoran. Laki- laki itu mengeluarkan ponselnya dari jaket dan menghubungi sebuah nomor, “Asistennya pergi lebih dulu. Plan B.” Katanya pada orang di seberang, lalu menutup teleponnya.
Kinan melirik jam tangannya, “Sudah waktunya menjemput Raihan. Aku duluan.” Kata Kinan.
“Katanya Raihan sama ayahnya?” tanya Sandra.
“Iya, mereka masih di mall. Aku diminta menjemputnya di sana.”
Kara dan Sandra tertawa kecil, “Kenapa kamu yang harus menjemputnya? Harusnya dia antar langsung Raihan ke rumah orangtuamu.” Kata Kara.
“Ah, mungkin mantan suaminu kangen jadi memintamu menjemput Raihan agar kalian bisa bertemu.”
Kinan berdecak tak peduli. “Aku duluan.” Katanya.
“Kalau dia mengajak rujuk, terima saja.” Teriak Sandra saat Kinan hampir mencapai pintu.
Kara dan Sandra masih tertawa melepas kepergian Kinan. Perempuan itu tak bisa menyembunyikan perasaan bahwa ia masih mencintai mantan suaminya. Setiap kali Sandra dan Kara membicarakan mantan suaminya, wajah Kinan masih sering bersemu merah.
Keduanya tak heran, menghapus perasaan cinta memang tak semudah membalik telapak tangan, apalagi keduanya tahu Kinan dan mantan suaminya sudah saling mengenal selama sepuluh tahun hingga akhirnya memutuskan menikah dan ternyata pernikahan mereka hanya bertahan kurang dari tiga tahun. Begitu cepat dan menyesakkan bagi keduanya.
***
Menjelang malam, restoran sudah mulai ramai. Pelayan hilir mudik mencatat dan mengantar pesanan. Koki- koki di dapur tak kalah sibuk karena pesanan yang banyak. Kara memutuskan untuk pergi dari sana dan memesan taksi melalui ponselnya.
“Menginaplah di apartemenku.” Tawar Sandra. Kara menggeleng dan tetap memilih pulang ke rumah.
“Aku akan menunggu di luar.” Kata Kara pada Sandra yang mengangguk.
“Hati- hati.” Sandra melihat Kara tersenyum hingga akhirnya tubuhnya hilang ditelan pintu restoran.
Kara melihat peta di ponselnya lalu memutuskan untuk pergi dulu ke minimarket yang ada di seberang jalan. Ia berdiri di trotoar dan siap menyebrang saat tiba- tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Ia mundur selangkah dan terkejut melihat seorang laki- laki berbadan besar keluar dari mobil. Pria itu menarik tubuhnya dan melemparnya ke dalam mobil.
Kara terlalu bingung untuk mencerna kejadian tiba- tiba itu. Ia berteriak dan berusaha menggedor- gedor jendela mobil saat mobil itu melaju. Hingga tiba- tiba suara teriakannya dibungkam oleh sebilah pisau yang pria itu acungkan ke lehernya.
“Jangan berteriak atau pisau ini akan melukainmu.” Kata pria yang duduk di sebelahnya. Ia melihat pria yang menyetir dan melihat yang ada di sebelahnya. Keduanya bertubuh besar, dengan topi dan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Yang terlihat hanya matanya. Kara menarik napas panjang, ia mencoba tenang dan mencoba berpikir jernih.
“Apa yang kalian mau? Aku bisa memberikan uang yang kalian mau asal kalian mau melepaskanku.” Kata Kara dengan nada tenang. Ujung pisau lipat itu masih berjarak beberapa senti dari lehernya. Ia tak boleh terluka, pikirnya.
“Kita tak butuh uangmu. Kita tidak menjual kesetiaan kita pada orang lain.” Kata pria yang sedang menyetir. Pria itu fokus pada kemudinya membelah jalanan.
Kara memindai sekeliling mobil dengan tidak ketara, mencoba mencari petunjuk mengenai siapa yang berniat jahat padanya hingga akhirnya ia melihat tasnya tergeletak di bawah kaki pria di sebelahnya.
Suara ponselnya berdering. Si pria mengambil ponselnya dari tas dan mematikan panggilan itu lalu menekan tombol power hingga akhirnya ponsel mati seketika.
Kara masih terus berpikir saat tiba- tiba tubuhnya terguncang. Ketiganya terkejut dan si supir memaki saat menyadari mobil mereka ditabrak dari belakang. Mobil itu melesak naik ke trotoar dan berhenti.
Kara melihat seorang pria mendekati mobil mereka dan mengetuk jendela supir. Supir itu masih memaki saat membuka pintu dan langsung menghajar orang yang menabrak mobilnya.
Kara menatap pria yang menabrak mobil yang ditumpanginya. Matanya memicing dan ia sadar bahwa pria itu adalah pria yang ditemuinya di taman waktu itu. Pria itu balik menghajar si supir dengan membabi buta, melihat temannya terkapar, pria yang menyandera Kara ikut turun dan menghajar si pria.
Kara turun dari mobil dan melihat keduanya saling memukul dan menendang. Kara melihat sekeliling namun jalanan yang ia lewati itu begitu sepi, ia bahkan tak tahu ia ada di mana saat ini. Ia akhirnya membuka pintu mobil dan mengambil tasnya. Saat ia mengambil tasnya, ia melihat sebuah koran terselip dikantong jok supir. Ia langsung mengambilnya tepat saat si penabrak berhasil melumpuhkan si penyandera.
Kedua pria itu akhirnya menyerah dan memutuskan untuk pergi darisana, meninggalkan Kara yang baru saja hendak menghubungi polisi.
“Kamu tidak apa- apa?” kata Kara, fokusnya teralihkan. Ia melihat pria itu menyandar di tembok dan menyeka daraah yang ada di bibirnya.
Laki- laki itu mengangguk dan mengisyaratkan tangannya agar Kara tidak mendekat.
“Aku akan mengantarmu ke dokter.” Kata Kara.
“Tidak perlu, aku tidak apa- apa.”
“Bagaimana kau tahu kalau...” Kara tak menyelesaikan kalimatnya, ia bingung harus berkata apa.
“Aku melihatmu dipaksa masuk dan menggedor- gedor kaca mobil, makanya aku mengikutimu.” Pria itu menjelaskan saat Kara tak mampu menyelesaikan kalimatnya “kamu bisa menyuruh seseorang menjemputmu?” lanjutnya.
Kara mengangguk, ia lalu menghubungi Sandra dan membagikan lokasinya melalui aplikasi chatting.
“Mobilmu...” Kara melihat mobil pria itu yang rusak parah di bagian depannya.
Pria itu mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar kartu nama.
“Mobil itu milik sahabatku. Tolong urus nanti kalau kamu tidak keberatan. Ini kartu namanya.” Kartu kecil itu berpindah tangan. Kara mengangguk pelan.
“Asistenku akan mengurusnya nanti,” kata Kara, “ Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau kamu tidak menolong.” Lanjutnya. Gadis itu menghela napas panjang lalu berjongkok.
Pria itu menatap Kara yang jongkok di sebelahnya. Gadis itu menautkan jari- jarinya dan tubuhnya bergetar. Pria itu masuk ke dalam mobil dan mengambil air mineral botol dan memberikannya pada Kara.
“Terima kasih.” Lirih Kara.
Kurang dari lima belas menit, Sandra sampai di tempatnya.
“Kamu tidak apa- apa?” tanya Sandra dengan nada panik. Ia langsung memegang bahu Kara dan memastikan sahabatnya tidak terluka sedikitpun.
“Aku tidak apa- apa.” Kata Kara, “tadi...” belum sempat Kara menceritakan, pria itu sudah menyela.
“Pulanglah, ceritakan semuanya di rumah. Tempat ini terlalu sepi untuk tempat mengobrol.” Kata pria itu sambil masuk ke dalam mobilnya. Belum sempat ia menutup pintu mobil, ia teringat sesuatu, ia mencari kertas dalam saku jaketnya dan menuliskan sesuatu di sana.
“Ini nomor plat mobil tadi. Mungkin kau butuh, meski aku yakin bahwa plat nomor itu tidak terdaftar.” Pria itu memberikan selembar kertas itu pada Kara.
Kara menerima lembaran kecil yang pria itu sodorkan. Setelah benda kecil itu berpindah tangan, pria itu kembali ke mobilnya, menyalakan mesin, menekan pedal gas dan melajukan mobilnya meninggalkan Kara dan Sandra yang masih menatap kepergiannya.
“Ayo pergi dari sini.” Ajak Sandra. Kara mengangguk lalu masuk ke kursi di samping Sandra. Sandra melirik Kara yang masih tampak gelisah di kursinya. Ia berkali- kali menyesap air dari botolnya dan tatapannya terarah sepenuhnya keluar jendela.
TBC
LalunaKia