“Kita harus lapor polisi.” Kata Sandra saat Kara menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya.
“Aku akan memastikan ini dulu.” Kata Kara sambil menunjukkan selembar kertas pemberian pria itu.
Kara tidak memberitahukan kejadian itu pada Karin. Sebagai gantinya, ia meminta Sandra untuk menginap di rumahnya.
Kara tak bercerita bahwa ia sudah bertemu dengan pria itu beberapa kali, dan ini adalah kali kedua pria itu menolongnya. Entah sebuah kebetulan atau sebuah takdir. Kara tidak mengerti kenapa dari jutaan orang, lagi- lagi harus pria itu.
Dan setelah tiga kali bertemu, ia bahkan tak juga mengetahui nama pria itu.
Kara hampir tak bisa tertidur semalaman. Ia hanya bergerak gelisah di ranjangnya, sementara di sebelahnya, Sandra tertidur pulas.
Malam yang terasa begitu panjang bagi Kara. Ia yang tak juga bisa memejamkan mata saat waktu menunjukkan lewat tengah malam akhirnya keluar dari kamar dan mengambil tasnya yang tergeletak di sofa ruang tamu. Ia mengeluarkan koran yang sempat ia ambil dari dalam mobil.
Ia membaca headline koran itu. “Kesuksesan dibalik Silver Luxury milik Isvari Hendrawan.”
Ia kenal betul siapa pria paruh baya itu. Ia sempat menjadi brand ambassador produk berliannya selama tiga tahun, hingga akhirnya, Kara memutuskan untuk tak menerima pekerjaan apapun yang berkaitan dengan pria itu, karena pria itu -melalui asistennya- menawarkan sebuah tawaran yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya, menjadi wanita simpanan. Ya, pria paruh baya dengan seorang istri dan tiga orang anak menawarkan dirinya untuk menjadi wanita simpanannya.
Kara jelas menolak, ia bilang pada asisten pria itu bahwa ia tidak sudi menjadi simpanannya meski dibayar berapapun. Berhari- hari setelah penolakan yang ia utarakan melalui asistennya, pria itu berani menawar langsung padanya. Pria itu bilang bahwa ia bersedia memberinya rumah, mobil, beberapa persen sahamnya di perusahaan, kartu kredit tanpa limit, dan akomodasi ke negara manapun yang ia inginkan.
Kara yang amarahnya sudah sampai ke ubun- ubun saat itu berusaha mengontrol dirinya. Ia menarik napas panjang dan begitu elegan bilang bahwa ia sama sekali tidak tertarik dengan tawaran itu. Ia bahkan jauh lebih kaya dari yang pria itu pikirkan sehingga bisa membeli apa yang pria itu tawarkan. Ia bilang bahwa apa yang pria itu tawarkan sama sekali tidak ada apa- apanya. Kalau ia bisa, ia bahkan mampu membeli semua saham perusahaannya.
Pria itu marah besar, merasa Kara merendahkannya dan sumpah serapah keluar dari mulutnya. Ia bilang bahwa karir di dunia entertain tidak akan selamanya bagus dan suatu saat Kara pasti akan merengek dan merangkak padanya.
“Apa ini kebetulan? Atau mungkin petunjuk?” Lirih Kara. Ia mengingat kembali foto- foto yang di kirim padanya beberapa hari lalu. Harusnya ia tak buru- buru menyuruh Karin membuangnya, mungkin ada petunjuk juga di sana.
***
Keesokan harinya, Karin marah saat mendengar Sandra menceritakan kejadian yang menimpa Kara. Karin marah karena Kara sama sekali tak memberitahunya semalam.
“Aku tidak mau kamu khawatir. Kamu juga perlu menghabiskan waktumu dengan keluarga.” Kara membela diri. Kara yang tengah mengunyah roti kembali melanjutkan kegiatan makannya sementara Karin terus mondar- mandir di depannya.
Karin menyesal, seharusnya ia tak meninggalkan Kara sendiri malam itu. Harusnya ia bisa menunda bertemu dengan keluarganya. Paling tidak, kalau saja ia mengantara Kara terlebih dahulu sampai di rumah, Kara tak perlu mengalami kejadian mengerikan seperti itu. Karin duduk di depannya dan menatap Kara dengan tatapan menyesal.
“Aku tidak apa- apa.” Kata Kara seraya meyakinkan Karin bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Karin kembali berdiri dan duduk di sebelah Kara.
“Kamu yakin baik- baik saja?”
Kara mengangguk, meyakinkan Karin.
Tangan Karin terulur untuk menyingkap rambut panjang Kara. Kara yang tersadar langsung menepis. Karin melihat lebam biru leher gadis itu. Karin lalu mengambil sebelah tangan Kara dan mengangkat ke atas lengan panjangnya, ada lebam biru lagi di sana.
“Aku bilang aku tidak apa- apa.” Kata Kara, “ini sudah biasa. Tidak akan ada apa- apa.”
“Di mana lagi?” tanya Karin dengan nada tegas.
“Tidak ada.” Jawab Kara dengan nada yakin.
Karin menatap mata Kara dengan tatapan menyelidik. “Tidak banyak, hanya di paha dan lutut.” Kata Kara akhirnya. Ia tahu bahwa ia tak akan bisa berbohong pada Karin.
“Memang hanya Karin yang bisa membuka mulutmu, ya.” Kata Sandra, ia bahkan berkali- kali bertanya pada Kara apakah ada yang terluka dan gadis itu selalu bilang bahwa ia baik- baik saja padahal sudah banyak lebam biru di tubuhnya.
“Ini kartu nama pemilik mobil, tolong temui dia dan urus kerusakan mobilnya. Dan ini plat nomor mobil yang menculikku, cari tahu mobil itu atas nama siapa.” Perintah Kara pada Karin.
***
Agustus 2004
Kebahagiaan tengah menyelimuti keluarga Kara kecil. Mereka baru saja kehadiran anggota keluarga baru. Seorang bayi cantik yang baru saja ibunya lahirkan. Kara tak menyangka ia akan mempunyai adik, gadis mungil itu cantik seperti ibunya.
Kara tak peduli lagi pada teman- teman sebayanya di luar. Ia menghabiskan hari- harinya bersama adik kecilnya. Mengajaknya mengobrol hingga bayi itu tertawa meski tak mengerti apa yang dibicarakan Kara. Kara tak lagi kesepian. Ibu dan adiknya sudah cukup mengisi hari- harinya yang dulu sepi.
Kara bernyanyi dan mendongeng untuk adik kecilnya. Ia menjaganya saat ibunya memasak ataupun membersihkan rumah. Kara melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang kakak.
***
Karin mengehntikan mobilnya di sebuah bengkel. Ia keluar dari mobil dan menatap pria yang terduduk di ruang tunggu bengkel itu. Perlahan ia melangkah mendekati pria itu dan berdiri di depannya.
“Dengan Gerald?” tanya Karin. Ia melihat pria itu mendongak ke arahnya dan mengangguk pelan. Pria itu menatap gadis yang berada di depannya. Gadis itu memakai celana bahan, dengan kemeja berwarna merah muda dan sepasang flat shoes. Pria itu mempersilahkan wanita berkuncir kuda itu untuk duduk di sebelahnya. Karin menjatuhkan bokongnya di kursi tepat di sebelah pria itu.
“Saya Karin, manager Kara, gadis yang teman mu selamatkan.” Karin mengulurkan sebelah tangannya. Gerald mengangguk lalu menjabat tangan gadis itu. Karin memperkenalkan dirinya lebih detail dan secara khusus meminta maaf atas apa yang terjadi dengan mobil pria itu.
“Tidak apa- apa. Semuanya sedang di perbaiki.” Pria itu menatap mobilnya yang sedang di kerjakan montir tak jauh dari tempatnya. Karin mengikuti arah pandang pria itu dan ternganga melihat kondisi bagian depan mobil yang cukup parah. Ia tidak bisa membayangakan hal mengerikan itu terjadi pada Kara.
“Kami akan bertanggung jawab. Kamu bisa mengirimkan tagihan padaku.” Karin mengambil dompet dalam tasnya dan mengeluarkan kartu namanya dari sana. “ini kartu namaku.” Kata Karin sambil menyodorkan benda kecil itu pada Gerald yang langsung menerimanya. Gerald tersenyum sambil mengangguk.
Gerald menatap kartu nama itu dan membaca informasi yang tertera di sana. Karina Jasmin. Di sana tertera nomor ponsel dan email untuk menghubungi wanita itu.
“Aku akan menghubungimu nanti.” Kata Gerald. Ia memasukkan kartu nama itu ke saku celananya. “punya waktu sebentar?” tanya pria itu sambil menunjuk sebuah kedai kopi di sebelah bengkel.
Karin melirik jam yang melingkar di tangannya dan memutuskan menerima ajakan pria itu. keduanya berpindah dari bengkel itu ke kedai kopi kecil di sebelah bengkel. Keduanya memesan secangkir kopi dan membawanya ke meja yang dekat dengan jendela. Dari tempat duduknya, Karin bisa melihat lalu- lalang mobil dan motor di jalan, juga orang- orang yang melewati trotoar, hanya terpisahkan dinding kaca tebal dengannya.
“Bagaimana keadaan gadis itu?” tanya Gerald.
“Dia baik- baik saja, untunglah. Aku tidak tahu apa jadinya jika temanmu tidak menolongnya. Aku mengecek plat mobilnya namun nomor itu tidak terdaftar.” Kata Karin. Ia mengambil cangkir dengan sebelah tangannya, mendekatkannya ke mulutnya dan menyesapnya pelan.
“Bukankah seharusnya dia mempunyai pengawal?” kata Gerald.
Karin tampak berikir lalu menggeleng pelan, “Dia tak akan mau.” Kata Karin. Ia tahu betul bagaimana sifat Kara. Gadis itu tak mau ada terlalu banyak orang di sekelilingnya selain untuk masalah pekerjaan.
Tapi ingatan mengenai kotak teror yang ditujukan untuk gadis itu membuat Karin harus berpikir ulang. Benar kata Gerald, Kara paling tidak harus punya pengawal saat pengantar kotak teror dan dalang di balik percobaan penculikan gadis itu belum juga bisa diidentifikasi.
“Aku akan membujuknya untuk merekrut pengawal.” Kata Karin akhirnya. Keduanya menyesap isi gelasnya secara perlahan hingga akhirnya tandas. Karin pamit dari hadapan pria itu dan mengingatkan pria itu untuk menghubunginya menganai biaya perbaikan yang harus ia ganti. Pria itu mengangguk dan menyuruh gadis itu untuk berhati- hati.
Gerald menatap punggung gadis itu hingga tubuhnya keluar melalui pintu kaca. Matanya masih menatap sosok Karin yang berjalan kembali ke bengkel dan menghilang dibalik pintu mobil. Mobil itu berputar dan keluar dari bengkel hingga menghilang dari pandangan Gerald sepenuhnya.
***
Setelah Karin mengurus mobil yang menyelamatkan Kara malam itu, ia memaksa Kara untuk merekrut pengawal. Kara menolak, ia benci ada orang yang mengikutinya. Cukup Karin yang mengikutinya ke manapun, ia tak mau ada yang lain lagi.
Tapi Karin tak menyerah, ia bilang ada Kara bahwa kejadian kemarin tidak bisa dianggap remeh. Mereka harusnya lebih waspada karena kejadian itu bisa saja terjadi lagi.
“Aku tak suka terlau banyak orang di sekitarku.” Kara beralasan.
“Hanya tiga. Aku pikir itu cukup dan tidak banyak.” Kata Karin.
Kara tampak berpikir sejenak lalu menghela napas, “Oke, satu.” Katanya.
“Dua.” Karin bernegosiasi.
“Satu atau tidak sama sekali.” Kata Kara telak.
Karin akhirnya mengalah. Ia mengangguk setuju.
“Aku ingin creambath dan pijat. Tolong panggilkan layanan seperti biasa.” Kata Kara. Karin mengangguk lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
Kara kembali ke kamarnya setelah menghabiskan makan siang. Ia menyalakan televisi lalu mengambil minuman kaleng dari kulkas kecil di samping nakas. Setelahnya, ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menatap berita yang tertera di layar televisinya. Rayyan sedang di wawancara terkait tour konser untuk album barunya yang akan di mulai beberapa hari lagi. Laki- laki itu menjawab pertanyaan- pertanyaan wartawan dengan begitu antusias. Kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya yang tampan.
Kara tahu bahwa pria itu akan baik- baik saja. Penolakannya tempo hari bukan sesuatu yang besar bagi pria itu. Pria itu tetap fokus pada karirnya, hadir di berbagai acara hingga konser yang harusnya Kara ikuti kalau saja mereka tak putus. Kara ingat bagaimana Rayyan meminta Kara secara khusus untuk ikut tournya kali ini. Ia meminta Kara mengosongkan jadwalnya beberapa hari untuk menemainya. Tapi Kara tak bisa menepati janjinya.
***
“Kamu yakin mau menerima pekerjaan ini?” Laki- laki yang sedang menatap laptop melihat temannya yang mengangguk dengan mantap.
“Jam kerja dua puluh empat jam selama tujuh hari penuh, hanya boleh libur saat diberikan izin.” Laki- laki di depan laptop itu membacakan persyaratan itu keras- keras. “Kamu yakin mau? Mereka akan memeras keringatmu sampai titik darah penghabisan.” Katanya lagi.
“Yakin.” Jawab si pria. “cepat lakukan itu untukku.”
Lelaki yang duduk di depan laptop akhirnya mengikuti perintah sahabatnya. Ia mengutak- atik komputernya, menunjukkan kepiawaiannya sebagai ahli komputer.
“Sudah banyak email yang masuk.” Laki- laki itu menggeleng- gelengkan kepalanya tak percaya. Dugaannya salah, lowongan yang dipasang Karin nyatanya masih banyak peminatnya meskipun persyaratannya tak masuk akal.
***
Kara tak punya keberanian untuk keluar rumah seorang sehingga ia menunda kebiasaannya untuk jogging setiap pagi. Sebagai gantinya, ia menghabiskan paginya di ruang olahraga dan berlari kecil di atas treadmill. Setelah merasakan keringat membanjiri tubuhnya, ia mematikan alat itu dan turun lalu menghampiri sebuah meja kecil di dekat jendela untuk meneguk isi gelasnya.
Ia menatap keluar jendela hingga tiba- tiba sesuatu menghantam jendela itu dengan keras namun tak sampai membuat kaca itu pecah. Kara terpaku, jantungnya berdetak liar karena kaget. Ia melihat sesuatu yang tergeletak di depan kaca bagian luar. Suara langkah kaki terdengar hingga akhirnya securitynya terlihat. Pria itu mengambil benda itu dan menatap Kara sebentar. Kara akhirnya berlari keluar, tak memedulikan Karin yang ada di ruang di tamu bersama seseorang yang menatapnya bingung.
“Biar saja saja pak.” Kata Karin saat melihat satpan rumahnya hendak membukanya. Pria itu mengangguk lalu memberikan benda di tangannya kepada Kara. “Tolong periksa cctv.” Katanya lagi. Pria itu mengangguk lalu meninggalkannya di tempat.
“Ada apa?” Karin menyusul Kara keluar.
Kara membuka lembaran yang melapisi batu itu. Batu cukup besar itu dilapisi foto Kara yang sudah di coret- coret dengan spidol hitam lalu dilapisi lagi dengan sebuah koran.
Karin mengambil koran itu dan menatapnya baik- baik. Ia lalu meninggalakan Kara dan kembali dengan sobekan koran yang lainnya.
Ia menatap keduanya, “ini koran yang membungkus kiriman beberapa hari lalu. Koran yang sama.” Katanya.
Kara mengambil keduanya dan terpaku, koran dengan bagian yang sama “Kesuksesan dibalik Silver Luxury milik Isvari Hendrawan.”
“Aku menemukan koran yang sama di mobil yang menculikku kemarin.” Lirih Kara. Ia dan Karin saling bertatapan.
“Aku akan menyimpannya. Mungkin bisa dijadikan barang bukti. Aku akan menguhubungi pengacara nanti.” Kata Karin. “aku sudah mendapat pengawal untukmu. Dia ada di dalam.”
Kara menghela napas lalu mengangguk. Ia menelan ludah berkali- kali demi meredam detak jantungnya yang masih berdetak cepat. Ia berjalan kembali ke dalam rumah. Melewati ruang tamu, ia hanya melirik sekilas seorang pria yang sedang duduk di ruang tamu lalu masuk ke kamarnya. Selang beberapa detik, ia kembali keluar dari kamar dan menatap pria yang ada di ruang tamunya.
Ia melipat kedua tangannya di depan dadaa lalu berjalan mendekat.
“Ini Petra. Dia akan mulai bekerja besok.” Kata Karin yang baru saja masuk. Pria itu berdiri lalu mengangguk pada Kara. Kara duduk di depannya dan memajukan wajahnya.
“Kamu ingat aku?” tanyanya sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Pria itu tampak berpikir sebentar, ia menatap wajah Kara dengan intens lalu berkata, “Aku menyelamatkanmu malam itu.” Katanya seraya mengingat.
Karin yang baru saja menghubungi pengacara kembali dengan dua cangkir berisi teh yang langsung ditaruh di depan Kara dan Petra.
“Apa dia memenuhi kriteria?” tanya Kara pada Karin yang mengangguk,
“Dia menguasai bela diri, dan bersedia berkerja sesuai dengan jam yang kita tentukan.” Jawab Karin.
“Yang lain tidak memenuhi kriteria?” tanya Kara sambil meminum tehnya.
“Tidak. Tidak ada yang mendaftar selain dia.” Kata Karin.
Kara hampir tersedak, “Tidak ada? Wah, Orang- orang menjadi kaya dengan cepat.”
TBC
LalunaKia