Karin sedang berkutat dengan laptopnya di meja bar yang ada di dapur. Tatapannya terarah sepenuhnya pada layar di depannya. Jari- jari tangannya menari di atas papan ketik.
Petra yang baru saja keluar dari kamar langsung pergi ke dapur. Ia mengisi gelas kosong dengan bubuk kopi dan gula lalu menaruh di bawa kran dispenser dan menekan tombol air panas hingga air itu memenuhi seperdelapan gelas. Ia duduk di samping Karin dan meniup air dalam gelasnya.
“Sedang apa?” tanya Petra. Ia terkadang bingung karena Karin selalu tampak sibuk sedangkan Kara sedang tak ada pekerjaan apapun. Gadis itu tak pernah lepas dari ponsel, tablet dan laptopnya.
“Membuat laporan pengeluaran bulan ini.” Jawab Karin tanpa melepas pandangannya dari layar di depannya. Petra memajukan kepalanya ke arah laptop dan terbelalak saat melihat nominal lebih dari seratus juta rupiah di akhir laporan gadis itu.
“Pengeluarannya sebanyak itu?” tanyanya dengan nada heran. Sebulan ini, Kara banyak menghabiskan waktunya di rumah, tak pernah terlihat berbelanja, hanya punya satu asisten rumah tangga yang hanya bertugas bersih- bersih saat pagi, tiga orang security dan terlihat tak mengeluarkan banyak uang untuk makan sehari- hari.
Karin mengangguk sambil tersenyum. “Kara menjadi donatur tetap di puluhan panti asuhan, panti jompo dan rumah singgah.” Ucap Karin, “dia tampak sederhana karena selalu menyumbangkan uang hasil kerjanya.” Lanjut Karin.
Petra membulatkan mulutnya sambil mengangguk. “Salah satu alasan dia mencintai uang sampai tak pernah berpikir untuk berhenti bekerja adalah karena ia sadar, ia punya banyak tanggung jawab.” Cerita Karin.
“Bukankah dia tidak ada job akhir- akhir ini?” tanya Petra. Ia masih bingung bagaimana Kara masih bisa menghasilkan uang saat tak ada perkerjaan akhir- akhir ini.
“Dia punya beberapa aset, rumah, kos- kosan, gedung, ruko, obligasi, saham dan bisnis waralaba.” Kata Karin, “investasi yang menghasilkan uang setiap bulan yang aku putar untuk menutup pengeluaran bulan ini.” Jelas Karin.
Karin masih sibuk dengan laporannya sedangkan Petra menyesap kopi di sebelahnya saat Kara keluar dari kamar sambil menguap lebar- lebar. Kaki gadis itu melangkah ke dapur dan mengambil gelas dan mengisinya dengan air dari teko lalu duduk di hadapan Karin dan Petra sambil menyesap isi gelasnya.
“Ada beberapa endorse yang masuk.” Karin memberitahu.
“Benarkah?” Kara tersenyum lalu menatap Petra yang sedang tersenyum ke arahnya.
“Iya, ada tawaran untuk web series juga.” Kali ini Karin mengangkat kepalanya dan menatap Kara yang tampak senang. “tapi...” Karin menggantungkan kalimatnya.
“Kenapa?” tanya Kara.
“Ada adengan kissing nya.” Kata Karin. Kara yang sedang minum langsung menyemburkan isi mulutnya, membuat Karin berdecak. Karin mengambil tisu dan menyerahkannya pada Kara. Kara terbatuk lalu menepuk dadanya tiga kali. Ia melirik Petra yang menampakkan raut wajah tak terbaca.
“Tidak bisa negosiasi agar adegan itu dihilangkan atau hanya pura- pura?” tanya Kara.
Kara melihat Karin menggeleng. “Naskahnya sangat bagus. Kamu harus mengambilnya. Lagipula, kamu selalu profesional, adegan itu bukan hal sulit bagimu.” Kata Karin. Ia tahu, Kara termasuk pemilih dalam pekerjaan. Dia hanya mau melakukan adegan- adegan spesial jika suka dengan naskahnya dan yakin bahwa film itu akan sukses.
Kara berdehem, ia tampak berpikir sambil melirik Petra yang tengah menyesap kopinya.
“Ayolah, tak ada alasan kamu menolak tawaran ini.” Karin meyakinkan bahwa web series ini bisa menjadi titik balik hidupnya. Jika web series ini sukses, bukan tak mungkin akan banyak tawaran lain datang kepadanya.
“Aku akan membaca naskahnya dulu.” Kata Kara lalu berdiri dan kembali ke kamarnya.
Petra menatap Kara yang masuk ke kamarnya lalu berbisik pada Karin.
“Memang adegan- adegan seperti itu sungguhan?” tanyanya.
“Ada yang sungguhan. Ada yang hanya tekhnik kamera. Tergantung permintaan sutradara.” Jawab Karin.
“Kara pernah melakukan adegan seperti itu sebelumnya?” tanya Petra lagi.
“Tentu saja. Itu bukti profesionalismenya.”
***
Samuel keluar dari kantornya saat jam menunjukkan pukul lima sore. Ia masuk ke mobilnya dan bergegas menjemput Sandra di kantornya. Wanita itu bersikeras tetap ke kantor setelah semua yang terjadi kemarin. Sekeras apapun Kinan memncoba melarang Sandra, wanita itu tak mendengarkannya. Wanita itu sudah bersiap pagi- pagi sekali dan membuat Kinan terpaksa melepaskan kepergiannya ke kantor.
Kurang dari satu jam, Samuel sampai di kantor Sandra. Ia tersenyum pada resepsionis lalu naik ke lift menuju ruangan Sandra di lantai dua. Kedatangan Samuel bukan hal yang aneh, namun, dulu semua orang mengira bahwa keduanya hanya sebatas rekan kerja, karena perusahaan itu juga beberapa kali menggunakan jasa Samuel untuk beberapa kasus yang terjadi.
Samuel mengetuk pintu ruangan Sandra dua kali lalu menekan handle pintu. Sandra terkejut melihat Samuel yang datang tanpa pemberitahuan. Pria itu tersenyum lalu masuk dan duduk di depan wanita itu.
“Pekerjaanku selesai lebih cepat. Jadi aku mampir.” Katanya pada Sandra.
“Bukankah untuk sementara lebih baik kita tidak bertemu dulu?” ucap Sandra.
“Aku takut sesuatu terjadi padamu.” Kata Samuel. Sandra mengangguk, ia sudah tahu bahwa apa yang terjadi kepadanya kemarin telah tersebar dalam bentuk video. Sandra hanya melihat videonya tanpa melihat bagian komentar. Ia tahu ia tak sanggup. Kekuatan yang sudah ia kumpulkan sejak pagi untuk kembali kantor akan pupus jika ia membaca kolom komentar itu.
“Aku baik- baik saja.” Kata Sandra seraya meyakinkan.
Sandra melanjutkan pekerjaanya hingga jam menunjukkan pukul tujuh malam. Ia mematikan laptopnya dan menatap Samuel yang tengah bermain game di ponselnya. Selama beberapa menit, ia menaruh kedua tangannya di atas meja dan menatap Samuel dengan intens. Ia tersenyum, bagaimana mungkin hanya dengan melihat pria itu, ia bisa merasa bahagia. Samuel bagai candu yang tak akan bisa digantikan dengan apapun. Bagaimana mungkin ia bisa hidup tanpa pria itu.
Tatapan keduanya bersirobok saat Samuel mengangkat wajahnya. “Sudah selesai?” tanya Samuel. Sandra mengangguk lalu bergegas membereskan barang- barangnya. Keduanya keluar dari ruangan. Samuel menarik tangannya saat Sandra menuju ke mobilnya.
“Ayo pulang bersama.” Kata Pria itu. Sandra kebingungan saat Samuel membuka pintu penumpang untuknya.
“Sebaiknya aku pakai mobilku sendiri.” Kata Sandra, ia menatap sekeliling, takut jika kebersamaan mereka kembali terekam.
“Untuk apa aku menjemputmu ke sini kalau kita pulang masing- masing.” jelas Samuel. Ia mendorong pelan bahu Sandra agar masuk ke dalam mobil dan terduduk. Ia menutup pintu penumpang lalu memutar dan melesak di belakang kemudi.
Samuel fokus pada kemudi membelah jalanan yang cukup padat. Sandra melempar pandangan keluar jendela. Ke jalanan yang tampak padat. Lampu- lampu jalanan berpendar dan tampak indah. Tapi ia tahu, bahwa dunia kini tak lagi bersahabat padanya. Dunia menjadi tampak menakutkan dibalik keindahannya. Dunianya tak pernah sama seperti dulu, dan tak akan pernah kembali seperti semula. Ia tahu kesalahannya sudah cukup besar dan mungkin tak termaafkan. Orang kini menilainya sebegai orang jahat yang tega merusak rumah tangga orang lain. Sampai mati, julukan itu akan tersemat padanya.
***
Kara tampak tersenyum membaca naskah yang diberikan Karin padanya. Ia membaca lembar demi lembar dengan fokus. Karin benar, naskah web series ini bagus. Tema dan konfliknya menarik, tidak bertele- tele dan banyak pesan tersirat didalamnya.
Ia menghela napas saat tiba- tiba teringat oleh Petra. Haruskah ia membicarakan ini dengan pria itu, atau langsung mengambil keputusan untuk menerima tawaran ini.
Kara mengangkat wajahnya saat pintunya di ketuk dan wajah Petra menyembul di baliknya. Petra mendekat dan duduk di samping Kara, di sofa ruang baca.
“Bagaimana naskahnya?” tanya Petra sambil melirik bundelan kertas yang dipegang Kara.
“Bagus.” Jawabnya.
“Kamu akan menerimanya?” tanya Petra lagi.
“Bagimana menurutmu?” Kara balik bertanya.
Petra tampak berpikir sejenak, lalu berujar. “Aku tidak suka melihatmu melakukan adegan mesra dengan pria lain. Tapi itu bagian dari pekerjaanmu.”
Kara terkekeh. Dilihatnya wajah polos di sebelahnya. Ia mencubit pipi pria itu. “haruskah ku tolak?” tanya Kara, “uangku masih banyak untuk menopang hidup sampai satu tahun ini.” Lanjutnya sambil tersenyum.
“Jangan. Aku tahu bagaimana kamu mencintai uang.” Ujar Petra, “kamu juga pasti sudah bosan karena terlalu lama di rumah.”
“Dulu aku mencintai uang, sekarang aku lebih mencintaimu.” Kara kelepasan. Ia mendadak terdiam lalu menunduk sambil menggaruk kepalanya.
Petra tersenyum lalu mengambil dagu Kara menciumnya sekilas. “Ambil saja, aku akan meminta kenaikan gaji bulan ini.” Kata Petra sambil tersenyum.
Kara berdecak, tapi tak urung mengulum senyum. Dilihatnya wajah penuh senyum pria itu. Pria yang senyumnya terasa seperti oasis di padang gurun. Wajah Petra sudah pulih sepenuhnya. Luka di tubuh pria itu juga mulai mengering dan seperti kata Petra, tak perlu ada yang dikhawatirkan.
“Boleh aku baca?” Petra melirik naskah dalam genggang Kara. Gadis itu menyerahkan bundelan kertas pada pria di sebelahnya dan membiarkan Petra membacanya.
Petra membaca halaman demi halaman, tangannya membalik tiap lembar dan tampak serius membaca naskah skenario di tangannya.
“Aku iri pada aktor utamanya.” Kata Petra yang langsung membuat Kara mengulum senyum. Wajah cemburu Petra membuat gemas sehingga ia mencubit pipi Petra dengan kedua tangannya.
***
Samuel keluar dari kamar mandi dan tak menemukan Sandra di dalam kamar. Ia keluar dari kamar dan melihat wanita itu tengah berada di dapur. Ia mendekat dan memeluk Sandra dari belakang dan mencium wangi rambutnya.
“Masak apa?” tanyanya.
“Aku menghangatkan spagheti yang dibuat Kinan kemarin.” Jawabnya. Samuel membalik tubuh Sandra dan mematikan kompor yang masih menyala.
Samuel menatap Sandra. Tangannya terulur untuk menyelipkan rambut kebelakang telinga wanita itu. “Aku merindukanmu.” Lirihnya. Ia memajukan wajahnya dan mencium bibir Sandra. Sandra memejamkan mata, mengalungkan kedua tangannya di leher Samuel dan membalas ciumannya. Kedua bibir itu bertaut. Memberitahu keduanya bahwa keduanya saling merindukan dan saling membutuhkan.
Samuel melepaskan ciumannya dan mengusap bibir Sandra yang memerah. Ia tersenyum lalu menaruh tangannya di leher dan belakang lutut wanita itu lalu membopong wanita itu ke kamar.
TBC
LalunaKia