Dokter bilang Sandra terkena tifus dan mengharuskannya untuk di rawat selama beberapa hari. Kara menatap wajah Sandra yang seputih kapas. Sebelah tangannya mengambil piring di atas nampan yang baru saja di berikan oleh perawat rumah sakit.
“Ayo makan.” Pinta Kara dengan nada memohon. Sandra menggeleng pelan.
“Aku tidak lapar.” Lirih Sandra.
Kara merasakan sesak di dadanya. Sandra yang dikenalnya begitu energik kini menjadi orang yang seperti tak punya gairah hidup. Sekeras apapun wanita itu bilang bahwa ia baik- baik saja. Semua orang tahu bahwa ia berbohong. Ia melihat wanita itu terluka, stress, hingga sampai sakit seperti ini.
“Kamu harus makan supaya cepat sembuh.” Desak Kara. Sandra tersenyum kecil.
“Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau aku tidak punya kalian.” Lirih Sandra sambil mengangkat tubuhnya agar terduduk di ranjang.
“Ayo kembali sehat dan lewati semuanya.” Kata Kara. Ia mengarahkan sendok ke mulut Sandra. Sandra tersenyum lalu membuka mulutnya dan memproses makanan yang masuk ke mulutnya.
“Setelah semua yang terjadi. Aku bahkan tak merasa menyesal. Bukankah aku begitu jahat?” kata Sandra setelah menghabiskan isi piringnya.
“Kenapa kamu jahat? Kamu tak menyakiti siapapun. Kita tahu bahwa Priska sama sekali tak mencintai Samuel.” Ucap Kara. “kalau saja Priska mau melepaskan Samuel, ini semua tidak akan terjadi.”
“Samuel pasti mengalami kesulitan karena berita ini.” Lirih Sandra.
“Aku yang harusnya meminta maaf padamu. Orang yang memberikan berita tentang hubungan kalian ke wartawan, kemungkinan orang yang sama dengan orang di balik semua yang terjadi padaku.” Kara menggenggam tangan Sandra. Memberitahukan wanita di depannya bahwa ia menyesal dengan apa yang terjadi.
“Karena kamu atau bukan. Suatu saat ini pasti akan terjadi. Aku memulai hubungan yang salah dengan Samuel. Semua ini kesalahanku.” lirih Sandra.
***
“Kumohon, ayo kita bercerai.” Kata Samuel dengan nada memohon. Priska yang ada di depannya tersenyum sinis.
“Kamu benar- benar tak mau melepaskan perempuan itu?” ia melipat kedua tangannya di depan d**a. Dilihatnya pria di depannya yang tampak frustrasi. Pria itu tampak berbeda dari biasanya. Rambut pria itu acak- acakan dengan dasi yang sudah dilonggarkan dan dua kancing kemeja teratas yang terbuka.
“Ayo berhenti saling menyakiti.” Pinta Samuel. Ia sudah tidak sanggup lagi. Ia menjatuhkan lututnya di lantai dan menunduk. Menunjukkan pada Priska bahwa dirinya tidak main- main dan akan melakukan apapun agar wanita itu bersepakat untuk bercerai dengannya.
Priska mendecih melihat Samuel berlutut di depannya. Ia tidak menyangka bahwa pria itu benar- benar ingin memperjuangkan cintanya dengan Sandra. Setelah semua yang terjadi, keduanya memilih untuk bertahan.
“Silahkan ajukan gugatan cerai kalau kamu mau kehilangan semua harta mu.” Kata Priska, “ayo lihat apakah wanita itu masih mau menerimamu saat kamu tidak punya apa- apa.” Kata Priska dengan nada mengejek.
Priska melihat bahu pria di depannya melemas. Sampai mati, ia tidak akan pernah mengabulkan perceraian yang diinginkan Samuel. Kalau pria itu mau, ia bisa menggugat dirinya dan harus bersiap kehilangan semua aset- asetnya.
Priska menatap Samuel dengan tatapan tidak peduli lalu berdiri dan melangkah meninggalkan pria itu. Ketukan high heelsnya yang menyentuh lantai tiap ia melangkah menggema di ruangan itu. Kedua tangan nya mengepal hingga buku- buku jarinya memutih. Giginya gemelutuk menahan amarah yang sudah menguasainya dan membuat kepalanya sakit.
***
Paginya, Karin datang dengan setumpuk dokumen di tangannya. Ia menyerahkan dokumen itu pada Sandra. Sandra membolak- balik dokumen itu dan membubuhkan tanda tangannya di akhir dokumen.
“Kamu harus cepat sembuh. Bayangkan perusahaan itu tanpa dirimu.” Ucap Kara. Sandra tersenyum, masih fokus pada dokumen- dokumen yang harus di tanda- tanganinya.
“Pulanglah. Aku akan menjaganya.” Kata Karin pada Kara dan Petra yang masih berada di sana, “Kinan akan menyusul setelah menjemput Raihan.” lanjutnya.
Kara menatap seseorang di ranjang yang wajahnya sudah mulai segar. Ia mengangguk lalu berpamitan pada Sandra. Ia memeluk wanita itu dan mendoakan agar wanita agar lekas sembuh.
Berita mengenai hubungan terlarang Sandra dan Samuel masih ramai di media sosial. Seperti biasa, semua wartawan berbodong- bondong mencari tahu sosok Sandra lebih dalam demi bahan beritanya.
Profil Sandra Winaya, wanita yang diduga menjadi selingkuhan Samuel Chandramawa.
Sepuluh potret Sandra Winaya, bisniswoman yang diduga menjalin affair dengan Pengacara Kara Karenina.
Mengintip restoran milik Sandra Winaya. Sahabat Kara yang terlibat skandal perselingkuhan dengan seorang pengacara.
Adu gaya Sandra dan Priska, dua wanita dalam hidup Samuel Chandramawa.
Semua portal media tak henti- hentinya menuliskan berita tentang Sandra hanya untuk meraup keuntungan, dan memancing orang- orang berkomentar jahat terhadap wanita itu. Para penulis berita itu memberi lahan pada semua orang untuk menumpahkan kekesalannya pada Sandra.
Sandra tak diperbolehkan memegang ponselnya, ataupun menonton televisi. Sandra mengerti maksud baik sahabat- sahabatnya. Tapi ia tak bisa mengenyahkan pikirannya dari komentar- komentar buruk yang sempat terbaca olehnya.
Sandra pernah nyaris gila saat mendapat kekerasan fisik dan psikis dari mantan suaminya, dan kejadian ini juga nyaris membuatnya gila jika tak ada sahabat- sahabat di sekelilingnya.
Sejak berita hubungannya tersiar, Sandra tak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Dia kerap gelisah memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi ke depannya. Dia tak bisa berhenti berpikir bahwa kini semua orang membencinya. Bahwa semua hujatan yang dilontarkan padanya memang pantas ia dapatkan. Berita itu merampas setengah hidupnya. Kesuksesan yang selama ini ia bangun tak ada artinya. Orang kini menilainya tak lebih dari wanita perusak rumah tangga orang.
Sandra mengalami malam- malam panjang yang begitu menyesakkan d**a. Ia masih terjaga saat Karin dan Kinan terlelap di sofa tak jauh ranjangnya. Ia menatap selang infus yang terpasang di lengannya. Pintu kamar yang terbuka membuatnya menoleh. Ia melihat wajah Samuel di baliknya. Ia tersenyum saat pria itu mendekat ke arahnya.
“Bagaimana keadaanmu. Maaf baru sempat datang.” Kata Pria itu sambil duduk di tepi ranjang. Ia menunjukkan raut wajah penuh penyesalan.
“Tidak apa- apa.” Sandra memeluk Samuel, ia merasakan tangan pria itu mengusap rambutnya pelan. Sejak memutuskan untuk memberikan hatinya pada Samuel, ia tahu bahwa sampai mati, ia mungkin akan terus bergantung pada pria itu. Pria itu telah mengambil seluruh ruang di hatinya yang pernah begitu kosong. Pria itu mengambil kendali akan hidupnya. Entah sejak kapan, Sandra tersadar bahwa ia tidak akan sanggup melepas pria itu, bahkan setelah semua yang terjadi.
Sandra tak sanggup membayangkan hidupnya tanpa pria itu, ia juga tak ingin membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika ia tetap memutuskan untuk bersama pria itu. Tapi yang ia tahu, ia membutuhkan pria itu.
“Kamu sudah makan? aku membawa makanan.” Samuel melirik plastik yang ia taruh di atas nakas.
Sandra melepas pelukannya. “Karin dan Kinan tidak membiarkanku mengosongkan perut.” Sandra tersenyum lalu melirik kedua sahabatnya yang ada di sofa.
“Aku bersyukur kamu memiliki mereka.” Ucap Samuel. Sandra mengangguk setuju. Ia tak pernah berhenti bersyukur bahwa ia di kelilingi orang- orang yang begitu baik dan tulus.
Samuel dan Sandra tak membicarakan apa yang terjadi di luar. Keduanya membicarakan hal- hal menyenangkan lainnya. Samuel tak ingin membuat Sandra semakin terbebani dengan pemberitaan di luar. Ia juga tak memberitahu apa yang terjadi padanya. Desakan istri dan keluarganya untuk meninggalkan Sandra. Desakan untuk kembali pada Priska yang bahkan dari awal tak pernah menerimanya.
***
Petra keluar dari kamar dan terkejut melihat Kara sudah ada di dapur. Gadis itu berdiri di depan kompor, sibuk dengan pan dan sutil dalam genggamannya.
“Selamat pagi.” Petra memeluk Kara dari belakang dan mengecup belakang kepalanya.
Kara tersenyum. Dadanya tiba- tiba menghangat.
“Tidurmu nyenyak?” Kara membalik tubuh dan menatap wajah Petra yang sudah pulih dari lebam.
“Tidak senyenyak saat tidur bersama mu.” Jawab Petra. Kara tertawa kecil. “kamu membuat apa?” tanya Petra.
“Sandwich untuk sarapan.” Kara kembali membalik badan dan mengangkat dua buah sandwich dari pan. “aku sudah terlalu lama bergantung pada Karin.” Kata Kara sambil menaruh piring di atas meja. “aku bingung saat terbangun dan tak ada apapun di atas meja.” Gadis itu tertawa.
Petra menyesap air yang baru saja ia tuang dari teko, masih tak melepas pandangannya dari gadis yang ada di depannya.
Setelah kepergian Kamila, ia pikir ia tidak akan pernah mencintai lagi. Tuhan tahu betapa ia mencintai Kamila dan tak pernah ingin menggantikannya. Ia tak pernah berharap akan kembali merasakan cinta, ia pikir mencintai Kamila sudah lebih dari cukup. Ia pikir, ia tak pantas kembali menjalin kasih setelah apa yang terjadi dengan Kamila. Setelah dibayang- bayangi penyesalan karena kematian Kamila, kini ia selalu berpikir bagaimana jika apa yang terjadi dengan Kamila, terulang lagi pada Kara. Bagaimana jika ia kembali gagal melindungi gadis itu.
Awalnya, Petra pikir ia hanya kasihan pada Kara. Ia pikir ia bisa fokus pada tujuannya untuk menemukan pembunuh Kamila. Tapi, ia sadar bahwa semakin lama, ia makin terperosok jauh dari tujuannya. Perasaan untuk gadis itu semakin lama semakin bertumbuh tanpa bisa ia kendalikan. Dorongan untuk melindungi gadis itu begitu kuat sehingga ia siap mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan gadis itu.
Tapi, Kamila masih kerap muncul di mimpinya. Kenangan- kenangan manisnya bersama Kamila masih terus terbayang di pikirannya. Tawa, senyum bahkan tangis Kamila masih terpatri jelas di otaknya. Tak ada satu inci dari tubuhnya yang bisa Petra lupakan. Semua tentang Kamila masih terasa jelas, seperti Kamila belum lama meninggalkannya. Suara Kamila masih sering terdengar, seperti dengan sengaja dibisikkan ke telingannya. Semua kadang berputar seperti roll film. Kamila masih memegang kendali dalam alam bawah sadarnya. Apakah itu artinya Kamila tak menginjinkannya bersama Kara?
“Ini hanya roti tawar yang di isi telur dan sayuran. Harusnya rasanya sama enaknya dengan buatan Karin.” Kata Kara sambil mengambil satu tumpuk roti isi itu dari piring. Petra tersenyum simpul lalu mengambil satu, mengigit dan mengunyahnya.
Keduanya tersenyum, “aku bangga bisa membuat ini.” Ujar Kara sambil terus mengunyah.
“Kamu pasti bisa lebih dari ini.” Kata Petra.
Kara menyesap cokelat hangat daLam gelasnya setelah menghabiskan roti isinya.
“Haruskah aku kursus memasak?” tanya Kara, “aku tak punya kegiatan akhir- akhir ini.”
Petra tertawa mendengar keinginan Kara. Ia menyesap isi gelasnya dan berujar. “Jangan melakukan sesuatu karena terpaksa. Kamu tidak harus ikut kursus jika hanya ingin bisa masak.”
“Benar. Banyak resep- resep di platform online. Aku hanya tinggal mengikutinya.” Ucap Kara. Ia menaruh kedua sikunya di atas meja lalu menopang wajahnya dengan kedua tangannya. “apa makanan kesukaanmu?” tanya pada Petra yang duduk di depannya.
“Aku suka semua masakan yang dibuat Kam…” Petra tak menyelesaikan kalimatnya karena tahu bahwa seharusnya bukan kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Ia menatap Kara yang air wajahnya berubah seketika.
Petra berdehem, “maaf…”
“Tidak apa- apa.” Potong Kara. Ia mencoba tersenyum lugas seakan apa yang barus aja keluar dari mulut Petra bukan sesuatu yang salah. Gadis itu mengalihkan pembicaraan dan mencoba mencairkan kembali suasana yang sempat tegang, seperti senar gitar yang ditarik begitu kencang dan siap putus.
TBC
LalunaKia