CHAPTER DUA PULUH SEMBILAN

1428 Words
            “Kamu jadi menemui wartawan itu?” tanya Kinan saat melihat Kara sudah rapi pagi- pagi sekali.             “Aku harus menemuinya.” Kata Kara sambil mengangguk. Setelah menyelesaikan sarapan, Kara mengambil tasnya yang ada di atas sofa..             “Hati- hati. Semoga ini bisa menjadi titik terang.” Kata Kinan sambil memeluk Kara SEKI             Ia berpamitan pada Kinan dan Karin lalu bergegas menuju kantor wartawan tersebut bersama Petra. Karin sudah membuat janji terlebih dahulu dan pria itu menyanggupi bertemu dengannya di kantornya             “Menurutmu, kita bisa mendapat informasi dari wartawan itu?” tanya Kara pada Petra. Ia sendiri tidak yakin apakah keputusan yang tepat untuk menemui wartawan itu. Apakah wartawan itu bisa memberikan informasi yang bisa membantunya.             “Kita tidak punya pilihan lain selain mencobanya.”             Keduanya sampai di kantor wartawan itu kurang dari satu jam. Sesaat setelah mereka melewati pintu kaca itu, hampir semua mata menatap ke arah mereka.  Petra bahkan menghampiri salah satu orang yang mencoba mengambil gambar mereka secara diam- diam. Setelah memastikan orang itu menghapus foto yang baru saja diambilnya dari ponselnya, ia dan Kara dipersilakan menunggu di sebuah ruangan di lantai empat oleh si resepsionis.             Kara dan Petra menunggu sekitar lima menit hingga pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan sosok seorang pria dengan kemeja bergaris, celana bahan dan sepasang pantofel yang tampak mengkilat. Pria itu menjabat tangan Kara dan Petra secara bergantian. Kara tak berbasa- basi. Ia langsung menanyakan dari mana pria itu mendapat berita- berita tentang perselingkuhan Sandra dan Samuel, juga berita- berita yang mengungkit privacynya selama ini.             “Saya tidak tahu. Amplop itu di kirim kepadaku dan tidak ada nama pengirimnya.” Kata pria itu. Kara menatap pria itu baik-baik. Ia tidak tahu apakah pria di depannya berkata jujur atau berbohong padanya.             “Saya akan memberikan berita esklusif lainnya jika anda mau memberitahu siapa di balik berita- berita yang anda tulis.” Kara melihat pria di depannya menghela napas.             “Saya hanya menerima berita itu dan memublikasikannya. Amplop yang saya terima tak ada nama pengirimnya.” Jawab Pria itu.             “Anda bisa memublikasikan berita yang entah datang dari mana dan entah benar atau tidak.” Kara mencibir sambil menatap pria di depannya. Menunjukkan pada pria di depannya bahwa ia begitu menjijikan. Mengisi perut dengan mengorbankan orang lain.             “Tapi kenyataannya, semua berita- berita itu nyaris benar. Waktu yang akan membuktikan bahwa berita itu benar adanya.” Katanya penuh percaya diri.             “Kamu tahu dampak dari berita yang kamu publikasikan?” tanya Kara sambil menahan geram.             “Aku hanya melakukan apa yang menjadi tugasku.”             Perdebatan mereka tak menemukan titik temu. Wartawan itu bersikukuh bahwa ia tidak pernah tahu siapa dibalik berita- berita yang ia tulis, sedangkan Kara berpikir bahwa pria itu berbohong padanya. Hingga akhirnya wartawan itu memberikan amplop- amplop itu sebagai bukti pada Kara. Dalam amplop cokelat besar itu hanya tertulis nama penerima dan alamat kantor. Seperti perkataan pria itu, sama sekali tak ada nama pengirim.             Kara membuka salah satu amplop itu dan menemukan foto- foto dirinya dan ibunya di rumah sakit, lengkap dengan narasi yang ditulis dalam satu lembar penuh. Dalam amplop lainnya, ia melihat foto-foto Sandra dan Samuel di lorong apartemen, juga lengkap dengan narasi dalam satu lembar kertas.             Kara menghela napas, mengutuk karena lagi- lagi ia menemui jalan buntu.             “Begini saja. Bisa kita meminta rekaman CCTV untuk melihat orang yang mengirim amplop- amplop ini?” pinta Petra.             Ketiganya pergi ke ruang CCTV untuk melihat siapa yang mengirim amplop- amplop itu. Pria berjaket hitam itu mengingatkan Petra dengan kurir yang mengantar paket teror untuk Kara. Dan saat melihat sorot mata pria itu, ia yakin bahwa mereka orang yang sama. Setelah mengikuti pria itu hingga ke CCTV yang ada di parkiran, Petra sadar bahwa plat nomor kendaraan bermotor itu sama dengan plat yang mengirim paket teror ke rumah Kara. Motor yang Gerald yakin masuk ke salah satu rumah di deretan rumah Kara.             Ketiganya lalu pergi menuju resesionis untuk mengecek buku yang mencatat kiriman-kiriman untuk Karyawan. Kiriman untuk wartawan itu tertulis, Frans pada kolom pengirim.             “Jika ada kiriman amplop untukku lagi, tolong konfirmasi siapa pengirimnya, dan mintakan KTP yang mengantar.” Kata Prasetya pada resepsionisnya. Wanita itu mengangguk tanda mengerti.             Kara berdecak, “Seharusnya kamu melakukan itu saat pertama kali mendapat kiriman itu.”             Prasetya terdiam, tak ingin menimpali kata-kata Kara.             “Saya berharap suatu saat kamu berada dalam posisi orang- orang yang sudah kamu sakiti. Seharusnya kamu malu makan dari uang yang kamu dapatkan dari menyakiti orang lain.” Kara menatap tajam Prasetya lalu berlalu dari pandangan pria itu.   ***   “Kara, apakah mungkin kamu kenal tetangga- tetanggamu?” tanya Petra dalam perjalanan pulang. Kara yang sedang menatap jalanan menoleh ke sebelahnya. “Tidak. Memangnya kenapa?” tanya Kara. “aku tidak mungkin kenal tetangga jika gerbang rumah mereka sebegitu tingginya.” Petra mengangguk memaklumi. “Ada apa memangnya?” tanya Kara lagi. Ia menatap Petra baik- baik namun pria itu memilih menggeleng pelan. “Tidak apa-apa.” Jawabnya cepat. Keduanya mampir ke rumah sakit untuk memerikasakan kembali luka Petra. Kara meringis saat melihat suster membuka perban pria itu. Kara menatap Petra yang duduk di tepi ranjang baik-baik. Wajah pria itu sudah hampir pulih. Hanya menyisakan bekas keunguan yang mungkin akan menghilang dalam beberapa hari. Ia masih tidak menyangka akan dipertemukan dengan pria itu. Bagaimana mungkin orang yang baru mengenalnya beberapa bulan rela mempertaruhkan nyawa demi dirinya. Dirinya yang bukan siapa- siapa. Pria itu seakan tak takut pada apapun. Sudah tidak terhitung berapa kali pria itu menyelamatkannya. Jika tak bertemu dengan Petra, ia tak yakin apakah ia bisa melewati semua ini. Petra adalah salah satu alasan kenapa ia masih bisa bertahan saat ini. Petra menyakinkannya bahwa selama ia berada di samping pria itu, ia akan baik-baik saja.             Keduanya kembali ke apartemen setelah sebelumnya mampir ke restoran untuk membeli makanan. Kara menaruh plastik berisi makanan itu di atas meja lalu menatap wajah murung Karin dan Kinan yang duduk di ruang tamu. “Ada apa?” tanya Kara, ia menatap sekeliling dan mencari keberadaan Sandra.             “Dia masih di kamar.” Kinan menjawab pertanyaan Kara.             “Sandra membuka ponselnya tadi dan membaca komentar- komentar di instagramnya.” Lirih Karin.             “Bukankah sudah kubilang, jangan sampai dia menyentuh ponselnya ataupun menonton televisi.”             “Kita kecolongan.” Kata Kinan, “aku sedang di kamar mandi sedangkan Karin membuat sarapan di Dapur.”             Bahu Kara melemas, ia menyandarkan punggungnya di sofa.             “Komentar-komentar itu menakutkan.” Kinan menggeleng-gelengkan kepalanya saat ia mengingat apa yang ia baca di kolom komentar i********: Sandra.             Cantik, tapi perusak rumah tangga orang.             PELAKOR.             Merawat diri untuk melacur.             Sukses aja belum cukup sampai harus menggoda suami orang.             Lugu-lugu b*****t.             Masih hidup? Bunuh diri saja. Mempermalukan diri dan keluarga, lebih baik mati.             Wanita menjijikkan.             Bisa-bisanya menyakiti sesama wanita. Apa sudah tidak punya hati.             p*****r.             Dan masih banyak komentar-komentar yang lebih menyakitkan. Kinan tak sanggup  membacanya sehingga ia langsung menaruh ponsel Sandra di laci meja dan menguncinya.             Kara berdiri lalu mendekat ke kamar dan membuka pintunya pelan. Wanita itu masih bergelung di bawah selimutnya. Ia mendekat lalu duduk di tepi ranjang. Mata wanita itu terpejam. Bibir Kara bergetar melihat mata Sandra yang bengkak. Ia tahu seberapa banyak wanita itu menangis. Ia seperti melihat cerminan dirinya berminggu- minggu lalu             Kara memegang dahi wanita itu dan merasakan panas langsung menjalar di telapak tangannya.             “Panas sekali.” Liriknya. “Sandra... kamu sakit?” tanyanya, mata yang terpejam itu perlahan terbuka. Wanita itu menggeleng dengan susah payah.             “Ayo ke dokter.” Ajak Kara. Sekali lagi wanita itu menggeleng pelan.             “Aku tidak apa- apa.” Sandra melirih dengan suara yang nyaris tidak terdengar.             Kara tak bisa membiarkannya, ia kembali ke ruang tamu untuk memberitahu sahabatnya bahwa Sandra sakit.             Ketiganya panik. Petra langsung membopong tubuh Sandra karena Sandra sudah tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Mereka langsung pergi ke rumah sakit terdekat dengan mobil yang sama.             “Kita harus bergantian jaga. Kalian pulang lebih dulu. Biar aku dan Petra yang menjaganya hari ini.”             Karin dan Kinan mengangguk setuju.             “Besok pagi aku akan mampir ke kantor Sandra untuk mengambil dokumen yang perlu ditanda tanganinya sebelum ke sini.” Kata Karin. Kara mengangguk setuju. Restoran harus tetap berjalan meski Sandra di rumah sakit.             “Bilang saja kalau kalian perlu sesuatu. Aku akan mengantarkannya.” Kata Karin lagi.             Kara menatap punggung keduanya hingga menghilang dari pandangannya.             Kara menatap Sandra yang sedang di periksa oleh dokter. Wanita itu sudah diambil darahnya oleh perawat untuk di cek dilaboraturium.             Dokter paruh baya berkacamata itu mengecek detak jantung Sandra dengan stetoskop. Lalu menekan beberapa bagian perutnya. Setelahnya ia mengarhaan senter kecilnya ke kedua mata Sandra dan ke dalam mulutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD