Kara memeluk Sandra dengan erat sesampainya ia di apartemen wanita itu. Karin dan Kinan sudah ada di sana lebih dulu. Saat Kara bertanya bagaiamna bisa foto- foto itu tersebar, Sandra tak bisa menjawabnya. Ia juga bingung bagaimana mungkin hubungannya dengan Samuel bisa terekspos hingga diberitakan di televisi.
Sesaat setelah berita itu di ekspos oleh salah satu stasiun televisi, ponsel Karin ikut berdering, beberapa wartawan meminta klarifikasinya apakah berita itu benar, mereka berpikir bahwa mungkin Kara dan Karin tahu hubungan keduanya.
Karin tak menjawab telepon dan membalas pesan yang masuk. Ia langsung pergi ke apartemen Sandra untuk mengecek keadaan wanita itu.
Sandra masih bisa tersenyum di hadapan sahabat- sahabatnya. Wanita itu seperti tak terpengaruh oleh berita buruk dirinya yang sudah tersebar. Wanita itu seakan tak peduli bahwa kini dirinya dijadikan ikon perselingkuhan dan tengah dibicarakan oleh semua orang.
Semua orang menyerbu akun media sosialnya untuk memberikan hujatan, meski mereka tak pernah tahu berita itu benar atau tidak. Tak hanya Sandra, Kara pun sama. Tak sedikit orang yang meninggalkan makian di kolom komentar akun media sosialnya. Mereka mengganggap Kara dan Sandra sama, Kara lahir dari rahim seorang wanita yang merebut suami orang, begitu juga dengan Sandra yang memilih jalan untuk menjadi perusak rumah tangga orang. Mereka menganggap keduanya pantas berteman karena keduanya sama- sama berada di level yang sama.
“Aku tahu suatu saat ini pasti terjadi.” Kata Sandra. “aku akan menerimanya karena ini kesalahanku.” Katanya lagi, memberitahu sahabatnya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Apa kamu merasa akhir- akhir ini ada orang yang mengikutimu?” tanya Kara. Sandra mengangkat bahu.
“Aku tidak tahu. Aku tak merasa ada yang aneh dan mencurigakan sampai berita itu tersebar.”
“Bukankah orang yang mengambil gambar pasti tinggal di lantai ini juga? Untuk naik ke lantai ini, kita harus mempunyai akses.” Kata Kinan. Semua yang ada di sana mengangguk. Kinan, Karin dan Kara bisa bebas pergi ke unit Sandra karena mereka juga memiliki unit di lantai yang sama meski tak di tempati.
“Mungkin. Tapi aku sama sekali tak tahu siapa. Aku tak pernah siapa tetanggaku.” Kata Sandra.
Mereka semua memutuskan untuk menemani Sandra di apartemen itu sampai keadaannya mulai membaik. Kantor Sandra dikepung wartawan, semuanya seakan tak mau terlewat berita yang akan sangat menguntungkan mereka.
Sejak munculnya berita itu, Samuel hanya memberi kabar satu kali pada Sandra, ia bilang pada Sandra untuk tetap di rumah apapun yang terjadi. Pria itu berjanji akan menemuinya secepatnya.
“Sandra sudah tidur.” Kinan keluar dari kamar, “dia bilang baik- baik saja, tapi tak ada makanan yang masuk ke perutnya.” Kinan menghempaskan tubuhnya di sofa, tepat di samping Karin.
“Aku paham bagaimana perasaannya. Jangankan untuk makan, bernapaspun terasa sulit.” Kata Kara. Kara tahu rasanya, ia sudah mengalaminya berakali- kali. Saat semua orang yang bahkan tak mengenalnya dengan baik menggunakan jari- jarinya untuk mengomentari hidupnya, mengeluarkan sumpah serapah ataupun memakinya dengan kata- kata kasar. Orang yang bahkan tak pernah bertemu dengannya bersikap solah- olah ia tahu semua tentang dirinya. Entah sejak kapan, Kara merasa bahwa seseorang dan media sosial adalah padanan yang pas untuk menjatuhkan mental seseorang.
Mereka yang menggunakan jari mereka untuk berkomentar buruk di media sosialnya tak pernah sadar bagaimana kata- kata mereka begitu menyakitkan. Mereka tak sadar bahwa jari- jari mereka adalah belati dalam bentuk lain. Selain lidah, kini jemari bisa menjadi sesuatu yang mematikan.
***
Karin masuk ke unit apartemen dengan kantong plastik yang baru saja ia ambil dari lobi. Ia mengeluarkan empat buah cup berisi kopi dan menaruhnya di atas meja. Sebelah tangan Kara, Kinan dan Petra mengambil cup itu dari meja dan menyesapnya pelan.
“Kamu yakin tak perlu di rawat di rumah sakit?” Karin bertanya pada Petra yang duduk di depannya. Petra menggeleng pelan sambil menyesap kopinya.
“Lukamu terlihat parah.” Kata Kinan. Ia menatap wajah Petra yang penuh lebam biru. Kara ikut menatap dan merasakan hatinya mencelos.
“Ini akan membaik dalam beberapa hari.” Jawab Petra. Ia tersenyum simpul, memberitahukan bahwa tak ada yang perlu di khawatirkan.
“Dua orang itu, benar- benar ditembak di kepalanya?” tanya Kinan pada Petra. Ia sempat membaca berita dan kaget saat tahu ternayata penjahat itu ditembak mati sesaat setelah ditangkap polisi.
“Iya, polisi hanya menemukan dua senjatanya.” Jawab Petra. Karin dan Kinan menggeleng- gelengkan kepalanya.
“Bukankah mereka keterlaluan. Sampai kapan mereka mau membunuh anak buah mereka sendiri.” Kata Karin. Kinan mengangguk setuju.
“Mereka ingin semua bersih dan tidak meninggalkan jejak.” Jawab Petra. “mereka akan terus begitu kalau anak buahnya tertangkap.”
Kinan bergidik ngeri. “dari mana di menemukan orang- orang yang bisa- bisanya rela mati demi dirinya.” Kata Kinan. “tidak mungkin hanya karena uang.”
Kara mengangguk setuju, “aku pernah menawarkan uang pada orang yang itu menculikku, tapi mereka bilang, mereka tak menjual kesetiaannya pada orang lain.” Kara memberitahu. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a dan menyandarkan punggungnya di sofa.
“Mungkin mereka tidak tahu kalau akan dibunuh jika sampai tertangkap.” Kata Petra.
“Tapi dari kejadian wanita yang menaruh anting di tas Kara, yang dibunuh sesaat sebelum tertangkap oleh polisi, harusnya anak buah lain berpikir bahwa mereka kemungkinan akan mengalami hal yang sama.” Karin memberikan pendapatnya.
Petra mengangkat bahu, “kita tidak pernah tahu apa yang orang itu berikan pada anak buahnya.”
“Aku harap polisi segera menangkapnya.” Kata Kinan. “orang itu benar- benar menakutkan.” Kinan tak sanggup membayangkan jika menjadi Kara. Bangun pagi dengan kenyataan bahwa ada orang gila yang mencoba membunuhnya, dan tidur dengan bayangan orang itu yang masih terus berkeliaran.
***
Samuel datang ke apartemen saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Petra yang membuka pintu. Samuel cukup terkejut mendapati keadaan Petra. Pria itu menanyakan bagaiman keadaannya dan Petra menjawab bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Samuel bergabung dengan yang lainnya dan langsung menanayakan keadaan Sandra.
“Dia baru saja tidur.” Kata Kinan.
“Dia tak makan apapun seharian. Kamu sebaiknya membujuknya untuk makan.” Karin berdiri dan bergegas ke dapur dan kembali dengan piring berisi nasi dan lauk. Piring itu berpindah tangan, Samuel masuk ke kamar.
Samuel menaruh piring yang ia bawa di atas nakas. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Sandra yang tertidur. Sebelah tangannya terulur untuk menelusurkan jarinya ke wajah wanita itu. Wanita yang begitu dicintainya. Mata yang terpejam itu perlahan terbuka.
“Samuel.” Lirih Sandra. Wanita itu bangun dan duduk di atas ranjang.
“Karin bilang kamu belum makan seharian ini.” Samuel hendak mengambil piring yang diletakkannya di meja saat Sandra memeluk tubuhnya. Samuel merasakan tubuh wanita itu bergetar, dan isakan kecil terdengar.
Ia melepas pelukannya lalu menatap Sandra dan mengusap air matanya. “Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji.” Katanya. “sekarang, kamu harus makan supaya tetap sehat.”
Samuel mengambil piring dan mengisi sendok dengan nasi dan lauk lalu mengarahkannya ke mulut Sandra. Sandra membuka mulutnya, mengunyah dan memaksakan nasi itu masuk ke perutnya. Suapan demi suapan hingga isi piring itu tandas.
“Kamu baik- baik saja?” tanya Sandra pada Samuel yang mengangguk pelan. Sandra tahu, dibanding dirinya yang sudah tak punya siapa- siapa, berita ini pasti memengaruhi reputasi pria itu sebagai pengacara, juga keluarganya. Pria itu harus menghadapi keluarganya, istrinya hingga keluarga istrinya. Banyak yang harus pria itu pertanggung jawabkan atas perbuatan keduanya.
“Aku minta maaf. Kamu pasti begitu terluka.” Kata samuel. Sandra menggeleng. Ia seharusnya tahu bahwa hal ini pasti terjadi saat ia memutuskan untuk menyerahkan hatinya pada Samuel. Pria yang sudah beristri. Ini kesalahannya dan ia pantas mendapatkannya.
Samuel memeluk Sandra dengan erat. Sebelah tangannya mengusap pundak wanita itu. Ia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi hari esok, tapi ia tahu bahwa mereka harus mengahadapinya.
***
“Kalian akan menginap?” tanya Samuel saat bergabung dengan yang lainnya di ruang tamu.
“Iya, kita akan menemaninya di sini sampai keadaan membaik.” Jawab Kara.
“Terima kasih. Aku mungkin tak akan datang selama beberapa hari. Aku mohon kalian menjaga Sandra.” Pinta Samuel.
“Tenang saja. Kami akan menjaganya.” Jawab Kinan.
“Berita ini pertama kali diunggah di salah satu platform media online. Seseorang pasti memberikan informasi ini langsung kepada wartawan, kan?” kata Samuel sambil menatap empat orang di depannya satu persatu.
“Benar, berita ini bahkan dimasukkan dalam deretan berita ekslusif. Seperti berita- berita tentang Kara akhir- akhir ini.” Kata Karin.
Kara langsung menyambar ponselnya di atas meja lalu mengutak- atiknya sebentar. Ia menscroll berita mengenai Sandra dan Samuel hingga ke bagian paling bawah dan membaca nama editor yang menulis berita itu. Setelah itu, ia mencari berita mengenai dirinya dan kembali membaca nama editor yang tertera di bagian bawah. Prasetya Abimana. Editor yang sama.
“Prasetya Abimana. Dia editor yang pertama kali menulis berita mengenai hubungan kalian. Juga berita tentangku kemarin- kemarin.” Kata Kara.
“Jangan...jangan...” Kara menutup mulutnya. Ia menatap sahabatnya satu persatu. Sama sekali tak bisa membayangkan jika dirinya yang ternyata menyeret Samuel dan Sanda dalam pusara masalahnya.
***
“Bagaimana kalau orang yang dibalik ini adalah orang sama.” Kata Kara. Ia dan Petra sedang menikmati secangkir kopi di caffe shop lantai dasar apartemen Sandra.
“Apa yang terjadi padamu sama sekali bukan kesalahanmu, begitu juga dengan ini.” Ucap Petra.
“Tapi secara tidak langsung, aku adalah alasan dibaliknya.” Kara menautkan jari- jarinya di atas meja. Ia tidak tahu kenapa orang itu membawa Samuel dan Sandra dalam masalah ini. Ia akan menerima semua yang orang itu lakukan padanya, ia akan memberikan apapun yang orang itu mau dari dirinya. Asal orang tak lagi mengusik sahabat- sahabatnya.
“Batu yang dilempar malam itu, apa tidak ada yang lainnya?” tanya Petra.
Kara berdehem lalu menjawab, “tidak ada. Hanya batu.”
“Kamu yakin?” tanya Petra sekali lagi.
“Iya. Tidak ada yang lainnya. Hanya batu besar.” Jawab Kara cepat. Kara mengalihkan pembicaraan mereka ke arah lain. Ia tak ingin membicarakan kejadian malam itu. Ia tidak memberitahu Petra bahwa batu besar itu dibalut kolase fotonya dengan coretan dengan noda darah. Kara tidak tahu ia berhadapan dengan siapa, tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa hanya diam saja, ia juga harus bergerak, ia tidak akan membiarkan orang itu menyeret orang- orang berharga yang ada di sekelilingnya.
“Sebenarnya, dengan alasan apapun. Perselingkuhan tidak bisa dibenarkan.” Lirih Petra. Ia melihat gadis di depannya mengangguk setuju.
“Aku juga awalnya kecewa saat Sandra memutuskan untuk menjadi simpanan pria itu hingga akhirnya menikah siri. Aku pikir Sandra bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik, membangun rumah tangga dan punya anak yang lucu- lucu” Ucap Kara, “tapi saat dia bilang bahwa ia bahagia bersama pria itu dan tidak menginginkan lebih selain bisa bersamanya. Aku mulai bisa menerimanya.” Cerita Kara. “aku pikir semua orang berhak bahagia. Toh, sejak awal pernikahan Samuel dengan istrinya memang sudah hancur. Sandra bukan perusak rumah tangga Samuel dan istrinya. Rumah tangga mereka memang sudah rusak sejak awal.”
“Keduanya tak pernah saling mencintai. Wanita itu hanya tahu bergaul dengan teman- teman sosialitanya, liburan dan menghabiskan uang. Wanita itu haus akan pujian. Ia selalu menampilkan bahwa ia dan Samuel adalah pasangan yang serasi dan bahagia. Tapi nyatanya, semuanya yang ditampilkan di media sosialnya adalah sebuah kepalsuan. Ia tak mencintai Samuel namun tak juga mau menceraikannya.” Kara berdecak. “kalau kamu berpikir hanya Samuel yang berselingkuh, kamu salah.” Kara menatap Petra yang sedikit terkejut.
“Samuel pernah mencoba memperbaiki pernikahannya, tapi wanita itu terlalu egois. Wanita itu tak mau mengandung apalagi punya anak dan tak mau menuruti Samuel. Wanita itu tak layak menjadi istri. Dia tak pantas membangun pernikahan.”
Kara menyesap isi gelasnya, begitu juga dengan Petra. Suasana di sekitar sudah sangat sepi. Hanya security yang terlihat berjaga dan berpatroli keliling.
“Aku akan menemui wartawan itu.” kata Kara tepat saat sebelah tangannya menaruh cangkirnya di atas meja. “dia paling tidak pasti tahu siapa orang yang memberinya informasi mengani berita- berita itu.” kata Kara. Ia menatap Petra yang mengangguk di depannya.
TBC
LalunaKia